
Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, Arin, Anisa dan juga Sahrul terlihat sudah bersiap untuk pulang ke kediamannya yang ada di kampung halaman.
Padahal waktu baru menunjukkan pukul lima pagi, tetapi ketiga orang itu sudah bersiap untuk pulang. Sahrul bahkan terlihat sudah bersiap duduk di balik kemudi dan sudah menyalakan mesin mobilnya.
Anisa yang mulai akrab dengan Alice nampak sedang saling berpelukan, begitupun dengan Aruna dan juga Arin, keduanya nampak saling memeluk dan bahkan keduanya terlihat menangis karena masih saling merindu.
"Hati-hati di jalan, nanti kabari gue kalau elu udah sampai di rumah." Aruna melerai pelukannya.
Berat sekali rasanya harus berpisah dengan sahabat terbaiknya, karena ini adalah untuk pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.
"Iya, nanti gue langsung telpon elu. Gue sayang elu, Runa. Nanti datang ke kampung gue kalau sempet," ujar Arin.
Kehidupan Arin dan suami memang berkecukupan, tetapi mereka tidak bisa sering berpergian karena uang yang dihasilkan tidak besar seperti milik Aruna.
"Iya, nanti kalau liburan sekolah gue pasti main ke kampung halaman elu."
Sepertinya pergi berlibur ke kampung halaman sahabatnya itu adalah ide yang terbaik, karena Aruna bisa memperkenalkan anak-anaknya untuk lebih dekat dengan alam.
"Kelamaan," ujar Arin disertai tawa.
"Ya udah, kalau kelamaan nanti gue nyusul." Aruna mesam mesem setelah mengatakan hal itu.
Arin terlihat begitu bahagia sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, dia bahkan sampai menggoyang-goyangkan tubuh dari sahabatnya tersebut.
"Seriusan elu mau langsung nyusulin gue ke kampung?" tanya Arin.
Aruna ingin sekali tertawa melihat reaksi dari sahabatnya itu, padahal dia hanya bercanda saja. Dia belum ada waktu untuk pergi ke kampung halaman Arin, karena kedua anaknya tidak dalam masa liburan sekolah.
"Iya, nanti gue dateng. Tapi cuma buat nemuin Anisa aja," jawab Aruna.
Arin langsung terlihat cemberut mendengar jawaban dari Aruna, dia bahkan terlihat pura-pura merajuk. Aruna yang melihat sikap dari Arin yang seperti itu langsung memeluk sahabatnya.
"Ngga dong, pokoknya nanti suatu saat gue pasti pergi ke kampung elu. Tapi ngga janji kapan, udah sono jalan, kasihan Sahrul," ujar Aruna.
Arin menolehkan wajahnya ke arah suaminya, pria itu terlihat tidak sabar sekali untuk segera pulang. Mungkin karena mereka tidak terbiasa meninggalkan rumah dalam waktu yang lama.
__ADS_1
"Ya, elu bener. Dia sepertinya sudah tidak sabar untuk segera pulang," jawab Arin seraya terkekeh.
Sahrul merupakan pria yang jarang sekali berbicara, tetapi pria itu selalu mengekspresikan keinginannya lewat raut wajahnya. Jadi, Arin bisa dengan mudah menebak keinginan dari suaminya tersebut.
"Hem! Gue pasti kangen elu," ujar Aruna.
"Gue juga, gue berharap semoga ini bukan pertemuan terakhir kita."
Aruna langsung memukul dengan sahabatnya karena dia merasa jika sahabatnya itu berkata hal yang tidak seharusnya, Arin sampai terkekeh dibuatnya.
"Jangan ngomong sembarangan, nanti kita pasti ketemu lagi." Aruna kembali memeluk sahabatnya itu sebelum Arin masuk ke dalam mobilnya.
Setelah berpamitan, akhirnya Arin, Sahrul dan juga Anisa terlihat pergi menuju kampung halamannya. Aruna terlihat melambaikan tangannya dengan perasaan sedih.
"Semoga elu selamat sampai tujuan," ujar Aruna.
"Aamiin," ujar Sigit seraya merangkul pundak istrinya dan menuntun Aruna untuk masuk ke dalam kamarnya.
Alice yang melihat kepergian orang tuanya langsung mengikuti langkah dari Sigit dan juga Aruna, Sigit sampai kaget karena ternyata Alice masuk ke dalam kamar mereka.
Putri musuhnya itu bahkan terlihat bergerak-gerak seperti ikan yang sedang berenang, lalu dia mengambil guling dan memeluknya.
"Mau bobo dong, Pa. Masih pagi, aku masih ngantuk. Lagian ini hari Minggu juga," ujar Alice yang langsung memejamkan matanya.
Sigit langsung menghela napas kasar mendengar jawaban dari putrinya, sungguh dia tidak menyangka jika Alice malah akan tidur di dalam kamarnya. Padahal, putrinya memiliki kamar sendiri.
"Ya ampun!" keluh Sigit.
Padahal pria itu berniat akan bermanja-manjaan bersama dengan istrinya, karena sejak kedatangan Arin, dia tidak berkesempatan untuk dekat dengan istrinya tersebut.
Bahkan, tadi malam Aruna tidur bersama dengan sahabatnya, Arin. Sigit bahkan sampai melayangkan protesnya kepada istrinya tersebut. Namun, Aruna seolah tidak peduli dengan apa yang dia katakan.
'Kamu tuh kayak nggak bakalan ketemu lagi sama dia, sampai tidur aja harus barengan. Masa aku tidur sendirian, tega banget kamu itu.'
Aruna hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, karena dia begitu merindukan sahabatnya setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
__ADS_1
Sigit nampak menghampiri Aruna, lalu dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga wanita itu.
"Papa pengen disayang sama Bunda," bisik Sigit.
Aruna ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu, tetapi dia sangat paham kenapa suaminya mengatakan hal seperti itu.
Aruna tidak mengatakan apa pun, dia malah memeluk lengan suaminya. Lalu, Aruna menuntun Sigit untuk keluar dari dalam kamar utama dan masuk ke dalam kamar tamu.
Tidak lupa Aruna mengunci pintu kamar tersebut, lalu dia mengajak suaminya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tentunya hal itu dia lakukan karena takut jika Alice akan masuk ke dalam kamar tamu tersebut.
"Mau ngapain, Bun? Kok kita malah tiduran di kamar tamu?" tanya Sigit.
"Katanya mau disayang? Sini Bunda sayang, atau Papa mau digoyang?" tanya Aruna seraya mengerlingkan matanya dengan nakal.
Sigit yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung mengerjapkan matanya beberapa kali, sungguh dia tidak percaya dengan apa yang ditawarkan oleh istrinya tersebut.
Aruna yang melihat tingkah Sigit malah tertawa, lalu wanita itu terlihat turun dari atas tempat tidur dan menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan yang begitu erotis.
"Ya ampun, Yang. Inget umur, takutnya malah encok." Sigit langsung ikut turun dan menggendong Aruna.
"Aih! Mana ada aku encok, walaupun usiaku sudah semakin menua, tetapi aku masih sanggup bergoyang dan memuaskan kamu. Mau digoyang ngga?" tawar Aruna.
Aruna nampak mengusap dada Sigit, lalu dia mengusakkan wajahnya pada cerukan leher suamimya. Aruna bahkan terlihat begitu nakal, dia mengecupi leher Sigit lalu menggigitnya.
"Astagfirullah, Yang!" kaget Sigit.
"Jangan jerit dulu! Aku belum goyang loh," ujar Aruna seraya menggigit bibir bawahnya.
"Ya ampun!" ujar Sigit yang langsung merebahkan tubuh Aruna dengan perlahan ke atas tempat tidur.
''Ini posisi yang salah," ujar Aruna yang langsung mendorong tubuh Sigit sampai terlentang di atas tempat tidur.
Aruna pagi ini terlihat begitu nakal sekali, ingin rasanya Sigit melucuti pakaian yang dikenakan oleh istrinya dan menampar bokong wanitanya.
"Eh? Kamu mau ngapain?" tanya Sigit yang melihat Aruna mulai menurunkan celananya.
__ADS_1
"Mau goyang ngebor," jawab Aruna seraya terkekeh.