Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 184


__ADS_3

Malam ini di kediaman Sigit terasa begitu ramai, karena Alice terdengar terus saja mengoceh menceritakan apa pun saat kepergian Aruna dan juga Sigit.


Di sana juga masih ada Sandi dan juga Ayana, keduanya nampak ikut menimpali ucapan dari gadis remaja itu. Hanya Kenzo yang nampak terdiam, sesekali dia akan tersenyum melihat tingkah dari adiknya tersebut.


Namun, jika merasa kesal Kenzo akan mengerucutkan bibirnya. Akan tetapi, pria itu tidak pernah mengatakan hal yang membuat Alice merasa marah apalagi tersinggung.


"Jadi, bagaimana keadaan Anisa?" tanya Kenzo setelah sekian lama terdiam.


Sebenarnya Kenzo tidak begitu menyukai wanita yang bernama Anisa itu, karena wanita itu terlihat mengharapkan sesuatu hal kepada dirinya. Kenzo memang masih remaja, dia belum memiliki banyak pengalaman.


Namun, Kenzo sangat hapal apa arti dari tatapan Anisa saat menatap dirinya. Tatapan gadis itu terlihat begitu lain saat menatap dirinya, Kenzo sangat takut.


"Dia masih koma, kasian sekali dia, Ken. Ayah dan juga ibunya meninggal karena kecelakaan, kini dia keadaannya benar-benar tidak baik-baik saja." Aruna kembali bersedih jika mengingat akan keadaan Anisa, bahkan air matanya luruh begitu saja di kedua pipinya.


Kenzo juga merasa iba kepada gadis yang seusia dengan dirinya itu, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kenzo hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar Anisa segera sembuh dari penyakitnya.


"Besok siang Bunda akan ke rumah sakit, apakah kalian mau ikut?" tanya Aruna.


Aruna sempat menelpon perawat yang dibayar oleh Aruna untuk menjaga Anisa, perawat itu berkata jika keadaan Anisa masih sama. Wanita itu belum ada perubahan, masih koma dan seakan tidak ingin bangun dari tidur panjangnya.


"Boleh, Bun. Pulang sekolah kita langsung jenguk Nisa," jawab Kenzo.


Walau bagaimanapun juga Kenzo sudah menganggap Anisa sebagai adiknya sendiri, dia merasa iba dan ingin menjenguk wanita itu. Aruna yang mendengar kabar dari Anisa juga merasa iba, dia ingin mengetahui keadaan gadis remaja itu.


"Aku akan ikut melihat keadaan anak itu," timpal Ayana.


Ayana menjadi teringat akan keadaan Ayaka dulu ketika setelah mengalami kecelakaan, nampak menyedihkan dan dia merasa berdosa ketika mengingat dirinya yang pernah membenci Ayaka.


"Oke, nanti kita akan pergi rame-rame. Siapa tau dia akan sadar kalau kita datang bersamaan," ujar Aruna.


Aruna sengaja membawa Anisa ke rumah sakit milik kakek buyutnya, rumah sakit keluarga Huntler. Hal itu dia lakukan agar Anisa mendapatkan perawatan yang terbaik, kamar yang terbaik dan dokter yang terbaik.


"Hem! Sekarang sudah malam, sekarang cepatlah kalian tidur. Besok kalian harus sekolah," ujar Sigit seraya menatap ke arah Kenzo dan juga Alice.


Walaupun berkumpul dan mengobrol bersama sangatlah menyenangkan, tetapi Sigit sangat sadar jika kedua putranya harus segera tidur karena besok mereka harus sekolah.


"Iya, Pa," jawab keduanya dengan kompak.

__ADS_1


Alice dan juga Kenzo langsung masuk ke dalam kamar mereka setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, Ayana dan juga Sandi langsung berpamitan kepada Aruna dan juga Sigit.


Keduanya memang belum merasa mengantuk, tetapi tentunya ada hal yang harus mereka lakukan sebelum tidur. Kegiatan berpeluh yang nantinya bisa membuat tidur keduanya menjadi pulas.


Keesokan harinya.


Selepas dzuhur dan juga makan siang, Aruna mengajak Alice, Kenzo dan juga Ayana untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Anisa.


Sandi dan juga Sigit tentunya tidak bisa ikut menjenguk gadis remaja itu, bukannya tidak peduli, tetapi keduanya terlihat sangat sibuk.


Sandi baru saja kembali bekerja setelah cuti masa menikah, sedangkan Sigit baru kembali bekerja setelah pulang pergi menuju kampung halaman Arin.


Sesampainya di rumah sakit, keempat orang itu nampak masuk ke dalam ruang perawatan milik Anisa. Mereka benar-benar merasa iba melihat Anisa yang belum juga sadarkan diri.


Alice dan juga Kenzo nampak duduk tepat di samping kanan dan kiri Anisa, keduanya menatap Anisa dengan tatapan yang begitu sedih.


"Bangun dong, Kak Nisa. Jangan tidur terus, nanti kalau Kakak bangun, Al bakalan ngajak Kakak buat jalan-jalan ke mall lagi." Alice mengelusi lengan Anisa dengan lembut.


Wajah gadis remaja itu nampak tirus, pucat dan juga kepalanya masih dalam keadaan diperban. Karena memang luka yang Anisa dapatkan cukup parah.


"Ayo bangun, Nisa. Gue janji bakal ngajakin elu jalan-jalan kalau elu sadar nanti," ujar Kenzo menyemangati.


Walaupun nyatanya dia memang kurang menyukai Anisa, tetapi tidak ada salahnya bukan jika dia berbuat baik ketika keadaan wanita itu kurang baik-baik saja.


Ayana dan Aruna juga ikut mengajak Anisa berbicara, karena memang dokter berkata jika mereka harus mengajak Anisa untuk mengobrol.


Karena dengan seperti itu, alam bawah sadar gadis remaja itu diharapkan akan segera merespon apa yang dikatakan oleh Ayana, Aruna, Kenzo dan juga Alice.


Selama satu minggu mereka selalu saja datang untuk mengunjungi Anisa, mereka juga selalu mengajak Anisa untuk berbicara. Kini mereka datang kembali, keluarga Aruna nampak berkumpul di dalam ruangan Anisa.


Karena dokter berkata jika Anisa sudah sadarkan diri, Anisa kini nampak duduk terdiam seraya menatap wajah Aruna, Ayana, Sigit, Sandi, Kenzo dan juga Alice secara bergantian.


Cukup lama gadis remaja itu terdiam seraya memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarnya, hingga tidak lama kemudian dia menatap Aruna dengan lekat lalu tersenyum dengan begitu manis.


"Buna!" panggil Anisa.


Aruna merasa kaget saat Anisa memanggil dirinya dengan sebutan bunda, terlebih lagi ketika Anisa menolehkan wajahnya ke arah Sigit dan memanggil pria itu dengan sebutan papa. Sungguh Aruna sangat kaget.

__ADS_1


"Papa!" pekik Anisa.


Sigit juga terlihat begitu kaget, dia bahkan langsung menolehkan wajahnya ke arah Aruna. Pria itu seolah bertanya kepada istrinya dengan apa yang harus dia lakukan kepada Anisa.


"Dokter bilang aku koma selama dua minggu, Papa sama Buna ngga kangen aku? Aku kangen kalian," ujar Anisa dengan air mata yang sudah merembes dari kedua matanya.


Sigit dan juga Aruna langsung ikut menangis, keduanya menghampiri Anisa dan memeluk gadis remaja itu. Sedih sekali rasanya melihat Anisa menangis.


"Maaf, Sayang. Buna hanya belum merasa percaya kalau kamu sudah sadar, bagaimana keadaan kamu, Sayang?" tanya Aruna.


Bingung rasanya dengan sikap apa yang harus Aruna tunjukkan kepada Anisa, haruskah dia berpura-pura menjadi ibu dari putri sahabatnya tersebut, pikirnya. Atau mungkin, dia harus mengatakan yang sebenarnya.


Namun, saat ini Anisa baru saja tersadar dari koma. Rasanya Aruna begitu kejam jika harus mengatakan yang sebenarnya saat ini juga kepada Anisa.


"Sangat baik, aku sangat baik dan juga senang," jawab Anisa seraya mengusap air matanya.


Aruna nampak melerai pelukannya dengan gadis itu, lalu dia menunjuk Alice, Kenzo, Ayana dan juga Sandi.


"Siapa mereka?" tanya Aruna.


Dengan Anisa yang sudah sadar Aruna sangat bahagia, tetapi Aruna harus memastikan ingatan Anisa seperti apa. Karena memang dari awal dokter berkata jika Anisa kemungkinan besar akan mengalami hilang ingatan.


"Itu Kak Ay, itu Kak Sandi, itu Kak Kenzo dan adik aku yang sangat cantik, Alice." Anisa menjawab seraya menunjuk ke empat orang yang ada di hadapannya.


Aruna benar-benar merasa kaget karena Anisa mengakui dirinya dan keluarga kecilnya sebagai keluarga dari Anisa, kalau memang Anisa hilang ingatan kenapa malah menganggap dirinya dan juga anak-anaknya sebagai keluarga.


Begitupun dengan Sandi, Ayana, Kenzo dan juga Alice. Mereka tidak menyangka jika ketika Anisa tersadar dari koma, wanita remaja itu malah menganggap mereka sebagai saudara kandungnya.


"Lalu, kenapa kamu bisa berada di rumah sakit? Apakah kamu ingat kenapa?" tanya Aruna.


Anisa nampak menggelengkan kepalanya, karena dia benar-benar tidak ingat sama sekali apa yang sudah menimpa dirinya. Aruna dan Sigit saling pandang, lalu mereka menolehkan wajahnya ke arah sang dokter.


"Kita akan bicara di dalam ruangan saya," ujar Dokter yang paham dengan apa arti tatapan dari Aruna dan juga Sigit.


Aruna menolehkan wajahnya ke arah Anisa, lalu dia mengusap puncak kepala Anisa dengan begitu lembut dan berkata.


"Buna mau bicara dulu sama dokter, kamu baik-baik di sini, oke?" ujar Aruna.

__ADS_1


Sebenarnya kalau memang Anisa hilang ingatan dan menganggap dirinya sebagai ibu kandungnya pun Aruna tidak keberatan, hanya saja dia tetap ingin bertanya kepada dokter dan memastikan tentang kondisi dari Anisa yang sebenarnya.


''Ya, Buna." Anisa tersenyum manis sekali, walaupun kakinya terasa kebas dan tidak bisa digerakkan, tetapi dia merasa bahagia karena merasa memiliki keluarga yang utuh.


__ADS_2