Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 200 (End)


__ADS_3

Kenzo yang mendengar pertanyaan dari Anisa langsung menolehkan wajahnya ke arah wanita itu, ada tatapan penuh kebencian yang Kenzo perlihatkan kepada Anisa.


Namun, Anisa seolah tidak paham dengan tatapan yang diperlihatkan oleh Kenzo. Anisa malah memasang senyum terbaiknya kepada Kenzo, senyum yang sangat menyebalkan bagi Kenzo.


Mual sekali rasanya saat Kenzo melihat senyuman manis dari bibir Anisa, karena senyuman itu terasa palsu. Senyuman itu terasa sengaja dipakai oleh Anisa untuk menutupi keburukan dari wanita itu.


"Kak Kenzo kok diem aja? Nisa boleh ikut anter Kakak apa nggak?" tanya Anisa sekali lagi.


Kenzo langsung menggelengkan kepalanya, jangankan diantarkan oleh Anisa, berdekatan dengan wanita itu saja Kenzo tidak mau.


"Aku tidak ingin diantar oleh siapa pun, kecuali oleh kedua orang tuaku. Lagi pula kamu sedang tidak enak badan, berdiam dirilah di rumah. Rasanya itu akan lebih baik," jawab Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Kenzo nampak tersenyum ke arah ayah dan juga ibunya. Lalu, kembali Kenzo memeluk Aruna dan juga Sigit secara bergantian.


"Ken mau ke kamar dulu, mau merapikan semuanya. Semoga Papa dan juga Buna bisa secepatnya mengurus keberangkatan Ken," ujar Kenzo yang menyerahkan semuanya kepada Sigit dan juga Aruna.


"Ya, Sayang. Untuk urusan itu tenang saja, ada Papa yang akan mengurusnya," jawab Aruna.


Sigit langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju, karena apa pun yang diinginkan oleh putranya, selama itu baik Sigit akan mengabulkannya.


"Yang terpenting kamu belajar dengan baik, kamu bisa menjaga diri dengan baik. Kamu bisa bersikap dengan baik dan kamu bisa membanggakan semua orang orang yang menyayangi kamu, pasti Papa akan mendukung apa pun keputusan kamu."


"Pasti, Pa. Aku pasti akan berusaha untuk membuat kalian bangga," jawab Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Kenzo langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak ingin berlama-lama lagi di ruang keluarga, terlebih lagi di sana ada Anisa, wanita yang sangat tidak dia sukai.


Kedatangan wanita itu saja sudah tidak dia sukai, terlebih lagi setelah kejadian waktu itu. Waktu di mana Anisa menampilkan tubuh polosnya, Kenzo semakin membenci wanita itu.


Hanya saja Kenzo tidak ingin mempermasalahkan hal itu, yang terpenting baginya, jangan pernah Anisa mendekatinya lagi. Apalagi melakukan hal yang tidak-tidak di hadapannya, itu lebih baik.


"Naya, aku yakin kamu masih hidup." Kenzo mengelus lembut wajah Anaya yang tertera di layar ponselnya.

__ADS_1


Satu minggu kemudian.


Kenzo pergi ke luar negeri bersama dengan Sigit dan juga Aruna, Alicia tidak ikut karena dia berkata tidak tega jika meninggalkan Anisa sendirian saja di rumah.


Saat tiba di luar negeri, Kenzo dibelikan sebuah apartemen kecil oleh Sigit dan juga Aruna. Tentunya hal itu sesuai dengan permintaan dari putra tampannya itu.


Kenzo beralasan jika dirinya hanya tinggal sendirian, dia tidak mau banyak pekerjaan dengan membersihkan apartemen yang terlalu besar.


Kenzo ingin tinggal sendiri, masak sendiri dan membersihkan rumah itu sendiri tanpa bantuan orang lain. Tentu saja Sigit dan juga Aruna mengabulkan permintaan dari putranya itu.


Di dalam apartemen itu hanya ada satu kamar utama, ruang tamu dan juga ruang makan yang menyatu dengan dapur. Sangat kecil tetapi terlihat begitu nyaman.


Sigit dan juga Aruna menemani Kenzo selama satu minggu di luar negeri, karena keduanya juga terlihat membantu putranya itu dalam mendaftarkan diri di sebuah fakultas ternama di negeri tersebut.


Kenzo mengambil jurusan manajemen bisnis sesuai dengan keinginannya, karena dia ingin menjadi seorang pengusaha yang handal. Sesuai dengan apa yang pernah dia katakan kepada Anaya.


"Aku akan belajar dengan baik, Naya. Aku mencintai kamu ujar Kenzo saat pertama kali dia masuk kedalam fakultas tempat dia menimba ilmu.


Saat tiba di tanah air pun Aruna masih terlihat sering memikirkan putranya, bahkan wanita itu seringkali melakukan panggilan video call dengan putranya tersebut.


Hal itu dia lakukan agar bisa mengurangi rasa rindunya, ada rasa cemas terhadap putranya. Tentunya Kenzo selalu senang saat bersitatap mata dengan ibunya. Walaupun hanya lewat panggilan video call saja.


Terkadang Alice juga akan ikut melakukan panggilan video call, tetapi jika ada Anisa di sana, Kenzo pasti akan langsung memutuskan panggilan video call itu.


"Semoga dengan memutuskan kuliah di luar negri bisa membuat Ken bahagia," ujar Aruna yang kini sedang berada di dalam pelukan suaminya.


Lebih tepatnya Aruna yang memeluk Sigit dengan begitu posesif, wanita itu bahkan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Keduanya terlihat bersiap untuk tidur, tetapi seperti biasanya. Ketika mereka akan tidur, Aruna pasti akan berkeluh kesah terlebih dahulu kepada suaminya tersebut.


Walaupun Sigit sangat lelah dan juga cape setelah seharian bekerja, pria itu tidak pernah mengabaikan istrinya sekalipun. Selalu dia memperhatikan istrinya dengan penuh cinta, selalu dia mendengarkan apa pun yang ingin dikatakan oleh istrinya tersebut.

__ADS_1


"Aamiin, semoga pulang nanti Ken akan menjadi pria yang sukses. Semoga nanti dia bisa membangun usahanya sendiri seperti yang diinginkan oleh Ken," ujar Sigit seraya membalas pelukan istrinya.


"Kamu benar, Sayang. Walaupun sudah tidak ada Naya lagi, aku berharap semoga Ken bisa bahagia dan sukses," doa Aruna.


"Ya, Sayang. Aku tahu, tapi sekarang bukan tugas kamu untuk memikirkan Ken lagi. Tapi kamu harus memikirkan aku dan memikirkan dia," ujar Sigit seraya menarik lembut tangan Aruna.


Sigit menuntun tangan istrinya agar menyentuh miliknya yang kini sudah mengeras, Aruna langsung tertawa karena itu artinya suaminya itu sangat menginginkan dirinya.


Usia mereka memang boleh bertambah, tetapi untuk urusan bergulat di atas ranjang tidak pernah berubah dingin. Justru mereka selalu saja bercinta dengan penuh gairah.


"Baiklah! Aku akan memanjakannya, mau diapain dulu? Mau langsung digoyang atau diservis dulu?" tanya Aruna.


"Diapain aja terserah, Sayang," jawab Sigit.


Aruna langsung tertawa dan mulai melakukan tugasnya sebagai istri yang baik, Sigit merasa bahagia karena memiliki istri yang juga perhatian dan pengertian seperti Aruna.


Walaupun awalnya dia tidak pernah menyangka akan menjadi suami dari Aruna, wanita yang sangat dia cintai dan dia sayangi sejak dirinya masih duduk di bangku sma.


Sungguh dia bersyukur kepada Tuhan, karena akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan bersama dengan wanita pujaan hatinya yang mau menjadi istrinya. Mau menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Terima kasih, Sayang," ujar Sigit seraya menatap istrinya dengan penuh cinta.


"Sama-sama," jawab Aruna seraya memeluk suaminya.


Aruna bahkan memeluk suaminya dengan penuh kasih, memeluk pria yang selama ini selalu memberikan perhatian dan juga pengertian kepada dirinya.


Pria yang selalu memperlakukan dia dengan penuh cinta dan penuh kasih sayang, pria perkasa yang selalu mampu membuat dia puas di atas ranjang.


*


Lanjut Ke season 2, yes. Semoga kalen ngga bosen baca karya Mamak Othor ini, Love sekebon kembang 💖

__ADS_1


__ADS_2