Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 90


__ADS_3

Sigit benar-benar merasa bahagia karena akhirnya istrinya positif mengandung, itu artinya Tuhan begitu baik kepada dirinya. Di usianya yang masih sangat muda dia diberikan kepercayaan untuk mendapatkan keturunan.


Sayangnya dia merasa begitu sedih karena tidak bisa meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk istrinya, karena Istrinya selalu saja mengeluh mual jika berdekatan dengan dirinya.


Namun, sungguh dia benar-benar ingin memeluk istrinya tersebut. Awalnya wajahnya terlihat begitu sendu saat menatap wajah istrinya, tetapi tidak lama kemudian dia nampak tersenyum dan berlari keluar dari dalam kamar utama.


Rachel, Satria dan juga Aruna sampai kaget dibuatnya. Karena tiba-tiba saja Sigit pergi dengan berlari keluar dari kamar utama tersebut, bahkan tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Ada apa dengan suami kamu? Bukankah ini hari kebahagiaan kalian? Kenapa dia malah berlari seperti itu? tanya Satria dengan heran.


Aruna langsung menggelengkan kepalanya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ayahnya, karena nyatanya dia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya tersebut.


Aruna bahkan tidak bisa menebak sama sekali apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu, karena terkadang perbuatan Sigit memang tidak terduga.


"Aku juga tidak tahu ada apa dengannya, Yah. Apa mungkin dia begitu kecewa karena dia tidak bisa memelukku? Lagian salah sendiri sih, kenapa dia selalu bau?" tanya Aruna dengan kesal bercampur sedih.


Dia menjadi bingung dibuatnya, mungkinkah ada yang salah dengan penciumannya, atau memang tubuh Sigit yang selalu tercium bau karena terlalu banyak beraktivitas di luar ruangan, pikirnya.


Namun, terlepas dari apa pun alasannya, tetap saja Aruna merasa tidak paham dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Satria mengelus lembut punggung putrinya, karena biasanya memang seperti itu kalau bawaan wanita yang sedang mengandung. Ada saja yang dirasa dan dilakukan.


"Ya ampun, Sayang. Itu bukan salah Sigit, itu adalah bawaan dari bayi yang sedang kamu kandung. Kamu tuh aneh-aneh aja," ujar Rachel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, Aruna langsung mengelusi perutnya yang masih rata itu. Ingin sekali dia berbicara dengan calon buah hatinya, jika calon buah hatinya itu tidak boleh membuat dirinya berjauhan dengan suaminya.


Namun, dia tidak berdaya. Karena memang dia belum bisa mengajak calon buah hatinya itu untuk berbicara.

__ADS_1


"Kasihan sekali suamiku," ucap Aruna.


Di satu sisi dia memang merasa bahagia karena sebentar lagi akan mendapatkan keturunan kembali, tetapi dia juga merasa kasihan karena tidak bisa berdekatan dengan suaminya.


"Sudahlah, Sayang. Kamu tidak boleh bersedih seperti itu, besok kita akan pergi ke rumah sakit milik almarhum kakek buyut Keanu, rumah sakit keluarga Huntler agar kamu bisa mendapatkan fasilitas terbaik di sana," ujar Satria.


Aruna terlihat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, karena nyatanya rumah sakit Huntler adalah salah satu rumah sakit terbesar yang ada di ibu kota.


Dia merasa tidak percaya karena ternyata pemilik dari rumah sakit tersebut adalah kakek buyutnya sendiri, pria yang tidak dia ketahui karena dirinya tidak berkesempatan untuk bertemu.


"Iya, Ayah. Aku mau melakukan pemeriksaan kandungan, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon buah hatiku," ujar Aruna yang membayangkan dirinya kala melakukan USG.


Dulu dia memang pernah mengandung, tetapi dia tidak merasa bahagia seperti ini. Mungkin karena dulu dia mengandung benih dari pria yang menidurinya dengan tidak sengaja.


Lebih tepatnya Sam dulu menyangka Aruna sebagai wanita yang dia cintai, maka dari itu Sam dulu mengajak Aruna untuk bercinta.


Awalnya Aruna merasa begitu senang karena Sam memperlakukan dirinya dengan begitu lembut saat mereka bercinta, tetapi Aruna merasa sedih ketika Sam meminta dirinya untuk melupakan kejadian itu.


Walaupun dia selalu bersyukur kepada Tuhan karena diberikan baby mungil yang membuat harinya lebih ceria, karena terlepas dari perbuatan apa yang sudah Aruna lakukan dengan Sam, tetap saja bagi yang dia lahirkan adalah anak yang suci.


"Ya, Sayang. Besok kita periksa, sekarang lebih baik kamu istirahat saja. Ini sudah malam, Ayah sama Bunda mau nginep di sini ya?" izin Satria.


Satria dan juga Rachel benar-benar merasa senang mendengar kehamilan putrinya, maka dari itu mereka ingin menginap. Besok pagi mereka berdua ingin mengurusi Aruna dari mulai sarapan pagi yang sehat untuk Aruna dan juga calon buah hatinya.


"Boleh, Ayah, Bunda. Ayah sama Bunda langsung istirahat aja di kamar tamu," jawab Aruna.


Jika kedua orang tuanya menginap di kediamannya, rasanya Aruna sangat bahagia. Karena bisa dekat dengan kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Terima kasih, kamu kembalilah tidur," ucap Satria seraya menuntun putrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Aruna tentu saja menurut, karena dia memang sudah sangat lelah. Mungkin karena pengaruh kehamilan juga dia jadi gampang mengantuk dan juga lelah.


"Ya, Ayah. Bunda," jawab Aruna.


Setelah memastikan Aruna merebahkan tubuhnya dengan nyaman, Satria dan juga Rachel keluar dari dalam kamar utama karena mereka berdua juga membutuhkan waktu untuk beristirahat.


Aruna tersenyum seraya mengusap perutnya yang masih rata, di kehamilannya kali ini dia merasakan kesenangan yang luar biasa.


Berbeda jauh dengan saat dirinya kala mengandung Ayana, hanya ketakutan yang dia rasakan kala itu. Terlebih lagi awalnya Sam tidak ingin anak yang ada di dalam perut Aruna tersebut hidup.


"Terima kasih karena kamu sudah hadir di dalam perut Bunda, Bunda sangat senang. Bunda akan berusaha untuk menjaga kamu dengan begitu baik," ucap Aruna seraya mengelusi perutnya.


Dia tersenyum dengan begitu senang karena sebentar lagi dia akan memiliki keturunan lagi, Ayana dan juga Ayaka pasti akan senang, pikirnya. Karena kedua anak itu selalu saja berkata ingin mempunyai seorang adik.


Di saat Aruna sedang berbahagia, tiba-tiba saja dia merasakan ada yang memeluknya. Saat Aruna menolehkan wajahnya, ternyata suaminya yang datang dengan membawa masker dan langsung memakaikannya kepada Aruna.


"Bagaimana, masih bau tidak?" tanya Sigit kepada istrinya tersebut.


Untuk sesaat Aruna terdiam, hingga tidak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya. Dia merasa senang karena akhirnya tidak mencium bau yang tidak sedap dari tubuh suaminya tersebut.


Aruna bahkan langsung memeluk suami berondongnya karena begitu senang, tentu saja Sigit yang tidak kalah senang langsung membalas pelukan dari istrinya tersebut.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa memeluk istriku lagi," ujar Sigit dengan begitu senang.


Setelah pelukan mereka dilerai, Sigit bahkan tanpa ragu menyingkap baju Aruna dan mengecupi perut Aruna yang masih rata tersebut.

__ADS_1


Bahagia sekali rasanya, karena selain sebentar lagi dia akan mendapatkan buah hati, dia juga merasa bahagia karena bisa memeluk istrinya. Bahkan, bisa mencium perut rata istrinya.


"Ayah sangat senang sekali, karena akhirnya kamu hadir di sini. Love you, Baby." Sigit mengecup perut Aruna dengan penuh cinta, tidak sia-sia dia bergoyang setiap waktu. Karena kini di dalam perut istrinya sudah ada benihnya.


__ADS_2