Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 39


__ADS_3

Karena merasa begitu khawatir akhirnya Kenzo membawa Asmara pulang ke kediamannya, saat tiba di kediamannya Asmara masih terlelap di dalam tidurnya.


Kenzo dengan begitu perlahan menggendong wanita itu dan membawanya ke dalam kamar tamu, dia merebahkan tubuh wanita itu dengan begitu perlahan dan juga hati-hati.


"Jangan pergi!" ujar Asmara ketika Kenzo hendak meninggalkan dirinya.


Mata wanita itu tetap terpejam, tapi masih terlihat dengan begitu jelas raut kekhawatiran dan juga ketakutan di wajahnya. Kenzo benar-benar menjadi khawatir dibuatnya.


Alice yang melihat akan hal itu langsung menepuk pundak Kenzo, dia begitu paham dengan kekhawatiran yang dialami oleh Kenzo.


"Kakak duduk aja dulu, aku akan meminta bunda untuk memanggilkan dokter," ujar Alice.


Karena sepertinya kehadiran Kenzo benar-benar sangat diinginkan oleh Asmara, dia takut nanti Asmara malah akan bangun dan kembali terlihat cemas jika Kenzo pergi.


"Terima kasih," ujar Kenzo dengan tulus.


"Sama-sama, Kak," jawab Alice.


Setelah mengatakan hal itu, Alice nampak keluar dari dalam kamar tamu. Lalu, dia dengan cepat mencari kedua orang tuanya.


Ternyata Aruna dan juga Sigit sedang bersantai di belakang rumah, mereka sedang menikmati keindahan alam di sore hari.


"Bun, Pa. Alice mau minta tolong bisa?" tanya Alice yang langsung duduk tepat di samping Aruna.


Aruna merasa aneh karena putrinya itu sudah pulang dan terlihat begitu cemas, Aruna menjadi takut sudah terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap putrinya, Asmara dan juga Kenzo.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu sudah pulang? Bukannya Ken bilang mau pulang malam?" tanya Aruna.


Alice menghela napas berat mendengar pertanyaan dari ibunya, wanita itu nampak menggenggam tangan ibunya lalu dia berkata.


"Anu, Bun. Kak Ara sakit deh kayaknya," jawab Alice.


"Sakit gimana?" tanya Aruna khawatir.


Aruna baru saja tahu jika Asmara adalah Anaya, sungguh dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Anaya.


''Jadi gini, Bun. Tadi itu saat kita di taman--"


Akhirnya Alice menceritakan apa yang terjadi di taman wisata alam, Asmara ketakutan dan seperti trauma saat melihat ledakan. Padahal, ledakan yang terjadi juga hanya ledakan dalam sekala kecil.


"Di mana dia sekarang?" tanya Aruna.


Aruna sungguh ingin segera menemui Asmara, dia ingin melihat keadaan dari wanita itu. Terlebih lagi setelah mendengar Asmara yang ketakutan karena melihat sebuah ledakan.

__ADS_1


"Di kamar tamu, kalau boleh, sekalian tolong panggilin dokter, Bun. Biar Kak Ara bisa langsung diperiksa sekalian," ujar Alice.


"Ya, Sayang," jawab Aruna.


Aruna nampak menolehkan wajahnya ke arah Sigit, Sigit seolah paham dengan kode dari istrinya tersebut.


"Papa akan menghubungi ayahnya Ara, biar dia sekalian datang ke sini seraya membawa dokter," ujar Sigit.


Ya, Aruna baru tiba di sana. Tentunya dia tidak tahu di mana adanya dokter yang dekat dari rumah Kenzo, jadinya dia seperti orang kebingungan ketika Alice meminta dirinya untuk menghubungi dokter.


Beruntung suaminya itu dengan cepat mengerti apa yang dia inginkan, Aruna tersenyum lalu menggenggam tangan suaminya.


"Itu lebih baik, terima kasih."


Sigit tersenyum hangat ke arah istrinya, selalu dia mengelus pundak Aruna dengan begitu lembut dan dengan penuh kasih sayang.


"Sama-sama, sana pergi dan temui Ara. Biar Papa telpon bapaknya Ara," ujar Sigit.


Ah! Aruna merasa bahagia sekali karena memiliki suami yang pengertian dan juga perhatian seperti Sigit, walaupun terkadang pria itu sangat manja kepada dirinya.


"Oke!" jawab Aruna.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, Aruna mengajak Alice untuk masuk ke dalam kamar tamu. Tentunya sebelum itu dia pergi ke dapur terlebih dahulu. Aruna membuatkan teh hangat untuk Asmara dan juga Kenzo


"Bagaimana keadaan Ara?" tanya Aruna seraya menyimpan teh hangat yang dia bawa di atas meja.


"Jangan nangis, Bun. Karena sepertinya Ara hanya kaget saja," ujar Kenzo.


Aruna mengelus lembut puncak kepala putranya, dia tersenyum dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.


"Ken, Ara adalah Naya!" ujar Aruna yang sudah merasa tidak sabar ingin memberitahukan hal ini kepada putranya.


Kenzo menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, karena dia merasa jika apa yang dikatakan oleh Aruna adalah hal yang mustahil.


Selain memiliki karakter yang beda, Kenzo juga merasa jika Asmara tidak mungkin Anaya. Keduanya memiliki kepribadian yang berbeda.


"Bun! Ngga usah ngomong gitu, Ken ngga mau--"


"Ini buktinya," ujar Aruna yang langsung memberikan kalung milik Asmara.


Kenzo langsung menerima kalung yang diberikan oleh Aruna, Kenzo masih ingat betul jika kalau itu memang milik Anaya. Kalung yang selalu dipakai oleh wanita itu ke mana pun.


Setelah puas menatap kalung itu, Kenzo kembali menatap wajah ibunya. Dia menatap Aruna dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Dari mana Buna mendapatkan kalung ini?" tanya Kenzo.


"Dari Alan, pamannya Aman," jawab Aruna.


"Kenapa bapak bisa memberikan kalung ini kepada Buna?" tanya Kenzo yang masih merasa belum percaya.


"Maaf, tadi Buna menemui Alan. Buna meminta pria itu untuk menceritakan awal mula dia menemukan Ara, ternyata setelah Alan menceritakan semuanya, Asmara adalah Anaya."


Aruna merasa perlu meminta maaf kepada putranya tersebut, karena dia merasa sudah lancang pergi mencari tahu tentang Asmara tetapi tidak memberitahukannya terlebih dahulu kepada Kenzo.


"Maksud, Buna?" tanya Kenzo dengan penasaran.


"Jadi gini, Ken. Buna tadi pagi itu--"


Aruna pada akhirnya menceritakan apa yang sudah dia lakukan tadi pagi bersama dengan Sigit, dia juga menceritakan semua yang dikatakan oleh Alan.


Dari mulai Alan menemukan Asmara di tengah lautan, bagaimana Alan mengobati Anaya dan bagaimana Alan memperlakukan gadis itu dengan begitu baik.


"Jadi, Ara adalah Naya, Bun?" tanya Kenzo seraya menitikan air matanya.


Kenzo benar-benar tidak menyangka jika dia akan bertemu kembali dengan Anaya, wanita cantik yang menjadi cinta pertamanya.


Wanita yang selalu mampu membuat harinya ceria dengan sikapnya, wanita cantik yang selalu membuat dia merasa gemas tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaannya.


"Ya, Sayangnya, Buna," jawab Aruna.


Kenzo terlihat begitu senang sekali, pria itu menangis lalu menggenggam tangan Anaya dengan begitu lembut.


Tidak lama kemudian Kenzo nampak menunduk untuk mengecup kening wanita itu, dia terlihat mengecup kening Anaya dengan penuh cinta.


"Naya, ini Ken. Ken cinta sama Naya," Kenzo nampak berbisik tepat di telinga wanita itu.


Wanita itu terlihat menggeliatkan tubuhnya, dia terlihat kegelian akibat hembusan napas dari bibir Kenzo. Kenzo tersenyum lalu mengusap pipi Anaya dengan begitu lembut.


"Bangun, Naya. Ken ngga tega lihat kamu kaya gini, Ken sayang Naya."


Kenzo menatap wajah Anaya dengan penuh cinta, dia benar-benar tidak menyangka jika cintanya yang dia anggap sudah ditelan lauatan kini ada di hadapannya.


"Naya juga sayang Ken," ujar Anaya tapi masih dengan mata yang tertutup.


Kenzo sampai membulatkan matanya dengan sempurna, dia bahkan langsung mengusap-usap telinganya karena takut salah mendengar.


"Bun! Apakah aku salah dengar?" tanya Kenzo.

__ADS_1


Kenzo langsung mengusap telinganya, Alice yang melihat akan hal itu langsung menangis seraya memeluk kakak kandungnya tersebut.


"Semoga saat mata Kak Naya terbuka, dia akan mengingat kita kembali," ujar Alice.


__ADS_2