
Setelah terjadi obrolan panjang antara Sofyan dan juga Anisa, akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman mereka berdua.
Keduanya sepakat untuk menikah di kampung halaman mereka, setelah itu keduanya akan langsung pergi ke pulau S untuk memulai rumah tangga mereka.
Anisa akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Sofyan, sedangkan pria itu akan berusaha untuk menjadi suami dan juga ayah yang baik untuk calon buah hati mereka.
"Bantu aku merapikan barang-barangku," pinta Anisa.
Sofyan tersenyum ke arah Anisa, tanpa diminta pun dia pasti akan membantu wanita itu. Karena dia sangat tahu jika Anisa kini sedang hamil dan tidak boleh banyak bergerak.
"Ya, kamu tidurlah lebih dulu. Biar aku yang merapikan, kamu itu sedang hamil dan tidak boleh banyak bergerak." Sofyan menuntun Anisa untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Anisa langsung menggelengkan kepalanya, walaupun dia merasa lelah tetapi dia tidak ingin tidur. Dia masih merasa ketakutan dengan apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
"Ngga mau tiduran, mau duduk aja sambil lihatin kamu rapihin semuanya," ujar Anisa.
Anisa terlihat seperti wanita yang begitu ketakutan akan ditinggalkan, padahal awalnya wanita itu terlihat begitu barbar dan percaya diri untuk menghancurkan hubungan orang lain.
"Iya, iya," jawab Sofyan yang langsung merapikan semua barang-barang milik Anisa.
Barang-barang yang dibawa oleh Anisa tidak banyak, hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit saja untuk Sofyan merapikan barang-barang milik wanita itu.
"Sudah rapi, aku masuk ke dalam kamarku dulu. Kamu tidurlah, besok kita akan pulang setelah selesai sarapan."
Sofyan menghampiri wanita itu, dia mengusap puncak kepala Anisa dengan penuh kasih. Lalu, dia mengusap perut wanita itu yang mulai mengeras.
Anisa langsung tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sofyan, tetapi dia juga merasa sedih ketika pria itu berkata akan pergi ke dalam kamarnya.
"Jangan pergi! Aku tidak mau ditinggalkan, aku takut Kenzo akan datang lagi. Kamu tidur di sini aja," pinta Anisa dengan manja.
Jika mengingat wajah Kenzo yang begitu mengerikan, rasanya Anisa tidak akan bisa tidur malam ini. Jadi, dia memberanikan diri untuk meminta Sofyan menemani dirinya.
Ya ampun! Sungguh Sofyan merasa bahagia ketika mendengar Anisa merengek seperti itu, dia merasa dicintai dan merasa dibutuhkan oleh wanita itu.
"Nisa, kita belum nikah loh. Masa kita tidur bareng? Kamu ngga takut aku perkosa?" tanya Sofyan.
Anisa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, sejak dulu Anisa selalu menolak cinta dari Sofyan, tetapi pria itu tetap saja terlihat begitu mencintai dirinya.
Anisa yakin jika Sofyan tidak akan macam-macam terhadap dirinya, terlebih lagi kini dia sedang mengandung calon buah hati dari pria itu.
"Ngga, Yan. Kamu tuh bapak dari calon anak kita, aku yakin kamu tuh sayang aku sama dia. Jadi, ngga mungkin kamu nyakitin kita." Anisa mengelus lembut perutnya.
Sofyan tersenyum senang dengan penuturan dari Anisa Anisa, karena itu artinya wanita itu sudah memercayai dirinya sepenuhnya.
"Kamu tau aja kalau aku ngga bakal nyakitin kamu, baiklah. Ayo tidur," ujar Sofyan.
__ADS_1
Anisa tersenyum dengan begitu lebar karena Sofyan menuruti keinginannya, padahal awalnya dia menyangka jika pria itu tidak akan menuruti keinginannya.
Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu dia menepuk lengan kanannya. Anisa tersenyum lalu merebahkan tubuhnya dan menjadikan tangan kanan Sofyan sebagai bantal.
"Cepatlah tidur, biar besok tidak bangun kesiangan." Sofyan mengusap puncak kepala Anisa, lalu dia menunduk dan mengecup kening wanita itu.
Anisa nampak memejamkan matanya, dia seolah sedang meresapi ketulusan cinta dari pria itu.
"Ya," jawab Anisa yang langsung memeluk Sofyan dan mengusakkan wajahnya pada ketiak pria itu.
Anisa baru sadar jika berada di dalam pelukan pria itu ternyata begitu nyaman, seharusnya dia tidak berusaha untuk mengejar pria yang bukan miliknya.
Pria jelas mencintai wanita lain, pria yang jelas-jelas sudah menikahi wanita lain. Pria yang sangat jelas tidak mencintai dirinya dan bahkan terlihat tidak menyukai dirinya.
"Eh? Jangan kaya gitu, Sa. Geli," ujar Sofyan.
Antara senang dan juga bingung harus menanggapi sikap dari wanita itu seperti apa, karena ini adalah pertama kalinya Anisa bersikap hangat kepada Sofyan.
"Aku maunya kaya gitu, wanginya enak." Anisa malah mengendus ketiak pria itu.
Sofyan terkekeh melihat tingkah dari wanita itu, beruntung tadi dia memakai deodoran. Kalau tidak, dia akan merasa malu karena wanita itu terlihat begitu betah mengendus ketiaknya.
Sofyan jadi berpikir, mungkin ini adalah keinginan dari bayi yang sedang dikandung oleh Anisa. Sofyan tersenyum lalu membalas pelukan Anisa dan berusaha untuk memejamkan matanya.
"Lakukanlah apa pun yang ingin kamu lakukan, asal kamu senang dan juga nyaman," ujar Sofyan.
Sofyan bangun pagi-pagi sekali, dia tersenyum kala melihat Anisa yang memeluk dirinya dengan begitu posesif. Ketika menatap wajah wanita itu, Sofyan baru sadar jika pipi Anisa semakin cabi.
Bahkan, beberapa bagian tubuh wanita itu nampak berisi. Sepertinya ini adalah pengaruh dari kehamilan wanita itu, jika dia tidak salah menebak, usia kandungan Anisa sudah sekitar sepuluh minggu.
"Kamu tuh cantik banget, aku jadi ngga sabar untuk segera menikahi kamu." Sofyan berusaha untuk turun dari tempat tidur tanpa membangunkan wanita itu.
Setelah itu, pria itu langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik.
Pria itu juga ingin bersyukur kepada Tuhan, karena dia diberikan kesempatan untuk berubah menjadi pria yang baik. Dia juga ingin berterima kasih kepada Tuhan, karena kini dia bisa diterima oleh wanita yang sejak lama dia cinta.
Selesai mengerjakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, Sofyan menghampiri Anisa dan membangunkan wanita itu.
"Bangun, Sa. Mandi terus subuh, nanti aku carikan sarapan." Sofyan mengusap-usap lengan Anisa dengan lembut.
"Hem!" jawab Anisa seraya menggeliatkan tubuhnya.
Tidak lama kemudian wanita itu terlihat turun dari tempat tidur dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan perlahan, Sofyan tersenyum lalu mengambil ponselnya.
"Ken, aku mau ngomong bentar. Bisa?"
__ADS_1
Satu pesan chat dia kirimkan kepada Kenzo, ada hal yang ingin dia bicarakan kepada pria itu.
"Boleh, aku tunggu di Kafe. Sekalian pengen beli kopi," balasan chat dari Kenzo.
Sofyan tersenyum lalu dengan cepat melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar itu, dia ingin segera bertemu dengan Kenzo dan mengucapkan terima kasih.
"Ken, aku mau ngucapin terima kasih banyak sama kamu. Karena ide kamu aku bisa mendapatkan Anisa," ujar Sofyan dengan tulus.
Kenzo tersenyum seraya menepuk pundak Sofyan, sebenarnya dia juga merasa beruntung karena bisa bertemu dengan Sofyan. Dia juga merasa berterima kasih kepada Tuhan karena Sofyan datang di saat yang begitu tepat.
"Sama-sama, aku juga ngucapin terima kasih karena kamu mau bekerja sama denganku. Walaupun aku tidak menyukai Anisa, tetapi dia sudah aku anggap sebagai adik aku sendiri. Tolong jaga dia dengan baik," ujar Kenzo.
Sofyan langsung menganggukkan kepalanya, tanpa Kenzo meminta pun, Sofyan sudah berjanji di dalam hatinya jika dia akan memperlakukan Anisa dengan penuh cinta.
"Pasti," jawab Sofyan.
"Oiya, aku nggak bisa datang ke acara pernikahan kalian. Nanti kadonya aku transfer aja," ujar Kenzo.
Rasa-rasanya Sofyan hanya perlu doa yang terbaik saja dari Kenzo, tidak perlu diberikan kado apalagi ditransfer uang oleh pria itu. Namun, jika Kenzo ingin memberikan uangnya dengan ikhlas, Sofyan pastinya tidak akan menolak.
"Tidak apa-apa, aku paham kalau kamu di sini juga sedang sibuk." Sofyan tersenyum hangat.
"Ngga sibuk juga sih, istriku saja masih datang bulan. Bagaimana aku bisa sibuk?" ujar Kenzo lesu.
"Eh? Sabar, datang bulan itu hanya sebentar kok!" ujar Sofyan berusaha untuk menenangkan pria itu.
Walaupun dia tidak tahu bagaimana Kenzo harus menahan hasratnya, bisa memeluk wanita itu tapi tidak bisa memasuki wanitanya.
"Hem! Cepatlah temui Nisa, takutnya dia mencari kamu."
Kenzo dan juga Sofyan sudah bersusah payah berakting, mereka tidak boleh ketahuan oleh Anisa sedang mengobrol bersama. Karena takutnya Anisa akan tahu jika yang dilakukan oleh mereka hanyalah sandiwara.
"Ya, aku akan mencarikan dia sarapan dulu."
Kenzo dan juga Sofyan nampak berpelukan, setelah itu Sofyan langsung pergi ke Resto untuk membelikan sarapan untuk dirinya dan juga Anisa.
"Dari mana saja? Kenapa lama?" tanya Anisa setelah Sofyan masuk ke dalam kamar mereka.
Saat keluar dari dalam kamar mandi Anisa merasa takut sekali, karena dia tidak melihat Sofyan di dalam kamarnya. Dia takut jika pria itu meninggalkan dirinya.
"Abis beli sarapan!" jawab Sofyan seraya mengangkat makanan yang sudah dia beli.
"Oh! Aku kira kamu tadi ninggalin aku, aku benar-benar panik." Anisa langsung memeluk Sofyan.
Pria itu dengan cepat membalas pelukan dari wanita pujaan hatinya, itu terlihat mengelus lembut punggung Anisa.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkan kamu, Sayang. Karena aku begitu mencintai kalian," ujar Sofyan dengan bersungguh-sungguh.