
Suasana makan malam kali ini terasa begitu berbeda, terasa begitu ramai dan juga ceria. Tentunya karena adanya Ayana dan juga Ayaka, keduanya terus saja mengobrol disela makan malam kali ini.
Sam tidak menegur kedua putrinya, karena Sam sangat tahu jika kedua putrinya itu kini sedang saling merindu. Pria itu bahkan sesekali menimpali obrolan di antara keduanya.
Berbeda dengan Stefano, pria itu terlihat begitu asik memperhatikan wajah dari Ayaka. Semakin lama dia menatap wajah gadis itu, dia semakin yakin jika gadis yang ada di hadapannya adalah gadis kecilnya.
Beberapa saat kemudian acara makan malam pun sudah selesai, Sam berpamitan lebih dulu karena ada karyawan tokonya yang menelpon.
"Aya yang mencuci piring, Kak Ay yang rapikan meja makan." Ayaka berjalan menuju wastafel, sedangkan Ayana langsung tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Stefano terus saja memperhatikan Ayaka, terlebih lagi setiap kali gadis itu menyebut namanya. Stefano benar-benar merasa kembali ke masa lalu, di mana ada gadis kecil yang berkata jika dia bernama Aya.
"Biar Kakak saja sama Fano yang rapikan dan cuci piringnya, kamu pasti lelah." Ayana mulai merapikan meja makan dibantu oleh Stefano.
Tangan pria itu terus saja bergerak, tetapi tatapan matanya tertuju untuk melihat Ayaka. Setiap apa yang dilakukan oleh Ayaka, tak luput dari perhatian pria itu.
"Ngga dong, aku udah pulang dari siang. Aku udah istirahat," jawab Ayaka seraya tersenyum.
Padahal, setelah dia sampai, Ayaka langsung menemani Sam di toko milik ayahnya itu. Dia membantu Sam seraya melepas rindu dengan membicarakan kegiatan Ayaka selama di luar kota.
"Iya deh, iya. Ade aku yang cantik ini memang tidak pernah mengenal kata lelah," ujar Ayana seraya terkekeh.
Ayana terlihat membawa piring kotor dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ayaka, sedangkan Stefano merapikan makanan yang masih bisa dimakan.
"Ini makanannya disimpan di mana?" tanya Stefano.
"Simpan di kulkas aja, lumayan besok bisa diangetin," jawab Ayana.
"Oh, oke!" ujar Stefano.
Ayaka dan juga Ayana terlihat mencuci piring, sedangkan Stefano membawa makanan yang sudah dia rapikan dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin.
Saat dia hendak menutup lemari pendingin tersebut, Stefano sempat terdiam. Karena dia melihat coklat di dalam kulkas tersebut, dengan perlahan tangan yang terulur untuk mengambil coklat tersebut.
Satu hal yang membuat Stefano tertarik, coklat itu dibungkus dengan rapi menggunakan plastik. Bahkan, saat Stefano melihat tanggal yang tertera pada bungkus coklat tersebut, coklat itu sudah kadaluarsa.
__ADS_1
Melihat Stefano yang hanya berdiri saja di depan lemari pendingin, Ayana dan juga Ayaka terlihat saling pandang. Kemudian, Ayana nampak menegur pria itu.
"Hey! Kenapa kamu malah berdiri terus di situ? Nyari yang adem, kah?" tanya Ayana.
Stefano langsung menolehkan wajahnya ke arah dua wanita cantik yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, lalu dia mengangkat cokelat tersebut seolah sedang menunjukkan apa yang sedang dia perhatikan dari tadi.
Melihat coklat kesayangannya dipegang oleh orang lain, Ayaka langsung menghampiri Stefano dan mengambil coklat itu dari tangan pria tersebut.
"Kamu tuh nggak boleh megang-megang coklat aku," ujar Ayaka seraya memasukkan coklat tersebut ke dalam lemari pendingin lalu menutupnya dengan rapat.
Stefano benar-benar merasa tidak enak hati, terlebih lagi ketika melihat wajah Ayaka yang menatap dirinya dengan tidak suka.
"Tapi, itu coklatnya sudah kadaluarsa, Nona. Coklat yang dibuat enam belas tahun yang lalu," ujar Stefano.
"Ck! Memangnya kalau kadaluarsa kenapa?" tanya Ayaka.
Ayaka memandang Stefano dengan tatapan tajamnya, Stefano yang usianya jauh lebih tua dari Ayaka sampai menundukkan wajahnya. Dia seolah tidak berani untuk menatap wajah itu.
"Ngga bisa dimakan, jadi untuk apa anda simpan?" tanya Stefano lagi dengan penasaran dan dengan suaranya yang begitu lirih.
Ayaka benar-benar merasa sangat sedih karena pria yang selalu berbuat baik kepada dirinya itu pergi tanpa pamit, padahal Ayaka hanya ingin tahu ke mana pria itu pergi.
Kalau pun memang mereka dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh, rasanya mereka masih bisa berkomunikasi menggunakan surat atau pun menggunakan ponsel.
Oh, oh, oh. Stefano semakin yakin jika gadis yang berada di hadapannya kini adalah gadis kecilnya, rasanya dia tidak salah orang lagi.
Namun, untuk memastikan hal itu benar atau tidak. Stefano tetap merasa harus bertanya terlebih dahulu, pria itu nampak gugup lalu bertanya.
"Nona, kalau boleh aku tahu, siapa orang yang kamu anggap sebagai malaikat penyelamat kamu itu?" tanya Stefano.
Ayaka nampak memicingkan matanya, dia menatap Stefano dengan lekat. Ayaka benar-benar merasa penasaran karena pria itu terus saja bertanya seolah ingin mengorek informasi dari dirinya.
"Kepo!" ujar Ayaka yang tidak paham jika pria yang ada di hadapannya adalah malaikat penyelamatnya.
Ayana yang mendengar obrolan di antara keduanya langsung tertawa, dia langsung menghampiri Stefano dan menepuk-nepuk pundak pria itu.
__ADS_1
"Makanya jangan nanya-nanya terus, lagian kamu tuh biasanya irit bicara. Tapi, kenapa kamu malah banyak bicara seperti ini setelah bertemu dengan adikku?" tanya Ayana.
"Anu, Nona. Saya hanya--"
Stefano hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal, terlebih lagi ketika melihat Ayaka yang sedang menatap dirinya dengan lekat.
Rasanya jantung pria itu berdebar dengan begitu cepat, gugup dan dia seolah kesusahan untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Sepertinya kamu sangat lelah, pulanglah. Maaf jika hari ini aku terlalu banyak memberikan kamu pekerjaan, kalau kamu memang menyukai adikku, besok masih ada waktu untuk pedekate." Ayana kembali tertawa setelah mengatakan hal itu.
Berbeda dengan Ayaka yang nampak cemberut mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya, sedangkan Stefano langsung memalingkan wajahnya yang nampak memerah.
Pria itu seperti seorang gadis yang berdekatan dengan pujaan hatinya, Ayana sampai tidak bisa untuk tidak menahan tawanya.
"Pulanglah, Fano. Besok kita harus berangkat pagi-pagi, jemput aku seperti biasanya." Ayana tersenyum setelah mengatakan hal itu.
"Ah, iya, Nona. Terima kasih untuk makan malamnya, saya pamit pulang dulu," pamit Stefano.
"Ya!" jawab Ayana.
Setelah berpamitan kepada Ayana, Stefano nampak tersenyum ke arah Ayaka. Lalu, dia segera pergi dari sana.
Setelah kepergian Stefano, Ayaka nampak memeluk Ayana. Lalu, dia mengajak Ayana untuk masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang selalu mereka huni bersama, karena setiap kali Ayana menginap di rumah Sam, Ayana selalu tidur bersama dengan adiknya tersebut.
"Kak, kenapa dia begitu aneh?" tanya Ayaka seraya duduk di depan meja rias.
"Entahlah, biasanya dia itu jarang banget bicara. Lebih fokus dalam urusan bekerja, mungkin dia itu suka sama kamu. Soalnya Dia liatin kamu terus, wajahnya juga memerah saat menatap wajah kamu. Ketara banget kalau dia suka sama kamu," jawab Ayana.
"Masa sih?" tanya Ayaka seraya mengingat-ingat bagaimana cara Stefano menatap dirinya.
Namun, satu hal yang membuat dia merasa tidak marah ketika Stefano menatap dirinya. Dia seolah mengenal tatapan mata itu, wajah Stefano bahkan seolah tidak asing di matanya.
"Sepertinya begitu, tapi kalau dia beneran suka sama kamu, Kakak sih setuju aja. Dia itu orang yang sangat baik," ujar Ayana.
Walaupun Ayana baru mengenal Stefanus selama 1 bulan, tetapi Ayana sangat yakin jika Stefano adalah pria yang sangat baik, pintar dan juga sangat bisa diandalkan.
__ADS_1
"Tapi, Kak. Aku merasa mengenal dia, apa mungkin dulu dia adalah salah satu orang yang aku kenal?" tanya Ayaka dengan raut wajah penasaran.