
Dia sadar betul jika pemeran utama yang ada di dalam video tersebut adalah dirinya dan juga Angel, dia masih ingat saat dirinya melakukan percintaan panas dengan Angel. Sama persis seperti video tersebut.
"Sudah sadar apa kesalahan anda, hem?" tanya Sigit.
Sam masih terlihat kebingungan, walaupun dia sadar betul jika itu adalah dirinya dan juga Angel, dia benar-benar merasa heran kenapa video percintaan panasnya dengan Angel bisa tersebar.
Bahkan, yang dia herankan penyebar video tersebut adalah akun media sosialnya sendiri. Seingatnya sudah beberapa hari ini dia tidak membuka akun sosial medianya, karena dia terlalu sibuk memikirkan Aruna dan juga dia terlalu sibuk untuk menyembuhkan diri di rumah sakit.
Satu hal yang pasti, yang tahu kata sandi dari semua akun sosial media miliknya hanyalah Angel, Aruna bahkan tidak pernah mengutak-atik akun media sosialnya.
Seingatnya Aruna bahkan tidak sempat untuk bermain sosial media, karena Aruna begitu sibuk mengurusi dirinya, mengurusi Ayana, mengurusi Ibunya dan mengurusi semua urusan rumah tangga.
Satu hal lagi yang Sam herankan, kejadian ini terekam ketika dia berada di kediaman Angel. Sam menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah Angel sengaja merekam adegan percintaan panas mereka dan menyebarkannya melalui banyak akun sosial media.
Namun, jika benar itu adalah perbuatan dari Angel, apakah perempuan itu tidak berpikir dengan efek yang akan ditimbulkan dari apa yang dilakukan oleh Angel, pikirnya.
Melihat Sam yang kebingungan seperti orang linglung, Sigit berdecak sebal. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan pria itu, lalu Sigit menepuk-nepuk pundak Sam dan berkata.
"Malah diam saja, oh iya. Aku lupa, pasti kamu mengharapkan pesangon yang besar dari perusahaan Siregar, makanya kamu belum pergi juga dari sini."
Sigit langsung bangun dan segera mengambil selembar cek, dia memberikan cek dengan nominal yang besar itu kepada Sam seraya berkata.
"Karena kamu sudah berusaha untuk membantu mengembangkan perusahaan Siregar selama sepuluh tahun, aku memberikan uang pesangon yang besar. Semoga bermanfaat," ujar Sigit.
Ya, Sam masuk ke perusahaan Siregar ketika dia berusia dua puluh satu tahun. Kini, usia Sam sudah tiga puluh satu tahun. Tahun ini adalah tahun kesepuluh dia mengabadikan diri di perusahaan Siregar.
Sigit memberikan cek tersebut tepat di tangan kanan Sam, lalu dia menghampiri ayahnya dan meminta pria itu untuk segera mengusir Sam dari sana.
Sigit masih sangat ingat ketika Sam melamar kerja di perusahaan Siregar, waktu itu dirinya baru berusia dua belas tahun. Dia selalu datang ke kantor setiap pulang sekolah, karena Sigit selalu saja ingin berdekatan dengan ayahnya.
Sigit sangat tahu jika Sam begitu bekerja keras untuk membantu mengembangkan perusahaan Siregar, dia begitu gigih dan juga cerdas. Jika saja tidak mengingat akan hal itu, rasanya dia ingin menendang pria itu.
__ADS_1
Bahkan, rasanya Sigit tidak ingin memberikan uang sepeser pun kepada pria seperti Sam. Namun, dia adalah manusia biasa yang berperasaan. Anggaplah itu sebagai ucapan terima kasihnya kepada Sam yang selama ini sudah membantu mengembangkan perusahaannya.
"Astagfirullah! Kenapa masih diam saja? Bangun dan pergilah," pinta Sigit.
Sam berusaha untuk bangun walaupun badannya terasa begitu lemas, dia menatap Steven dengan tatapan penuh permohonan. Pria itu seolah berkata jika dirinya tidak ingin dipecat.
"Pergilah, Sam. Aku tidak bisa memaafkan pria yang berselingkuh," ujar Steven pelan tapi penuh dengan penekanan.
Sam menganggukkan kepalanya, dia sangat tahu jika Steven adalah sosok pria yang begitu setia. Dia paham jika Steven begitu membenci pria yang senang berselingkuh.
"Maaf," ujar Sam pada akhirnya.
Sam pergi dari ruangan Steven dengan membawa selembar cek yang diberikan oleh Sigit, pria itu bahkan tidak masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu. Dia tidak membawa apa pun dari sana.
Dia melangkahkan kakinya dengan gontai keluar dari perusahaan Siregar, para karyawan yang ada di sana kembali ingin menyerang pria itu. Namun, ternyata di sana sudah banyak security yang berjaga dan menghalangi mereka agar tidak menyakiti Sam.
Seperti hal itu sengaja dilakukan atas perintah Sigit ataupun Steven, karena mereka berdua tidak ingin ada keributan di kantor.
Untuk sesaat pria itu terdiam, dia begitu pusing dan masih tidak menyangka jika semua ini akan terjadi kepada dirinya.
"Aku harus ke rumah Angel, aku harus bertanya kepada wanita itu. Aku juga harus mengambil ponselku," ujar Sam.
Setelah mengatakan hal itu, Sam langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Angel. Sepenjang perjalanan menuju rumah Angel dia terlihat kesal, emosi dan masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
"Apakah mungkin Angel berniat untuk menghancurkan aku?" tanya Sam dengan sedih.
Jika iya, rasanya Sam akan benar-benar merasakan sakit hati. Karena wanita yang selama ini dia cinta dan dia bela malah berusaha untuk menghancurkan dirinya.
Saat tiba di kediaman Angel, Sam langsung masuk dan mencari ponselnya. Tentunya langkahnya langsung tertuju pada kamar Ayaka, dia tersenyum kecut kala melihat ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas.
"Kenapa sangat sepi? Ke mana Angel?" tanya Sam seraya mengecek ponsel miliknya.
__ADS_1
Diam melihat riwayat media sosial miliknya, 2 jam live acara percintaan panas yang dia lakukan dengan Angel.
"Astaga! Selama itukah?" tanya Sam dengan raut wajah yang sudah memerah.
Malu, marah dan juga kesal yang dia rasakan saat ini. Sam dengan cepat keluar dari dalam kamar Ayaka, lalu dia mencari keberadaan Angel dan juga Ayaka.
Tidak lama kemudian, dia mendengar suara Angel dan juga Ayaka yang sedang tertawa dengan riang di taman belakang. Sam langsung melangkahkan kakinya untuk menghampiri keduanya, dia tersenyum lalu menghampiri Ayaka.
Ayaka terlihat begitu senang karena Sam kembali datang, gadis kecil itu bahkan langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya dengan tersenyum riang.
"Ayah pulang lagi? Bukankah kata Bunda, Ayah lagi kerja? Kok sekarang Ayah udah pulang?" tanya Ayaka beruntun.
Sam tersenyum lalu menunduk untuk mengecup kening putrinya, Ayaka terlihat tersenyum bahagia. Dia merasa jika dia tidak akan lagi berpisah dengan ayahnya, Ayaka benar-benar merasa bahagia.
"Iya, Sayang. Ayah ingin berbicara dulu dengan Bunda, Aya bisa bermain sendiri dulu ngga di dalam kamar?" tanya Sam.
Rasanya apa yang akan dibicarakan oleh Sam adalah hal yang begitu pribadi, anak kecil rasanya sangat tidak pantas untuk mendengarkan.
"Bisa, Ayah. Tapi Ayah jangan pergi ke mana-mana saat Aya di dalam kamar," pinta Ayaka.
Karena tiba-tiba saja dia merasa takut jika Sam akan pergi lagi, perasaan Ayaka merasa tidak enak lagi.
"Ya, tidak akan. Pergilah, Sayang. Ayah ingin berbicara dulu dengan Bunda," ucap Sam.
Setelah mengatakan itu, Sam langsung mengecup pipi putrinya. Lalu, dia menurunkan putrinya dari gendongannya dan meminta Ayaka untuk main sendiri di dalam kamar.
Setelah melihat kepergian Ayaka, Sam duduk di atas bangku taman. Lalu, dia meminta Angel untuk duduk bersama dengan dirinya.
"Ada apa? Kenapa kembali pulang? Tidak jadi kerja?" tanya Angel.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya. Apakah kamu merekam percintaan panas kita tadi malam?" tanya Sam dengan ragu, karena takut Angel akan marah.
__ADS_1