
Aruna langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, pria itu terlihat begitu tidak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya diobrolkan oleh dirinya dan juga Steven.
"Kasih tahu nggak, ya?" tanya Aruna dengan senyum yang terlihat begitu menyebalkan di mata Sigit.
Sigit berdecak sebal, karena Aruna selalu saja membuat hidupnya merasa penasaran. Namun, anehnya dia seakan tidak bisa lepas dari wanita itu. Padahal, keinginan untuk menikahi wanita itu saja tidak cepat terwujud.
Steven yang melihat interaksi antara Sigit dan juga Aruna langsung tersenyum, lalu dia menggendong Ayana dan mengajak gadis kecil itu untuk pergi dari sana.
"Sepertinya Buna sama Papa kamu harus kita tinggal, Ay pulang sama Kakek aja."
Ayana menganggukkan kepalanya tanda setuju, sejak tadi dia sudah puas bermain dengan Sigit. Kini sudah saatnya ibunya yang berduaan dengan calon ayahnya tersebut.
"Bolehlah, boleh," jawab Ayana.
Ayana berpamitan kepada Aruna dan juga Sigit, setelah itu Ayana pergi bersama dengan Steven menuju kediaman Dinata. Setelah itu barulah Steven akan pulang ke kediaman Siregar.
Selepas kepergian Steven dan juga Ayana, Sigit terdiam seraya menatap wajah wanita yang sangat dia puja. Dia masih menunggu penjelasan dari wanita itu.
"Aih! Kenapa kamu malah diem aja? Jelaskan apa yang tadi kamu bicarakan dengan ayah? Kenapa ayah terlihat begitu senang sekali?" tanya Sigit.
Sigit rasanya benar-benar tidak sabar menghadapi wanita seperti Aruna, tetapi dia tidak bisa meninggalkan wanita itu karena rasa cintanya yang begitu besar.
"Untuk masalah tadi, kamu bisa tanyakan sama ayah. Sekarang, tolong antarkan aku pulang." Aruna bangun dari duduknya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju parkiran.
Walaupun Sigit terlihat menekuk wajahnya, tetapi pria itu langsung mengikuti langkah dari pujaan hatinya. Dia kesal tapi tidak bisa marah, selalu saja seperti itu.
Saat tiba di parkiran, Sigit langsung membukakan pintu mobil untuk Aruna, dia bahkan memakaikan sabuk pengaman untuk wanita itu. Setelah itu, dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Pria muda itu sudah memasangkan sabuk pengamannya, dia juga sudah menyalakan mesin mobilnya. Namun, tidak lama kemudian dia mematikan mesin mobilnya dan menolehkan wajahnya ke arah Aruna.
"Sayang, sebenarnya kamu itu beneran mau nikah sama aku ngga sih? Kenapa selama satu tahun ini kamu tetap saja tidak mau membuka hati kamu? Padahal, aku dan Ay sudah sangat dekat," ujar Sigit berkeluh kesah.
Aruna ingin sekali tertawa saat mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, karena pria itu mengadu seperti anak kecil kepada ibunya.
__ADS_1
"Serius, aku sangat serius mau kamu jadikan istri. Jadi...."
"Jadi apa?" tanya Sigit penasaran.
Aruna tersenyum dengan begitu manis sekali, dia bahkan menepuk-nepuk punggung tangan pria itu dengan begitu pelan. Tentu saja hal itu membuat Sigit semakin tidak sabar untuk mendengar kata-kata yang akan keluar dari bibir Aruna.
"Sekarang anterin aku pulang, setelah itu kamu pulang dan tanyakan kepada ayah Steven." Aruna nyengir kuda setelah mengatakan hal itu.
"Ya ampun!" keluh Sigit seraya menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobil tersebut menuju kediaman Dinata.
Selama perjalanan menuju kediaman Dinata, tidak ada obrolan sama sekali di antara keduanya. Sigit terus saja menekuk wajahnya karena masih kesal, berbeda dengan Aruna yang terus saja menahan tawanya.
"Sudah sampai, sekarang turunlah." Sigit berbicara tanpa menolehkan wajahnya ke arah Aruna, karena dia takut ingin bertanya dan merasa kesal karena Aruna lagi-lagi tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya," jawab Aruna.
Aruna membuka sabuk pengaman yang dia pakai, lalu dia membuka pintu mobilnya dan hendak turun. Namun, sebelum turun dia mendekati Sigit dan mengecup pipi pria itu.
Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung turun dari mobil. Bahkan, Aruna langsung berlari menuju kamarnya karena merasa malu sendiri sudah melakukan hal itu.
Lalu, bagaimana dengan Sigit?
Pria itu hanya terdiam seraya mengerjapkan matanya, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Aruna.
"Apakah tadi benar-benar terjadi? Atau Itu semua hanya mimpi?" tanya Sigit seraya menepuk pipinya dengan lumayan kencang. "Sakit ternyata, artinya ini bukan mimpi." Sigit tersenyum lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Siregar dengan tidak sabar.
Selama perjalanan pulang, Sigit menyalakan musik dan bernyanyi dengan begitu riang. Sungguh ini adalah kali pertama dia mendapatkan kecupan di pipinya, dia bahkan berjanji jika pulang nanti tidak akan mencuci muka.
"Ya Tuhan! Ini sangat membahagiakan," ujar Sigit.
Tidak lama kemudian, Sigit sudah sampai di kediaman Siregar. Dengan tidak sabarnya dia berlari menuju kamar sang ayah, Sigit yang melihat ayahnya sedang duduk di atas sofa langsung menghampirinya.
"Yah, tolong katakan kepadaku apa yang kalian obrolkan tadi?" tanya Sigit.
__ADS_1
Rasanya Sigit begitu frustasi karena tadi Aruna tidak mau mengatakan apa pun, padahal dia benar-benar merasa penasaran dengan apa yang diobrolkan oleh Aruna dan juga ayahnya.
"Aruna meminta kamu untuk datang melamarnya," jawab Steven.
"Benarkah? Aruna minta dilamar? Aruna mau menikah denganku?" tanya Sigit beruntun jangan raut wajah tidak percaya.
Sigit bahkan mengusap-usap kedua telinganya, dia sungguh takut jika saat ini dirinya salah mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut.
"Ya, Nak. Dia mau segera kamu nikahi, kalau menurut Ayah lebih cepat lebih baik. Setelah acara lamaran, langsung saja ke acara pernikahan. Jangan terlalu lama," usul Steven.
"Aih! Kalau aku maunya nggak usah acara lamaran dulu, Yah. Langsung nikah aja," ujar Sigit seraya nyengir kuda.
Dia sudah tidak sabar ingin menjadikan Aruna sebagai istrinya, dia juga sudah tidak sabar ingin menjadikan Aruna miliknya seutuhnya.
"Ya ampun! Kamu tuh ngga sabaran banget, bangga banget mau ngesahin janda."
"Aih! Janda juga ngga apa-apa, yang penting aku cinta. Lagian ya, Yah. Aruna itu adalah wanita yang begitu baik, Sigit cinta banget sama dia. Sigit ngga masalah nikahin Janda," jelas Sigit.
''Iya, iya. Mau kamu nikahin janda juga Ayah nggak masalah, yang terpenting kamu serius dalam menjalani rumah tangga dengan Aruna. Besok kita beli cincin tunangan, biar malemnya bisa langsung lamaran."
"Ayah ngga perlu khawatir kalau masalah cincin tunangan, karena aku sudah menyiapkan cincin tersebut dari jauh-jauh hari," ujar Sigit.
Pria itu lalu tertawa setelah mengatakan hal itu, karena pada kenyataannya dia sudah membeli cincin berlian di saat masa iddah Aruna selesai. Sayangnya saat dia melamar Aruna, Aluna berkata dia belum siap untuk menikah kembali.
Luka yang ditorehkan oleh sang begitu menyakitkan, dia takut jika dirinya menerima Sigit hanya dia jadikan pelampiasan saja.
Aruna ingin luka hatinya benar-benar sembuh, setelah itu barulah dia akan memutuskan untuk menikah kembali. Karena dia sangat sadar jika Ayana membutuhkan sosok seorang ayah, dia juga sangat sadar jika dirinya membutuhkan sosok pendamping hidup.
"Haish! Cincin pun kamu sudah beli?" tanya Steven.
"Sudah, Yah. Tinggal beli barang-barang buat hantaran menikah saja," jawab Sigit.
"Hem! Bolehlah boleh," ujar Steven yang langsung disusul tawa oleh Sigit.
__ADS_1