Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 106


__ADS_3

Akhirnya Angel bisa merasakan kebahagiaan setelah 6 tahun lamanya tidak bisa bertemu dengan putri cantiknya, wanita itu begitu bersyukur kepada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk bisa membahagiakan putrinya.


Satu hal yang Angel tidak menyangka, ternyata wanita yang sudah dia sakiti dulu begitu tulus mengurusi putrinya. Ayaka yang dulu dia tinggalkan dengan wajah yang begitu buruk rupa, ini terlihat begitu cantik walaupun tidak seperti dulu lagi.


"Bunda sangat senang karena kamu mau memaafkan Bunda, Bunda sangat berterima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk bisa menyayangi kamu." Angel tidak henti-hentinya memeluk putrinya.


Bahkan, wanita itu sesekali akan mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang. Bahagia rasanya bisa memeluk putrinya kembali.


"Hem! Aya juga sangat senang, oiya, Bun. Kenapa Ayah sama Bunda nggak nikah aja? Pan enak kita bisa hidup bersama-sama," celetuk Ayaka.


Sam dan juga Angel langsung saling pandang mendengar apa yang dikatakan oleh putri mereka, banyak hal yang mereka pertimbangkan untuk urusan pernikahan.


Setelah keduanya berpikir dengan begitu keras, baik Sam ataupun Angel memutuskan untuk tidak menikah walaupun sudah memiliki Ayaka.


"Maaf, Sayang. Bunda nggak bisa nikah sama Ayah, Bunda nggak bisa mewujudkan keinginan kamu. Maaf," ujar Angel penuh sesal.


Awalnya Ayaka terlihat begitu kecewa mendengar keputusan dari ibunya, tetapi tidak lama kemudian dia berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya.


Mungkin ini adalah jalan dari Tuhan, mungkin inilah yang Tuhan takdirkan untuk dirinya. Ayaka harus bisa berlapang dada, karena apa pun rencana Tuhan, itu sudah dapat dipastikan adalah hal yang terbaik untuk dirinya.


"Tidak apa-apa, kalian berhak memilih jalan yang kalian inginkan. Aya paham," jawab Ayaka.


Sam dan juga Angel merasa senang karena putri mereka begitu pengertian, tetapi di satu sisi mereka juga merasa begitu sedih karena Ayaka harus dewasa sebelum waktunya.


Anak itu masih duduk di bangku kelas 6 SD, tetapi anak itu dipaksa untuk berpikir secara dewasa. Anak itu terlihat terpaksa harus bisa memahami keadaan kedua orang tuanya yang memang dari awal dirasa sangat rumit.


"Terima kasih karena sudah pengertian, Bunda harap kamu jangan cepat dewasa," ujar Angel.


Ayaka terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh ibu kandungnya tersebut, badannya boleh kecil tetapi pikirannya kini sudah dewasa. Bagaimana bisa ibunya malah meminta dirinya untuk jangan cepat dewasa.


''Bunda ada-ada saja, oiya, Bun. Aya mau pamit, mau pergi ke rumah kakek Satria. Tadi kak Ay telpon, katanya dia akan marah kalau Aya nggak datang." Ayaka langsung terkekeh setelah mengatakan hal itu.


"Siapa kakek Satria?" tanya Angel ingin memastikan, karena seingatnya Satria adalah ayah kandung dari Aruna.


Sam tersenyum selalu membantu Ayaka untuk menjelaskan tentang siapa Satria, Sam juga menjelaskan kenapa Ayana begitu menginginkan kehadiran adiknya tersebut di kediaman Dinata.


Di sana adakan acara syukuran kehamilan Aruna, mereka bahkan akan mengadakan pesta barbeque. Pastinya Ayana ingin mengajak adiknya untuk turut bersenang-senang di sana.


"Aruna hamil lagi?" tanya Angel.


Sam menganggukkan kepalanya dengan begitu antusias, dia langsung membayangkan wajah Aruna yang begitu cantik. Kulitnya semakin mulus dan tubuhnya juga terlihat begitu indah.


"Hem! Hamil anak ketiga, dia semakin cantik. Walaupun pipinya terlihat lebih bulat," ujar Sam tanpa sadar memuji.

__ADS_1


Ayaka tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, tetapi dia ikut merasakan kesedihan ketika tanpa sengaja Ayaka menatap bola mata ayahnya.


"Jangan sedih, Yah. Nanti Ayah juga pasti akan mendapatkan wanita terbaik untuk Ayah, tapi bukan tante Aruna. Karena tante Aruna punya om Sigit," ujar Ayaka.


"Semoga saja seperti itu," ujar Sam seraya tersenyum kecut.


Dia tidak yakin jika dirinya akan mendapatkan seorang wanita yang baik, karena dia merasa jika dirinya adalah seorang pria yang begitu brengsek. Walaupun dia sudah mendapatkan hukuman selama 6 tahun di penjara, tetap saja dia merasa dirinya belum lebih baik.


Apalagi ketika mengetahui Ibunya sudah meninggal dunia, dia merasa menjadi anak yang begitu durhaka karena tidak mampu menjaga ibunya di saat-saat terakhirnya.


Padahal, dia sangat ingat jika Almira adalah wanita yang begitu menyayangi dirinya. Almira adalah seorang single parent yang mau bekerja keras untuk menghidupi dirinya.


"Aamiin, semoga Bunda juga bisa mendapatkan seorang suami yang baik."


"Semoga," jawab Angel.


Karena pada kenyataannya Angel hanyalah wanita biasa, dia juga sama seperti wanita lainnya. Ingin merasakan yang namanya rumah tangga, bukan hanya dijadikan selingkuhan seperti yang pernah dilakukan oleh Sam.


Walaupun dulu dia begitu menikmati perselingkuhannya dengan Sam, tetapi tetap saja ada rasa hina di dalam dirinya.


Setelah mengobrol dengan Angel, akhirnya Sam mengantarkan putrinya menuju kediaman Dinata. Mereka sampai di kediaman Dinata pukul 8 malam, Sigit sempat mengajak Sam untuk ikut bergabung.


Namun, Sam menolak. Dia merasa tidak enak hati jika harus berbaur dengan Aruna dan juga keluarga dari mantan istrinya tersebut, dia benar-benar merasa malu.


"Ya, biarkan malam ini Aya menginap dengan Ay di sini. Abang pulanglah kalau memang tidak mau ikut bergabung," ujar Sigit.


Sam terlihat pulang menuju kediaman sederhana miliknya, sedangkan Sigit melanjutkan acara syukuran kehamilan istrinya.


Ayana dan Ayaka terlihat begitu senang, keduanya bahkan tiada hentinya mengelusi perut Aruna yang masih terlihat rata itu.


Kenzo sampai dibuat iri oleh kedua gadis kecil itu, anak tampan itu bahkan sampai marah karena tidak diberikan kesempatan untuk memeluk dan mencium perut ibunya.


"Kalian nyebelin!" ujar Kenzo dengan kesal.


Anak itu bahkan sampai naik ke atas pangkuan Aruna, lalu dia memeluk ibunya dengan begitu posesif. Semua orang yang ada di sana nampak tertawa, senang sekali rasanya karena semua orang nampak bahagia.


Pukul sepuluh malam acara syukuran telah berakhir, semua orang yang ada di sana sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.


Ayaka dan juga Ayana sudah masuk untuk tidur di dalam kamar yang sama, sedangkan Kenzo memilih untuk tidur bersama dengan Aruna dan juga Sigit.


Anak itu masih terlihat begitu marah kepada kedua kakak perempuannya, maka dari itu Kenzo meminta untuk bisa tidur bersama dengan kedua orang tuanya.


Tentunya Kenzo berkata jika dia ingin tidur sambil memeluk perut ibunya, dia bahkan berkata akan menjaga calon adiknya yang belum dia ketahui jenis kelaminnya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Sigit dan juga Kenzo sudah tertidur dengan begitu pulas, tetapi mata Aruna masih saja terbuka. Wanita hamil itu benar-benar tidak bisa tidur, dia terlihat begitu gelisah.


Sesekali Aruna akan menolehkan wajahnya ke arah Sigit, lalu dia tersenyum kecut ketika melihat adanya Kenzo di sana.


"Ck! Aku sudah tidak tahan," ujar Aruna.


Dengan begitu perlahan Aruna turun dari tempat tidurnya, lalu dia duduk di sisi lain tempat tidur itu. Lebih tepatnya dia duduk tepat di samping suaminya, lalu dia elus pipi suaminya itu dengan begitu lembut.


"Kamu ganteng banget sih, Yang. Bibirnya juga seksi banget, Buna suka." Aruna menunduk lalu mengecup bibir suaminya.


Sigit yang kelelahan begitu lelap dalam tidurnya, Aruna sampai berdecak dengan begitu sebal. Lalu, Aruna kembali menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya.


Awalnya hanya sekedar ciuman biasa saja, tetapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang panas dan juga menuntut.


Bukan tanpa alasan Aruna melakukan hal tersebut, tentunya karena saat ini dia merasa jika miliknya terasa begitu berkedut. Dia ingin jika inti tubuhnya dimasuki oleh milik suaminya yang besar itu.


"Engh!" lenguh Sigit kala merasakan sensasi kenikmatan dari bibir istrinya.


Mata Sigit langsung membulat dengan sempurna ketika melihat istrinya yang sedang memagut bibirnya dengan penuh hasrat, di sana ada Kenzo yang sedang tertidur bersama dengan dirinya. Dia takut jika anak itu akan bangun.


"Yang! Jangan, ada Ken." Sigit berbicara dengan begitu pelan seraya mendorong dada Istrinya.


Terasa kenyal dan padat, Sigit bahkan menyempatkan untuk meremat kedua dada istrinya. Walaupun memang mulutnya menolak apa yang dilakukan oleh istrinya terhadap dirinya.


"Pengen, pokoknya pengen. Aku ngga bisa tidur, pengen ini." Aruna tanpa ragu langsung meremat milik suaminya.


"Astagfirullah!" ujar Sigit yang langsung merasakan tubuhnya panas dingin, bahkan miliknya dengan cepat bangun dan berdiri dengan tegak.


Namun, karena di sana ada Kenzo, dengan cepat Sigit bangun dan menggendong tubuh Aruna. Lalu, dia membawa istrinya menuju kamar mandi. Karena tidak mungkin mereka melakukannya di sana, takut takutnya nanti Kenzo akan terbangun dari tidurnya.


"Kamu tuh nakal banget sih!" keluh Sigit seraya menurunkan Aruna dan mendudukkan wanita itu dengan begitu perlahan di pinggiran bathtub.


Aruna langsung tersenyum seraya mengerlingkan matanya, lalu dia menurunkan piyama tidur milik suaminya dan langsung mengurut keperkasaan milik suaminya.


"Yang!" ujar Sigit yang mulai keenakan.


Aruna tersenyum dengan begitu senang karena Sigit kini mulai memejamkan matanya ketika Aruna memainkan batang kenikmatan milik suaminya tersebut.


"Akunya pengen terus, ayo kita main kuda-kudaan. Abis itu baru kamu boleh bobo," ujar Aruna seraya membuka piyama tidurnya dengan cepat.


Sigit tentunya begitu senang melihat keadaan Aruna yang polos seperti itu, karena dia bisa melihat dengan jelas tubuh seksi istrinya tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun, Yang. Kamu tuh makin seksi aja," puji Sigit ketika melihat tubuh polos istrinya.


__ADS_2