Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 36


__ADS_3

"Saya sempat mendengar dari Aman bahwa anda mengadopsi Asmara karena menemukan gadis itu dalam keadaan sekarat di tengah lautan, apakah mungkin kalau Asmara adalah Anaya?" tanya Aruna.


Untuk sesaat pria itu terdiam, dia menatap mata Aruna dan juga Sigit dengan dalam. Ada kesedihan di sana, tidak lama kemudian pria itu menghela napas panjang lalu berkata.


"Ya, saya menemukannya di laut lepas. Dia sekarat dan wajah serta seluruh tubuhnya penuh dengan luka, dia bahkan ditemukan dalam keadaan hampir polos. Karena pakaian yang dia kenakan nampak compang-camping," jelas pria itu.


Tatapan mata pria itu seolah-olah sedang menerawang jauh, Alan seolah sedang mengingat-ingat bagaimana dulu dia menemukan Asmara di tengah lautan lepas.


"Astagfirullah!" ujar Aruna seraya menitikan air matanya.


Aruna begitu sedih mendengar apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu, tidak dapat dia bayangkan bagaimana keadaan Asmara ketika ditemukan di tengah lautan kala itu.


"Waktu itu--"


Jika mengingatkan hal itu pria itu kembali bersedih, dia tidak memiliki anak dan menemukan seorang gadis yang sedang sekarat di lautan. Kala itu Alan dengan cepat melompat ke lautan untuk menyelamatkan gadis itu.


Padahal niat awalnya dia ingin melaut karena ingin mendapatkan ikan, tetapi setelah menemukan Asmara dia langsung pulang tanpa mengingat-niat awalnya untuk menangkap ikan.


Pria itu langsung membawa Asmara ke Puskesmas terdekat, tetapi mereka angkat tangan karena alat-alat yang ada di sana tidak lengkap. Sedangkan Asmara kala itu dalam kondisi yang sangat parah.


Waktu itu Alan dengan cepat pergi ke kota membawa gadis yang dia temukan, bersyukur ada rumah sakit yang sudah memiliki peralatan yang lengkap sehingga Asmara bisa dirawat di sana.


Dokter sempat berkata jika harapan untuk sembuh sangat kecil, keadaan Asmara sangat kritis dan kemungkinan untuk hidup sangatlah kecil. Bahkan, dokter berkata jika wanita itu sembuh, kemungkinan akan hilang ingatan dan tubuhnya pun akan cacat.


Walaupun seperti itu Alan tidak putus asa, dia meminta dokter untuk memberikan perawatan yang terbaik. Jika sore hari tiba dia akan melaut, karena dia harus mencari uang untuk membiayai pengobatan Asmara.


Selepas melaut dan menjual ikannya, Alan akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Asmara. Hal itu dia lakukan selama enam bulan lamanya, sampai wajah Asmara yang tadinya terlihat babak belur, sembuh dan terlihat sangat cantik.


Setelah enam bulan koma, akhirnya Asmara bisa sadarkan diri. Namun, wanita itu terlihat menatap dengan tatapan kosong. Asmara dinyatakan hilang ingatan, bahkan kakinya dinyatakan lumpuh.

__ADS_1


Jika ingin sembuh, Alan harus menandatangani persetujuan terapi selama enam bulan. Tentunya biayanya tidak sedikit, Alan merasa tidak sanggup dan membawa Asmara pulang.


Pria itu setiap pulang melaut selalu mencari tanaman herbal, dia meracik tanaman herbal itu sendiri dan berharap Asmara akan sembuh. Setiap pulang melaut dia bahkan akan membawa Asmara untuk berjemur di tepi pantai.


Dengan seperti itu dia berharap tulang kaki wanita itu akan semakin kuat, Alan memperlakukan Asmara layaknya bayi yang baru lahir. Bahkan, Alan dalam setiap harinya selalu menguruti kaki Asmara.


Awalnya Asmara terlihat begitu rapuh dan tidak ingin bergaul dengan siapa pun, Alan kembali mencari uang dan membawa Asmara ke psikiater.


Alhamdulillah Asmara bisa bersikap normal setelah hampir satu tahun melakukan terapi, dia bahkan langsung meminta izin kepada Alan untuk sekolah bahasa. Itulah yang diceritakan oleh Alan kepada Sigit dan juga Aruna.


"Jadi... ada kemungkinan kalau Asmara adalah Kanaya, kan?" tanya Aruna.


Aruna menatap alam dengan tatapan penuh pengharapan, dia benar-benar berharap jika Asmara dan Kanaya adalah wanita yang sama.


"Bisa jadi, Nyonya. Tapi, anda tidak bermaksud untuk mengambil Asmara dari saya bukan?" tanya Alan dengan sedih.


Alan nampak ketakutan, dia langsung meluruhkan tubuhnya ke atas lantai dan bersujud di hadapan Aruna dan juga Sigit.


"Tolong jangan ambil putri saya, Nyonya, Tuan. Saya sangat menyayanginya," ujar Alan.


Alan sangat takut jika dirinya saat ini juga akan kehilangan putrinya, terlebih lagi yang mengaku sebagai sahabat dari ibu Asmara adalah wanita kaya raya.


"Eh? Jangan seperti ini, bangunlah! Aku datang bukan untuk mengambil Asmara, aku hanya ingin memastikan apakah Asmara itu Kanaya atau bukan. Jika iya, aku merasa senang karena dia masih hidup. Aku merasa senang karena bapak yang menemukan putri sahabat kami,'' ujar Aruna.


Alan bangun dibantu oleh Sigit, lalu dia kembali duduk di bangku kayu yang ada di dalam ruangan tersebut. Ada senyum di bibirnya walaupun air matanya terus mengalir.


"Terima kasih," ujar Alan.


"Sama-sama,'' jawab Sigit.

__ADS_1


Aruna nampak mengambil ponselnya, lalu dia memberikan ponsel miliknya kepada Alan untuk menunjukkan foto Anaya sebelum memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ayahnya.


"Ya Tuhan! Ini--"


Alan terdiam seraya mengusap foto Anaya, dia kembali menangis. Lalu, dia menatap Aruna dan juga Sigit secara bergantian.


"Tunggu sebentar," ujar Alan.


Pria itu kenapa masuk ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kalung di tangannya. Kalung emas dengan liontin bertuliskan huruf A, lalu dia memberikan kalung itu kepada Aruna.


"Kalungnya sangat mirip dengan yang dipakai oleh nona yang ada di foto," ujar Alan.


Aruna menerima kalung itu dari tangan Alan, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah kalung itu dan juga pada foto Anaya. Di sana terlihat dengan begitu jelas jika wanita itu memakai kalung yang sama dengan kalung yang diberikan oleh Alan.


''Naya! Berarti Asmara adalah Naya," pekik Aruna dengan begitu senang.


Wanita itu terlihat begitu bahagia sekali, bahkan Aruna sampai memeluk Sigit tanpa malu. Sigit langsung membalas pelukan dari istrinya tersebut, dia juga merasa senang.


Aruna tentunya merasa senang karena itu artinya putranya tidak kehilangan cinta pertamanya, tetapi putranya masih berkesempatan untuk mendapatkan cinta dari wanita yang sama.


''Nyonya, anda sudah berjanji tidak akan membawa putri saya," ujar Alan dengan begitu sedih.


Dia tidak menyangka jika wanita yang sudah dianggap sebagai putrinya itu ternyata masih memiliki keluarga, jika seperti itu dirinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk menganggap Asmara sebagai putri kandungnya.


"Tidak akan, aku tidak akan mengambil Naya. Tapi, putraku sangat mencintai Naya. Bolehkah jika putraku menikahi Ara? Bisakah kamu memberikan restu?" tanya Aruna.


Walaupun Aruna tahu jika Alan bukanlah ayah kandung dari Asmara, tetapi tetap saja dia merasa jika Alan berhak memberikan restu.


Karena walau bagaimanapun juga, selama lima tahun ini Alan yang mengurusi Asmara dengan penuh cinta dan juga penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2