Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 13


__ADS_3

Anisa merasa tidak paham dengan dirinya saat ini, karena wanita itu kini merasakan hal yang tidak pernah dia inginkan. Ingin digauli, padahal biasanya saat dia berdekatan dengan Sofyan saja, dia merasa begitu enggan.


Sofyan memang selalu berkata jika pria itu begitu mencintai dirinya, tetapi tidak pernah ada rasa sedikitpun untuk pria itu. Bahkan, di saat pria itu melakukan hal yang paling baik pun, Anisa tidak pernah merasa tersentuh.


Namun, kali ini Anisa merasakan jika seluruh tubuhnya memanas. Bahkan, hanya dengan melihat tangan Sofyan saja, rasanya dia ingin tangan pria itu segera meremat kedua dadanya.


Apalagi ketika dia melihat milik pria itu, rasanya Anisa sudah tidak sabar ingin memainkan milik pria itu dan meminta Sofyan untuk segera menumbuk miliknya.


Karena saat ini dia merasa tiba-tiba saja miliknya itu berkedut, ada sebuah rasa yang begitu menggelitik. Hal itu membuat dia tidak tahan untuk digauli, bahkan tiba-tiba saja dia membayangkan Sofyan yang sedang menggoyangkan pinggulnya di atas tubuhnya.


"Mau sekarang atau nanti?" tanya Sofyan.


"Terserah,'' jawab Anisa.


Mulutnya memang mengatakan kata terserah, tetapi tangan kanannya terlihat mulai mengusap kedua dadanya secara bergantian. Sedangkan tangan kirinya mengusap miliknya yang semakin lama terasa semakin berkedut.


Sofyan tertawa penuh kemenangan di dalam hatinya, karena reaksi obat yang sudah dia campurkan pada teh hangat milik Anisa sudah mulai bereaksi.


"Tunggu sebentar," ujar Sofyan seraya membuka semua kain yang melekat di tubuhnya.


Anisa langsung menggigit bibir bawahnya ketika dia melihat milik pria itu ternyata sudah berdiri dengan begitu tegak, nampak gagah dan keras seperti batu.


"Aku tidak tahan," ujar Anisa yang langsung bangun dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sofyan.


Bahkan, tanpa ragu Anisa langsung mencium bibir Sofyan dengan begitu bergairah. Pria itu tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung membalas pagutan bibir dari Anisa.


Sofyan mendorong tubuh Anisa dengan bibir mereka yang masih saling bertaut, keduanya nampak begitu bergairah. Bahkan, Anisa dengan tidak sabarnya membalik posisi. Hingga kini Sofyan yang berada di bawah Anisa.


Anisa menggoyangkan pinggulnya di atas milik pria itu, Sofyan sampai memejamkan matanya karena merasakan sensasi yang luar biasa dengan apa yang dilakukan oleh Anisa.


Tidak lama kemudian, Anisa nampak menunduk. Lalu, wanita itu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir pria itu. Tentunya dengan pinggulnya yang terus saja bergoyang, hal itu membuat hasrat Sofyan terpancing.


"Aku tidak tahan," ujar Sofyan ketika pagutan bibir mereka terlepas.


Sofyan dengan cepat membalikkan tubuh Anisa, lalu dia berusaha untuk menerobos liang kelembutan milik Anisa yang nampak begitu becek seperti habis terkena hujan.


"Ahh!" jerit Anisa kesakitan ketika benda keras yang seperti batu itu menerobos masuk ke dalam inti tubuhnya.


"Tahan, Sayang. Sakitnya hanya sebentar saja," ujar Sofyan yang langsung menggoyangkan pinggulnya.


Dia sudah tidak ingin bermain santai, kata dia sudah benar-benar bergairah melihat wajah Anisa yang memerah karena menahan gairah yang sudah siap untuk diledakkan.


"Pelan-pelan," pinta Anisa.


Sofyan tidak mendengarkan apa yang diminta oleh wanita itu, dia terus saja menggoyangkan pinggulnya dengan begitu kencang.


Namun, dengan cepat dia menyumpal bibir wanita itu dengan ciuman penuh hasrat. Sofyan juga langsung memainkan kedua dada Anisa dengan cepat, hal itu dia lakukan agar wanita itu terangsang.

__ADS_1


"Ouch! Enak," ujar Anisa setelah beberapa lama Sofyan menggauli wanita itu.


Sofyan tersenyum penuh kemenangan, lalu dia melepaskan miliknya dari liang kelembutan milik Anisa. Anisa sampai terlihat begitu kesal sekali, karena dia harus kehilangan kenikmatan yang sedang dia dapatkan.


"Lagi," rengek Anisa.


"Sebentar, Sayang." Sofyan langsung meminta Anisa untuk bangun.


Lalu, pria itu meminta Anisa merangkak layaknya bayi. Anisa menurut, setelah itu Sofyan nampak bermain dengan inti tubuh Anisa dari belakang.


Anisa sampai menggoyang-goyangkan pinggulnya karena merasa geli dan juga enak secara bersamaan, setelah puas Sofyan langsung berdiri di atas kedua lututnya.


Lalu, dia mulai menghentak inti tubuh Anisa dari belakang dengan begitu cepat. Anisa bahkan sampai hampir terjatuh dibuatnya.


"Pelan-pelan," pinta Anisa.


"Iya, Sayang," jawab Sofyan yang langsung membungkuk untuk menggapai dada Anisa dengan goyangan pinggulnya yang semakin melambat.


Jika sepasang manusia tidak halal itu sedang bergumul dengan begitu panas, berbeda dengan Kenzo, pria itu baru saja mendapatkan kunci cadangan apartemen milik Sofyan.


Kenzo yang ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Anisa bersama dengan Sofyan, langsung membuka pintu apartemen tersebut.


Saat pintu apartemen itu terbuka dengan begitu lebar, Kenzo sempat kaget karena melihat gamis milik Anisa yang teronggok di atas lantai.


Bahkan, bra dan juga segitiga pengaman milik wanita itu nampak tersangkut pada lampu yang ada di pojok ruangan. Kenzo sampai menggelengkan kepalanya.


Rasanya dia tidak percaya jika Anisa benar-benar bisa melakukan hal sejauh itu, melakukan hal yang haram demi menjebak dirinya.


Karena merasa penasaran akhirnya Kenzo melangkahkan kakinya menuju kamar utama, kamar itu nampak terbuka dengan lebar karena Sofyan memang tidak menutup pintunya.


Sofyan berpikir tidak ada yang akan melihat kegiatan panas yang sedang mereka lakukan, karena memang Sofyan tidak pernah mengajak teman-temannya untuk masuk ke dalam apartemen tersebut.


Di dalam apartemen tersebut banyak persediaan obat-obatan terlarang, banyak persediaan obat perangsang dan juga obat tidur. Karena memang dia menjual obat-obatan tersebut.


Selama dia bekerja di Klub malam, gaji sebagai bartender tentunya lebih kecil daripada penghasilannya dalam menjual obat-obatan tersebut.


"Ouch! Enak, cepetin!"


Deg!


Jantung Kenzo rasanya seakan hendak copot mendengar rengekan manja dari bibir istrinya, dengan perlahan Kenzo melangkahkan kakinya untuk membuktikan pendengarannya salah atau tidak.


Lemas rasanya kaki Kenzo melihat apa yang sedang dilakukan oleh Anisa saat ini, wanita itu sedang berada di atas tubuh Sofyan.


Kedua tangannya bertumpu pada dada Sofyan, sedangkan pria itu nampak menahan bokong Anisa dengan kedua tangannya. Karena Sofyan sedang menghentak inti tubuh Anisa dari bawah.


"Ouch! Yan, enak. Aku mau lebih cepat lagi," pinta Anisa.

__ADS_1


'Gue ngga nyangka elu bisa kaya gini Anisa,' ujar Kenzo yang hanya mampu dia katakan di dalam hati saja.


Rasanya kaki Kenzo begitu sulit untuk melangkah, tetapi logika pria itu masih bisa berfungsi dengan baik. Kenzo mengambil ponselnya lalu merekam apa yang dilakukan oleh Anisa dan juga Sofyan.


Baru satu menit dia merekam adegan percintaan panas antara Anisa dan juga Sofyan, tiba-tiba saja Kenzo merasa perutnya mual. Dengan cepat pria itu keluar dari dalam apartemen itu.


Kenzo memutuskan untuk segera pergi ke rumah kontrakannya, lebih baik dia menunggu Anisa di sana, daripada melihat apa yang dilakukan oleh Anisa dengan pria itu, pikirnya.


Saat tiba di rumah kontrakannya, Kenzo nampak duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Dia hanya terdiam seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, matanya menatap langit-langit kontrakan.


Sungguh Kenzo tidak menyangka jika Anisa mampu melakukan hal seperti ini, dia tidak menyangka jika Anisa memiliki segudang rencana jahat yang akan dilakukan kepada dirinya.


"Kamu ternyata sangat jahat, Nisa." Kenzo berkata dengan matanya yang hampir terpejam


Lelah sekali rasanya melihat Anisa yang melakukan hal seperti itu, bahkan tubuhnya terasa lemas dan perutnya terasa diaduk-aduk. Tidak lama kemudian, Kenzo nampak tertidur dengan pulas di atas sofa dengan posisi duduk.


Jika Kenzo sudah terlihat lelap dalam tidurnya, berbeda dengan keadaan di apartemen milik Sofyan. Anisa dan juga Sofyan nampak bergelut dengan begitu sengit, keduanya berlomba-lomba untuk mencapai puncak kenikmatan.


Anisa yang belum pernah merasakan bercinta terlihat begitu bersemangat, begitupun dengan Sofyan. Keduanya terlihat berusaha untuk saling memuaskan dan seakan ingin terus dipuaskan.


"Aku, aku mau sampai!" ujar Anisa untuk yang ketiga kalinya.


Sofyan tersenyum dengan begitu lebar lalu mempercepat hentakannya, tidak lama kemudian keduanya mengejang bersamaan. Keduanya sampai pada puncak kenikmatannya.


"Enak?" tanya Sofyan dengan tubuh yang ambruk di atas tubuh Anisa. Namun, milik pria itu masih betah bersarang di dalam inti tubuh Anisa.


Dia kusakkan wajahnya di dada Anisa, tidak lama kemudian bahkan Sofyan terlihat menyesap ujung dada Anisa yang nampak memerah karena ulahnya.


"Ouch! Enak, rasanya ngga mau berhenti. Masih pengen lagi," ujar Anisa seraya menggoyangkan pinggulnya.


"Ya ampun! Kasih aku waktu untuk istirahat, nanti kita main lagi." Sofyan mencabut miliknya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Anisa menolehkan wajahnya ke arah pria itu, lebih tepatnya ke arah milik pria itu. Milik Sofyan masih terlihat berdiri dengan begitu tegak, Anisa nampak tersenyum lalu bangun dan mendidih pria itu.


"Kalau kamu masih cape, biarkan aku yang bergoyang. Biarkan aku yang memuaskan kamu," ujar Anisa.


Sofyan langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, lalu dia menggapai dada Anisa dan merematnya secara bergantian.


"Mau muasin aku atau kamu yang mau nyari kepuasan?" tanya Sofyan yang sangat tahu jika Anisa saat ini masih ada dalam pengaruh obat perangsang.


"Dua-duanya," jawab Anisa yang dengan cepat memasukkan milik pria itu ke dalam inti tubuhnya.


"Ouch!" erang keduanya bersamaan.


Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu terus saja bercinta tanpa henti, hingga pukul dua barulah Anisa menghentikan aktivitasnya. Sepertinya efek obat itu sudah mulai menghilang, tetapi Sofyan tetap merasa senang karena mereka melakukan percintaan panas sampai enam jam lamanya.


Anisa bahkan sampai langsung tertidur dengan begitu pulas, Sofyan tersenyum dengan begitu lebar lalu mengusap perut Anisa.

__ADS_1


"Aku sudah menyemburkan benih-benihku di dalam sini, aku yakin kamu akan segera mengandung benihku," ujar Sofyan.


__ADS_2