
Kenzo nampak menatap wajah Anisa dengan lekat, penampilan wanita itu benar-benar terlihat berbeda. Anisa kini berpenampilan syar'i, badannya ditutupi oleh gamis dan kepalanya juga di ditutupi oleh hijab.
Kenzo tidak percaya jika wanita itu kini berpenampilan seperti itu, tetapi saat melihat sorot matanya, tetap saja Kenzo tidak menyukai wanita itu.
Namun, Kenzo berusaha untuk tersenyum ke arah wanita itu. Karena dia tidak mau membuat semua orang yang ada di sana curiga kalau dirinya tidak menyukai wanita itu.
"Aku baru mau merintis usahaku, Nisa. Mungkin, nanti jika usah aku sudah mulai lancar, aku akan mengajakmu," ujar Kenzo.
"Oh, oke. Lagi pula aku masih belum mempunyai pengalaman dalam hal bekerja, aku akan belajar terlebih dahulu di tempat Papa," ucap Anisa seraya menolehkan wajahnya ke arah Sigit.
Sigit tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, Anisa memang sempat berbicara kepada Sigit jika wanita itu ingin bekerja. Karena dia juga baru saja lulus kuliah.
Hanya saja, Kenzo baru lulus kuliah S2, sedangkan Anisa baru lulus kuliah S1. Tentunya hal itu terjadi karena Anisa dulu harus menunda satu tahun masa kuliahnya, karena kakinya yang belum sembuh total.
"Itu benar, Nisa. Kamu bisa belajar dulu di kantor Papa," ucap Sigit membenarkan.
"Iya, Pa," jawab Anisa.
Walaupun Anisa merasa kecewa karena secara tidak langsung Kenzo sudah menolak untuk mengajak dirinya, tetapi Anisa berusaha untuk tersenyum dengan begitu manis ke arah Kenzo.
Setelah terjadi obrolan yang cukup panjang, akhirnya Kenzo memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin mandi dan melaksanakan shalat maghrib.
"Alhamdulillah," ujar Kenzo setelah selesai melaksanakan shalat maghrib.
Setelah itu, Kenzo nampak keluar dari dalam kamarnya. Lalu, dia menghampiri keluarganya yang nampak berkumpul di ruang keluarga.
Ada juga yang berkumpul di ruang tamu dan bahkan ada juga yang sedang memasak di dapur, karena memang semua keluarga Dinata dan juga keluarga Siregar berkumpul di rumah milik Sigit tersebut.
"Semua makanan sudah siap, ayo kita makan malam bersama," ujar Aruna.
Pada akhirnya keluarga besar itu terlihat melaksanakan makan malam bersama, rumah Sigit benar-benar terlihat begitu ramai. Karena semua keluarga berkumpul di sana.
Setelah acara makan malam selesai, semua keluarga nampak berkumpul di taman belakang. Mereka terlihat mengobrol sebelum melaksanakan pesta barbeque.
Tentunya yang merencanakan acara ini adalah Alice, untuk menyambut kedatangan kakaknya dia ingin mengadakan pesta barbeque agar semua keluarga bisa berkumpul sampai tengah malam tiba.
__ADS_1
Karena jarang-jarang bukan, mereka bisa berkumpul bersama, mengobrol bersama dan tertawa bersama seperti saat ini.
"Kak Nisa, bantuin gue!" ujar Alice seraya membawa daging dan juga jagung.
Anisa dengan cepat membantu Alice, bahkan kedua cucu Steven juga ikut membantu Alice. Tidak lama kemudian, putra dari Sagara dan juga Sayaka nampak membawa bumbu dan saus yang akan mereka gunakan untuk membakar jagung dan juga daging yang sudah mereka siapkan.
Aruna dan Sigit seolah tidak mau kalah, mereka bahkan membawa ikan dan juga ayam. Biar lebih banyak dan beragam pilihan, pikir Aruna.
"Kak Ken, bantuin Al. Kipasin," pinta Alice karena melihat Kenzo yang hanya diam saja.
"Iya, Dek," jawab Kenzo yang tidak mau mengecewakan adiknya.
Kenzo dengan cepat menghampiri adiknya, dia melakukan apa yang diminta oleh Alice. Anisa nampak senang karena bisa berdekatan dengan Kenzo.
Sesekali gadis itu akan menatap Kenzo tanpa berkedip, lalu akan kembali membantu Alice dalam membolak balikan jagung yang sedang mereka bakar.
Suasana rumah Sigit benar-benar begitu ramai, hingga pukul dua malam barulah acara barbeque selesai dilaksanakan.
"Al, sepertinya kak Kenzo sangat kelelahan. Dia juga sangat kehausan, aku udah ambilin jus buah. Tapi takutnya dia nggak mau minum kalau aku yang bawain, tolong kasih dong," ujar Anisa kepada gadis berusia delapan belas tahun itu.
Alice nampak menghampiri Kenzo seraya membawa segelas jus buah yang diberikan oleh Anisa, lalu Alice memberikan jus buah tersebut kepada kakaknya.
"Sebelum bobo Kakak minum jus buah dulu, biar seger."
Kenzo tersenyum karena dia merasa jika adiknya itu begitu pengertian, dia mengambil gelas berisikan jus buah tersebut dari tangan adiknya. Lalu, Kenzo meminum jus buah tersebut karena dia memang kehausan.
"Terima kasih Al," ujar Kenzo setelah meminum jus buah itu hingga tandas.
"Sama-sama, Kak. Kakak pasti lelah, sana tidur. Biarkan pelayan yang merapikan semuanya," ujar Alice.
"Siap, Tuan putri." Kenzo nampak mengajak lembut puncak kepala adiknya tersebut.
Setelah itu, Kenzo nampak berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya. Karena memang dia benar-benar merasa sangat lelah, terlebih lagi saat ini dia merasa jika kepalanya terasa sangat berat.
"Ya ampun! Sepertinya aku begitu lelah," ujar Kenzo ketika dia hampir saja terjatuh saat melewati ruang keluarga.
__ADS_1
"Biar aku bantu Kakak untuk masuk ke dalam kamar," ujar Anisa yang tiba-tiba saja memeluk Kenzo dari samping.
Kenzo nampak menolehkan wajahnya ke arah Anisa, lalu dia berusaha untuk menatap wajah wanita itu. Bahkan, tidak lama kemudian dia menghirup aroma tubuh Anisa.
Wangi vanilla langsung menguar pada Indra penciumannya, wangi parfum yang biasa digunakan oleh Anaya, wanita yang sampai saat ini masih meratui hatinya.
"Naya!" ujar Kenzo dengan senyum yang begitu manis di bibirnya.
Anisa tersenyum dengan begitu manis ke arah Kenzo, lalu dia berusaha untuk menuntun pria bertubuh jangkung itu ke dalam kamarnya.
"Kakak istirahatlah, aku akan keluar. Ini udah malam," ujar Anisa.
''Tunggu, Naya!"
Kenzo langsung menarik lembut tubuh Anisa, lalu dia memeluk wanita itu dengan begitu erat. Kenzo bahkan langsung mengusakkan wajahnya pada pundak wanita itu.
"Naya, Ken rindu. Rindu Naya, Ken mau sama Naya," ujar Kenzo yang langsung merebahkan tubuh Anaya di atas tempat tidur.
"Jangan, Kak. Ini bukan Naya, Ini aku, Nisa." Anisa mendorong dada pria itu.
Kenzo terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, dia bahkan menatap wanita itu dengan begitu lekat. Namun, tetap saja wajah Anaya yang Kenzo lihat di hadapannya.
"Naya, jangan tinggalin Ken lagi." Kenzo menghimpit tubuh Anisa, lalu dia mencium bibir Anisa dengan penuh perasaan.
"Ah! Jangan, Kak!" ujar Anisa seraya berusaha untuk mendorong tubuh Kenzo.
"Diem, Naya. Pokoknya kamu harus jadi milik aku," ujar Kenzo seraya kembali mencium bibir Anisa.
Anisa terdiam, dia tersenyum lalu menikmati apa yang dilakukan oleh pria itu kepada dirinya. Bahkan, Anisa sengaja membuka hijabnya, lalu dia menurunkan resleting gamis yang dia pakai.
Sontak saja hal itu membuat Kenzo belingsatan, pria itu dengan cepat meremat dada Anisa. Wanita itu nampak mendesahh keenakan, Kenzo semakin terpancing hasratnya.
Pria itu bahkan berusaha untuk merobek gamis yang dipakai oleh Anisa, Anisa tidak takut sama sekali, justru dia malah terlihat begitu senang.
"Kamu itu milik aku, Naya!" ujar Kenzo yang langsung ambruk di atas tubuh Anisa.
__ADS_1
"Sial!" ujar Anisa yang merasa kesal karena kini Kenzo malah tertidur dengan begitu pulas di atas tubuhnya.