
Pagi ini Kenzo, Alice dan juga Asmara berencana untuk pergi ke taman wisata alam Kota Sorong, mereka akan bermain di sana dan juga akan menikmati keindahan alam yang ada di sana.
Setelah merasa lelah nanti, barulah mereka akan pergi ke salon untuk melakukan pijat relaksasi. Mereka juga akan melakukan perawatan full body.
Sepertinya hal itu akan dirasa sangat menyenangkan, setelah cape seharian bermain, sorenya dilanjutkan dengan melakukan servis full body. Pasti itu akan menyenangkan dan menyegarkan.
Tentunya ide itu tercetus dari bibir Alice, wanita muda itu berkata lebih baik bermain terlebih dahulu. Barulah setelah itu pergi ke salon untuk melakukan perawatan.
Tentu saja Kenzo dan juga Asmara menyetujui, karena sepertinya apa yang dikatakan oleh Alice benar adanya.
Sebelum mereka pergi ke taman, tentunya mereka melakukan persiapan terlebih dahulu. Alice berkata akan lebih menyenangkan jika membawa peralatan berkemah, Alice juga berkata mereka harus membawa bekal makanan dan minuman yang banyak agar di sana mereka tidak kelaparan dan juga tidak kehausan.
Lebih tepatnya tidak perlu mencari-cari tempat makanan atau tempat minuman, yang pastinya jika mereka sudah membawanya dari rumah, semuanya akan dirasa lebih aman.
Kenzo dan juga Asmara nampak menuruti apa yang diinginkan oleh Alice, ketiganya begitu kompak layaknya anak kecil yang akan pergi berkemah.
"Aku sama kak Ken akan menyiapkan alat-alat kemahnya, Kak Ara ke dapur aja gih. Tolong bantuin buna buat nyiapin makanan untuk kita nanti," ucap Alice.
Untuk melakukan kemah Kenzo sampai harus memesan perlengkapan kemah di toko online, untung bagus peralatan kemah itu bisa dikirimkan dengan cepat, sehingga dia tidak begitu pusing memikirkan akan hal itu.
Keinginan adiknya itu memang selalu banyak, pikirkan Kenzo. Akan tetapi, dia merasa jika hal itu akan menjadi masalah, selama masih masuk akal dan akan menyenangkan buat mereka.
"Siap, Nona Cantik. Aku akan melaksanakannya," jawab Asmara seraya tersenyum hangat, Alice pun ikut tersenyum.
Alice merasa tidak nyaman karena Asmara terus saja memanggil dirinya dengan sebutan nona cantik, dia lebih senang dipanggil nama saja, karena itu artinya mereka akan terasa lebih akrab.
Daripada diperlakukan seperti seorang majikan, dia merasa tidak suka. Terasa tidak ada kedekatan di antara dirinya dan juga Asmara.
"Panggilnya jangan Nona Cantik, panggil Alice atau Al saja. Rasanya itu akan semakin membuat kita lebih akrab," ujar Alice.
Alice sangat tahu jika Kenzo begitu menyukai wanita itu, seharusnya wanita itu membiasakan diri dengan keluarganya tanpa ragu.
__ADS_1
Seharusnya Asmara juga merasa senang karena sudah dicintai oleh Kenzo dan berusaha untuk menerima pria itu, karena menurut Alice, jika Kenzo sudah menyatakan rasa sukanya kepada wanita itu, pasti itu adalah hal yang sangat serius.
Karena Kenzo tidak pernah bercanda dengan perasaannya, Kenzo tidak pernah bermain-main dengan perempuan. Jika tidak suka, dia tidak akan menoleh sama sekali ke arah perempuan itu.
"Baiklah, aku menurut. Al," jawab Asmara seraya terkekeh.
"Ya udah, sana ke dapur. Buna sudah nunggu," ucap Alice seraya mendorong pelan punggung Asmara.
Untuk sekilas mungkin perlakuan Alice itu terasa tidak sopan, tetapi Asmara tidak menganggapnya demikian. Justru, Alice terkesan seperti menganggap dirinya sebagai kakak kandung perempuannya sendiri.
"Iya, iya," jawab Asmara.
Saat tiba di dapur Asmara melihat Aruna yang sedang menata bekal makanan untuk dirinya, Kenzo dan juga Alice di dalam kotak bekal.
Asmara tersenyum lalu menghampiri Aruna, wanita yang terlihat begitu baik dan juga pengertian. Bahkan, wanita itu begitu dirasa terlalu baik untuk dirinya.
"Pagi, Bun. Ada yang bisa Ara bantu?" tanya Asmara.
"Tentu, Sayang. Sini bantu Buna, sekalian Buna juga mau bicara sama kamu," ujar Aruna.
Jika ada yang berkata ingin mengajak diri untuk bicara, Asmara selalu merasa takut. Dia takut jika nantinya dia akan mendapatkan omongan yang tidak mengenakkan di dalam hatinya.
"Mau bicara apa, Bun?" tanya Asmara.
"Mau nanyain keseharian kamu, Sayang. Cerita dong sama Buna," jawab Aruna
"Mesti nyeritain apa coba, Ara? Kegiatan Ara tiap harinya cuma begitu-begitu aja, Bun. Pagi-pagi paling jualan ikan hasil tangkapan bapak, siang kalau ada kerjaan jadi tour guide. Sorenya bersiap-siap ikut melaut kalau misalkan tour guide-nya lagi sepi," cerita Asmara.
Bangga dan sekaligus miris saat Aruna mendengar apa yang diceritakan oleh wanita itu, karena Asmara adalah seorang perempuan.
Namun, wanita itu terlihat bekerja keras. Bahkan, pekerjaan yang dilakukan oleh wanita itu sama seperti pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pria.
__ADS_1
"Kamu seorang perempuan, tapi bisa-bisanya perempuan ikut melaut. Ngga takut melihat ombak yang begitu besar di lautan?" tanya Aruna.
Asmara langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, karena sebenarnya ayahnya tidak pernah memaksa dirinya untuk melakukan apa pun.
Walaupun keadaan ayahnya tidak kaya, tetapi berkecukupan. Ayahnya mampu membiayai hidupnya, tetapi Asmara bukan tipe wanita yang senang diam saja.
Dia merasa tidak betah jika harus berdiam diri tanpa melakukan apa pun, karena hal itu membuat dirinya jenuh. Dia ingin berkegiatan dan banyak berinteraksi dengan orang lain, dia juga ingin menambah wawasan dengan banyak bertemu dan bergaul dengan orang-orang baru di dalam kehidupannya.
"Awalnya takut, Bun. Tapi lama-lama sudah terbiasa, bukankah begitu Bun. Semuanya akan mudah karena terbiasa," ucapan Asmara.
"Kamu benar, Sayang. Makanya kamu juga harus membiasakan diri untuk dekat dengan Ken, karena dengan seperti itu nanti kamu akan terbiasa dengan putra Buna. Jadi, kalau nanti jadi istrinya Ken juga kamu ngga kaget-kaget banget," ucap Aruna disertai tawa.
"Hal itu beda, Bun. Untuk jodoh artinya kita akan memilih pria itu untuk mendampingi diri ketika seumur hidup, aku tidak bisa asal memilih seperti itu saja. Terlebih lagi aku hanya orang biasa, dipilih juga sudah bersyukur banget."
Asmara membayangkan Kenzo yang begitu tampan, kaya, mapan dan juga memiliki keluarga yang sempurna dan kaya raya.
Rasanya dirinya tidak sepadan dengan pria itu, dirinya hanyalah seorang wanita memiliki ayah sebagai seorang nelayan. Dia juga hanya bekerja sebagai seorang tour guide, rasanya tidak pantas jika disandingkan dengan Kenzo.
"Hanya saja yang jadi masalahnya, yang memilih aku itu orang seperti Kenzo. Pria mapan, sukses dan tentunya keturunan orang kaya pula. Hal itu membuat aku minder Bun," jawab Asmara jujur.
"Sayang, bukankah Buna sudah berkata jika Buna tidak pernah memandang kasta. Jika kamu memang menyukai putra Buna, yakinkan hati kamu untuk menerima cintanya. Karena putra Buna benar-benar mencintai kamu," ucap Aruna.
"Akan Ara coba," jawab Asmara pada akhirnya.
Keduanya nampak mengobrolkan banyak hal sambil menyiapkan bekal untuk pergi berkemah, tentunya Aruna juga mengorek tentang kehidupan gadis itu.
Aruna bertanya tentang di mana rumah wanita itu, Aruna juga bertanya tentang siapa dari ayah wanita itu. Semuanya Aruna tanyakan tanpa terkecuali.
"Oh! Jadi kamu tinggal di desa nelayan ya, Sayang?" tanya Aruna seraya memasukkan bekal yang akan dibawa ke dalam keranjang.
"Iya, Bun," jawab Asmara.
__ADS_1
'Oke, setelah anak-anak pergi aku juga akan pergi ke desa nelayan,' ujar Aruna yang mampu dia katakan hanya dalam hati saja.