
Sandi benar-benar begitu bahagia karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, dia merasa tidak sia-sia untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
Jika saja dia tahu jika sejak dulu Ayana juga mencintai dirinya, Sandi pastinya sudah sejak kuliah dulu mengungkapkan perasaannya.
Ah! Jika saja dari dulu dia mampu menyatakan rasa cintanya terhadap Ayana, sudah dapat dipastikan jika kini dia pasti sudah menjalani kehidupan yang begitu bahagia dengan wanita itu.
Namun, satu hal yang saat ini harus dia lakukan. Rajin dalam mencari biaya pernikahan mereka berdua, karena walaupun dia terlahir bukan dari kalangan orang kaya, tetapi tetap dia ingin memberikan pernikahan yang berkesan kepada Ayana.
"Jangan melamun terus, ayo makan ciloknya." Ayana menyuapi Sandi, pria itu nampak tersenyum senang.
Ternyata Ayana merupakan wanita yang tidak sungkan untuk menunjukkan cara berkasih sayang kepada dirinya, dia benar-benar merasa bahagia.
"Kamu juga makan, karena aku membuatkannya khusus untuk kamu." Sandi mengambil alih sendok dari tangan Ayana, lalu dia menyuapi wanita itu.
Ayana tersenyum bahagia, sungguh hal inilah yang sejak dulu dia inginkan. Sayangnya dia tidak pernah berani mengungkapkan keinginannya kepada pria itu, dia tidak pernah memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
Terlebih lagi Sandi sering sekali bergonta-ganti pacar, Ayana tentunya mundur. Padahal, Sandi berpacaran dengan wanita lain agar bisa melupakan perasaannya kepada Ayana.
Sayangnya, perasaan itu tidak pernah hilang. Justru perasaan itu semakin besar, bahkan setiap kali Sandi menatap foto Ayana, dia malah merasa ingin bertemu dan memeluk wanita itu. Menikahinya dan memilikinya.
"Enak! Makasih, ya. Setelah ini aku mau kamu beliin aku cincin pengikat karena hubungan kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih," ujar Ayana.
Sandi merasa malu sekali, dia ingin membelikan apa pun barang yang diinginkan oleh Ayana. Barang mahal yang berkualitas, sayangnya uangnya tidak seberapa.
"Boleh banget, Moo. Tapi, aku tidak punya uang banyak. Aku hanya bisa membelikan kamu cincin biasa, dengan harga yang tidak mahal." Sandi tertunduk lesu.
Jika sudah seperti itu, dia merasa sedih karena tidak mempunyai penghasilan yang besar. Ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk kekasihnya, tetapi isi rekeningnya tidak banyak.
Dia juga merasa sedih karena tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya, karena dia tidak ada yang mewarisi.
"Hey! Memangnya siapa yang minta cincin mahal? Aku hanya minta cincin pengikat saja, agar orang lain tahu jika aku sudah ada yang punya."
__ADS_1
Sandi langsung melebarkan senyumnya, karena kekasihnya itu sangatlah pengertian. Namun, justru dengan sikap Ayana yang seperti itu, dia semakin merasa malu.
Akan tetapi, di satu sisi dia juga merasa bahagia. Karena ternyata kekasihnya itu begitu mengerti dirinya, Ayana seakan tidak ingin mempersulit dirinya.
"Moo, aku merasa beruntung tau ngga, punya kekasih seperti kamu." Sandi mengusap puncak kepala kekasihnya.
Ah! Jika saja boleh, rasanya Sandi ingin melakukan hal yang lebih terhadap Ayana. Namun, dia tahu batasan yang namanya pacaran dan sudah sah menjadi seorang suami.
"Sudah jangan memuji aku terus, sekarang katakan berapa isi rekening kamu!" pinta Ayana.
Ck! Malu rasanya ketika Ayana menanyakan berapa isi rekeningnya, karena dia memang belum memiliki uang yang banyak untuk modal pernikahannya dengan Ayana.
"Moo! Baru sedikit," ujar Sandi lesu.
Ayana menanyakan isi rekening Sandi bukan karena ingin menghina pria itu, justru dia menanyakan hal itu karena ingin tahu kira-kira berapa lama lagi dia akan menjadi istri sah dari Sandi.
"Aih! Kamu tuh kaya orang ngga enak hati mulu, sini ponselnya." Ayana mengulurkan tangannya, Sandi memberikan ponselnya dengan ragu-ragu.
Ayana tersenyum melihat saldo yang dimiliki oleh pria itu, jika hanya untuk melaksanakan pernikahan secara sederhana rasanya sangatlah cukup.
"San! Aku mau dilamar aja, aku udah siap kamu nikahi." Ayana terlihat bahagia, berbeda dengan Sandi yang nampak kaget.
"Ta--tapi uangnya--"
Sandi tergagap, bahkan dia seolah tidak bisa berkata apa pun. Pria itu kebingungan harus berkata seperti apa, Ayana malah tersenyum dan berkata.
"San! Aku tidak ingin pernikahan yang mewah, cukup menikah secara sederhana saja. Yang penting setelah menikahnya, bukan semewah apa pesta pernikahannya."
Mendapatkan cinta yang begitu besar dari Sandi merupakan sebuah keberuntungan dan kebahagiaan tersendiri bagi dirinya, tidak perlu kemewahan tetapi cukup dengan kesetiaan, itulah yang diinginkan oleh Ayana.
"Ta--tapi, Moo!"
__ADS_1
Sandi bener-bener tidak enak hati kepada Ayana, karena menurutnya wanitanya itu benar-benar sangat baik dan juga pengertian.
"Ngga usah tapi-tapian, sekarang katakan kapan kamu berani lamar aku?" tanya Ayana memaksa.
Tanpa keduanya duga, ada yang mendengarkan apa yang sedang keduanya obrolkan. Orang itu tersenyum lalu berlalu dari sana, dia ingin membicarakan hal itu dengan orang terkasihnya.
Di lain tempat.
Stefano dan juga Ayaka kini sudah tiba di toko perhiasan, Stefano terlihat tersenyum lalu menuntun Ayaka untuk masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.
Ayaka memang mengikuti langkah dari Stefano, tetapi dia terlihat begitu bingung kenapa Stefano membawa dirinya menuju toko perhiasan tersebut.
"Sebenarnya Kakak mau ngajak aku ke mana? Ke sini?" tanya Ayaka seraya menatap cincin yang begitu indah di hadapannya.
Ya, saat masuk ke dalam toko perhiasan tersebut Stefano melihat cincin yang begitu indah. Dia langsung mengambil cincin itu dan memberikannya kepada Ayaka.
"Ya, Kakak ingin melamar wanita yang sangat Kakak cintai. Makanya Kakak mengajak kamu ke sini, Kakak ingin meminta tolong kepada kamu untuk memilihkan cincin terindah dan terbaik yang ada di sini," jawab Stefano.
Marah?
Tentu saja Ayaka terlihat begitu marah, bahkan wajahnya nampak memerah dengan kedua tangannya yang terlihat terkepal.
"Maksud Kakak apa? Kakak mau membelikan cincin untuk orang yang Kakak sayangi? Lalu, untuk apa Kakak malah mengajak aku ke sini? Kenapa tidak wanita itu saja yang Kakak bawa ke?" tanya Ayaka yang sudah tersulut emosinya.
Ayaka menatap Stefano dengan tatapan penuh amarah, dia tidak menyangka jika pria itu membawa dirinya ke toko perhiasan untuk membelikan cincin bagi orang terkasihnya.
Jika pria itu memang ingin membelikan kekasihnya cincin, kenapa harus dia yang dijadikan sebagai wanita percobaan, pikirnya.
"Jawab, Kak? Jangan diam saja! Maksudnya apa sih? Apa tujuan Kakak mengajak aku ke sini?" tanya Ayaka dengan kesal.
Wanita terlihat begitu emosi, tetapi Ayaka berusaha untuk menahan emosinya tersebut. Karena dia sangat sadar jika dirinya kini berada di mana, jika tidak Ayaka pasti sudah marah besar karena merasa dipermainkan.
__ADS_1