Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 99


__ADS_3

Pikiran Ayaka terasa tidak tenang, gadis kecil itu teringat terus akan ayahnya yang kini hanya tinggal sendirian. Ayaka berpikir jika ayahnya itu pasti sangatlah sibuk jika sudah mulai berdagang nanti, pasti dia membutuhkan bantuan.


Ayaka juga merasa sangat kasihan terhadap Sam yang berkata ingin mencari putrinya yang hilang. Dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu dan memperbaiki hubungannya dengan kedua putrinya.


"Apa yang harus Aya lakukan sekarang?" tanya Ayaka di sela lamunannya.


Selepas makan malam Ayaka hanya terdiam seraya memikirkan ayahnya tersebut, tidak lama kemudian Ayaka keluar dari dalam kamar yang dia tempati bersama dengan Ayana.


Lalu, gadis kecil itu melangkahkan kakinya untuk bergabung bersama dengan Aruna, Sigit dan juga Ayana yang kini sedang berada di ruang keluarga.


"Sini, Sayang. Duduk deket Tante," ujar Aruna ketika melihat Ayaka yang berjalan menghampiri dirinya, tapi dengan langkah ragu.


Ayaka menganggukkan kepalanya, lalu dia duduk tepat di samping Aruna. Dia menatap wajah wanita itu lalu dia berkata.


"Tante, sebelumnya Aya mau mengucapkan banyak terima kasih. Karena Tante sudah menyayangi Aya selama ini, yang kedua Aya mau minta maaf karena sebenarnya Aya tidak hilang ingatan. Aya masih sangat Ingat siapa ayah dan juga bunda Aya," ujar Ayaka dengan takut-takut.


Setelah mengatakan hal itu, Ayaka langsung menunduk dengan takut. Dia takut jika Aruna dan Sigit akan marah terhadap dirinya, melihat Ayaka yang menunduk takut, Aruna langsung memandang wajah Sigit, dia seolah meminta pendapat kepada suaminya tersebut.


Sigit tersenyum lalu mengusap lembut punggung istrinya, dia seolah sedang berkomunikasi lewat gerakan lembut yang dilakukan oleh pria itu.


Aruna membalas senyuman dari suaminya, lalu dia kembali menolehkan wajahnya ke arah Ayaka dan bertanya tentang apa yang sebenarnya dirasakan dan dirahasiakan oleh gadis kecil itu.


"Maksudnya bagaimana, Sayang? Tante tidak paham, tolong jelaskan apa yang sebenarnya kamu rahasiakan?" pinta Aruna.


Ayaka memberanikan diri untuk menatap Aruna, Sigit dan juga Ayana secara bergantian. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ayana, dia hanya terdiam seraya memperhatikan wajah Ayaka.


Ayana seolah sedang menantikan apa yang akan dikatakan oleh Ayaka, dia tidak ingin menduga-duga. Dia tidak ingin bertanya apalagi berkata kasar kepada gadis kecil itu.


"Sebenarnya aku adalah Ayaka, putri dari ayah Sam dan juga bunda Angel yang mereka cari. Maaf jika Aya tidak berkata jujur kepada kalian semua, Aya sungguh merasa nyaman tinggal dengan kalian. Aya takut diusir oleh kalian," jawab Ayaka dengan jujur.


Anak itu langsung menangis, dia bahkan tidak berani menatap wajah orang-orang yang ada di sana. Setelah berkata jujur dia hanya menunduk dan terus menangis karena merasa bersalah sudah menyembunyikan identitasnya selama ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu takut diusir oleh kami?" tanya Sigit yang nyatanya memang sudah mengetahui identitas dari Ayaka.


"Karena Aya adalah anak dari seorang pelakor, Aya takut kalian akan membenci Aya," jawab Ayaka dengan jujur.


"Selain itu, apa ada alasan lain lagi?" tanya Sigit.


"Aya benci bunda Angel, dia pergi begitu saja meninggalkan Aya. Padahal, dia sudah melihat Aya saat mengejarnya dan tertabrak mobil," ujar Ayaka dengan sedih.


''Ya ampun! Jadi, saat sedang ada santunan di Panti kamu berlari karena melihat bunda kamu?" tanya Ayana dengan sedih.


"Ya, Aya melihat bunda Angel. Tetapi saat Aya berteriak memanggil bhnda, bunda Angel malah naik mobil dan pergi meninggalkan Aya. Dia sangat jahat, Aya benci bunda Angel," ujar Ayaka.


"Tidak boleh begitu, Sayang. Kamu tidak boleh benci kepada bunda kamu, karena walau bagaimanapun juga dia adalah wanita yang sudah melahirkan kamu," nasihat Aruna.


"Hem! Akan Aya usahakan, tapi Tante ngga benci sama Aya, kan?" tanya Ayaka.


"Tidak akan, kami tidak akan membenci kamu, Sayang. Karena walau bagaimanapun juga kamu hanyalah anak kecil yang tidak berdosa," ucap Aruna seraya menarik lembut gadis kecil itu ke dalam pelukannya.


Aruna sangat sadar jika Ayaka benar-benar masih kecil, dia membutuhkan support dari orang-orang di sekitarnya agar anak itu tidak merasa rendah diri.


"Tapi, Tante. Aya dulu pernah menyakiti hati Kak Ay, Aya takut kalau Kak Ay tidak suka jika Aya tinggal di sini. Makanya Aya ngga jujur," ujar Ayaka dengan jujur.


Ayana yang sedari tadi diam kini menghampiri Ayaka, dia duduk tepat di samping adiknya itu. Dia menepuk-nepuk lengan adiknya dan berkata.


"Mungkin dulu Ay begitu membenci kamu, karena kamu terlahir dari rahim seorang wanita yang sudah mengganggu rumah tangga Bunda. Tetapi sekarang Ay tidak seperti itu, Ay tidak akan membenci kamu," jawab Ayana dengan jujur.


"Benarkah?" tanya Ayaka seraya melerai pelukannya dengan Aruna dan menatap wajah Ayana dengan lekat.


"Tentu saja benar, untuk apa Ay membenci kamu. Kita sama-sama anak dari ayah Sam, untuk apa saling membenci. Bukankah kita harus saling menyayangi?" tanya Ayana.


Ayaka tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung menghambur ke dalam pelukan kakaknya. Dia menangis dengan bahagia di dalam pelukan kakaknya tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih karena kalian begitu baik kepadaku, tapi sekarang ayah Sam tinggal sendirian. Bolehkah aku tinggal bersama dengan ayah Sam? Aku ingin membantunya dalam berjualan," pinta Ayaka.


Hati Aruna benar-benar tersentuh mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, karena gadis kecil itu kini berani jujur setelah melihat keadaan ayah kandungnya sendiri.


"Tentu saja boleh, Aya mau tinggal sama ayah Sam ataupun mau tinggal di sini Tante Aruna tidak keberatan," jawab Aruna.


"Terima kasih, Tante. Tante memang wanita yang begitu baik, maaf karena dulu kehadiran bunda Angel dan juga Aya menjadi perusak kebahagiaan Tante," ujar Ayaka.


Aruna merasa begitu sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, karena anak sekecil itu sudah harus mengerti permasalahan yang dialami oleh kedua orang tuanya.


"Hei! Jangan berkata seperti itu, itu hanyalah masa lalu. Itu jalan takdir dari Tuhan, kamu tidak usah minta maaf. Karena sekarang Tante sudah bahagia, jangan pernah mengungkit masa lalu," ucap Aruna.


"Tante memang sangat baik, mulai besok Aya ingin tinggal dengan ayah Sam. Tante mau kan, mengantarkan aku kepada ayah?" tanya Ayaka.


Rasanya dia tidak berani pergi sendiri untuk menemui ayah kandungnya tersebut, dia ingin meminta Aruna untuk mengantarkan dirinya dan menjelaskan siapa dirinya kepada Sam.


"Tentu saja, Sayang. Besok sepulang sekolah Tante akan antarkan kamu ke rumah ayah Sam, apa kamu senang?" tanya Aruna.


Aruna tidak bisa menahan anak itu lagi di rumahnya, karena kini dirinya sudah tahu siapa anak yang sudah dia asuh selama 6 tahun ini.


"Sangat senang Tante," jawab Ayaka.


Hati Ayaka rasanya sudah plong karena tidak ada kebohongan lagi di antara dirinya dan juga Aruna, semua yang sudah dia sembunyikan kini sudah dia ungkapkan.


"Tapi, Dek. Walaupun kamu sudah tinggal sama ayah Sam, sekali-kali kamu harus menginap di sini. Kakak nggak mau loh kamu benar-benar meninggalkan rumah ini," pinta Ayana.


Rasanya dia tidak ikhlas jika harus kehilangan Ayaka begitu saja, kehilangan teman satu kamarnya, kehilangan sosok adik yang begitu dia sayang dan kehilangan teman berkeluh kesahnya.


"Iya, Kak. Aya akan sering menginap di sini, Kakak juga jangan lupa untuk menginap di tempat ayah Sam. Karena Aya pasti akan sangat rindu dengan Kakak," jawab Ayaka.


Kedua putri Sam itu nampak saling memeluk, mereka berdua saling mengungkapkan rasa kasih sayang di antara keduanya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa suasana rumah jadi sedih seperti ini?" tanya Kenzo yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


__ADS_2