
Setelah bersiap acara meeting pun dilaksanakan, Ayana merasa terbantu dengan adanya Stefano. Karena pria itu bekerja dengan sangat baik, Ayana bahkan hampir tidak menjelaskan apa pun. Karena pria muda itu begitu cekatan dalam membahas pekerjaan.
Satu jam kemudian, kesepakatan kerja pun sudah terjadi. Klien merasa begitu puas dengan program kerjasama yang ditawarkan oleh perusahaan Siregar melalui Ayana dan juga Stefano.
"Baru jam 9 pagi, mau langsung balik ke kota atau mau jalan-jalan dulu. Saya dengar di kota ini ada pantai yang indah," ujar Stefano.
"Memangnya hari ini pekerjaan saya luang?" tanya Ayana.
"Akan ada meeting di kantor pukul 2 siang, untuk urusan semua berkas yang kemarin sudah saya kerjakan. Anda tinggal menandatanganinya saja," ujar Stefano.
Tadi malam Stefano juga begadang, dia sengaja mengerjakan semua berkas perusahaan. Karena ingin mempermudah langkah Ayana, karena Stefano takut jika Ayana akan kecapean setelah merawat ayahnya yang sakit.
"Ya ampun, Fano. Kamu baik sekali, terima kasih karena sudah membantu aku mengerjakan pekerjaan yang seharusnya aku yang melakukannya. Sepertinya sebagai ucapan terima kasih aku, bagaimana kalau kita ke pantai saja?" tanya Ayana.
"Sangat boleh," jawab Stefano.
Sebenarnya sengaja Stefano berkata jika di daerah sana memang ada sebuah pantai yang indah, karena dulu Ayaka pernah berkata kepada dirinya sangat menyukai pantai. Namun, dia tidak bisa menikmati keindahan pantai semenjak tinggal di rumah Andin.
Stefano sempat berjanji kepada Ayaka, jika dirinya akan membiayai perawatan wajah gadis kecil itu. Dia juga akan mengajak Ayaka untuk jalan-jalan ke pantai jika Stefano sudah memiliki banyak uang nanti.
Tanpa banyak bicara Stefano langsung melajukan mobilnya menuju pantai yang tidak jauh dari sana, dia tersenyum karena merasa sudah memenuhi janjinya untuk mengajak gadis kecilnya ke pantai.
Saat tiba di pantai, justru Ayana malah tidak mau mendekat ke arah air. Ayana berkata jika dia malah merasa takut jika harus melihat gulungan ombak dari dekat.
"Bukankah anda sangat menyukai pantai?" tanya Stefano.
Ayana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena nyatanya dia memang tidak menyukai pantai. Terlebih lagi dengan ombak.
''No! Aku tidak terlalu menyukainya, aku hanya sedang teringat akan adikku saja. Makanya aku pergi ke pantai, sebentar." Ayana mengambil ponselnya lalu memvideokan keadaan pantai tersebut.
Tidak lama kemudian, Ayana nampak tertawa lalu mengirimkan video tersebut kepada Ayaka. Tentu saja dia juga mengirimkan foto dirinya yang sedang merentangkan kedua tangannya, Ayana seolah-olah sedang menikmati suasana pantai pagi menjelang siang itu.
"Lihatlah, adikku, Sayang. Aku sedang di pantai, datanglah menyusulku."
Stefano terlihat menatap Ayana dengan tatapan aneh, dia merasa jika gadis kecil yang dulu tinggal satu atap dengan dirinya berubah dengan begitu drastis.
"Apakah tinggal dengan tuan Sigit dan tante Aruna membuat Aya berubah?" tanya Stefano lirih.
"Bicara apa?" tanya Ayana yang tidak begitu jelas mendengar ucapan dari Stefano.
"Tidak ada, Nona. Pantainya sangat indah, apakah anda yakin tidak ingin bermain air?" tanya Stefano.
"Ngga ah, aku takut." Ayana terkekeh setelah mengatakan hal itu.
"Lalu, untuk apa anda ke pantai jika tidak ingin menikmati keindahannya?" tanya Stefano lagi.
"Rahasia! Oiya, Fano. Di sana ada penjual kelapa muda, aku mau." Ayana menunjuk ke arah penjual kelapa muda yang tidak jauh dari sana.
"Boleh, ayo kita ke sana."
__ADS_1
Stefano dan juga Ayana terlihat berjalan beriringan menuju penjual kelapa muda, setelah sampai keduanya pun memesan kelapa muda dan duduk di atas pasir beralaskan karpet.
"Seger ya, walaupun tidak memakai es tetapi di tenggorokan terasa dingin," ujar Stefano.
"Kamu benar, aku ju--"
Ayana tidak meneruskan ucapannya, karena tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang. Bahkan, di saat Ayana ingin menolehkan wajahnya, kedua mata Ayana malah di tutup.
"Hey! Siapa yang berani memelukku dan menutup mataku seperti ini?!" tanya Ayana dengan kesal.
Stefano juga terlihat begitu kesal, terlebih lagi yang memeluk ayahnya saat ini adalah seorang pria. Pria yang begitu tampan tetapi Stefano tidak tahu siapa orang tersebut.
"Lepaskan dia!" tegas Stefano.
Pria itu hanya tersenyum ke arah Stefano, lalu pria itu menganggukkan kepalanya seraya menatap Stefano dengan lekat. Pria itu seolah berkata kamu tidak usah khawatir, karena aku adalah pria baik-baik.
"Lepaskan!" teriak Ayana berusaha untuk memberontak.
Namun, pria itu malah tertawa. Bahkan, pria itu malah mengeratkan pelukannya. Ayana semakin kesal dibuatnya, tetapi tidak lama kemudian Ayana mengerutkan dahinya ketika mendengar pria itu tertawa.
"Coba tebak siapa gue?" tanya pria itu.
Walaupun sudah cukup lama Ayana tidak bertemu dengan pria itu, tetapi Ayana masih sangat mengenal suara dari pria yang kini sedang menutup matanya itu.
"Sandy! Lepasin gue!" teriak Ayana yang tidak lama kemudian menggigit tangan pria itu.
Sandi bahkan terlihat memijat-mijat tangannya yang terasa nyeri akibat ulah dari Ayana, sedangkan Ayana malah menatap pria itu dengan perasaan campur aduk.
"Lagian elu ngapain pake nutup mata gue segala? Dasar pria gila," ujar Ayana.
Terlebih lagi ketika Sandi menyebut dirinya dengan sebutan 'Moo', entah kenapa perasaannya menjadi tidak menentu.
"Sorry! Gue lagi galau, tadinya gue ke pantai mau bunuh diri. Abisan cewek gue nggak mau gue ajak kawin, tapi gue nggak jadi bunuh diri karena lihat elu, Moo." Kembali pria itu memeluk Ayana, bahkan kali ini pria itu menggoyang-goyangkan tubuh Ayana.
Pria itu seolah begitu senang karena bisa bertemu dengan Ayana, teman kuliahnya saat di luar negeri dulu. Walaupun alasan yang dia lontarkan tidak sepenuhnya benar.
Sandi sedang merasa galau karena lamarannya ditolak oleh kekasihnya, dia sengaja datang ke pantai untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.
Namun, tanpa dia duga, Sandi malah bertemu dengan Ayana. Sahabat dekatnya ketika kuliah di luar negeri dulu, wanita yang sangat dia kagumi tapi terasa tidak bisa dia gapai.
"Lepasin gue, San! Lagian elu tuh gila aja, masa ceweknya diajakin kawin? Gue juga nggak bakalan mau kali, nikah dulu. Baru kawin, otak elu emang konslet!" ujar Ayana.
Sandi langsung nyengir kuda mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, bahkan Sandi terlihat mencubit gemas kedua pipi Ayana. Ayana langsung menepis tangan pria itu.
"Ck! Maksud gue itu," ujar Sandy. "Oiya, elu lagi ngapain di sini? Berdua-duaan sama cowok lagi, di pantai lagi?" tanya Sandy dengan aneh karena dia sangat tahu jika Ayana tidak menyukai pantai.
"Kerja, sama asisten pribadi gua. Lah, elu sendiri ngapain di sini?" tanya Ayana.
Stefano hanya terdiam seperti obat nyamuk seraya memperhatikan keduanya, mau ikut mengobrol pun rasanya tidak akan nyambung.
__ADS_1
"Gue sengaja datang ke sini untuk melamar cewek gue, taunya gue ditolak." Sandy tersenyum getir setelah mengatakan hal itu.
"Ck! Itu namanya karma, karena elu udah mengabaikan cewek cantik dan juga baik seperti gue," ujar Ayana tanpa sadar.
"Maksudnya?" tanya Sandy.
Sebenarnya Sandy sempat menaruh hati kepada Ayana, tetapi dia merasa tidak sebanding jika harus bersanding dengan Ayana.
Ayana adalah cucu dari keluarga Dinata, salah satu keluarga kaya yang ada di ibu kota. Sedangkan dirinya hanyalah anak yang terlahir dari keluarga sederhana.
Sandy bisa kuliah di luar negeri pun karena dengan jalur beasiswa, bukan seperti Ayana yang di sekolahkan oleh kedua orang tuanya yang kaya raya.
"Canda gue! Dahlah, gue balik aja. Males gue ketemu sama elu," ujar Ayana.
"Moo! Elu tuh gitu, jangan pergi dulu napa. Gue masih mau elu temenin, hibur gue. Gue butuh elu," ujar Sandy.
Sandi merengek, dia bahkan berusaha untuk memeluk Ayana kembali. Namun, dengan cepat Ayana memundurkan langkahnya.
"Mohon maaf, ye. Gue harus balik, ayo Fano." Ayana langsung menarik lengan Fano untuk segera menjauh dari sana.
Sandy hanya bisa menghela napas berat melihat kepergian dari Ayana, padahal saat ini dia benar-benar membutuhkan teman curhat.
Saat masuk ke dalam mobil, Ayana terlihat menghela napas berat. Dia merasa sangat kesal karena setiap bertemu dengan Sandy, hatinya masih saja terasa berdebar.
'Ck! Sial! Kenapa rasa itu tidak kunjung hilang?' kesal Ayana tetapi hanya mampu dia katakan di dalam hatinya.
Stefano sempat memperhatikan perubahan raut wajah dari atasannya tersebut, Stefano sepertinya mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mau langsung pulang atau mau menemui tuan Sandi dulu?" tanya Stefano seraya menunjuk Sandi yang terlihat mendekat ke arah mobil yang mereka tumpangi.
Ayana sempat menolehkan wajahnya ke arah Sandi, dia kembali menghela napas berat. Lalu, dia menolehkan wajahnya ke arah Stefano dan berkata.
"Aku ingin pulang," jawab Ayana.
"Tidak mau menemui dia dulu?" tanya Stefano sekali lagi.
"Fano!" pekik Ayana.
"Ay, iya, Nona."
Stefano mengangguk patuh lalu menyalakan mesin mobilnya, setelah itu dia menolehkan wajahnya kembali ke arah Ayana seolah memastikan kalau dirinya harus benar-benar pergi saat ini juga.
"Jalan, Fano!" teriak Ayana yang melihat Sandi hendak mengetuk pintu mobil.
"Iya!" jawab Stefano yang langsung melajukan mobilnya sesuai keinginan dari Ayana.
Melihat mobil yang ditumpangi oleh Ayana menjauh, Sandi terlihat begitu kesal sekali. Karena entah kenapa dia melihat kekecewaan di mata Ayana, Sandi seolah tidak rela.
"Sial!" ujar Sandi seraya menendang kosong ke udara saat melihat kepergian Ayana.
__ADS_1