
Asmara sempat terdiam mendengar pertanyaan dari Aruna, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Kenzo, Sigit dan juga Alice secara bergantian. Dia tersenyum canggung ke arah semua orang yang ada di sana.
"Tidak ada yang kurang dari Ken, malah Ken itu orangnya kelewat ganteng. Kelewat tajir dan terlalu perhatian, hanya saja Ara belum begitu mengenal Ken. Jadi, Ara tidak bisa menerima kayak begitu saja."
Asmara berkata dengan jujur, dia mengungkapkan semua yang ada di dalam hatinya. Walaupun pada awalnya memang dia tidak menyukai Kenzo, tetapi setelah bersama-sama selama satu minggu Asmara mulai merasakan hal yang lain.
Walaupun dia belum mencintai Kenzo, tetapi dia bisa merasakan ketulusan dari pria itu. Dia juga merasa senang dengan perlakuan lembut dari pria itu, bahkan Asmara merasa bahagia mendapatkan perhatian dari pria itu.
Kenzo terlihat tersenyum dengan begitu lebar, bahkan tanpa malu dia langsung memeluk wanita itu di hadapan keluarganya. Asmara yang merasa risih dan juga tidak enak hati langsung berusaha untuk melepaskan diri dari pria itu, Aruna yang paham langsung menepuk pundak putranya.
"Ken, jangan seperti itu!" tegur Aruna.
Kenzo yang mendapatkan teguran seperti itu dari Aruna nampak tersenyum tidak enak hati, dia juga merasa aneh sendiri karena dia selalu bersikap konyol ketika di dekat Asmara.
Lebih tepatnya dia selalu menjadi dirinya sendiri, dia selalu bisa mengekspresikan apa yang ada di dalam hati dan juga pikirannya ketika di dekat Asmara.
"Aih! Bun, Ken sangat senang dengan jawaban dari Ara. Itu artinya Ken masih punya kesempatan," jelas Kenzo seraya mengurai pelukannya dengan wanita itu.
Setelah itu, Kenzo terlihat menggenggam kedua tangan Asmara. Lalu, pria itu menatap wajah Asmara dengan begitu lekat.
"Beneran gue itu tampan banget? Beneran masalahnya hanya karena kita belum saling mengenal? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kita bisa saling mengenal?" tanya Kenzo meyakinkan.
Asmara tersenyum ketika melihat wajah Kenzo yang menatap dirinya dengan penuh pertanyaan, karena nyatanya memang hal itu yang ada di dalam hatinya.
Karena hal itu pula yang membuat Asmara tidak pantas bersanding dengan Kenzo, karena dirinya hanyalah wanita biasa.
"Iya, tapi Ken. Kalau bisa elu cari cewek yang sepadan sama elu aja, jangan mau nikah sama perempuan kaya gue. Gue cuma anak nelayan, takutnya nanti elu malu."
__ADS_1
Kenzo langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, raut wajahnya yang ceria langsung berubah menjadi muram. Dia benar-benar tidak suka dengan apa yang aku marah katakan.
"Mana ada kaya gitu, Ken ngga malu." Kenzo menatap tidak suka ke arah Asmara karena mengatakan hal seperti itu.
Aruna menghela napas berat melihat Kenzo yang berusaha untuk mendapatkan perhatian dari Asmara, dia merasa senang karena putranya terlihat lebih hangat.
Dia juga merasa senang karena Kenzo terlihat begitu ceria, senyum di bibir pria itu juga terus aja merekah. Hal ini sudah lama tidak dia lihat, senyum Kenzo hilang bersama dengan kecelakaan yang menimpa Anaya.
Namun, satu hal yang ditakutkan oleh Aruna. Dia takut jika Kenzo mendekati Asmara hanya karena wajah wanita itu begitu mirip dengan Anaya.
Aruna takut jika putranya itu bukan mencintai Asmara, tetapi hanya terobsesi karena ingin memiliki wanita yang berwajah sama dengan Anaya.
"Ken, jangan terlalu memaksakan kehendak kepada Asmara. Wanita itu pasti akan banyak mempertimbangkan hal yang akan dia putuskan, berikan dia waktu untuk berpikir. Jangan mendesak, karena perempuan tidak menyukai hal itu."
Aruna nampak menasehati putranya, karena dia tidak mau jika Kenzo terlalu memaksakan keinginannya kepada Asmara. Lalu, Aruna terlihat menolehkan wajahnya ke arah Asmara.
"Maafkan putra, Buna ya, Sayang. Semoga kamu ngga kapok sama kelakuan dari putra, Buna. Sekarang sudah malam, kamu mau pulang atau menginap di sini?" tanya Aruna.
Asmara jadi berpikir, jika saja dia mempunyai Ibu pasti rasanya akan begitu menyenangkan. Sayangnya dia tidak memiliki ibu, setiap kali dia ingin bertanya kepada ayahnya, dia tidak berani.
"Pulang aja, Bun. Biar pagi bisa bantuin bapak jual ikan," jawab Asmara.
"Kalau misalkan kamu mau pulang, kamu hati-hati di jalan. Satu hal lagi yang ingin Buna katakan, kami memang keluarga berada. Tapi, kami tidak pernah membedakan kasta."
Aruna mengusap punggung Asmara dengan begitu lembut, terlihat sekali jika wanita itu memperlakukan Asmara dengan penuh kasih sayang.
Sigit tersenyum melihat perhatian istrinya terhadap Asmara, pria itu yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Mau miskin atau kaya, semuanya sama-sama memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Jadi, jangan pernah menganggap diri kita miskin. Apalagi kita sudah diberikan kesempurnaan fisik oleh Tuhan," timpal Sigit.
Asmara tersenyum dengan begitu lebar mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, karena memiliki kesempurnaan fisik juga merupakan kekayaan yang tidak ternilai.
"Iya, Pa. Ara lupa, seharusnya Ara banyak bersyukur karena diberikan fisik yang sempurna. Ini adalah kekayaan yang tidak ternilai," ujar Asmara. "Walaupun kulit Ara item banget," imbuhnya seraya terkekeh.
"Item juga anak Papa suka sama Ara, lagian warna kulit itu tidak menjadi tolak ukur," jawab Sigit.
"Hehehe, iya, Pa," ujar Asmara.
Alice yang sejak tadi terdiam seraya memperhatikan apa yang diobrolkan oleh orang-orang yang ada di sana, nampak ikut bersuara.
"Kalian itu ngobrol terus, Kak Ara udah pengen pulang tuh. Biarin dia pulang, tapi kalau bisa besok ke sini lagi ya? Ajak aku jalan-jalan," ujar Alice.
Asmara adalah asli orang pribumi, pikir Alice. Dengan seperti itu dia bisa meminta tolong kepada Asmara untuk berkeliling kota Sorong, rasanya itu akan sangat menyenangkan bagi Alice.
Kenzo yang mendengar apa yang dikatakan oleh Alice langsung menghampiri adiknya, dia mengusap kedua pundak adiknya dengan lembut dan berkata.
"Ngga bisa, besok Kak Ken mau ajak Ara ke salon. Ngga bisa ngajakin kamu jalan-jalan," ujar Kenzo.
Bukannya merasa sedih, tetapi Alice malah terlihat lebih ceria ketika mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut.
"Ya udah ke salon aja, Al ikut. Al juga mau perawatan," ujar Alice.
"Oke!" jawab Kenzo.
Setelah terjadi obrolan yang begitu panjang akhirnya Asmara berpamitan untuk pulang, karena waktu semakin malam. Takutnya Aruna dan juga keluarganya ingin istirahat.
__ADS_1
Selepas kepergian Asmara, Aruna mengantarkan putranya menuju kamarnya. Lalu, wanita itu nampak mengajak putranya untuk berbicara.
"Ken, Buna senang karena bisa akhirnya kamu ceria kembali. Buna juga senang karena kamu sudah berusaha untuk membuka diri, tapi... kamu ingin menikahi Asmara bukan karena dia mirip dengan Anaya, kan?" tanya Aruna.