
Aruna semakin menangis mendengar apa yang dikatakan oleh pria muda yang ada di dalam pelukannya, karena dia merasa jika adiknya itu benar-benar sangat bijak dalam berbicara.
"Jadi, menurut kamu apa yang harus aku lakukan? Karena jika untuk memaafkan rasanya aku tidak bisa," ujar Aruna.
"Kamu harus--"
Sagara langsung berbisik tepat di telinga Aruna, dengan senang hati Aruna mendengarkan apa yang dibisikkan oleh Sagara di telinganya.
"Memangnya harus seperti itu, ya?" tanya Aruna.
"He'em, kamu itu walaupun perempuan tetapi tidak boleh lemah. Harus strong," ujar Sagara.
Aruna langsung melerai pelukannya, lalu dia menatap wajah segala dengan begitu lekat. Wajah Sagara terlihat begitu tampan tetapi manis, sangat enak dipandang dan juga tidak membosankan.
Jika menurut Arimbi dirinya mirip dengan ayahnya, itu artinya Sagara mirip dengan ibunya. Namun, tubuh Sagara terlihat begitu jangkung. Aruna jadi menduga-duga di dalam hatinya, mungkin tubuh Sagara mirip dengan ayahnya.
"Kenapa menatapku seperti itu, Kak?" tanya Sagara.
Aruna terlihat salah tingkah mendapatkan pertanyaan seperti itu, dia ingin sekali mengatakan jika dirinya adalah bagian dari keluarga Dinata. Namun, dia belum merasa yakin untuk mengatakannya.
"Tidak apa, aku mau pergi telpon sahabat aku. Mau minta tolong," jawab Aruna.
"Oh gitu! Semoga berhasil, aku juga mau pergi. Mau shalat Dhuha dulu. Udah jam setengah sepuluh," ujar Sagara.
Aruna terdiam mendengar perkataan dari Sagara, Selama tinggal bersama dengan Arimbi, Aruna dibesarkan dengan didikan wanita itu. Bahkan, Aruna menganut agama yang sama dengan Arimbi. Dia juga menganut agama yang sama dengan Sam, lalu agama apa yang dianut oleh keluarga Dinata, pikirnya.
"Shalat, ya? Memangnya kamu agamanya apa?" tanya Aruna penasaran.
"Muslim, Kak. Mari," pamit Sagara yang segera berlalu dari hadapan Aruna. Dia terlihat menyeberangi jalan lalu masuk ke dalam masjid yang berada tidak jauh dari taman tersebut.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Jika keluargaku beragama muslim, lalu aku harus apa sekarang?" tanya Aruna dengan bingung.
Aruna terdiam cukup lama karena memikirkan hal tersebut, tidak lama kemudian dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Arin. Hanya sahabatnya itu yang terlintas di dalam pikirannya, dia ingin meminta tolong kepada sahabatnya tersebut.
Nasib seakan sedang memihak kepada Aruna, Arin sedang tidak bekerja dan berkata akan langsung datang ke tempat di mana Aruna berada. Karena kostan yang dia tempati dekat dengan taman di mana Aruna sekarang berada.
"Beb, kenapa baru hubungin gue sekarang? Setelah 6 tahun nggak pernah nelpon gue dan sekarang tiba-tiba elu kaya orang butuh banget bantuan gue, ada apa, hem?" tanya Arin seraya memeluk Aruna dengan begitu erat.
"Arin, gue--"
Aruna langsung menceritakan apa yang terjadi di dalam rumah tangganya kepada Arin, selama menceritakan hal itu Aruna terus saja menangis karena merasa begitu sedih.
"Kurang ajar banget si Sam itu, kalau gitu habis jemput Ay kita beli barang yang diperlukan." Arin berbicara dengan begitu menggebu, dia yang merasa gemas bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya.
"Elu yakin mau bantu gue?" tanya Aruna dengan raut bahagia di wajahnya.
"Yakin, untuk urusan Itu elu serahin aja ama gue. Yang penting setelah jemput Ay nanti kita pergi untuk membeli alatnya dan sekalian kita senang-senang," ujar Arin.
"Elap dulu tuh ingus, jelek banget tau ngga. Jorok juga," keluh Arin seraya menyerahkan tisu basah kepada sahabatnya tersebut.
Setelah menyusun rencana dengan matang bersama dengan Arin, akhirnya Aruna mengajak Arin untuk menjemput putri cantiknya.
Saat Aruna datang dan mengajak Ayana untuk pergi ke pusat perbelanjaan, putri cantiknya itu begitu senang sekali. Dia bahkan langsung akrab dengan Arin setelah mereka berkenalan.
"Kayaknya Ay kita titipkan di tempat bermain khusus anak aja, biar kita leluasa," saran Arin.
"Tapi, gue nggak pernah ninggalin Ay sendirian." Aruna terlihat begitu khawatir, karena menitipkan Ayana di sekolahan saja dia selalu merasa khawatir.
"Kita minta jagain sama petugasnya, elu tinggal bayar lebih aja," jelas Arin.
__ADS_1
Awalnya Aruna merasa tidak yakin jika harus menitipkan Ayana, tetapi setelah Arin menjelaskan apa yang harus mereka lakukan, akhirnya Aruna pun mengiyakan.
Aruna bertanya kepada putrinya tersebut, permainan apa yang ingin dimainkan. Ternyata Ayana ingin bermain istana pasir dan juga istana balon, Aruna langsung mengiyakan dan meminta salah satu penjaga yang ada di sana untuk menjaga putrinya.
"Buna pergi sebentar, mau beli baju untuk Ay. Kamu sama Mbaknya dulu, kalau misalkan Ay sudah bosan bermain, Ay boleh minta tolong Mbaknya untuk menelpon Buna."
"Siyap, Buna!" pekik Ayana dengan riang karena dia ingin segera bermain bersama dengan anak-anak lainnya di tempat tersebut.
"Titip Ay, ya Mbak. Kalau sudah selesai langsung telpon saya aja,'' pinta Aruna.
"Siap, Nyonya," jawabnya.
Setelah mengatakan hal itu, Aruna dan juga Arin langsung berkeliling untuk membeli apa yang mereka butuhkan. Tentunya alat penting untuk memantau kegiatan Sam bersama dengan Angel.
Tidak hanya itu saja, Aruna bahkan membeli dress yang cantik dan juga seksi untuk dirinya. Dia juga membeli beberapa tas dan sepatu yang dia inginkan, lalu dia membeli baju-baju untuk Ayana dan keperluan putri cantiknya tersebut.
Setelah puas berbelanja, Aruna bahkan membeli mobil mewah dan juga melakukan perawatan ke salon. Tentunya dia mengajak Arin untuk ikut melakukan perawatan, karena wanita yang masih berstatus sebagai single itu tidak mau diajak berbelanja olehnya.
"Ini udah sore banget loh, makan dulu yuk. Gue laper," ajak Arin seraya mengelus perutnya.
"Hem! Gue juga," jawab Aruna.
"Aku juga laper, Buna." Ayana mengelus perutnya, Aruna dan Arin langsung tertawa.
Di lain tempat.
Sam baru saja selesai dengan pekerjaannya, dia sudah bersiap untuk pulang. Tentu saja sebelum dia pulang, pria itu mengambil ponselnya dan juga kunci mobilnya. Dia duduk sebentar di atas sofa, karena ingin mengirimkan pesan kepada Angel.
Namun, wajahnya terlihat begitu kaget ketika dia mendapatkan notif pengeluaran dari m-banking. Bibirnya bahkan sampai menganga lebar dengan mata yang membulat dengan sempurna.
__ADS_1
"Astaga! Apa saja yang Aruna beli? Kenapa pengeluaran yang Aruna pakai sama seperti harga rumah yang aku belikan untuk Angel?" tanya Sam dengan kesal dan juga gundah.