
Bagaimana wajah Anisa tidak memucat jika nyatanya kini Anisa akan dibawa hidup susah, padahal dia sudah memikirkan akan diperlakukan dengan istimewa jika menikah dengan Kenzo.
Karena hanya dianggap anak saja oleh Aruna, dia begitu dimanjakan. Semua kebutuhannya diutamakan, pendidikannya juga diurusi dengan begitu baik.
Bahkan, untuk membeli baju saja Aruna rela menghabiskan banyak uang. Karena Anisa memakai baju-baju syar'i yang begitu cantik dan tentunya sangat mahal.
Namun, kini pada kenyataannya dia akan tinggal bersama dengan Kenzo di sebuah kontrakan saja.
Entah sebuah kontrakan seperti apa Anisa belum tahu, tetapi dia sudah bisa membayangkan jika tinggal di ke kontrakan pastinya ruang geraknya akan terbatas.
Jika tinggal di kontrakan, itu artinya tidak akan ada pelayan yang melayani dirinya. Dia harus melakukan pekerjaan rumah tangga sendirian, dia harus mengurusi Kenzo dan melayani pria itu sendirian tanpa bantuan orang lain.
Anisa memang begitu mencintai Kenzo, tapi bukan berarti dia mau menjadi pelayan dari pria itu. Dia ingin diratukan, bukan dianggap seperti pelayan atau layaknya ibu rumah tangga seperti biasanya.
"Nisa, kenapa wajah kamu memucat? Apakah kamu sedang membayangkan malam pertama kita?" tanya Kenzo dengan sengaja.
Karena pada kenyataannya Kenzo sangat paham kenapa kini wajah Anisa begitu pucat, pasti wanita itu tidak akan tahan hidup miskin atau bahkan hanya sekedar hidup di kontrakan yang sempit.
Hanya saja, sengaja dia mengatakan hal itu agar Anisa tidak curiga jika dirinya memang sudah merencanakan semuanya.
Anisa nampak tersenyum canggung ke arah Kenzo, lalu wanita itu nampak memberanikan diri untuk menatap pria itu.
"Tidak seperti itu juga, mungkin aku hanya kelelahan. Makanya wajahku pucat," jawab Anisa.
"Oh!"
Hanya itu ucapan yang keluar dari bibir ke,nzo karena pada kenyataannya dia begitu paham jika ini saat ini Anisa sedang berbohong kepada dirinya.
Setelah itu, tidak ada lagi obrolan di antara keduanya. Mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga tidak lama kemudian pak sopir memberhentikan mobil taksi tersebut tepat di depan sebuah kontrakan.
__ADS_1
Anisa dan juga Kenzo langsung turun dari mobil tersebut, tentunya setelah Kenzo membayar uang taksinya. Setelah itu, Kenzo dan juga Anisa masuk ke dalam kontrakan yang akan mereka tempati.
Lemah sudah rasanya tubuh Anisa saat melihat kontrakan tersebut, karena ternyata kontrakan itu terlihat begitu sempit. Hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu dan juga dapur yang menyatu dengan kamar mandi.
Terlebih lagi ketika Anisa dan Kenzo masuk ke dalam kamar tidur, Anisa rasanya merasa engap sekali. karena dia biasanya tidur di dalam kamar yang luas, kamar yang khusus Aruna siapkan untuk dirinya.
"Aku tidur di mana?" tanya Anisa ketika melihat tempat yang begitu sempit itu.
"Tentu saja kita akan tidur di kasur yang sama," jawab Kenzo.
Anisa nampak memandang kasur yang ada di dalam kamar kontrakan tersebut, hanya ada kasur busa yang terlihat begitu kecil. Bahkan, tidak ada ranjang di sana.
"Kenapa tidak ada ranjangnya? Terus, kenapa tempat tidurnya kecil banget?" tanya Anisa kepada Kenzo.
Anisa sangat yakin jika kasur busa itu pasti berukuran nomor empat, karena terlihat begitu kecil dan pastinya hanya muat untuk satu orang saja. Jika dipaksakan mereka tidur berdua di atas kasur busa itu, maka pastinya akan sangat sulit.
"Sengaja, biar tidurnya bisa sambil meluk kamu. Terus kamu nanya kenapa enggak make ranjang, jawabannya... biar nanti kalau aku lagi itu sama kamu nggak berisik," jawab Kenzo seraya menatap wajah Anisa dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
"Kenapa diam saja? Bukankah kemarin aku sudah melakukannya? Nanti kalau kita melakukannya lagi, pasti akan lebih gampang. Kamu udah nggak bakal kesakitan, tinggal langsung tancep aja."
Kenzo hendak menyentuh wajah Anisa, tetapi Anisa malah memalingkan wajahnya mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo. Karena pada kenyataannya Kenzo tidak sampai memerawani dirinya.
Pria itu langsung tertidur karena pengaruh dari obat tidur yang dia berikan, jika mengingat akan hal itu Anisa menjadi takut dibuatnya.
Wanita itu memang sering bermain sendiri dengan menggunakan kedua jarinya, tapi Anisa yakin jika milik Kenzo masuk ke dalam inti tubuhnya, dia akan kesakitan.
Karena Anisa sudah melihat seberapa besar milik pria itu, tentunya milik pria itu tidak sebanding dengan kedua jarinya yang sering keluar masuk ke dalam inti tubuhnya itu.
"Aih! Malah malu-malu, padahal kamu udah ngerasain loh kemarin itu enaknya kaya apa. Ceritain dong, aku mainnya kasar ngga?" pancing Kenzo.
__ADS_1
Kenzo bahkan mengangkat dagu Anisa, hal itu dia lakukan agar Anisa bisa leluasa menatap matanya. Saat tatapan mata mereka bertemu, Anisa malah dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Nanti kalau kita melakukannya lagi, kamu pasti akan tau rasanya kaya apa. Kemarin itu kamu sedikit memaksa, jadi aku ngga ngerasain enaknya kaya apa," jawab Anisa.
"Oh gitu, kalau kita ngelakuinnya sekarang bisa?" tanya Kenzo yang berpura-pura ingin membuka kerudung Anisa.
Anisa dengan cepat menepis tangan Kenzo, bisa gawat kalau dalam keadaan sadar seperti itu Kenzo meminta haknya. Karena pada kenyataannya dia masih perawan.
Takut takutnya nanti Kenzo akan mempertanyakan akan hal itu, kenapa miliknya itu begitu sempit ketika mereka melakukannya. Bisa-bisa langsung ketahuan kalau Anisa sudah berbohong dan berkata sudah diperkosa oleh Kenzo.
"Itunya nanti aja, punyaku masih sakit. Aku ingin merapikan baju kita dulu," ujar Anisa mengalihkan perhatian.
Kenzo ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, karena wanita itu kini sudah mulai berkelit.
"Baiklah, kalau begitu tolong rapikan bajunya. Karena aku juga sangat lelah, sepertinya aku menggauli kamu sampai pagi hari. Karena badanku sangat lelah," ujar Kenzo.
"I--iya," jawab Anisa gugup.
"Selamat merapikan baju, istriku. Aku tidur terlebih dahulu, bolehkan?" tanya Kenzo.
Anisa menganggukan kepalanya dengan cepat setelah dia mendengar pertanyaan dari Kenzo, terlebih lagi pria itu memanggil dirinya dengan sebutan istriku.
"Iya, tidurlah," jawab Anisa dengan kecewa karena ternyata Kenzo lebih memilih tidur dari pada membantu dirinya.
Setidaknya walaupun dia menolak untuk memberikan haknya kepada suaminya itu, Kenzo harus berpikir jika dirinya lelah dan ingin dibantu oleh pria itu juga.
Namun, karena tidak ingin banyak bicara, akhirnya Anisa merapikan baju miliknya dan juga baju Kenzo ke dalam lemari kecil yang ada di dalam ruangan tersebut.
Melihat akan hal itu, Kenzo langsung tertawa di dalam hati. Dia begitu suka saat melihat Anisa yang mulai mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, wajahnya terlihat ditekuk bibirnya bahkan terlihat mengerucut.
__ADS_1
'Ini baru permulaan, Anisa. Setelah ini akan ada banyak hal yang harus kamu tanggung karena sudah berbohong,' ujar Kenzo dalam hati.