
Steven terlihat begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Aruna, dia tidak menyangka jika asisten pribadinya akan menikahi sekretarisnya.
"Ya ampun, kapan kalian menikah? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Steven dengan kaget.
Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah Sam, dia seolah meminta tolong kepada Sam untuk mengatakan sesuatu hal kepada Steven. Namun, Sam malah menggenggam tangan Aruna dan menganggukkan kepalanya kembali.
"Tiga hari yang lalu, Tuan," jawab Aruna pada akhirnya.
Aruna terlihat malu-malu mengatakan hal itu, ada rasa senang ketika ditanyakan tentang kapan dia menikah. Ada rasa haru dan juga sedih karena pernikahannya dirasa tidak wajar, terlebih lagi dia mengetahui kenyataan pahit di saat hari kematian wanita yang dia anggap sebagai ibu kandungnya.
"Aih! Masih anget-angetnya, mau dikasih jatah libur untuk bulan madu atau mau dikasih kado yang lain saja?" tanya Steven seraya menepuk pundak Sam.
Sam tersenyum canggung ke arah atasannya tersebut, lalu dia mengelus lembut perut Aruna dengan begitu lembut. Aruna benar-benar kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sam, dia bahkan sampai menatap wajah suaminya itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kami tidak sempat untuk bulan madu, lagi pula Aruna sedang mengandung. Tidak baik bepergian di saat sedang hamil muda," jawab Sam.
Bibir pria paruh baya itu sampai menganga dengan lebar, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sam. Asisten pribadinya itu berkata jika mereka baru menikah tiga hari yang lalu, tetapi Aruna sudah hamil saja, pikirnya.
__ADS_1
"Wow! Aruna hamil? Kapan kalian melakukannya?" tanya Steven dengan heran, karena selama satu bulan ini Aruna dan juga Sam terlihat seperti orang yang sedang bermusuhan.
"Ehm! Anu, Tuan. Itu--"
Aruna tidak berani melanjutkan ucapannya, rasanya terlalu malu untuk mengatakan semuanya. Steven yang paham langsung menepuk-nepuk lengan Aruna dan berkata.
"Tidak perlu dijelaskan, sekarang kamu pulanglah. Jaga kesehatan kamu, aku akan mengirimkan uang sebagai kado dan juga pesangon kamu," ujar Steven.
"Tuan terlalu berlebihan," ujar Aruna tidak enak hati.
"Tidak perlu sungkan, kamu pulanglah. Minta diantarkan sama sopir kantor, untuk Sam, biarkan dia bekerja dengan tenang. Jangan lupa cari sekretaris pengganti Aruna, aku mau yang pandai seperti Aruna," ujar Steven.
Setelah hari itu, Aruna menjalani rumah tangganya dengan begitu bahagia. Karena Sam selalu bersikap manis ketika mereka berduaan di dalam kamar, walaupun ketika ada Almira ataupun orang lain Sam selalu bersikap biasa saja. Namun, Aruna sangat senang luar biasa.
Sam bahkan sering membelikan susu hamil untuk dirinya, Aruna benar-benar menjalani masa kehamilannya dengan begitu menyenangkan. Sampai akhirnya Aruna melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan juga sangat mirip dengan Sam.
Awalnya Sam terlihat biasa saja, tetapi setelah melihat babynya yang begitu mirip dengannya, Sam begitu perhatian kepada bayi yang dia beri nama Ayana Shihab Rahardi, sesuai dengan marganya.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah melahirkan putri yang begitu cantik untukku," ujar Sam dengan tulus ketika melihat baby cantiknya.
"Sama-sama, Sam. Terima kasih juga karena kamu sudah menjadikan aku seorang wanita yang selalu bahagia dengan perlakuan manis kamu," ujar Aruna.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang cepatlah kamu tidur, ini sudah sangat malam. Lagi pula kamu masih dalam masa nifas, jangan sampai aku khilaf dan menerkam kamu," ujar Sam seraya mengecup bibir istrinya.
Ucapan dari Sam membuat Aruna dengan cepat mendorong wajah suaminya, karena dia merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.
"Aih! Jangan macam-macam, Sam. Aku baru satu Minggu melahirkan!" ancam Aruna.
Selama mereka menjadi suami istri, Sam tidak pernah absen untuk meminta haknya. Pria itu selalu meminta jatahnya setidaknya tiga kali dalam seminggu, hal itu membuat hubungan mereka semakin dekat.
"Maaf, Sayang. Oiya, Sayang. Dua hari lagi aku akan bertugas di luar kota selama satu bulan, bolehkah aku pergi?" tanya Sam.
Untuk sesaat Aruna terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sam pasti akan melakukan tugas penting dari Steven, tidak mungkin dia melarang suaminya hanya karena dia merasa tidak ingin berjauhan dengan suaminya tersebut.
"Pergilah, Sam. Jaga hati dan mata kamu, karena kamu sudah punya aku. Kamu juga sudah punya Ay," ingat Aruna.
__ADS_1
Sam tertawa mendapatkan peringatan seperti itu dari Aruna, karena kini wanita itu semakin berani kepada dirinya. Aruna selalu berani mengatakan apa pun hal yang mengganjal di dalam hatinya, dia juga selalu berkata tentang apa yang dia tidak suka dari dirinya.
"Iya, Sayang. Aku akan menjaga hati dan mataku ini," ujar Sam sebelum mereka tertidur.