Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 158


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang sudah dikatakan oleh Stefano, selepas melaksanakan shalat maghrib Stefano mengajak Ayaka menuju sebuah tempat makan yang ada di sana.


Sebuah tempat makan yang ada di pegunungan, tempat makan itu menyediakan ruang privat. Maka dari itu Stefano memesan satu ruang privat untuk keduanya makan bersama.


Ruang privat itu nampak begitu unik, mulai dari dinding sampai atapnya berlapiskan kaca. Tentu saja hal itu membuat Stefano dan juga Ayaka bisa melihat pemandangan yang begitu indah dari ruang privat tersebut.


Bahkan, keduanya bisa melihat keindahan cahaya rembulan yang temaram dari ruangan tersebut. Ada banyak bintang-bintang yang bertaburan di angkasa yang terlihat gelap itu.


Suasananya terlihat begitu romantis sekali, Ayaka benar-benar merasa senang karena pemandangan seperti itu tidak bisa dia dapatkan semaunya.


"Kamu senang?" tanya Stefano.


Sebenarnya walaupun tanpa bertanya Stefano sangat yakin jika istrinya itu begitu bahagia, tetapi pria itu tetap saja ingin mendengarkan jawaban dari mulut istrinya secara langsung.


"Sangat," jawab Ayaka.


Ayaka benar-benar mengagumi pemandangan yang saat ini sedang dia lihat, pemandangan seperti ini tidak pernah dia bisa nikmati ketika berada di ibu kota.


"Aku pun sangat senang, apalagi kalau misalkan kita bisa bercinta di sini, rasanya pasti akan menyenangkan." Stefano malah membayangkan jika dirinya dan juga Ayaka bisa bercerita di ruang tertutup serasa ruang terbuka dan menyatu dengan alam itu.


Ayaka sampai membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, dia tidak menyangka jika ucapan suaminya bisa vulgar seperti itu.


"Yang!" protes Ayaka yang merasa tidak percaya jika Stefano mampu mengatakan hal seperti itu.


Stefano langsung tersenyum melihat reaksi dari istrinya tersebut, karena menurutnya itu sangat berlebihan.


"Apa sih, Yang? Aku hanya berandai-andai saja," ujar Stefano seraya menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.


Rasanya sangat wajar jika manusia memiliki fantasi liar di dalam otaknya, tetapi belum tentu dia merealisasikan hal itu.


''Jangan suka nakal, kamu tuh makin messum aja." Ayaka membalas pelukan dari suaminya.


Setelah menikah Ayaka merasa jika suaminya itu lebih berani, baik dalam berkata-kata ataupun dalam bertindak. Bahkan, dalam bertindak dia lebih cekatan.


"Ini semua karena kamu, kalau deket-deket kamu, rasanya aku ingin terus saja melakukan hal itu. Ngga ada bosennya, makin sering melakukannya malah makin candu." Stefano melerai pelukannya lalu dia mengecup bibir istrinya.


Ah! Sikap Stefano benar-benar membuat hati Ayaka berbunga, tetapi Ayaka merasa jika mereka tidak seharusnya terus bermesraan seperti itu. Karena mereka tidak akan jadi makan malam jika Stefano terus-menerus bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Aih! Bukan gara-gara aku, tapi karena pikiran kamu yang messum itu!" ujar Ayaka seraya tersenyum kecut.


Sepasang pengantin baru itu nampak begitu romantis, keduanya saling menunjukkan kasih sayang. Bahkan, saat acara makan malam berlangsung mereka terlihat saling menyuapi.


Berbeda dengan Ayana, kini wanita itu sedang cemberut. Dia berada di dalam kamarnya seraya menatap layar ponselnya, dia merasa kesal karena Sandi tidak juga membalas pesan darinya.


Bahkan beberapa kali dia mencoba untuk menelpon calon suaminya tersebut, tetapi sayangnya panggilan teleponnya tidak dijawab sama sekali.


"Ck! Dia ke mana? Kenapa ngga mau balas pesan aku? Kenapa dia ngga mau angkat telpon aku?" tanya Ayana seraya menghela napas berat.


Jika awalnya Sandi yang merasa tidak sabar untuk memiliki Ayana, kini keadaannya berbanding terbalik. Ayana justru yang saat ini terlihat ngebet ingin selalu bersama dengan Sandi.


Padahal, acara pernikahan mereka masih dua minggu lagi. Namun, Ayana benar-benar sudah tidak sabar untuk bisa tinggal satu atap dengan pria itu.


"Kenapa cemberut terus?" tanya Aruna yang ternyata kini sudah berada di samping Ayana.


Wanita itu bahkan nampak mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu dia tersenyum dan berkata.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang pengantin wanita, nggak boleh cemberut terus. Nanti Sandi malah kabur," ujar Aruna.


Ayana malah semakin menekuk wajahnya, karena kali ini dia memang benar-benar merasa kesal terhadap calon suaminya itu.


Aruna terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, karena Sandi saat ini memang sedang sibuk. Pria itu mendapatkan tugas mewakili Sigit untuk meeting di luar kota.


Acaranya sangat mendadak sekali, saat Sandi hendak pulang setelah mengantarkan Ayana, Sigit menghampiri Sandi dan meminta pria itu untuk mewakili dirinya.


Bukannya Sigit tidak mau pergi sendiri, tetapi besok pagi ada meeting tahunan. Pembahasan tentang laporan kerja tahunan, laporan keuangan tahunan.


Selain itu, Sigit juga sengaja memberikan tugas kepada Sandi, agar nanti jika sudah menjadi bagian dari keluarganya, Sigit bisa mengandalkan pria itu.


"Dia sedang sibuk, tadi dapat tugas dari papa," jelas Aruna.


Ayana langsung bangun dan duduk tepat di samping ibunya, lalu dia menatap wajah ibunya dengan lekat.


"Tugas apa?" tanya Ayana.


Aruna nampak menoel hidung Ayana, karena Aruna begitu gemas melihat raut penasaran pada wajah putrinya tersebut.

__ADS_1


Walaupun Ayana kini sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi akan menikah, tapi Aruna tetap merasa jika Ayana merupakan putri kecilnya.


"Ada deh, nanti juga kamu tahu. Lebih baik kamu tidur, sudah malam juga."


Ayana yang tadinya hanya menekuk wajahnya, kini terlihat memonyongkan bibirnya. Dia merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Aruna, sayangnya dia tidak bisa melayangkan protesnya.


"Hem!" jawab Ayana pasrah.


Di saat Aruna dan juga Ayana sedang asyik mengobrol, Kenzo terlihat berdiri di ambang pintu. Lalu, pria itu mengeluarkan suaranya yang sangat langka itu.


"Bun! Aku mau keluar bentar boleh ngga? Buku aku kebawa sama temen, mau ngambil buku doang sebentar," izin Kenzo.


Aruna dan juga Ayana langsung menolehkan wajahnya ke arah Kenzo, Aruna nampak tersenyum ke arah putranya dan berkata.


"Boleh, jangan lama-lama."


Bukannya Kenzo yang tersenyum senang mendengar jawaban dari ibunya, justru Ayana yang terlihat begitu senang.


Saat ini dia sedang begitu kesal, tentunya jika disuruh untuk langsung tidur dia tidak akan bisa memejamkan matanya. Dia berpikir jika dengan memakan makanan yang pedas bisa menghilangkan kekesalannya.


"Gue ikut, Dek. Gue pengen makan yang pedes-pedes, kali aja nemu tukang bakso," ujar Ayana cepat.


Kenzo nampak menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut, Kenzo merasa jika saat ini dia akan dimanfaatkan oleh kakaknya itu.


"Mending jangan, Kak Ay bentar lagi mau nikahan loh. Jangan makan bakso, nanti badannya melar. Kasian kalau baju pengantinnya nanti sampai tidak muat," jawab Kenzo.


Hati Ayana sejak tadi merasa kesal, ditambah lagi dengan ucapan dari Kenzo, wanita itu terlihat lebih kesal. Walaupun pada kenyataannya apa yang dikatakan oleh adiknya itu adalah benar adanya.


"Aih! Dasar adik lucknut, masih ada waktu 2 minggu buat ngurusin badan. Gue ikut pokoknya," ujar Ayana yang langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Kenzo.


Tidak lupa sebelum dia menghampiri Kenzo, wanita itu nampak mencium pipi ibunya. Aruna sampai terkekeh dibuatnya.


"Iya, iya," jawab Kenzo pasrah.


Ayana tersenyum penuh kemenangan lalu memeluk lengan adiknya tersebut, adik tampannya yang sudah mulai banyak berbicara dengan keluarganya.


"Hati-hati!" teriak Aruna saat melihat kedua anaknya hendak pergi dari kediamannya.

__ADS_1


Dia berdoa di dalam hatinya semoga kedua buah hatinya itu dilindungi oleh Tuhan, semoga tidak ada marabahaya yang datang menghampiri keduanya.


"Ya, Bun!" jawab Ayana.


__ADS_2