Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 118


__ADS_3

Cukup lama Ayaka memeluk Stefano, tetapi tidak lama kemudian Ayaka nampak meraba-raba punggung pria itu. Ayaka merasa jika punggung kakaknya tersebut terasa begitu lebar.


Bahkan, tidak lama kemudian Ayaka melerai pelukannya dengan Stefano. Ayaka bahkan nampak menjauhkan wajahnya dan menatap dada Stefano yang nampak bidang.


Ayaka juga memperhatikan bentuk tubuh orang yang ada di hadapannya, walaupun dalam keadaan gelap, tetapi samar-samar dia bisa melihat tubuh orang yang ada di hadapan yang terlihat tinggi besar.


"Kak Ay, sejak kapan tubuh Kakak jadi tinggi besar seperti ini? Terus, dadanya kenapa jadi rata?" tanya Ayaka seraya mengelus-elus dada bidang Stefano.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ayaka, Stefano sampai menahan napasnya. Ada rasa yang begitu aneh tiba-tiba saja menjalar ke seluruh tubuhnya, terlebih lagi saat Ayaka tiba-tiba saja menekan-nekan dadanya.


Ayana yang sejak tadi berdiri tepat di belakang Stefano langsung menghampiri adiknya, dia ingin tahu dengan apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Ayaka.


Karena jujur saja sejak tadi dia sudah merasa begitu senang ketika mendengar suara teriakan dari adiknya tersebut, tetapi sengaja dia tidak bersuara karena Ayaka salah dalam memeluk orang.


Saat Ayana sudah berada tepat di samping Ayaka, Ayana nampak tertawa dengan terbahak-bahak. Ayana merasa begitu lucu ketika melihat Ayaka yang sedang menatap wajah Stefano dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


Tidak lama kemudian, Ayaka nampak menolehkan wajahnya ke arah Ayana. Dia menatap wajah kakaknya dengan begitu kesal, karena kakaknya itu malah menertawakan dirinya yang salah dalam memeluk orang.


"Kakak Ay, Aya, Aya salah peluk orang?" tanya Ayaka dengan perasaan tidak enak hati.


Malu?


Tentu saja rasanya dia begitu malu, terlebih lagi saat menyadari jika orang yang dia peluk adalah seorang pria. Rasanya Ayaka ingin meminjam pintu Doraemon agar bisa segera pergi ke mana saja.


"Lagian kamu pakai matiin lampu segala, jadinya salah meluk orang, kan!" ujar Ayana.


Setelah mengatakan hal itu, Ayana kembali tertawa dengan terbahak-bahak. Ayaka yang kesal langsung memukul lengan Ayana, tetapi tidak lama kemudian Ayaka memeluk Ayana dengan begitu erat.


"Aya rindu, kenapa Kakak pulangnya lama banget?" tanya Ayaka.


"Lembur, Dek. Banyak kerjaan, kamu kapan sampai?"


Sam yang sejak tadi diam saja langsung menghampiri kedua putrinya, dia memeluk kedua putrinya tersebut lalu Sam bersuara.

__ADS_1


"Ngobrolnya di dalam aja, pegel kalau ngobrol sambil berdiri. Itu kasian Nak Fano juga kalau harus berdiri terlalu lama, itu dia bawa apa?" tanya Sam.


Ayaka yang mendengar Sam menyebut pria yang ada di hadapannya dengan sebutan 'Fano', dia langsung menatap Stefano dengan lekat. Stefano terlihat salah tingkah, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Sam dan berkata.


"Anu, Om. Bawa soto ayam," jawab Stefano.


"Wah, enak tuh. Ayo masuk," ajak Sam.


Sam masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, lalu dia menyalakan semua lampu agar terlihat lebih terang. Setelah itu, dia mengajak Ayana, Ayaka dan juga Stefano untuk masuk ke dalam ruang makan.


Ayana dan juga Ayaka berjalan menuju ruang makan dengan saling memeluk, Ayaka bahkan terlihat begitu manja sekali kepada kakaknya tersebut.


Satu bulan tidak bertemu rasanya benar-benar membuat dia rindu kepada kakaknya itu, rindu untuk bercanda tawa bersama.


Stefano nampak mengikuti langkah keduanya dari belakang, tatapan pria itu tidak beralih dari Ayaka. Wajah gadis itu menjadi pusat perhatian Stefano, entah kenapa jantungnya terus saja berdebar dengan begitu kencang saat berada di dekat gadis itu.


"Ayah sama Aya udah masak, tapi sotonya terima kasih. Sini Ayah tuang sotonya," ujar Sam.


"Ah, iya, Nona. Maaf," ujar Stefano seraya memberikan bungkusan yang dia bawa sejak tadi.


Namun, tatapan matanya terus saja tertuju kepada Ayaka. Ayaka yang menyadari jika Stefano sejak tadi menatap dirinya terlihat mengernyitkan dahinya, lalu gadis itu berkata.


"Kenapa kamu melihat aku terus? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Ayaka.


"Tidak, Nona. Anda sangat cantik," jawab Stefano dengan jujur.


"Ya ampun! Terima kasih, tapi, Kak. Dia siapa?" tanya Ayaka seraya memperhatikan wajah Stefano, tetapi tangannya terlihat menarik-narik lengan Ayana.


"Namanya Stefano, dia adalah asisten pribadiku. Orangnya baik, ganteng juga. Kalau kamu suka Kakak sih setuju aja," ujar Ayana disertai tawa.


"Kakak ih!" kesal Ayaka, antara malu dan juga kesal.


Walau bagaimanapun juga dia tetap saja merasa malu saat bersitatap mata dengan Stefano, karena dia sudah salah memeluk. Ayaka mengira Ayana yang membukakan pintu, maka dari itu dia langsung memeluk orang yang membukakan pintu tersebut.

__ADS_1


"Sudah jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang. Ayo kita makan dulu," ajak Sam.


"Iya, Ayah." Ayana dan juga Ayaka berbicara dengan kompak.


"Iya, Om!" jawab Stefano.


Stefano ikut duduk dan ikut makan malam dengan Sam, Ayana dan juga Ayaka. Mulutnya memang terlihat mengunyah makanan, tetapi tatapan matanya terus saja tertuju kepada Ayaka.


Bahkan, pria itu seakan tak ingin berkedip. Tatapan Ayaka sempat bertemu dengan Stefano, pria itu sampai menahan napasnya karena dia begitu mengenali tatapan mata itu. Walaupun wajahnya kini terlihat begitu cantik, tetapi tatapan matanya tidak berubah.


"Astagfirullah! Apakah aku salah mengenali orang? Apakah Nona Ayana bukanlah Aya'ku? Apakah adiknya dari Nona Ayana adalah Aya'ku?'


Stefano terus saja bertanya-tanya, tetapi pertanyaan itu hanya mampu terlontar dalam hatinya. Dia terlihat begitu syok saat bertemu dengan Ayaka, dia hanya mampu memandangi wanita itu tanpa berkata-kata.


"Ya ampun! Fano, kenapa makanannya masih utuh? Apa kamu tidak lapar?" tanya Ayana ketika melihat makanan milik Stefano masih banyak.


Mendapatkan teguran seperti itu dari Ayana, Stefano terlihat begitu kaget. Dia seakan tertarik ke alam nyata dan langsung tersenyum dengan tidak enak hati.


"Maaf, saya akan segera makan." Stefano tersenyum canggung lalu memakan makanan miliknya.


Ayaka nampak mencondongkan wajahnya ke arah Ayana, lalu Ayaka berbisik tepat di telinga kakaknya tersebut.


"Kak, dia itu kenapa sih? Kenapa dari tadi dia ngeliatin aku terus? Aku jadi takut loh, apa mungkin ada yang aneh dengan riasan di wajahku?"


"Entah, mungkin dia suka sama kamu. Jatuh cinta pada pandangan pertama," ujar Ayana dengan berbisik pula.


Namun, tidak lama kemudian Ayana nampak tertawa. Ayana merasa lucu karena wajah Stefano benar-benar lain malam ini, biasanya wajahnya terlihat datar dan jarang ada ekspresinya.


Namun, kali ini Stefano memandang adiknya dengan tatapan penuh minat. Tatapan yang menyiratkan jika Stefano begitu menyukai adiknya, Stefano sangat ingin berbicara tetapi seakan sulit untuk berkata-kata.


"Kakak ih!" kesal Ayaka.


Sam yang melihat perdebatan di antara kedua putrinya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia merasa senang karena suasana rumah kini menjadi begitu ramai.

__ADS_1


__ADS_2