Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 42


__ADS_3

Kenzo nampak mengungkung pergerakan gadis itu, bahkan dia juga menekan kedua tangan kanan dan kiri Anaya. Tentunya hal itu membuat Anaya tidak bisa bergerak dengan bebas.


Ketika Anaya akan melayangkan protesnya, Kenzo akan dengan cepat mencium bibir wanita itu. Anaya sampai merasa jika Kenzo sedang memanfaatkan dirinya.


"Ken! Bangun ih! Kamu tuh nakal banget," ujar Anaya. "Aku ngga suka," imbuhnya.


Kenzo tahu jika Anaya saat ini sedang marah kepada dirinya, tetapi entah kenapa dia tidak merasa takut. Justru dia malah semakin ingin menggoda wanita itu.


"Aku ngga bisa bangun, jawab dulu. Kamu udah ingat Ken apa belum?" tanya Kenzo.


Anaya kembali menatap wajah pria itu dengan lekat, tidak lama kemudian Anaya merasakan kepalanya begitu pusing dan juga sakit.


"Duh! Sakit banget ini," ujar Anaya.


Anaya bahkan langsung memegangi kepalanya yang terasa sakit, saat Anaya memejamkan matanya, seperti ada bayangan-bayangan masa lalu yang terlintas di dalam otaknya.


"Apanya yang sakit?" tanya Kenzo seraya turun dari tubuh wanita itu, karena dia merasa tidak tega ketika melihat wajah Anaya yang kini ditekuk.


Bahkan, dia merasa tidak tega ketika melihat wajah Anaya yang kini berubah menjadi seperti orang kebingungan dan juga kesakitan.


"Aku hanya butuh istirahat sebentar, Ken. Nanti kita bicara lagi, kumohon!" ujar Anaya mengiba.


"Baiklah! Ken keluar dulu," pamit Kenzo.


Kenzo tidak boleh egois, dia harus memberikan ruang kepada Anaya untuk berpikir. Dia harus membiarkan Anaya mengingat-ingat siapa dirinya.


Karena dokter juga berkata tidak boleh memaksakan kehendak, takut takutnya nanti Anaya malah akan merasakan hal di luar dugaan.


Namun, sebelum pria itu keluar dari dalam kamar tamu tersebut, kembali pria itu mencuri ciuman dari bibir Anaya. Di satu sisi Anaya merasa kesal mendapat perlakuan seperti itu dari Kenzo.


Namun, di sisi yang lainnya dia merasa ada kebahagiaan tersendiri yang begitu sulit untuk dia ungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Ken keluar dulu, kalau ada apa-apa panggil Ken aja," ujar Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Kenzo benar-benar keluar dari dalam kamar itu. Setelah kepergian Kenzo, Anaya nampak bangun dan duduk seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.


Dia kembali memikirkan mimpi yang dia alami, semuanya benar-benar terasa begitu nyata. Dia kembali mengingat-ingat siapa wanita dan juga pria paruh baya yang ada di dalam mimpinya tersebut.


"Jika aku bukan anak bapak, mungkin nggak sih kalau misalkan kedua orang yang ada di dalam mimpi itu adalah kedua orang tuaku?" tanya Anaya lirih.


Ah! Anaya bener-bener ingin mengingat semua masa lalunya, tetapi sepertinya otaknya belum sanggup untuk melakukan hal seperti itu.


"Sebaiknya aku diam saja, aku istirahat saja. Tapi, nanti kalau ada bapak datang aku mau meminta beliau untuk menceritakan semuanya," ujar Anaya.


Jika benar selama ini dia hilang ingatan, dia ingin mengingat semuanya. Dia ingin tahu bagaimana masa lalunya, dia ingin tahu siapa keluarganya.


Anaya kembali merebahkan tubuhnya, dia usap kalung yang saat ini dia pakai. Terasa ada kehangatan yang sampai di relung hatinya, entah kenapa tetapi Anaya tidak tahu.


"Lagi ngelamunin apa?" tanya Alan yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di tepian tempat tidur.


"Anu, Pak! Ara mau tanya, apakah benar jika Ara bukan anak kandung Bapak?" tanya Anaya.


"Ya, Sayang. Kamu adalah anak gadis yang ditemukan di lautan lepas, kamu bukan anak kandung Bapak. Tapi, walaupun seperti itu bapak tetap menganggap kamu sebagai putri Bapak sendiri," jelas pria itu.


Anaya langsung mewek mendengar apa yang dikatakan oleh bapaknya tersebut, dia menangis di dalam pelukan ayah tercintanya.


"Kamu tidak usah bersedih, Bapak akan tetap menyayangi kamu. Tapi, Bapak juga berdoa semoga kamu bisa dipertemukan dengan seluruh anggota keluarga kamu," ujar Alan.


"Hem!" jawab Anaya dengan hanya deheman saja.


"Sekarang istirahatlah, nanti kita akan makan malam bersama. Nyonya Aruna sedang membuatkan makanan kesukaan kamu," ujar Alan.


Anaya merasa tidak enak hati kepada Aruna, Karena wanita itu begitu baik dan juga pengertian serta perhatian.

__ADS_1


"Benarkah, Pak? Naya mau," ujar Anaya.


Setelah kejadian hari itu, Anaya tetap tinggal di kediaman Kenzo. Begitupun dengan Alan, pria itu tinggal di kediaman Kenzo di dalam kamar yang khusus disiapkan oleh Kenzo untuk pria itu.


Rumah makan milik pria muda itu akhirnya dibuka juga, Anaya dan juga Alan ditugaskan oleh Aruna untuk menjaga rumah makan tersebut. Sedangkan Kenzo dan juga Aman tetap mengurusi perusahaan milik Kenzo.


Jika ada waktu luang Kenzo akan menemui Anaya, dia akan membawakan makanan kesukaan dari Anaya setiap kali bertemu dengan wanita itu.


Dia juga akan membawakan barang-barang yang disukai oleh Anaya, terkadang wanita itu merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo.


Namun, terkadang ada hal yang membuat Anaya teringat akan apa yang sudah terjadi di masa lalunya. Dia sudah mulai bisa mengingat apa yang terjadi terhadap dirinya.


Anaya bahkan kini sudah mulai mengingat Kenzo, tetapi gadis itu tidak memberitahukan hal itu kepada Kenzo. Hal itu sengaja dia lakukan karena nanti setelah ingatannya benar-benar pulih, Anaya akan menceritakan semuanya kepada semua orang.


Satu minggu sudah Anaya tinggal di kediaman Kenzo, wanita itu nampak begitu betah tinggal bersama dengan Alan dan juga Kenzo.


Terlebih lagi dengan malam ini, Anaya merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena Ayana, Ayaka, Sandi dan juga Stefano nampak datang ke kota Sorong.


Mereka benar-benar merasa bahagia karena ternyata Anaya masih hidup, saudara adik beradik itu bahkan merasa penasaran dengan wajah Anaya saat ini.


Saat Ayana dan juga Ayaka melihat Anaya yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Aruna, keduanya terlihat begitu senang sekali.


Bahkan, mereka langsung menghampiri Anaya dan memeluk gadis itu dengan begitu erat. Awalnya Anaya diam saja, tetapi ketika melihat kedua kakaknya yang datang dan langsung memeluk dirinya, Anaya langsung menangis disertai senyuman.


Dia menangis bukan karena sedih, dia menangis karena bahagia dan juga terharu akhirnya bisa bertemu dengan semua anggota keluarganya.


"Dek! Udah ingat sama Kakak?" tanya Ayaka.


Ayaka terlihat begitu antusias sekali dalam bertanya, dia seolah berharap jika adiknya itu akan langsung mengingat dirinya.


Walaupun Anaya merasa belum pernah bertemu dengan Ayana dan juga Ayaka, tetapi dia merasa ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya ketika mendapatkan pelukan dari kedua orang yang mengaku sebagai kakaknya tersebut.

__ADS_1


"Belum, tapi Naya janji akan berusaha untuk mengingat kalian," jawab Anaya.


Gadis itu memang begitu pandai sekali dalam bertutur kata, tentunya hal itu membuat Ayana dan juga Ayaka akan bersabar untuk menunggu ingatan adiknya itu pulih.


__ADS_2