
Sandi hanya bisa menatap wajah istrinya yang kini terlelap di dalam tidurnya, wanita itu tidur dengan keadaan tidak nyaman. Mungkin karena area intinya masih terasa sakit karena ulahnya.
Sungguh Sandi begitu terburu-buru, dia sampai lupa harus melakukan apa kepada Ayana yang memang baru merasakan untuk pertama kalinya dimasuki oleh milik seorang pria.
Sandi sempat merasa kesal karena dirinya terlalu grasak grusuk, seharusnya dia bersabar dan melakukannya dengan perlahan agar Ayana tidak marah kepada dirinya.
Lebih tepatnya, Ayana tidak merasa kesakitan yang luar biasa sampai harus menendang perutnya dengan begitu kencang.
Sandi yang memang belum berpengalaman akhirnya mengambil ponselnya, lalu dia mengetikkan cara melakukan malam pertama pada mesin pencarian gulu-gulu.
"Semoga saja aku bisa belajar dengan cepat," ujar Sandi.
Pria yang belum lama menjadi suami itu terlihat begitu serius membaca artikel yang dia temukan pada mesin pencarian tersebut, karena dia ingin tahu bagaimana cara memperlakukan istrinya di saat malam pertama mereka.
Sandi nampak mengangguk-anggukkan kepalanya ketika di sana tertulis jika dirinya harus melakukannya dengan begitu pelan dan juga lembut, karena jika dia terburu-buru maka akan menyakiti pasangannya.
"Aih! Ternyata harus pelan-pelan, kata Simon harus kenceng biar wanita keenakan!" ujar Sandi dengan kesal.
Sebelum dia menikah, Simon sang asisten pribadinya nampak memberitahukan kepada Sandi untuk melakukan penyatuan dengan cepat.
Bahkan, Simon berkata untuk mengayunkan pinggulnya dengan cepat, karena hal itu akan membuat wanita yang berada di bawah kungkungannya itu menjerit-jerit keenakan.
Melihat Ayana yang nampak kesakitan dan tidak mau melanjutkan malam pertama mereka, Sandi merasa ditipu oleh Simon.
"Ck! Sial! Dia membodohiku," ujar Sandi kesal.
Setelah mengatakan hal itu, Sandi nampak menunduk lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih. Sungguh dia merasa begitu menyesal karena mengikuti saran dari sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu.
Sandi sempat menyibak selimut yang dipakai oleh Ayana, ada darah yang sudah mengering di atas tempat tidur. Ada juga darah yang sudah mengering di antara kedua paha istrinya tersebut.
"Maafkan aku, Sayang. Kamu pasti kesakitan," ujar Sandi lesu.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Sandi nampak merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Lalu, dia menarik lembut Ayana ke dalam pelukannya.
Ayana yang sudah tertidur dengan pulas sampai tidak menyadari akan hal itu, dia malah menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah, besok aku akan memperlakukan kamu dengan lembut," ujar Sandi.
Setelah itu, Sandi nampak ikut terlelap bersama dengan istrinya. Tidak dapat dipungkiri, walaupun dia begitu menginginkan istrinya, tetapi dia juga hanyalah manusia biasa yang merasakan kelelahan.
Tidak lama kemudian, Sandi nampak terlelap di dalam tidurnya. Dia tidur seraya memeluk istrinya, wanita yang begitu dia cintai.
Dia berharap jika hari esok akan dirasa lebih baik dari hari ini, dia berharap jika esok hari Ayana sudah memaafkan kesalahannya. Sungguh dia akan merasa tersiksa jika Ayana mengabaikan dirinya seperti ini.
Keesokan harinya.
Ayana nampak terbangun dari tidurnya, matanya terbuka dengan begitu lebar. Wanita itu langsung tersenyum kecut ketika melihat wajah tampan suaminya, wajah pria yang tadi malam sudah menyakiti dirinya.
Ayana membayangkan malam pertama yang begitu indah dengan Sandi, malam pertama yang berkesan dan bisa dia kenang seumur hidupnya. Sayangnya, malam pertama yang dia lalui tidak sesuai ekspektasi.
Walaupun dia merasa kesal terhadap suaminya itu, tetapi dia tidak memungkiri bahwa rasa cintanya lebih besar daripada rasa kesalnya.
Bisa menikah dengan Sandi setelah memendam perasaan cinta yang begitu lama tentunya sangat membuat dia bahagia, rasanya dia juga tidak boleh egois dan tidak boleh marah terlalu lama.
Tidak lama kemudian, Ayana nampak turun dari tempat tidur. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan tertatih karena inti tubuhnya sangatlah sakit.
"Ya ampun! Cuma dapet sakitnya aja," ujar Ayana seraya terkekeh.
Setelah mengatakan hal itu, Ayana langsung menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Tubuhnya terasa segar, otot-ototnya yang semalam sempat tegang kini mulai melemas.
Di saat Ayana sedang mandi, Sandi yang merasa dingin karena wanita yang dia peluk tidak ada langsung berlari menuju kamar mandi.
"Yang!" panggil Sandi ketika melihat Ayana yang sedang menggosok tubuhnya dengan spon mandi yang sudah diberikan sabun cair.
__ADS_1
Tubuh polos Ayana terbalut dengan busa, hal itu membuat Ayana semakin terlihat seksi sekali. Sandi sampai menelan salivanya dengan sangat susah, tiba-tiba saja pria itu menjadi menginginkan istrinya.
Jika saja tadi malam tidak terjadi kejadian seperti itu, sudah dapat dipastikan jika Sandi akan langsung menghampiri Istrinya dan meminta haknya.
Namun, setelah kejadian tadi malam Sandi merasa canggung untuk mendekati istrinya. Dia takut jika istrinya itu akan marah terhadap dirinya, bahkan akan memukuli dirinya.
"Jangan mendekat, kamu tunggu di luar aja. Mandinya gantian aja," ujar Ayana.
Ayana tidak mau sampai Sandi melakukan hal yang akan menyakiti dirinya lagi, lebih baik dia mandi dan segera melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, pikirnya.
Sandi yang mendapatkan penolakan dari Ayana nampak menunduk lesu, dia merasa bersalah terhadap istrinya tersebut.
"Yang, maaf. Aku ngga bakalan kasar kok, cuma mau liatin kamu mandi aja. Ngga apa-apa kan' kalau aku diem di sini buat liatin kamu?" tanya Sandi.
Pria itu masih terlihat polos, karena tadi malam dia langsung tidur tanpa mengenakan pakaiannya terlebih dahulu. Ayana sempat menolehkan wajahnya ke arah sang suami.
Dia bahkan sempat menatap milik suaminya yang menegang, Ayana ingin sekali memelintir milik suaminya itu. Namun, jika hal itu dia lakukan rasanya dia merasa takut juga.
Dia takut jika dirinya nanti malah tidak akan bisa merasakan yang namanya surga dunia, karena milik suaminya itu bermasalah karena ulahnya.
"Terserah, yang penting kamu jangan sentuh aku." Ayana menjawab tanpa menolehkan wajahnya ke arah Sandi, pria itu nampak sedih sekali.
Sandi nampak duduk di atas kloset tertutup, mata pria itu tidak berkedip menatap tubuh indah istrinya. Namun, dia tidak berani mendekat apalagi menyentuh.
"Aku sudah selesai, kalau kamu mau shalat berjamaah mandinya yang cepet," ujar Ayana seraya keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit sebatas dadanya.
"Hem!" jawab Sandi lesu.
Sandi sempat memperhatikan cara Ayana berjalan, wanita itu masih terlihat kesakitan. Sandi semakin merasa bersalah dibuatnya.
"Yang, maaf." Sandi berkata dengan lembut, Ayana nampak menolehkan wajahnya ke arah Sandi.
__ADS_1
"Hem!" jawabnya.