
"Kenapa kalian begitu yakin jika aku adalah Aruna, putri kalian? Apakah kalian benar-benar tidak mau melakukan tes DNA?" tanya Aruna memastikan.
"Jangan bicara terus, Sayang. Bunda tidak akan pernah meminta tes DNA, karena Bunda sangat yakin jika kamu adalah putri Bunda. Sekarang, tolong ajak bunda untuk menemui cucu Bunda yang sedang sakit," pinta Rachel.
"Iya, Nyonya. Eh, Bunda." Aruna masih terlihat canggung dalam memanggil Rachel dengan sebutan bunda.
Rachel nampak begitu senang ketika Aruna menyebut dirinya dengan panggilan bunda, Rachel menggenggam tangan Aruna dan berkata kepada dirinya.
"Panggil sekali lagi, Nak!" pinta Rachel.
"Bunda!"
Rachel yang merasa sangat senang langsung kembali memeluk Aruna, Satria yang merasa begitu iri langsung melerai pelukan antara istri dan juga putrinya.
"Kamu belum panggil Ayah, panggil Ayah dong, Nak!" pinta Satria.
"Ayah," ucap Aruna menurut.
"Panggil Ayah sekali lagi," pinta Satria.
"Ayah Satria."
"Putriku!" pekik Satria dengan senang, lalu dia memeluk Aruna dengan erat.
"Ya ampun! Ini di rumah sakit, kenapa Ayah berisik seperti itu?" ucap Sagara.
"Karena Ayah sangat senang, ayo antar Ayah untuk bertemu dengan cucu Ayah. Oiya, namanya siapa?" tanya Satria.
"Ayana, Yah. Namanya Ayana," jawab Aruna.
Aruna langsung bangun dan mengajak ayah, bunda serta Sagara untuk masuk ke dalam ruang perawatan Ayana. Satria dan juga Rachel langsung duduk tepat di samping cucunya tersebut.
"Dia sangat cantik, tapi sangat pucat. Sakit apa?" tanya Satria.
"Kata dokter tipus," jawab Aruna.
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Rachel.
"Sudah lebih baik, panasnya juga sudah turun. Semoga saja bisa cepat sembuh," doa Aruna.
__ADS_1
"Pasti akan sembuh," timpal Rachel.
"Oiya, Sayang. Apakah benar suami kamu bernama Samuel Rizal Rahardi?"
Setelah Sagara menceritakan tentang Aruna, Satria langsung mencari tahu tentang siapa Aruna dan siapa suaminya. Dia bahkan langsung mencari tahu di mana tempat Sam bekerja, Satria juga bahkan mencari tahu turunan dari Sam.
Satria bahkan mencari tahu siapa selingkuhan dari Sam, dia mencari tahu tentang asal usul dari Angel. Ternyata wanita itu terlahir dari keluarga kaya raya, tetapi usahanya bangkrut ketika Angel lulus kuliah.
Tanpa dia duga, justru Satria bisa mengetahui dengan pasti jika Aruna adalah anak kandungnya. Karena tanpa sepengetahuan Aruna, Satria mencari tahu alamat rumah dari Arimbi. Dia menemukan berkas kelahiran milik istrinya di dalam rumah tersebut.
Dengan seperti itu, tentu saja dia menjadi yakin jika Aruna benar-benar putrinya yang telah hilang selama dua puluh delapan tahun yang lalu.
Satria memang merasa marah dan juga murka dengan kelakuan dari Arimbi, tetapi dia juga mengucapkan terima kasih karena wanita itu membesarkan Aruna dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Satria sempat bertanya kepada para tetangga yang ada di sana tentang perlakuan Arimbi kepada Aruna.
Semua orang yang ada di sana berkata jika Arimbi begitu memanjakan Aruna, walaupun Arimbi memiliki kehidupan yang kurang beruntung, tetapi dia rela mengusahakan apa pun agar Aruna bisa sekolah dan bisa menjalani kehidupannya dengan baik.
"Iya, Yah," jawab Aruna.
"Lalu, di mana suami kamu? Kenapa di saat anaknya sakit seperti ini dia malah tidak ada?" tanya Satria lagi.
Aruna tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya, dia malah menunduk dengan air matanya yang mulai mengalir di kedua pipinya. Dia merasakan sakit yang luar biasa ketika mengingat apa yang sedang dilakukan oleh Sam dan juga Angel.
"Tinggalkan, Sam! Ayah tidak rela jika kamu disakiti oleh pria itu, terlebih lagi pria itu malah menghabiskan waktu dengan selingkuhannya."
"Tapi, Yah--"
Aruna memang berniat untuk bercerai dengan Sam, karena dia tidak bisa memaafkan perselingkuhan. Namun, apakah tidak begitu cepat jika Aruna meninggalkan pria itu saat ini juga, pikirnya.
Aruna bisa saja dengan mudah berpisah dengan Sam, lalu bagaimana dengan putrinya yang begitu dekat dengan ayahnya.
''Jangan ragu untuk berpisah dengan pria brengsek seperti itu," ujar Sagara yang merasa geram ketika mengingat Aruna yang menangis sesenggukan di taman.
"Bukan itu, masalahnya bagaimana dengan Ay?" tanya Aruna.
"Tidak perlu menjelaskan apa pun kepada Ay, karena dia memang masih kecil. Yang terpenting saat ini adalah kamu membebaskan diri kamu dari pria seperti Sam," timpal Rachel.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan saat ini, Bun?"
Aruna menolehkan wajahnya ke arah Rachel, dia menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Pulang dan ambil berkas penting untuk proses perceraian, biar nanti Ayah yang ngurus." Satria mengusap puncak kepala Aruna.
"Jangan takut dengan apa pun, karena ada kami," ucap Sagara.
"Baiklah, aku akan pulang dulu. Aku akan mengambil beberapa barang yang diperlukan," ucap Aruna.
"Jangan membawa barang-barang yang diberikan oleh pria itu, karena ayah masih sanggup membelikan apa pun yang kamu butuhkan dengan Ay. Bawa saja berkas penting untuk kelengkapan perceraian," ujar Satria.
"Ya, Ayah. Aku pulang dulu, titip Ay," pamit Aruna.
"Biar aku antar, Kakak bisa pulang menggunakan mobil yang Kakak beli dengan uang pria itu. Nanti biar Kakak pulang pake mobil aku," ucap Sagara dengan sigap.
''Baiklah, aku menurut," ujar Aruna.
Akhirnya Aruna dan juga Sagara pergi ke kediaman Rahardi, Aruna pergi dengan menggunakan mobil mewah yang dia beli menggunakan uang Sam, sedangkan Sagara pergi dengan menggunakan mobilnya.
Tiba di kediaman Rahardi, Aruna dengan tergesa langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil semua berkas penting yang dibutuhkan, lalu dengan cepat dia keluar dari kamarnya untuk segera kembali ke rumah sakit.
Saat Aruna hendak masuk ke dalam mobil Sagara, babysitter yang biasa mengurus Ayana berlari menghampiri Aruna.
''Nyonya, bagaimana keadaan Ay?" tanya Encus dengan khawatir.
"Sudah lebih baik," jawab Aruna seraya masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Sagara.
"Bolehkah aku ikut? Aku sudah rindu dengan Ay," ucap Encus dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Masuklah!" ujar Aruna.
"Alhamdulillah, sebentar, Nya. Aku ambil dompet sama hape dulu," ucap Encus dengan bahagia.
Encus dengan cepat berlari menuju kamarnya dan mengambil barang yang diperlukan, lalu dia masuk ke dalam mobil Sagara dan duduk di bangku penumpang.
Sagara langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit, karena Sagara tidak mau berlama-lama berada di kediaman Rahardi. Hatinya terlalu sakit jika mengingat Aruna yang menangis karena diselingkuhi oleh Sam.
Saat mereka tiba di rumah sakit, Aruna dan Sagara benar-benar panik karena melihat Rachel yang tidak sadarkan diri di dalam dekapan Satria. Baik Aruna ataupun Sagara benar-benar takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Ada apa ini, Yah?" tanya Sagara
"Itu, Saga. Adik kamu---''
__ADS_1