
Awalnya Anisa menyangka jika Kenzo akan marah besar kepada dirinya, karena pria itu tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah kontrakan. Mengetahui Anisa tidak pulang semalaman, seharusnya Kenzo marah terhadap dirinya.
Namun, sepertinya pria itu tidak marah kepada Anisa. Karena sikap wanita itu nampak biasa saja, tidak ada raut kemarahan dari wajah pria itu.
Bahkan, sikap Kenzo dirasa begitu manis oleh Anisa. Terlebih lagi ketika siang ini Kenzo membawa dirinya menuju kediaman Aruna, Anisa menjadi menyangka jika pria itu sudah menerima dirinya sepenuhnya.
Itu artinya, Anisa tidak perlu melakukan penjebakkan bersama dengan Sofyan agar Kenzo bisa tidur dengan dirinya, pikirnya.
Ah! Sia-sia sudah rasanya bercinta dengan penuh gairah bersama Sofyan, karena ternyata Kenzo saat ini bersikap begitu manis kepada Anisa. Bahkan, saat berjalan pun mereka tampak beriringan dengan tangan dia saling bertaut.
Sungguh ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Anisa, wanita itu bahkan merasa menyesal karena sudah menemui Sofyan dan melakukan percintaan panas itu dengan sahabatnya.
'Semoga saja akan ada kabar baik,' ujar Anisa di dalam hatinya.
Ketika dia masuk ke dalam ruang keluarga di dalam rumah Aruna, Anisa merasa senang. Karena seluruh anggota keluarga Aruna nampak berkumpul, ada keluarga Dinata dan juga keluarga Siregar di sana.
Tentunya dia mengira jika Kenzo akan meminta restu kepada keluarganya untuk menikahi dirinya secara resmi, karena dirinya memang baru dinikahi secara siri saja.
Kini Kenzo dan juga Anisa sudah duduk di atas sofa yang sama, semua anggota keluarga nampak menatap ke arah Kenzo dan juga Anisa. Mereka semua seolah tidak sabar untuk menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kenzo.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Ken? Kenapa kamu mengumpulkan kami semua di sini?" tanya Satria.
"Cepatlah katakan ada apa, Ken? Kakek benar-benar tidak sabar," timpal Steven.
Wajah pria itu terlihat masih begitu lelah, karena ternyata sat Satria pergi ke kota Sorong dengan Rachel, Steven ikut menyusul bersama dengan istrinya, Anjana.
Selain ingin melihat apakah di sana Kenzo akan nyaman atau tidak, Steven dan juga Anjana pergi ke sana untuk berlibur. Usia boleh saja tua, tetapi keromantisan tetap harus dijaga. Bukankah memang seperti itu apa yang dikatakan oleh pepatah.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena sudah menyita waktu kalian. Aku hanya ingin mengatakan bahwa tadi malam, aku melihat sebuah kejadian yang sangat mengejutkan," ujar Kenzo mengawali pembicaraan.
Kenzo bahkan menolehkan wajahnya ke arah Sayaka, karena pamannya itu nampak ada di ruangan tersebut bersama dengan Sagara juga. Orang yang sudah membantu Kenzo tadi malam.
"Bicara saja, Sayang. Jangan membuat Buna penasaran," pinta Aruna yang tidak sabar ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh putranya itu.
"Buna, tadi malam Ken pergi ke rumah kontrakan. Tapi ternyata Ken malah melihat Nisa yang akan pergi, jadi Ken mengikuti ke mana Nisa pergi," ucap Kenzo seraya menolehkan wajahnya ke arah Anisa.
Tentu saja hal itu membuat wajah Anisa yang pada awalnya ceria langsung berubah menjadi pucat, wanita itu terlihat ketakutan. Dia takut jika Kenzo mengikuti dirinya dan mengetahui apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Sofyan.
Karena kalau tidak salah mengingat, Sofyan berkata jika pintu apartemennya dalam keadaan tidak terkunci. Bisa jadi bukan, jika itu adalah perbuatan Kenzo, pikirnya.
"Cepatlah katakan apa yang ingin kamu ceritakan, jangan membuat Papa mati penasaran," ucap Sigit dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Anisa ternyata menemui seorang pria, dia merencanakan untuk menjebak aku agar mau menidurinya dan kalian tahu apa yang dilakukan Anisa untuk membayar pria itu?" tanya Kenzo.
Semua orang yang ada di sana nampak menggelengkan kepalanya, Kenzo tersenyum lalu kembali menolehkan wajahnya ke arah Anisa. Wajah wanita itu semakin memucat, Anisa bahkan nampak menunduk seraya memilin gamis yang dia pakai.
"Apa?" tanya Aruna dengan tidak sabar.
"Anisa sudah bercinta dengan pria lain yang bukan mahramnya," jawab Kenzo dengan jijik karena membayangkan apa yang Anisa lakukan tadi malam.
Perutnya bahkan kembali terasa diaduk-aduk, rasanya mual sekali dan ingin muntah. Akan tetapi, dia berusaha untuk menahannya.
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, semua orang yang ada di sana nampak kaget. Mereka tidak menyangka jika Anisa akan melakukan hal seperti itu.
Hal yang benar-benar sangat hina, hal tidak terpuji dan bahkan dilarang di dalam agama. Wajah Anisa yang polos ternyata tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.
"Apakah benar itu Nisa?" tanya Aruna karena ingin memastikan apakah benar atau tidak apa yang sudah dia dengar.
Anisa yang sejak tadi menunduk berusaha memberanikan diri untuk menatap wajah Aruna, tidak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya.
Kenzo langsung tertawa dibuatnya, lalu dia mengambil ponselnya dan memperlihatkan rekaman video di mana wanita itu sedang begitu asik memacu hasratnya.
Wanita itu terlihat begitu asik menaik turunkan pinggulnya di atas tubuh pria yang bernama Sofyan, Anisa benar-benar kaget dibuatnya.
Dia langsung mematikan rekaman video tersebut, beruntung Kenzo hanya memperlihatkan video asusila itu kepada Anisa seorang.
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo kembali menatap wajah Anisa. Tatapan yang begitu lekat dan begitu menuntut, menuntut wanita itu untuk berkata dengan jujur.
Tidak lama kemudian, Anisa nampak meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, dia menggenggam kedua tangan Kenzo seraya menundukkan kepalanya.
"Maaf, Kak Ken. Aku terlalu mencintai kamu, maka dari itu aku berusaha untuk menjebak kamu. Agar kamu mau menikahi aku," ujar Anisa dengan raut wajah penuh ketakutan.
Pada akhirnya semua orang yang ada di ruangan tersebut bisa bernapas dengan lega, karena akhirnya Anisa mengakui kesalahannya.
"Aku sudah memaafkan kamu, Nisa. Sekarang duduklah yang benar, karena aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apakah Kakak akan menceraikan aku?" tanya Anisa.
Kenzo hanya tersenyum mendengar apa ditanyakan oleh Anisa, karena wanita itu terlihat begitu ketakutan sekali saat bersitatap mata dengan dirinya.
"Kak, tolong jangan ceraikan aku. Aku tidak mau bercerai," ucap Anisa memberanikan diri untuk menatap pria yang menjadi suaminya itu.
"Duduklah terlebih dahulu, Nisa," pinta Kenzo.
__ADS_1
Akhirnya Anisa menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya itu, dia duduk di atas sofa tepat di samping suaminya seraya menatap suaminya dengan lekat.
"Dengarkan aku, Nisa. Apa yang kamu lakukan dari awal saja sudah salah, sudah sangat fatal. Sekarang ditambah lagi kamu tidur dengan pria lain, suami mana yang masih mau mempertahankan rumah tangganya jika sudah seperti itu?" tanya Kenzo.
"Maafkan aku, Kak. Aku mohon jangan ceraikan aku," pinta Anisa dengan begitu mengiba.
Bahkan, Anisa langsung memeluk lengan Kenzo. Dia seolah tidak mau kehilangan pria itu, dia sangat takut akan mendengar kata keramat dari pria itu.
"Maafkan aku, Nisa. Aku tidak bisa mempertahankan rumah tangga ini, tolong duduklah yang benar. Karena aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Kenzo seraya membenarkan letak duduk Anisa.
"Kakak, aku mohon jangan ceraikan aku. Aku tahu kalau aku sudah salah, kumohon jangan ceraikan aku," pinta Anisa yang sudah mulai menangis.
"Maafkan aku, Nisa. Aku memang bisa memaafkan kamu, tetapi untuk hidup bersama aku tidak bisa lagi," jawab Kenzo.
Sebenarnya Anisa merasa bersyukur karena keluarga Kenzo tidak melakukan hal yang jahat terhadap dirinya, walaupun kini dirinya sudah ketahuan berperilaku jahat, tetapi mereka seolah masih menyayangi dirinya dan tidak ingin melakukan hal yang diluar dugaan.
Namun, tetap saja dia takut kalau harus kehilangan Kenzo. Karena wanita itu begitu mencintai Kenzo, wanita itu begitu ingin memiliki pria itu.
"Kak, aku benar-benar mencintai kamu. Tolong pikirkan sekali lagi," ucap Anisa.
"Tidak, Anisa. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya terobsesi untuk memiliki aku. Jadi--"
"Kakak!" selak Anisa.
Kenzo langsung menggenggam kedua tangan Anisa, dia tatap wajah wanita itu dengan lekat lalu berkata.
"Bismillahirrohmanirrohim, Anisa Azzahra binti Salman muhammad. Saat ini aku talak tiga kamu dan itu artinya mulai saat ini kita bukan suami istri lagi," ujar Kenzo dengan lantang.
Anisa terlihat begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo, wanita itu tiba-tiba saja terlihat sesak napas. Lalu, tidak lama kemudian dia nampak tidak sadarkan diri.
Kasihan?
Tentu saja Kenzo merasa kasihan kepada Anisa, tetapi kesalahan yang dilakukan wanita itu benar-benar sangat fatal. Kenzo tidak bisa jika harus kembali lagi kepada Anisa.
"Maafkan Ken, Bun. Ken tidak bisa hidup dengan wanita seperti Nisa," ujar Kenzo seraya menidurkan Anisa di atas sofa.
"Tidak apa-apa, Sayang. Biar Buna yang mengurusi Nisa," ujar Aruna yang langsung mengambil minyak hangat dan mengurusi Anisa.
Berbeda dengan Kenzo, pria itu nampak masuk ke dalam kamarnya. Karena besok dia harus berangkat ke kota Sorong, dia bahkan mengambil pemberangkatan paling pagi.
Penerbangan pertama, pukul enam pagi. Maka dari itu dia tidak ingin membicarakan Anisa lagi, dia ingin memikirkan kkeberangkatanya menuju kota sorong.
__ADS_1
Ia ingin bekerja agar bisa melupakan hal-hal yang membuat hidupnya merasa sedih dan juga terpuruk, dia ingin berusaha untuk membahagiakan keluarganya dengan prestasi yang dia capai.
"Semoga saja di kota Sorong nanti aku bisa menemukan hal yang membahagiakan, tentunya selain kesuksesan dari pekerjaan yang aku harapkan," ucap Kenzo penuh harap.