Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 41


__ADS_3

Ah! Kenzo merasa lemas sekali karena ternyata wanita itu tidak mengingat dirinya sama sekali, wanita itu memilih untuk memeluk ayahnya sendiri tanpa memedulikan keberadaan dirinya di sana.


Padahal, di dalam keadaan tidak sadar Anaya terus saja memanggil namanya. Bahkan, Kenzo kerap kali mendengar Anaya meminta tolong kepada dirinya.


Namun, setelah wanita itu tersadar bahkan tidak menolehkan wajahnya sama sekali kepada dirinya. Dia begitu anteng bercerita kepada ayahnya tentang apa yang dialami oleh Anaya ketika di taman wisata alam.


Karena tidak tahan diabaikan, akhirnya Kenzo duduk di antara Anaya dan juga Alan. Anaya sampai menatap wajah Kenzo dengan tatapan tidak suka.


"Ken! Awas Ih! Aku lagi cerita sama Bapak," ujar Anaya.


Anaya merasa jika Kenzo mengganggu kegiatan ayah dan anak tersebut, karena Kenzo merupakan orang luar yang tidak berhak untuk ikut campur.


"Kamu tuh kejam banget sama Ken, tadi aja lagi ngga sadar sebut-sebut nama Ken terus. Sekarang, Ken kamu cuekin." Kenzo mengerucutkan bibirnya.


Anaya merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena dia merasa tidak melakukan hal seperti itu. Satu hal lagi yang membuat Anaya semakin merasa aneh, pria itu bersikap seolah-olah kalau dirinya adalah kekasih dari Kenzo.


"Maaf, aku sedang mengeluarkan keluh kesahku kepada Bapak. Oiya, Ken. Memangnya tadi aku nyebut-nyebut nama kamu terus?" tanya Anaya.


Kenzo langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena pada kenyataannya Anaya terus saja memanggil-manggil namanya.


"Hem! Kamu bahkan ngga mau lepasin tangan aku, kamu maunya deket-deket aku terus," jawab Kenzo.


Anaya merasa tidak percaya jika dirinya melakukan hal itu, dia bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya di hadapan pria itu.


"Mungkin karena tadi aku mimpi, kamu tahu ngga tadi aku mimpi apa?" tanya Anaya.


"Ngga!" jawab Kenzo seraya menggelengkan kepalanya.


Tentu saja mendengar jawaban dari Kenzo membuat Anaya begitu kesal sekali, dia tidak menyangka jika Kenzo akan langsung mengatakan hal itu.


"Ken!" kesal Anaya yang terlihat hendak memukul pria itu.


Namun, dengan cepat Kenzo bangun dan menghindari wanita itu. Anaya yang merasa kesal ikut bangun dan menghampiri Kenzo, tanpa ragu Anaya memukul pundak pria itu.


Alan yang melihat akan hal itu langsung tersenyum, kemudian dia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar tersebut. Dia berpikir jika kedua sejoli itu harus dibiarkan berdua.


Siapa tahu Anaya bisa mengingat masa lalunya kembali, Alan tidak ingin menjadi pengganggu di antara keduanya.


"Maafkan, Ken, Naya. Sekarang cerita sama Ken, kamu itu mimpi apa?" tanya Kenzo seraya menuntun Anaya untuk duduk kembali di atas tempat tidur.


Anaya nampak menghela napas berat, dia terlihat berusaha untuk menenangkan hati dan juga pikirannya. Anaya berusaha untuk meredam amarahnya kepada Kenzo.


"Tadi aku tuh mimpi lagi berada di dalam kapal gitu, aku di sana bersama dengan perempuan dan juga pria paruh baya. Awalnya aku merasa senang karena bisa berlayar di lautan, tetapi tiba-tiba kapalnya meledak. Aku takut, aku panggil-panggil kamu tapi kamu ngga datang juga." Anaya mengerucutkan bibirnya ketika menceritakan hal itu kepada Kenzo.

__ADS_1


Kenzo begitu sedih mendengar apa yang diceritakan oleh Anaya, karena pastinya kejadian itulah yang dialami Anaya ketika kapal yang dia tumpangi hendak meledak.


"Maafkan, Ken, Naya. Kalau Ken tahu kapalnya akan meledak, Ken ngga bakal kasih kamu untuk pergi." Kenzo berkata dengan begitu serius.


Anaya merasa heran dibuatnya karena Kenzo mengatakan hal seperti itu, pria itu berkata seolah-olah dirinya pernah berpamitan untuk pergi jauh menggunakan kapal.


"Haish! Kamu tuh ada-ada aja, lagian itu hanya mimpi. Tapi, terasa nyata dan aku merasa sedih sekali. Aku merasa takut dan gelisah saat melihat ledakan kapal yang begitu besar, bahkan saat kapal itu meledak tubuhku langsung terpelanting jauh. Aku takut," ujar Anaya.


Membayangkan mimpinya membuat Anaya bergidik, dia merasa jika mimpinya itu seperti nyata dan pernah terjadi kepada dirinya.


"Sini peluk, biar ngga takut." Kenzo langsung menarik lembut Anaya ke dalam pelukannya.


Anaya menurut, dia langsung masuk ke dalam pelukan Kenzo. Dia memeluk pria itu dengan begitu erat. Kenzo tersenyum dengan begitu lebar lalu mengusap punggung wanita itu.


"Bentar deh Ken, dari tadi kamu panggil aku Naya. Kamu ngga salah panggil nama, kan?" tanya Anaya.


Ya, dia mendengar Kenzo berkali-kali memanggil dirinya dengan sebutan Naya, padahal setahu dirinya namanya adalah Asmara.


"Ngga dong, kamu tahu. Apa yang kamu lihat di dalam mimpi barusan bukanlah mimpi belaka, tetapi itu adalah kejadian 5 tahun yang lalu di mana kamu memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ayah kamu," ujar Kenzo.


Pikiran Anaya terasa semakin ruwet saja setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, dia begitu pusing untuk memikirkannya.


"Ken! Jangan bercanda Ih!" keluh Anaya.


"Aku ngga bercanda, Naya. Kamu itu adalah wanita yang sangat aku cintai, nama kamu Anaya. Kamu merupakan salah satu korban ledakan kapal 5 tahun yang lalu, beruntung kamu diselamatkan oleh bapak. Jadi, sekarang kita bisa bertemu kembali."


"Benarkah? Apa buktinya kalau aku adalah Naya?" tanya Anaya.


"Kalung ini," jawab Kenzo seraya mengusap kalung yang dipakai oleh Anaya.


Anaya langsung menurunkan pandangannya, dia menatap kalung emas berliontinkan huruf A di sana. Wanita itu nampak menatap kalung yang baru dia lihat, tidak lama kemudian dia seakan melihat bayangan seorang pria paruh baya yang memasangkan kalung itu di lehernya.


Anaya nampak memejamkan matanya karena bayangan pria itu seakan tidak jelas, pria itu bahkan berkata jika dia begitu menyayangi Anaya. Itulah hal yang dia ingat untuk pertama kalinya ketika menatap kalung tersebut.


"Naya, kamu ngga apa-apa, kan?" tanya Kenzo dengan khawatir.


"Ngga, Ken. Aku hanya merasa jika kepalaku begitu pusing," ujar Anaya.


"Ya udah, kamu istirahat dulu. Siapa tahu dengan beristirahat kamu bisa cepat mengingat aku," ujar Kenzo.


Pria itu nampak membantu Anaya untuk merebahkan tubuhnya, lalu Kenzo menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu sampai sebatas pinggang.


Tidak lama kemudian, Kenzo nampak menatap wajah wanita itu dengan penuh cinta. Anaya sampai terlihat salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu keluar sono, jangan liatin aku kaya gitu," ujar Anaya.


Ketika melihat sorot mata dari pria itu, tiba-tiba saja Anaya merasa sudah tidak asing lagi dengan tatapan dari Kenzo.


"Eh? Mau apa?" tanya Anaya ketika melihat Kenzo yang menundukkan wajahnya.


Anaya bahkan dengan cepat menutup bibirnya dengan kedua tangannya, dia takut jika Kenzo akan berbuat hal yang tidak-tidak terhadap dirinya.


Kenzo tarkekeh melihat perlakuan dari Anaya, lalu pria itu mengecup kening Anaya dengan penuh kasih. Kenzo merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan Anaya.


Walaupun ingatan Anaya belum pulih, dia terus saja berbesar hati. Dia berpikir jika suatu saat nanti pasti Anaya akan sembuh, Kenzo tidak akan merasa putus asa.


"Kamu tuh nakal banget! Masa kecup kening aku," protes Anaya.


Anaya tidak menyangka jika pria itu akan bersikap kurang ajar, padahal biasanya Kenzo bisa menjaga sikapnya. Bahkan, pria itu selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik


"Ck! Hanya kecup kening, tapi karena kamu marah-marah sama aku. Jadi--"


Kenzo tidak meneruskan ucapannya, dia malah langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Anaya. Dia berharap dengan seperti itu Anaya akan mengingat dirinya, pria yang sudah merebut ciuman pertama dari bibir wanita itu


Anaya sendiri nampak syok mendapatkan ciuman dari Kenzo, apalagi ketika melihat mata Kenzo yang tertutup dengan bibir pria itu yang terus memagut bibirnya.


Ada rasa yang berbeda, bahkan Anaya merasa jika dirinya pernah melakukan hal itu dengan Kenzo. Namun, dia tidak tahu di mana melakukan hal itu dengan pria itu.


"Manis, Nay. Bibir kamu tetap manis kaya dulu, Ken sayang Naya! Ken cinta Naya," ujar Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Kembali Kenzo menunduk dan mengecup bibir wanita itu dengan penuh cinta. Bahkan, kali ini Kenzo nampak menekan tengkuk leher wanita itu.


Alhasil ciuman yang Kenzo lakukan terlihat begitu menuntut, tetapi herannya pria itu begitu lihai dalam mencium bibirnya. Tentunya hal itu membuat Anaya tidak merasa kehabisan napas.


"Ken!" panggil Anaya ketika tautan bibir mereka terlepas.


"Apa kamu sudah ingat siapa aku? Apa kamu sudah ingat jika kita pernah melakukan ciuman ini? Apa Ken bukan orang yang berarti bagi Naya? Kenapa Naya bisa melupakan Ken seperti ini?" tanya Kenzo beruntun.


"Ken," ujar Anaya lirih seraya menelusupkan jari tangannya pada rambut pria itu.


Dia tatap wajah Kenzo yang begitu tampan, tidak lama kemudian wanita itu mengusap pipi Kenzo. Lalu, tangan itu beralih untuk mengusap bibir pria itu.


"Ini tidak asing, kenapa semuanya terasa tidak asing?" tanya Anaya.


Wanita nampak menatap mata Kenzo dengan begitu lekat, semakin lama dia menatap mata itu, dia merasa banyak potongan puzzle yang melintas di otaknya. Ada banyak potongan-potongan memori yang begitu sulit untuk disambungkan.


***

__ADS_1


Kakak, tolong follow aku.



__ADS_2