Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 182


__ADS_3

Saat tiba di kediaman Sigit, keduanya nampak melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar utama. Karena memang Aruna terlihat begitu lelah dan ingin beristirahat, Sigit juga merasakan hal yang sama.


Pria itu merasa sangat lelah dan juga capek setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, terlalu banyak yang keduanya lakukan sampai mereka benar-benar merasa begitu lelah.


"Ya ampun! Kaget Aruna ketika masuk ke dalam kamarnya.


Tempat tidur miliki nampak begitu berantakan, selimutnya bahkan terlihat terjatuh ke atas lantai. Karena tadi malam Alice kembali tidur di dalam kamar kedua orang tuanya.


Sebenarnya tadi malam Ayana nampak menemani adiknya untuk tidur di dalam kamar Alice, tetapi saat malam tiba Alice terbangun karena merindukan ibunya.


Alhasil Alice tidur di dalam kamar utama, saat adzan subuh menjelang Alice terbangun udah langsung keluar dari dalam kamar ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Maka dari itu tidak ada yang menyadari jika kamar Aruna kini nampak berantakan, Aruna yang merasa lelah pada akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Sigit terlihat khawatir jika Aruna tidur di atas sofa, takut-takut nanti badan istrinya akan pegal-pegal karena sofa tidak senyaman tempat tidur.


"Yang, duduklah terlebih dahulu biar aku yang merapikan tempat tidurnya. Paling ini kerjaannya Alice," ujar Sigit.


Aruna nampak menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Hem!" jawab Aruna yang memang benar-benar merasa begitu lelah.


Sigit tersenyum lalu merapikan tempat tidur yang biasa mereka tempati, setelah selesai dia menghampiri Aruna yang ternyata sudah tertidur dengan begitu lelap.


Padahal Sigit tidak terlalu lama merapikan tempat tidur, tidak sampai sepuluh menit. Namun, sepertinya Aruna begitu kelelahan sampai-sampai tertidur tanpa sadar.


"Kamu pasti sangat lelah," ujar Sigit seraya menggendong istrinya dan memindahkan istrinya tersebut ke atas tempat tidur.


Setelah itu, Sigit nampak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia juga sama ingin tidur, tetapi rasanya membersihkan tubuh terlebih dahulu adalah hal yang baik.


Di lain tempat.


Sebentar lagi waktu pelajaran akan segera berakhir, Kenzo nampak serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh gurunya. Hingga tidak lama kemudian bel pulang nampak berbunyi.


Kenzo dan juga anak yang lainnya nampak bersiap untuk pulang, Kenzo tentunya bersiap dengan begitu cepat karena ingin bertemu terlebih dahulu dengan Anaya.

__ADS_1


Jika saja wanita itu mau, Kenzo bahkan berniat untuk mengantarkan wanita itu pulang ke kediaman Angel. Walaupun ada dinding penghalang di antara mereka, Kenzo akan tetap berusaha agar bisa bersama dengan Anaya.


Lagi pula mereka masih muda, jika Tuhan mengatakan mereka tidak bisa berjodoh, setidaknya Kenzo masih bisa dekat dengan Anaya walaupun hanya sebagai sahabat.


Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kelasnya, ponsel miliknya berdering. Kenzo menghela napas berat ketika tahu siapa yang menghubungi dirinya.


"Dedek mau apa sih? Kan, sudah ada sopir yang jemput," ujar Kenzo yang melihat nama adiknya tertera di layar ponselnya.


Namun, karena takut ada keperluan mendesak pada akhirnya Kenzo mengangkat panggilan telepon dari adiknya tersebut.


"Ada apa, Dek?" tanya Kenzo.


"Kakak, jemput!" teriak Alice.


Kuping Kenzo terasa sakit akibat teriakan dari adiknya tersebut, dia sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Kakak! Jemput aku, kenapa ngga jawab?" tanya Alice yang tidak mendapatkan jawaban dari kakaknya tersebut.


Kenzo nampak mengelus dadanya, dia berusaha untuk menenangkan emosinya. Karena nyatanya dia ingin segera bertemu dengan Anaya, tetapi sepertinya niatnya tidak akan terwujud karena adiknya.


"Kan, sudah ada sopir. Kenapa minta jemput?" tanya Kenzo.


Walaupun dia tahu kalau adiknya itu pasti akan merengek kalau sudah urusan untuk meminta sesuatu, tetapi tetap saja dia berusaha untuk mengingatkan jika ada sopir yang sudah menjemput adiknya itu.


"Pokoknya mau dijemput Kakak aja, jemput!" rengek Alice.


Alice terdengar merengek dan seakan menangis, tentu saja hal itu membuat Kenzo tidak tega. Terlebih lagi adiknya itu memang sangat manja sekali.


"Iya, iya. Tunggu lima belas menit," ujar Kenzo pada akhirnya.


Walaupun hatinya sedikit kesal karena niatnya tidak bisa terwujud, tetapi pada akhirnya Kenzo mengiyakan. Karena kalau bagaimanapun juga dia mengkhawatirkan keadaan Alice.


"Yey!" jerit Alice kegirangan.


Kenzo langsung memutuskan panggilan telepon dari adiknya, lalu dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya seraya mengusap-usap telinganya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Dasar!" ujar Kenzo seraya melangkahkan kakinya menuju parkiran.


Tentunya setibanya di parkiran Kenzo langsung menaiki motor sport kesayangannya, lalu dia terlihat melajukan motor itu untuk menjemput Alice. Saat di gerbang sekolah, Kenzo sempat bertemu dengan Anaya.


Pria itu sempat memberhentikan motornya, lalu dia menatap wajah Anaya tanpa bersuara dan tanpa berkedip. Wajah Anaya sampai memerah karena ulah dari Kenzo, pria itu nampak menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.


Anaya nampak memalingkan wajahnya dan segera pergi dari sana, karena dia merasa malu ditatap seperti itu oleh Kenzo. Lagi pula, Surya sudah menjemputnya.


"Dia sangat cantik," puji Kenzo setelah melihat kepergian Anaya dengan ayahnya.


Setelah mengatakan hal itu, Kenzo nampak melajukan motornya menuju sekolah di mana Alice menimba ilmu. Tiba di sana, Alice terlihat bahagia sekali saat melihat kedatangan Kenzo.


"Akhirnya Kakak datang," ujar Alice dengan perasaan bahagia.


Kenzo hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari adiknya, dia mengambil helm dan memakaikannya di kepala adiknya tersebut.


"Aih! Kakak emang perhatian," ujar Alice yang langsung naik ke atas motor sport milik kakaknya dan memeluk kakaknya itu dengan begitu erat.


Bahkan, Alice nampak menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya. Gadis remaja itu lalu menjulurkan lidahnya ke arah temannya yang tidak jauh dari sana.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Alice, Kenzo merasa tidak nyaman. Dia bahkan berusaha untuk melepaskan tangan adiknya yang memeluknya dengan begitu erat.


"Kakak diem aja, udah buruan jalan!" ujar Alice yang malah mengeratkan pelukannya.


"Ya ampun!" keluh Kenzo yang langsung melajukan motornya menuju kediaman kedua orang tuanya.


Saat tiba di kediaman Sigit, Kenzo langsung memarkirkan motornya di garasi. Alice dengan cepat turun dari motor kakaknya itu, dia membuka helmnya dan langsung memberikannya kepada Kakaknya.


"Makasih Kakak-ku, Sayang." Alice nampak membantu Kenzo membuka helmnya, lalu Alice mengecup pipi Kenzo.


"Dek!" tegur Kenzo yang merasa tidak suka kalah pipinya dikecup oleh adiknya sendiri.


Alice hanya tertawa lalu segera pergi dari sana menuju kamarnya, sedangkan Kenzo terlihat berdecak kesal karena tidak biasanya Alice melakukan hal itu.


''Dia itu sangat keterlaluan," ujar Kenzo seraya melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2