Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 138


__ADS_3

Pada saat tiba di ruang keluarga, Ayana yang melihat Satria dan juga Rachel langsung memeluk mereka secara bergantian. Walaupun keduanya sering berkunjung, tetapi tetap saja dia merasakan rindu yang luar biasa kepada kedua kakek dan neneknya itu.


Selain ada Rachel dan juga Satria, di sana ada juga Aruna. Wanita itu terlihat menatap Sandi dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


Sandi menjadi salah tingkah dibuatnya, dia bahkan tidak berani mendekat. Pria itu terlihat begitu gugup sekali, bahkan keringat di dahinya mulai membanjiri.


"Hey! Kenapa malah diam seperti itu? Apakah kamu tidak mau menyapa kami?" tanya Satria yang melihat Sandi salah tingkah.


Dulu dia juga pernah muda, dia dulu begitu mencintai Rachel dan memperjuangkan wanita itu. Walaupun dulu wanita itu masih sangat muda dan Ridwan sempat tidak setuju, tetapi pada akhirnya dia bisa meluluhkan hati keluarga dari istrinya tersebut.


Tentunya dia juga bisa meyakinkan hati Rachel jika dia bisa menjadi suami yang baik, walaupun harus menjalani aturan yang pada akhirnya aturan itu dilanggar oleh mereka berdua.


"Ehm? Mau, Tante. Kakek, Nenek." Sandi langsung menghampiri Satria, Rachel dan juga Aruna.


Pria itu nampak mencium punggung tangan ketika orang tersebut secara bergantian, di saat Sandi hendak mencium punggung tangan Aruna, wanita itu sempat terlihat menepuk pundak Sandi dan berkata.


"Kenapa kamu panggil Ayah dan Bunda dengan sebutan yang benar? Lalu, kenapa kamu memanggil aku dengan sebutan Tante?" tanya Aruna tidak suka.


Aruna merasa iri karena ketika Sandi mencium punggung tangan Rachel dan juga Satria, dia menyebut keduanya dengan sebutan kakek dan juga nenek.


Berbeda saat sandi memanggil dirinya, pria muda itu memanggil dirinya dengan sebutan tante. Tentu saja Aruna merasa tersinggung dan merasa tidak diakui, padahal dia adalah ibu kandung dari Ayana.


"Eh? Aku jadinya harus panggil apa?" tanya Sandi seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Dia benar-benar bingung harus memanggil Aruna dengan sebutan apa, karena nyatanya memang Aruna belum menjadi mertuanya.


"Buna dong, sama kaya Ay."


Sandi langsung menolehkan wajahnya ke arah Ayana, ada rasa senang karena kedatangannya di sana langsung disambut dengan baik.

__ADS_1


Namun, dia juga merasa malu karena ternyata Aruna sangatlah baik. Aruna seakan memperlakukan dirinya sebagai seorang anak, bukan tamu.


"Maaf, Buna." Sandi berkata dengan ragu-ragu, Ayana nampak tertawa dibuatnya.


Berbeda dengan Aruna yang begitu senang karena Sandi langsung menuruti keinginannya, Aruna sebenarnya ingin tertawa ketika melihat tingkah Sandi yang pemalu.


Pria muda itu tidak seperti Sigit yang dulu begitu percaya diri ingin menikahi dirinya, pria itu begitu yakin ingin menikahi dirinya. Walaupun dia adalah seorang janda.


Namun, sungguh dia merasa bersyukur dinikahi oleh Sigit, karena pria itu benar-benar mencintai dirinya. Sikap dan sifat Sigit bahkan sampai saat ini tidak berubah, dia tetap saja pencemburu dan penuh cinta.


"Tidak apa, yang penting lain kali jangan salah manggil lagi," ucap Aruna.


Ayana yang melihat kekasihnya salah tingkah merasa kasihan, Sandi seolah kebingungan harus berbuat apa. Sandi seakan bingung harus berbicara apa.


"Kemari dan duduk dengan aku," ujar Ayana seraya menepuk sofa kosong di sampingnya.


Bahkan, kalau bisa dia ingin segera menikah dengan wanita itu agar bisa tinggal di dalam rumah yang sama.


"Iya, Moo," jawab Sandi yang langsung duduk tepat di samping Ayana.


Keduanya nampak duduk tepat di depan Satria, Rachel dan juga Aruna. Satria tersenyum saat bersitatap mata dengan Sandi, karena dia bisa melihat cinta yang begitu besar untuk cucunya.


Namun, seperti yang sudah dia dengar sendiri saat di perusahaan Siregar, Sandi merasa tidak percaya diri dengan keadaannya yang tidak memiliki harta yang banyak saat ingin menikahi kekasihnya, Ayana.


Sandi benar-benar terlihat gugup, terlebih lagi ketika Satria menatap dirinya dengan lekat. Dia tidak merasa senang berhadapan dengan keluarga dari Ayana seperti ini.


Sungguh dia takut jika dirinya akan diminta untuk meninggalkan Ayana, rasanya dia benar-benar tidak sanggup. Sepertinya Sandi akan benar-benar bunuh diri jika dirinya dipisahkan dari ayahnya yang baru saja jadian.


"Kenapa kamu tegang seperti itu? Apakah wajah saya sangat mengerikan?" tanya Satria.

__ADS_1


Sandi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena pada kenyataannya dia memang tidak takut kepada Satria. Justru, dia merasa malu sebagai lelaki yang berasal dari kasta rendah.


"Eh? Ngga, Kek. Anu, saya hanya gugup saja. Tapi sedikit takut juga sih," jawab Sandi jujur.


"Takut apa?" tanya Satria dengan bingung.


Walaupun usianya sudah tua, tetapi dia masih merasa sangat tampan. Bahkan, belum lama ini ada wanita muda yang mengejar-ngejar dirinya.


"Takut disuruh putus," jawab Sandi.


Karena nyatanya dia sangat tahu siapa Satria, pria itu adalah generasi penerus dari keluarga Dinata. Semua kekayaan dari keluarga Dinata jatuh kepada pria itu, belum lama ini Sandi mendengar jika perusahaan Dinata itu sudah dibagi menjadi tiga bagian.


Satu bagian untuk Sagara, satu bagian untuk Sayaka dan satu bagian untuk Aruna. Perusahaan bagian untuk Aruna diserahkan kepada Ayana, karena Sigit berkata untuk Kenzo dan juga Alice mendapatkan bagian dari perusahaan Siregar.


Akan tetapi, Ayana mengelola perusahaan yang diberikan oleh kakeknya dari perusahaan milik Sigit. Selain untuk membantu Sigit, Ayana juga mencari pengalaman di perusahaan Siregar.


Jika mengingat akan hal itu, Sandi merasa benar-benar seperti seorang pria yang tidak berharga. Karena dibandingkan dengan Ayana, pria itu benar-benar berada di bawah Ayana.


Sandi benar-benar merasa menjadi pria yang begitu rendah, pria yang memiliki kasta paling bawah. Karena Ayana merupakan seorang wanita pewaris, bukan perintis seperti dirinya.


Walaupun pada kenyataannya Ayana juga merupakan seorang wanita yang begitu bekerja keras, tetapi tetap saja jika mengingat masalah harta dia benar-benar merasa tidak percaya diri.


"Siapa yang mau meminta kamu untuk memutuskan hubungan kamu dengan cucuku, hem? Yang ada aku ingin meminta kamu untuk menikahi cucuku dengan cepat," jelas Satria.


Sandi langsung terdiam dengan mata yang membulat dengan sempurna, bibirnya bahkan terlihat menganga dengan lebar. Dia benar-benar merasa kaget dengan apa yang dikatakan oleh Satria.


Begitupun dengan Ayana, sebenarnya gadis itu merasa sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Satria. Namun, di satu sisi dia juga merasa sangat bahagia.


"Menikahi Moo? Maksudnya aku dapat restu? Aku boleh berhubungan dengan Moo bahkan menikahinya?" tanya Sandi memastikan.

__ADS_1


__ADS_2