
"Eh? Sedang apa kamu di dalam kamar saya? Itu, kenapa anak saya nangis?" tanya Angel.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Justru saya nekat masuk ke sini karena mendengar suara tangisan putri anda," jawab Arin berusaha untuk setenang mungkin.
Angel tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Arin, dia langsung mengedarkan pandangannya karena takut ada barang berharga miliknya yang diambil oleh Arin.
Berbeda dengan Arin yang berusaha untuk menenangkan Ayaka, gadis kecil berusia 4 tahun itu nampak menangis seraya mengelusi kakinya.
"Jangan nangis ya, Sayang. Kamu mimpi buruk, ya? Ada Aunty, ada mama kamu juga. Jangan nangis," ujar Arin seraya menggendong Ayaka dan mengelusi punggung anak itu.
"Aya mimpi ada yang cubit kaki Aya, Aya jadi takut." Ayaka berbicara dengan isak tangis di bibirnya.
"Jangan nangis lagi, itu cuma mimpi." Arin berusaha untuk menenangkan hati gadis kecil itu.
Angel sudah memeriksa semua barang yang ada di dalam kamarnya tersebut, tidak ada yang hilang sama sekali. Namun, tetap saja dia merasa tidak percaya dengan Arin.
"Kamu pergilah, bilang sama bos kamu kalau saya tidak butuh petugas kebersihan," ujar Angel.
"Ah, baik Nyonya. Maaf kalau saya membuat anda tidak nyaman," ujar Arin.
Justru Arin saat ini merasa senang karena diusir oleh Angel, karena itu artinya dia tidak perlu membersihkan kamar itu. Yang terpenting baginya dia sudah memasang alat CCTV yang dibutuhkan.
Setelah berpamitan kepada Angel, Arin mengajak Aruna untuk segera pergi dari sana. Tentu saja Aruna dengan cepat menyetujuinya, karena tetap saja Aruna merasa sakit hati ketika mengingat Angel adalah selingkuhan dari suaminya.
Terlebih lagi saat Aruna melihat foto-foto kebersamaan dari Angel dan suaminya yang terpampang dengan begitu nyata di dinding ruang keluarga, hati Aruna dibuat semakin sakit.
"Jangan sedih gitu napa? Gue jadi ngga enak hati," ujar Arin ketika melihat wajah Aruna yang begitu bersedih.
__ADS_1
"Sorry, gue tetep sedih. Tapi, makasih atas bantuan elu. Oiya, sebagai bayarannya, elu mau minta berapa?" tanya Aruna.
"Ya Tuhan, Aruna. Kita ini sahabatan udah lama banget, gue nggak setega itu sama sahabat sendiri. Bagaimana kalau kita ngopi aja, elu pan banyak duit. Di Kafe X boleh juga," ujar Arin.
"Boleh," jawab Aruna tidak bersemangat.
"Jangan sedih, ayo ganti bajunya. Kita ke Kafe dulu sebelum gue berangkat gawe," ujar Arin.
"Iya," jawab Aruna yang memang sekarang ini mereka berdua sedang berada di dalam kostan milik Arin.
Setelah keduanya berganti pakaian, mereka langsung pergi ke Kafe X. Mereka pergi dengan menggunakan mobil milik Aruna yang dibeli menggunakan uang Sam.
Tiba di Kafe X, keduanya langsung masuk dan berdiri di depan kasir. Tentunya keduanya terlihat memilah kopi mana yang akan mereka pesan.
"Gue mau mesen kopi mahal ah, mumpung dibayarin temen gue." Arin menunjuk es kopi seharga selembar uang berwarna merah.
Setelah memesan kopi, keduanya langsung duduk di salah satu kursi yang kosong. Arin terlihat senang sekali bisa ngopi di Kafe, karena biasanya dia akan ngopi di lobi kantor. Tentunya karena gratis.
"Ya ampun, setengah jam lagi gue masuk kerja. Gue cabut ya, kalau ada apa-apa elu langsung telepon gue." Arin menepuk pundak Aruna dan segera pergi dari sana.
Aruna hanya bisa tersenyum lalu menyesap kopi yang dia pesan, saat sedang menikmati secangkir kopi yang dia pesan, Aruna dikagetkan oleh kedatangan Sagara yang langsung duduk tepat di samping wanita itu.
"Hei! Kakak ngopi?" tanya Sagara.
"Ngga lagi ngopi, lagi mandi aku," jawab Aruna seraya terkekeh.
Sagara langsung tertawa mendengar jawaban dari Aruna, tidak lama kemudian tawanya langsung terhenti ketika dia melihat kalung yang dipakai oleh Aruna.
__ADS_1
Saat ini Aruna memakai dress dengan belahan dada yang cukup rendah, dress cantik berwarna navi dengan panjang selutut tanpa lengan. Tentu saja hal itu membuat Sagara dengan jelas bisa melihat kalung yang dipakai oleh Aruna.
"Kamu kenapa diem?" tanya Aruna yang melihat Sagara hanya terdiam seraya menatap wajahnya.
"Ehm! Itu kalungnya, anu. Emm, maksud aku---"
Sagara terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia kesulitan untuk berkata-kata. Aruna seakan tersadar dengan tatapan mata dari Sagara yang sejak tadi melihat kalung yang dia pakai, Aruna jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah mungkin segera mengenali kalung yang dia pakai.
"Ini adalah kalung dari ayahku," jelas Aruna seraya memperhatikan wajah Sagara.
"Oh! Nama Kakak, Aruna?" tanya Sagara.
"Iya, kamu kenapa sih?" tanya Aruna pura-pura tidak paham.
"Ngga apa-apa, tadinya aku mau ngopi. Eh, malah inget ada yang harus aku kerjain. Aku pergi dulu, tapi... boleh ngga aku foto bareng sama Kakak?" tanya Sagara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Boleh," jawab Aruna dengan senyum yang dipaksakan. Padahal, hatinya terasa perih dan rasanya dia ingin menjerit dengan sekencang-kencangnya.
Dia ingin sekali berkata kepada Sagara jika dirinya adalah bagian dari keluarga Dinata, tetapi dia tidak berani mengatakan hal tersebut. Namun, setelah masalahnya dengan Sam selesai, Aruna berjanji akan langsung mendekati Sagara agar bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Senyum dong, Kak!" pinta Sagara seraya merangkul pundak Aruna.
Aruna langsung tersenyum seraya memeluk Sagara, bahkan dia langsung menyandarkan kepalanya di pundak pria muda itu.
"Ah! Ini sangat bagus, aku pamit!" ucap Sagara setelah melihat hasil selfie mereka.
Sagara langsung berlari untuk segera keluar dari dalam Kafe tersebut, sedangkan Aruna hanya bisa terbengong seraya memperhatikan Sagara yang semakin menjauh dari dirinya.
__ADS_1
"Mungkinkah Sagara menyadari siapa aku?" tanya Aruna lirih.