Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 85


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Ayaka akhirnya menjalani operasi untuk perbaikan wajahnya yang sudah rusak selama satu tahun lamanya, dia sempat terlihat takut dan juga gugup. Beruntung Aruna selalu menemaninya dan memberikan support yang terbaik untuk anak itu.


Ayaka sampai menangis karena Aruna sudah seperti ibunya sendiri, memberikan dukungan dan memberikan kasih sayang yang sangat besar kepada dirinya.


Setelah melakukan operasi selama 4 jam, dokter mengatakan jika operasi yang dilaksanakan berhasil. Wajah Ayaka bisa kembali mulus tetapi tidak mirip seperti wajah awalnya.


Dari awal tentunya Aruna sudah paham akan hal itu, yang terpenting baginya Ayaka tidak akan mengalami beban mental karena wajahnya yang rusak seperti itu.


Cukup lama Ayaka tinggal di rumah sakit, bahkan sampai dua minggu lamanya. Karena memang kulitnya masih sangat muda dan sensitif aga sulit untuk sembuh, tetapi Aruna dan juga keluarganya sangat bersyukur karena setelah dua minggu dirawat di rumah sakit Ayaka sudah diperbolehkan pulang.


Anak itu kini sedang duduk di depan meja rias seraya menatap wajahnya dari pantulan cermin, anak itu tersenyum dengan begitu riang karena kini wajahnya tidak buruk rupa lagi.


"Kamu senang kan, Dek?" tanya Ayana.


Ayana begitu menyayangi Ayaka, Ayana menganggap anak kecil itu sebagai adik kandungnya sendiri. Perlakuannya terhadap Ayaka begitu baik sekali.


"Sangat senang, Kak." Ayaka langsung memeluk Ayana dengan penuh kasih.


Ayana membalas pelukan dari adiknya itu, dia benar-benar merasa senang karena memiliki teman sekamar yang kini terlihat bahagia dan juga menyayangi dirinya.


"Terima kasih karena Kakak sudah mau menganggap aku adik," ujar Ayaka dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tidak lama kemudian, air mata itu bahkan luruh di kedua pipi Ayaka. Ayana dengan cepat mengusap pipi mulus Ayaka dengan begitu lembut.


"Sama-sama, bagaimana kalau seka--"


Ayana tidak meneruskan ucapannya, karena dia melihat Aruna yang masuk ke dalam kamar milik Ayana dengan wajah yang begitu sendu. Karena begitu penasaran, Ayana pada akhirnya bertanya.


"Ada apa, Bun?" tanya Ayana.

__ADS_1


"Oma, Sayang. Oma meninggal, oma sudah dikuburkan tadi pagi. Ay mau ikut ziarah, ngga?" tanya Aruna dengan sedih.


Walau bagaimanapun juga dia begitu menyayangi wanita itu, walaupun sudah tidak menjadi menantunya lagi, tetapi Aruna sangat menyayangi Almira.


Sebenarnya Aruna merasa sangat kesal sekali, karena dirinya tidak diberitahukan tentang kabar Almira yang meninggal kemarin sore. Almira meninggal karena serangan jantung, wanita itu sudah terbujur kaku di dalam kamarnya saat ditemukan oleh bibi.


Bibi yang begitu panik tentu lupa untuk memberitahukan Aruna, dia langsung menelpon dokter dan meminta tolong untuk memeriksa kondisi kesehatan dari majikannya tersebut.


Ternyata Almira dinyatakan sudah meninggal sekitar 1 jam yang lalu, bibi dan beberapa pelayan yang ada di sana sibuk mengurusi jenazah Almira. Tidak ada yang mengingat Sam ataupun Aruna, mereka hanya sibuk mengurusi wanita tua yang sudah meninggal itu.


Hari ini Aruna diberitahukan karena bibi didatangi oleh pengacara dari keluarga Rahardi, pengacara itu menanyakan tentang keberadaan Aruna, Ayaka dan juga Ayana.


Ternyata Almira jauh-jauh hari sudah membuat surat wasiat untuk kedua cucunya, karena sepertinya dia sudah tahu jika umurnya tidak akan lama lagi.


"Ikut, Bun. Ay mau ikut," jawab Ayana.


Ayana terlihat begitu sedih saat mendengar Almira meninggal dunia, berbeda dengan Ayaka yang hanya terdiam dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


Karena Aruna merasa tidak tega jika harus meninggalkan Ayaka di rumah saja, tetapi Ayaka malah menggelengkan kepalanya.


"Ngga mau, Tante. Aya masih belum enak bener badannya, pengen istirahat aja," tolak Ayaka.


Aruna paham dengan alasan yang dilontarkan oleh Ayaka, karena anak itu memang belum lama keluar dari rumah sakit. Wajar rasanya jika merasakan tubuhnya belum baik betul, pikirnya.


"Ya udah, kamu boboan aja. Tante sama Ay pergi dulu," pamit Aruna.


Ayaka terlihat begitu senang karena Aruna begitu pengertian, wanita itu tidak memaksakan kehendaknya terhadap dirinya.


"Ya, Tante. Hati-hati," ucap Ayaka seraya memeluk Aruna.


"Ya, Sayang," jawab Aruna lalu melerai pelukannya.

__ADS_1


Aruna mengajak Ayana untuk pergi ke pusara terakhir milik Almira, tentunya dia juga mengajak Sigit untuk pergi ke sana. Sigit sampai rela menunda pekerjaannya karena ingin menemani istri dan juga putrinya.


Selepas berziarah ke pusara terakhir Almira, Aruna, Ayana dan juga Sigit langsung pergi ke gedung bertingkat milik pengacara keluarga Rahardi. Karena karena sudah ditunggu kedatangannya di sana.


"Ada apa, ya?" tanya Aruna yang sebenarnya sudah paham kenapa pengacara keluarga Rahardi memanggil dirinya.


"Maaf mengganggu aktivitas anda, saya hanya ingin menyampaikan pesan dari surat wasiat yang dituliskan oleh nyonya Almira," jawab pengacara tersebut.


"Surat wasiat, ya?" ulang Aruna.


Rasanya belum lama dia tinggal bersama dengan Almira, tetapi kini wanita itu sudah pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.


"Ya, satu bulan yang lalu nyonya Almira sempat menemui saya. Dia mengalihkan semua hartanya kepada Ayana dan juga Ayaka, tetapi karena kedua anak itu masih sangat kecil. Nyonya Almira meminta anda untuk mengelola semua kekayaan yang dimiliki oleh beliau, nanti setelah Ayaka dan juga Ayana besar nanti anda baru bisa menyerahkannya kepada mereka."


Pengacara tersebut nampak menjelaskan kepada Aruna, Aruna hanya terdiam seraya mengangguk-anggukan kepalanya. Almira memang memiliki beberapa Resto yang ada di ibu kota, jadi wajar jika dia memang ingin mewariskan usahanya kepada kedua cucunya.


"Lalu, apa yang Sam dapatkan?" tanya Aruna.


Walaupun Sam kini berada di penjara, tetapi pria itu tetaplah putra dari Almira. Jadi, rasanya sangat wajar jika Aruna menanyakan tentang bagian untuk Sam.


"Tidak ada," jawab pengacara tersebut.


"Tapi, saya tidak tahu di mana keberadaan Ayaka. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Aruna.


Dia diberikan amanat untuk memberikan warisan kepada Ayaka dari Almira, tetapi nyatanya dia tidak tahu di mana keberadaan Ayaka. Sungguh ini adalah wasiat yang begitu berat bagi Aruna.


"Jika sekira-kiranya nona Ayana sudah bisa meneruskan usaha Resto tersebut, tetapi nona Ayaka belum ditemukan, maka nyonya Almira meminta anda untuk menjual Resto bagian Ayaka dan menyerahkan uangnya ke panti asuhan atau dinas sosial lainnya," jelas pengacara tersebut.


"Tetapi kalau anda sanggup, anda kelola Resto tersebut. Untuk hasilnya bisa ada sumbangkan dalam setiap bulannya ke panti asuhan," imbuhnya.


"Oh, oke. Saya paham, nanti akan saya pikirkan," jawab Aruna dengan hati miris.

__ADS_1


Karena ternyata justru Sam tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan Ayaka, anak dari hasil perselingkuhan Sam dan juga Angel masih diberikan jatah.


__ADS_2