
Satu minggu kemudian Anisa sudah dibawa pulang menuju kediaman Sigit, hal itu Aruna lakukan karena Anisa berkata tidak betah berada di rumah sakit. Untuk masalah pengobatan, Aruna pada akhirnya memilih untuk berobat jalan.
Dokter berkata jika untuk kesembuhan kaki Anisa membutuhkan waktu sampai empat bulan lamanya, gadis itu harus rela mondar-mandir ke rumah sakit untuk kontrol kesehatan kakinya.
Aruna merasa tidak masalah, yang terpenting baginya Anisa merasa lebih rileks dalam menjalani pengobatannya.
"Ken, sarapan dulu," ujar Aruna ketika melihat putranya yang sudah bersiap untuk berangkat sekolah.
Tidak biasanya Kenzo bangun begitu pagi dan berangkat sangat pagi, karena biasanya Kenzo akan berangkat dua puluh menit menuju bel masuk berbunyi.
Kenzo selalu beralasan agar tidak membuang waktu dengan percuma, karena jika dia datang ke sekolah, akan lebih baik jika langsung masuk dan langsung menjalani pelajaran sekolah.
"Ken mau ujian, Bun. Ngga sempet sarapan di rumah." Kenzo memeluk Aruna lalu mengecup pipi ibunya.
Apa hubungannya ujian dengan tidak, pikir Aruna. Karena bel masuk tetap jam tujuh pagi, kalau Kenzo berangkat saat ini, itu artinya pria itu akan menunggu waktu yang cukup lama sampai bel masuk tiba.
"Eh? Ini masih jam enam, masuknya jam tujuh loh." Aruna menahan tangan putranya agar tidak pergi terlebih dahulu.
Kenzo tersenyum ke arah ibunya, lalu dia mengelus kedua lengan ibunya itu dengan begitu lembut. Aruna nampak tersenyum hangat mendapat perlakuan seperti itu dari putranya.
"Iya, Ken tahu. Tapi, nanti pas tiba di sekolah Ken mau belajar sebentar."
Kalau Aruna membiarkan putranya pergi tanpa sarapan, dia takut jika Kenzo akan sakit dan malah akan pingsan karena berpikir terlalu keras saat ujian.
"Setidaknya minum susu dulu," ujar Aruna seraya mengambil segelas susu hangat dan memberikannya kepada putranya.
Minum susu tidak akan lama, pikir Kenzo. Jadi, pada akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya karena takut membuat Aruna kecewa.
"Baiklah!" jawab Kenzo.
Kenzo langsung meminum susu hangat yang diberikan oleh Aruna, tidak lama kemudian dia berpamitan dan hendak pergi ke sekolah.
Namun, saat Kenzo baru saja menaiki motornya, Alice datang menghampiri kakaknya tersebut. Dia ingin meminta Kenzo untuk mengantarkan dirinya menuju sekolah, tetapi Kenzo menolak.
__ADS_1
"Maaf, Al. Kakak ngga bisa," ujar Kenzo seraya menyalakan mesin motornya.
Kenzo takut akan datang dengan telat jika mengantarkan Alice terlebih dahulu, karena pagi ini dia memang sudah memiliki janji dengan seseorang.
"Kakak ih!" kesal Alice.
Padahal gadis kecil itu sangat berharap jika kakaknya mau mengantarkan dirinya, karena dia sudah berjanji kepada teman-teman jika pagi ini dia akan diantarkan oleh kekasihnya.
"Kakak pagi ini ada perlu, nanti siang Kakak janji bakal jemput kamu."
Alice terlihat begitu senang mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena itu artinya dia bisa dibonceng oleh pria itu. Karena teman-temannya meminta Alice agar pacarnya datang ke sekolahan mereka.
"Bener, ya? Awas kalau bohong! Nanti Al nyusul ke sekolahan Kakak," ujar Alice dengan nada mengancam.
Teman-temannya sudah merasa curiga kepada Alice, karena gadis itu tidak pernah lagi dijemput oleh Kenzo yang dianggap sebagai kekasih dari gadis kecil itu.
Jika hari ini Kenzo tidak datang ke sekolahan, maka riwayat Alice akan tamat. Pasti gadis kecil itu akan dianggap sebagai pembohong oleh teman-temannya.
"Siap, bos kecil!" ujar Kenzo seraya mencubit pipi adiknya dengan gemas.
Kenzo dengan cepat melajukan motornya menuju kediaman Angel, karena dia sudah janjian dengan Anaya. Mereka sudah sepakat akan berangkat bersama, selama satu minggu ini Anaya meminta Kenzo untuk menjemput dirinya.
Sebenarnya Kenzo merasa heran dengan permintaan dari Anaya, tetapi apa pun alasannya dia tidak peduli. Yang terpenting bagi Kenzo dia bisa lebih sering bersama dengan Anaya.
"Pagi, Bunda. Pagi, Naya." Kenzo menyapa Angel yang sedang bersama dengan Anaya di halaman rumahnya.
Sepertinya Anaya memang sudah menunggu dirinya, karena gadis remaja itu terlihat sudah bersiap untuk berangkat.
"Pagi, Nak Kenzo. Titip putri Bunda, jangan ngebut-ngebut. Nanti Bunda ngga bakal izinin Ken buat pergi sama Naya lagi," ujar Angel.
Bukan Anaya yang menjawab pertanyaan dari Kenzo, melainkan Angel sang Ibu karena Anaya hanya diam saja seraya menatap wajah Kenzo.
"Ya, Bunda." Kenzo nampak mencium punggung tangan Angel, setelah itu dia berpamitan untuk berangkat sekolah karena Anaya sudah naik ke atas motor pria itu.
__ADS_1
Tidak lupa Kenzo memindahkan tas ransel yang ada di punggungnya ke depan, hal itu dia lakukan agar tas ransel itu tidak memberikan jarak antara dirinya dan juga Anaya.
Selama perjalanan menuju sekolah, Kenzo terus saja mengembangkan senyumnya. Ini adalah pertama kalinya dia membonceng wanita yang dia sukai, dia terlihat begitu bahagia.
Bahkan, pria itu melajukan motornya dengan begitu perlahan. Hal itu dia lakukan agar bisa berlama-lama berboncengan dengan gadis yang dia suka.
Begitupun dengan Anaya, wanita itu nampak tersenyum seraya berpegangan pada pundak Kenzo. Karena rasanya pasti malu jika harus memeluk pria itu.
"Ehm! Tangannya tolong diturunkan ke bawah," pinta Kenzo.
Kenzo sengaja mengatakan hal itu, dia sedang mencoba peruntungannya. Siapa tahu dia akan mendapatkan pelukan hangat dari Anaya.
"Eh? Maksudnya?" tanya Anaya seraya mencondongkan wajahnya ke arah wajah Kenzo, agar dia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Tangan kamu-nya yang bener dong, aku bukan tukang ojek."
"Eh?"
Anaya nampak kebingungan, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum dan memeluk pria itu. Dia melingkarkan kedua tangannya di perut pria yang sangat dia cintai itu.
Kenzo langsung melebarkan senyumnya, kedua insan yang saling mencintai itu nampak tersenyum tanpa banyak berkata.
Saat tiba di sekolah, Kenzo mengantarkan Anaya ke dalam kelas gadis itu. Setelah itu, Kenzo masuk ke dalam kelasnya.
Bel masuk belum berbunyi, Kenzo mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan chat kepada Anaya.
''Terima kasih karena mau berangkat bersama, walaupun aku tidak paham kenapa kamu meminta aku untuk menjemput kamu selama satu minggu."
Kenzo tersenyum setelah mengirimkan pesan chat tersebut, tidak lama kemudian dia mendapatkan pesan balasan dari Anaya.
"Justru aku yang mau ngucapin terima kasih, karena kamu sudah mau mewujudkan keinginan aku. Untuk alasannya, nanti juga kamu akan paham setelah kita pulang tour."
Kenzo benar-benar begitu penasaran dengan apa alasan dari Anaya yang seolah-olah ingin begitu dekat dengan dirinya, tetapi dia tidak berani bertanya lagi.
__ADS_1
Kini, yang terpenting dia bisa dekat dengan Anaya. Entah akan seperti apa hubungannya dengan Anaya nantinya, Kenzo tidak mau banyak berpikir.
"Semoga saja tidak ada alasan buruk nantinya," ujar Kenzo.