
Hari ini Stefano bekerja dengan gelisah, dia merasa tidak sabar untuk segera sore hari. Bahkan, hampir 5 menit sekali dia menolehkan wajahnya ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Ayana yang melihat akan hal itu nampak menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika pria seperti Stefano akan bertingkah seperti abege labil seperti itu.
Namun, satu hal yang dia yakini, pria itu bertingkah aneh pasti karena sedang jatuh cinta kepada adiknya. Namun, Ayana berpura-pura tidak tahu.
"Kamu kenapa sih, Fan?" tanya Ayana.
Stefano langsung menolehkan wajahnya ke arah Ayana, dia tersenyum canggung lalu berkata.
"Ngga apa-apa, Nona."
Ayana langsung memutarkan bola matanya dengan malas mendengar jawaban dari Stefano, sudah jelas-jelas pria itu terlihat begitu gelisah tetapi ketika ditanya malah menjawab tidak ada apa-apa.
"Jangan bertingkah seperti orang aneh kaya gitu, ini udah waktunya makan siang. Ayo makan siang dulu," ajak Ayana.
Sepertinya mengisi perut terlebih dahulu adalah hal yang lebih baik, karena perutnya memang sudah terdengar keroncong.
"Boleh, Nona. Ayo ki--"
Belum sempat Stefano menyelesaikan ucapannya, dia malah menatap pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut.
Pria yang Stefano yakini begitu menyukai Ayana, tetapi pria itu tidak berani berkata dengan jujur. Entah karena apa Stefano tidak paham, lagi pula dia tidak berani ikut campur karena itu merupakan urusan pria tersebut.
"Moo! Elu makan siangnya bareng gue aja, gue bawa makanan." Sandi masuk tanpa permisi karena memang pintu ruangan tersebut nampak terbuka.
Ada rasa senang di dalam hati Ayana kata sandi datang dengan perhatiannya, tetapi dia juga merasa kesal karena pria itu asal masuk saja ke dalam ruangannya.
"Ck! Elu ngapain main masuk aja tanpa permisi dulu?" tanya Ayana.
"Abisan gue liat elu mau ngajakin dia makan, jadi gue buru-buru masuk takut elu keburu pergi." Sandi langsung menghampiri Ayana dan menata makanan yang sudah dia bawa di atas meja.
Ayana memperhatikan makanan yang dibawa oleh Sandi, makanan yang dia suka tetapi seperti dimasak sendiri, bukan dipesan dari rumah makan atau restoran besar.
"Elu masak?" tanya Ayana.
Sandi tersenyum dengan begitu lebar, lalu dia menganggukan kepalanya dengan cepat. Dia bahkan rela bergelut di dapur sebelum menemui Ayana, karena dia ingin menyenangkan hati wanita itu.
"Hem! Elu pan tau kalau dari dulu gue suka masak, gue juga suka makan. Makanya gue ngembangin bakat gue dalam usaha Resto sama kenalan gue," jawab Sandi.
Ayana menepuk pundak Sandi, karena kini Ayana tahu kenapa Sandi bisa merubah penampilannya. Karena pria itu kini memiliki uang yang banyak dari usaha yang dia kembangkan.
__ADS_1
"Aih! Pantes elu bisa beli mobil, pasti elu dapet untung besar!" tebak Ayana.
"Heem, ini berkat Ay." Sandi nyengir kuda.
"Ay? Apakah orang yang kerja sama dengan kamu adalah Ay?" tanya Ayana.
Sungguh Ayana tidak menyangka jika orang yang bekerjasama dengan Sandi adalah adiknya sendiri, bahkan Ayana tidak menyangka jika Ayaka bekerjasama dengan Sandi tetapi tidak menceritakannya kepada dirinya.
"Hem! Project kerja sama yang dimulai di kampung kelahiran aku," jawab Sandi.
Stefano yang sejak tadi diam ingin sekali tertawa, karena kini panggilan keduanya sudah mulai berubah menjadi aku dan juga kamu. Dia yang mulai merasa tidak nyaman langsung keluar dari dalam ruangan tersebut tanpa permisi.
Bukannya tidak sopan, tetapi keduanya mengobrol dengan begitu asik. Stefano takut mengganggu obrolan di antara keduanya.
"Hem! Pantes dia sampai satu bulan lamanya pergi, sama kamu?" tebak Ayana.
Ya, Ayaka pergi selama satu bulan lamanya bukan hanya untuk mengembangkan Resto milik keluarga Rahardi, tetapi dia juga membantu Sandi untuk mengembangkan Resto milik pria itu.
"Hem! Sama aku, dia begitu sabar membimbing aku dalam membuat Resto. Adik kamu tuh memang baik," ujar Sandi seraya menyuapi Ayana.
Sandi benar-benar merasa berhutang budi kepada adik dari wanita yang dia cintai itu, bahkan berhutang uang. Karena Sandi dibantu dalam masalah modal juga oleh Ayaka.
Melihat Sandi yang terus memuji Ayaka, Ayana terlihat cemburu. Wanita itu bahkan langsung melayangkan protesnya.
Sandi terlihat begitu bersalah sudah mengatakan hal itu dan membuat wajah Ayana berubah, dengan cepat dia berkata.
"Moo! Kamu yang paling baik, ngga ada lagi selain kamu yang paling baik di mata aku." Sandi langsung mencubit gemas pipi Ayana.
Wajah Ayana langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, dia tidak menyangka jika sahabatnya itu bisa mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.
"Aih! Gombal," ucap Ayana seraya menepuk lengan Sandi.
"Aku ngga gombal, Moo. Kamu itu memang paling baik dan juga paling cantik, nanti sore aku ngga bisa jemput. Masih ada hal yang harus aku kerjakan, makanya siang ini aku menyempatkan diri untuk ketemu sama kamu. Takutnya nanti aku rindu," ucap Sandi.
Ingin sekali Ayana tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, tetapi wanita itu berusaha untuk menahannya dan berkata.
"Hem! Tidak apa-apa," jawab Ayana.
Keduanya nampak mengobrol dengan begitu asik, bahkan keduanya terlihat begitu dekat layaknya sepasang kekasih.
Pada pukul 1 siang barulah Sandi berpamitan kepada Ayana, karena dia harus segera pergi ke Resto miliknya. Resto yang sedang dia kembangkan, tentunya dengan bantuan dari Ayaka.
__ADS_1
Selepas kepergian Sandi, Ayana kembali bekerja dengan begitu serius. Begitupun dengan Stefano, kedua insan rupawan itu bekerja dengan khusyu.
Saat pukul empat tiba, Stefano langsung melebarkan senyumnya. Karena itu artinya sebentar lagi dia akan bertemu dengan Ayaka, dia sudah tidak sabar untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Nona, apakah anda mau pulang bareng saya?" tanya Stefano.
Walaupun Ayana berkata tidak akan pulang lagi ke rumah Sam, tetapi tetap saja Stefano merasa wajib untuk menawari atasannya itu agar bisa pulang bersama.
"Aku bareng papa aja, kamu jemput Aya aja." Ayana tersenyum hangat lalu pergi dari ruangan tersebut untuk menemui Sigit.
Satu bulan lebih tinggal di rumah Sam, tentunya membuat dia begitu merindukan Sigit. Walaupun nyatanya mereka selalu bertemu di kantor dalam setiap hari, tetapi tetap saja terasa begitu berbeda karena mereka tidak berkumpul bersama di dalam satu atap yang sama.
"Hati-hati, Nona!" teriak Stefano.
Menurut Stefano, Ayana benar-benar begitu perhatian dan juga pengertian. Karena dengan wanita itu pergi bersama dengan Sigit, maka kesempatan untuk berduaan bersama dengan Ayaka jadi semakin besar.
"Aku harus segera menjemput Aya," ujar Stefano dengan penuh semangat.
Stefano dengan cepat pergi ke Resto Rahardi, tentu saja tujuan utamanya untuk bertemu dengan Ayaka dan mengajak wanita itu untuk pergi ke suatu tempat.
Tempat yang pastinya bisa membuat Ayaka teringat akan dirinya, teringat akan masa lalu mereka berdua.
"Silakan masuk, Nona. Maaf membuat anda menunggu," ujar Stefano seraya membukakan pintu mobil untuk wanita yang sangat dia cintai itu.
Walaupun nyatanya Ayaka tidak tahu perasaannya seperti apa kepada pria itu, tetapi Stefano memperlakukan wanita itu dengan begitu baik.
"Hem!" jawab Ayaka seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.
Dengan cepat Stefano masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, dia tersenyum lalu melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.
''Mau ke mana sih?" tanya Ayaka yang melihat Stefano membelokkan mobilnya bukan ke arah rumah Sam.
"Mau ngajakin Nona ke rumah saya," jawab Stefano.
Ayaka nampak mengernyitkan dahinya dengan dalam, karena setahu Ayaka rumah Stefano itu berada tepat di samping rumah Sam.
"Jangan bercanda, ini bukan jalan menuju rumah kamu!" ujar Ayaka.
Stefano hanya terdiam, tetapi di bibirnya mengembangkan senyuman. Ayaka yang melihat akan hal itu merasa sebal sekali, dia bahkan langsung memukul lengan pria itu.
"Awas saja kalau kamu macam-macam, aku akan mematahkan kaki kamu!" ancam Ayaka.
__ADS_1
Stefano langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, terlebih lagi ketika melihat wajah Ayaka yang nampak kesal.
"Tidak akan, Nona. Saya hanya mau satu macam saja," jawab Stefano.