
Jika Ayana sedang mengabaikan Sandi yang terus meminta haknya, berbeda dengan Ayaka dan juga Stefano. Mereka sedang berkumpul dengan Sam, keduanya sedang mengajak Sam untuk pergi jalan-jalan.
Sudah cukup lama Ayaka tidak mengajak ayahnya itu untuk jalan-jalan, maka dari itu dia mengajak Sam untuk pergi ke sebuah bukit yang tidak jauh dari belakang sekolah tempat Sam berjualan.
Di belakang sekolah itu ada bukit kecil yang terlihat begitu indah, banyak pohon-pohon yang rindang dan juga hamparan rumput yang hijau.
Bukit itu entah milik siapa, tetapi biasanya memang banyak orang yang datang di saat hari libur tiba. Saat Ayaka datang, di sana sudah ada beberapa keluarga yang sedang bertamasya.
"Gelar karpetnya di sini saja, Yah." Stefano mengajak Sam untuk menggelar karpetnya, Sam dengan senang hati langsung membantu Stefano untuk menggelar karpetnya.
Lagi pula dia sudah ingin beristirahat, karena saat mereka datang, Sam berjalan untuk sampai ke bukit itu cukup lama.
"Aku siapkan makanannya," ujar Ayaka yang langsung menyimpan keranjang makanan yang dia pegang.
Ayaka langsung menata makanan dan juga camilan yang sudah disiapkan, Stefano dengan cekatan membantu istrinya itu.
"Sudah siap, saatnya kita bertamasya!" ujar Ayaka dengan riang.
Sam dan Stefano nampak menertawakan tingkah dari Ayaka, lalu keduanya nampak duduk di atas karpet yang sudah digelar tersebut.
Ayaka tersenyum melihat Stefano dan juga Sam yang nampak begitu akrab, lalu Ayaka merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Sam sebagai bantal.
"Yang! Jangan kaya gitu, nanti paha Ayah sakit." Stefano nampak memperingati istrinya, kasihan sang mertua yang sudah berumur, pikir Stefano.
Namun, Ayaka yang mendapatkan teguran dari suami yang nampak tidak suka. Dia berpikir jika suaminya itu cemburu karena dia begitu dekat dengan ayahnya.
"Mana ada kaya gitu, aku mau disayang sama Ayah. Boleh kan' Yah?" tanya Ayaka yang menarik lembut tangan Sam, lalu menyimpan tangan pria itu di atas kepalanya.
Sam tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, karena pada kenyataannya dia begitu senang kalau putrinya bersikap manja kepada dirinya.
Walaupun memang Ayaka sudah memiliki suami, tetapi Sam sangat suka. Di saat putrinya kecil, Sam begitu sulit untuk bertemu dengan kedua putrinya.
Pertama karena memang Sam begitu sibuk dalam bekerja, sedangkan setelah ketahuan selingkuh dia langsung mendekam di penjara selama lima tahun.
Lima tahun tanpa mengunjungi kedua putrinya sama sekali, lima tahun di penjara dan dia begitu kesulitan untuk mendapatkan informasi tentang kedua putrinya.
Jika mengingat akan hal itu, Sam ingin sekali menebus kesalahannya dengan memanjakan putri-putrinya. Walaupun dia tidak memiliki uang yang banyak, setidaknya dia bisa berkasih sayang dengan kedua putrinya.
"Boleh dong, Nak. Justru Ayah merasa senang jika kamu bersikap manja seperti ini, Ayah merasa menjadi orang tua yang sangat dibutuhkan," jawab Sam.
__ADS_1
Ayaka tersenyum dengan begitu bangga mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, dia bahkan langsung mencebikkan bibirnya ke arah suaminya.
"Tuh! Denger, Yang. Ayah sangat senang," ujar Ayaka seraya menjulurkan lidahnya.
Stefano langsung tertawa, lalu dia menggelitiki kaki Ayaka. Wanita itu nampak tertawa seraya menggeliatkan tubuhnya.
"Ampun, Yang." Ayaka berusaha untuk menepis tangan Stefano.
Dia sudah merasa tidak kuat dengan rasa geli yang menggelitik, Sam langsung menolehkan wajahnya ke arah Stefano dan berkata.
"Fano!" tegur Sam yang melihat mata Ayaka mulai berair.
Walaupun dia tahu jika menantunya itu sedang bercanda, tetapi salam tidak suka ketika melihat Ayaka sampai menitikan air matanya.
"Maaf, Yah. Abis aku gemes sama putri Ayah yang cantik ini," ujar Stefano yang langsung menghentikan aktivitasnya.
Lalu, tanpa ragu Stefano menunduk dan mengecup kening istrinya. Ayaka langsung tertawa, tetapi karena malu dia dengan cepat mendorong wajah suaminya.
Sam langsung tertawa melihat tingkah putrinya yang malu-malu seperti itu, lalu dia mengusap puncak kepala Stefano.
"Yey! Aku disayang sama Ayah, kamu ngga." Stefano tersenyum penuh kebanggaan.
"Ayah sayang sama Aya, putri Ayah yang sangat Ayah cintai." Sam mengelusi puncak kepala putrinya dengan penuh kasih.
Sam benar-benar merasa senang karena Stefano dan juga Ayaka terlihat begitu saling mencinta, dia berharap jika hubungan keduanya akan langgeng sampai maut memisahkan.
Jangan sampai ada perselingkuhan apalagi ada perceraian, karena hal itu pastinya akan sangat menyakitkan untuk putrinya itu.
"Ayah udah sayangin aku, sekarang kamu yang sayangin aku." Ayaka menunjuk kotak bekal berisi potongan buah-buahan.
Stefano yang paham langsung mengambil kotak bekal berisi potongan buah-buahan tersebut, lalu dia membukanya dan mengambil potongan buah itu dengan garpu.
"Kamunya duduk kalau mau makan buah, aku suapi. Atau mau nyandar di sini?" tanya Stefano yang langsung menepuk dadanya.
Ayaka tersenyum dengan begitu lebar, lalu dia duduk membelakangi suamimya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu.
"Suapin!" rengek Ayaka.
Stefano langsung menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya itu, dia menyuapi Ayaka dengan penuh kasih. Sam tersenyum, lalu dia terlihat bangun untuk mengelilingi bukit itu.
__ADS_1
Rasanya dia tidak mau mengganggu kebahagiaan putri dan juga menantunya, lebih baik dia menikmati keindahan bukit yang ada di sana.
Plak!
Bunyi tamparan terdengar begitu keras, Sam sampai menghentikan langkahnya. Lalu, pria itu menolehkan kepalanya ke arah suara.
Seorang wanita berusia empat puluh tahunan nampak memegangi pipinya yang terlihat memerah, dia bahkan terlihat menangis sesenggukan.
Di hadapan wanita itu nampak pria paruh baya sedang merangkul wanita muda, pria paruh baya itu menatap wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan penuh kekesalan.
"Sudah aku katakan kalau aku sudah tidak mencintai kamu lagi, aku lebih memilih Agnes yang lebih muda dan juga masih singset. Rumah yang kamu tinggali aku sudah ikhlaskan untuk kamu tinggali bersama dengan anak kita, aku tidak akan pulang lagi."
Pria itu berkata dengan cukup kencang, banyak orang-orang yang ada di sana menolehkan wajahnya ke arah mereka dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di antara mereka.
"Tapi, Mas. Kita sudah delapan belas tahun berumah tangga. Apakah cinta Mas begitu dangkal terhadap aku dan juga putra kita? Kenapa Mas malah tega memilih wanita itu?"
Wanita itu nampak memandang wanita muda yang ada di hadapannya, wanita muda itu terlihat begitu bahagia karena dipilih oleh suaminya.
"Berisik! Kamu tinggal tunggu saja surat cerai datang ke rumah," ujar pria itu yang langsung meninggalkan wanita itu.
Selepas kepergian pria itu, wanita yang sejak tadi menangis itu langsung meluruhkan tubuhnya ke atas hamparan rerumputan. Dia duduk seraya menekuk kedua lututnya, lalu dia menyandarkan kepalanya pada kedua lututnya itu.
Sam merasa iba sekali terhadap wanita itu, dia hampiri wanita itu dan dia mengulurkan sapu tangan yang dia ambil dari dalam sakunya.
"Jangan menangisi pria brengsek seperti itu, hidup anda terlalu berharga."
Sam merasa kembali ke masa lalu melihat apa yang dilakukan oleh pria itu, bedanya Sam tidak pernah melakukan kekerasan terhadap Aruna kala itu. Dia juga tidak memilih wanita yang lebih muda, tetapi memilih wanita yang menjadi cinta pertamanya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, wanita itu nampak menengadahkan wajahnya. Lalu dia menatap wajah Sam dan juga sapu tangan yang ada di tangan Sam secara bergantian.
"Hapus air mata anda, jalani hidup dengan bahagia bersama putra anda. Jangan memperlihatkan sosok lemah anda, perlihatkan anda yang kuat dan mampu hidup bahagia walaupun hanya dengan putra anda."
Wanita itu hanya terdiam seraya menatap wajah Sam, Sam tersenyum lalu menyimpan sapu tangannya di tangan wanita itu.
"Jangan biarkan air mata anda mengalir karena kesedihan, biarkan air mata anda mengalir untuk kebahagiaan." Sam kembali tersenyum, lalu dia meninggalkan wanita itu.
Wanita itu hanya terdiam seraya melihat kepergian Sam, lalu wanita itu mengusap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Sam.
"Apakah aku akan kuat tanpa suamiku? Apakah aku bisa hidup tanpa cinta dari suamiku? Tapi, benar apa kata pria itu. Aku harus kuat," ujar wanita itu.
__ADS_1