
Setelah terjadi obrolan yang cukup lama antara Sigit, Aruna dan juga Alan. Akhirnya Alan berkata setuju jika Kenzo memang benar-benar ingin menikahi Asmara, asalkan jangan memisahkan dirinya dari putrinya.
Terlebih lagi Alan juga pernah berbicara dengan Kenzo secara langsung, dia sangat tahu jika Kenzo begitu tulus mencintai putrinya. Pria itu bahkan selalu berusaha untuk mencari perhatian dari putrinya.
Dia sangat tahu itu, karena selain menyaksikannya sendiri ketika Kenzo datang ke rumahnya, Asmara juga selalu menceritakan apa yang sudah dilakukan Kenzo kepada putrinya tersebut.
Namun, Alan juga berpesan untuk tidak memaksakan kehendak. Karena nantinya yang akan menjalani kehidupan rumah tangga adalah asmara dan juga Kenzo, jangan sampai nantinya Asmara malah seakan tertekan.
Jangan sampai tidak ada kebahagiaan di dalam hidup putrinya karena merasa tertekan sudah menikah dengan Kenzo, bukan karena mencintai pria itu.
Intinya, pria itu berkata jika Kenzo benar-benar mencintai Asmara, Kenzo harus berjuang untuk mendapatkan cinta Asmara secara utuh. Bukan memaksa cinta di masa lalunya dengan sosok Asmara.
Karena walaupun Asmara dan juga Anaya adalah orang yang sama, tetapi Asmara yang selamat dari maut memiliki karakter yang berbeda dengan Anaya.
"Alhamdulillah! Terima kasih atas pengertiannya, Pak," ujar Aruna.
"Sama-sama, Nyonya." Alan tersenyum hangat.
Sigit merasa senang melihat keceriaan di wajah istrinya, dia sangat tahu jika Aruna begitu senang karena ternyata Anaya masih hidup. Begitupun dengan dirinya, dia juga merasa bahagia.
Selain bahagia karena Anaya masih hidup, dia juga merasa bahagia karena putranya ternyata dekat dengan wanita yang sejak dulu menjadi pujaan hatinya.
Satu hal yang tentunya membuat Sigit merasa berterima kasih kepada Tuhan, Anaya ditemukan oleh orang yang tepat.
Selain Alan mengurusi Anaya dengan sepenuh hati sampai sembuh, Alan juga merupakan seorang muslim yang mampu memuslimkan Anaya.
Tentu saja hal itu membuat Anaya dan juga Kenzo tidak memiliki dinding menghalang yang besar, hanya tinggal Kenzo yang harus giat berusaha untuk meyakinkan Anaya, jika putranya itu layak menjadi suami dari wanita itu.
"Kalau begitu kami pamit dulu," ujar Sigit.
"Ya, silakan, Tuan. Tapi ingat, Tuan. Kata dokter Ara tidak boleh tertekan pikirannya, anda jangan memaksakan Ara agar bisa segera pulih ingatannya," ujar Alan khawatir.
"Iya, Pak. Saya akan berusaha sesantai mungkin menghadapi Ara," jawab Sigit.
"Dokter juga bilang jika Ara mengalami koma yang lama, selain karena memang terganggu kesehatannya, dia juga seakan takut untuk bangun dan menerima kenyataan. Karena sepertinya Ara sempat melihat kejadian yang benar-benar membuat hidupnya merasa takut dan terpuruk," jelas Alan.
Alan masih sangat ingat jika ketika sadar saja, Asmara terlihat menatap dengan tatapan kosong. Mulutnya memang terkunci dengan rapat, tetapi pikirannya seolah sedang menentang kehidupan yang dia alami.
"Bahkan, Ara sampai harus terapi selama enam bulan karena di bawah alam sadarnya dia masih berusaha untuk melupakan kejadian yang mengerikan yang pernah dia alami," imbuh Alan.
Sigit nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti, karena memang mereka tidak bisa berusaha untuk memaksakan agar ingatan Anaya kembali.
Sigit dan Aruna yakin, jika Tuhan sudah berkehendak Asmara pasti akan sembuh secara total. Wanita itu pasti akan mengingat Siapa dirinya kembali, mereka hanya perlu menuntun dengan sabar.
"Anda tenang saja, kami akan berusaha untuk melakukan hal yang tidak salah," ujar Sigit.
__ADS_1
Akhirnya Aruna dan juga Sigit nampak pulang ke rumah Kenzo dengan raut wajah bahagia, sepanjang perjalanan menuju rumah Kenzo bahkan keduanya tersenyum dengan begitu lebar.
Aruna dan juga Sigit nampak saling memeluk, mereka merasa jika beban di hati hilang sudah. Kedatangan mereka menuju kota Sorong ternyata bukanlah hal yang sia-sia.
Karena selain bisa bertemu dengan putra mereka, keduanya juga bisa mengetahui jika Anaya ternyata masih hidup dan kini terlihat begitu sehat.
"Yang, apakah perlu kita membicarakan hal ini dengan Aya?" tanya Aruna ketika mereka tiba di kediaman Kenzo.
Walaupun Ayaka bukanlah kakak kandung dari Anaya, tetapi Aruna sangat tahu jika wanita itu begitu menyayangi Anaya. Jika Aruna memberikan kabar tentang Anaya yang masih hidup, pasti Ayaka akan senang, pikirnya.
Sigit yang mendengar penuturan dari istrinya langsung menggelengkan kepalanya, mereka tidak boleh bertindak gegabah, tidak boleh buru-buru dan tidak boleh grasak-grusuk tidak jelas sebelum semuanya terasa nyata.
"Nanti saja kalau semuanya sudah jelas, lebih tepatnya kalau ingatan Naya sudah pulih. Takutnya nanti Aya terlalu antusias dan tidak sabar untuk berbicara dengan Naya dan mengatakan bahwa Naya adalah adiknya," jawab Sigit.
"Hem! Kamu benar," ujar Aruna.
Aruna dan juga Sigit akhirnya memutuskan untuk berkeliling di sekitar rumah Kenzo, karena di sana suasananya masih terlihat asri. Seperti suasana di perkampungan, masih banyak pohon yang tumbuh.
Di lain tempat.
Kenzo, Asmara dan juga Alice sejak tadi sudah berkeliling di taman wisata alam tersebut. Mereka menikmati keindahan alam dengan begitu antusias, mereka juga bahkan sudah mengambil foto dan juga video.
Alice bahkan sudah mengupload kegiatan mereka selama di taman wisata ke berbagai akun sosial medianya, dia terlihat begitu bahagia.
Asmara nampak menganggukkan kepalanya, karena dia juga sudah merasa lelah. Istirahat sejenak rasanya akan mengembalikan kebugaran tubuhnya.
"Boleh," jawab Asmara.
Ketiganya langsung berjalan ke arah tenda Yang sudah mereka buat, karena saat tiba di taman wisata alam ketiganya membuat tenda terlebih dahulu.
Jika Alice langsung masuk ke dalam tenda dan merebahkan tubuhnya, berbeda dengan Kenzo yang langsung menggelar karpet dan menata makanan di atas karpet tersebut.
Pria itu lebih memilih beraktivitas di luar tenda, Asmara nampak membantu Kenzo untuk menata makanan di atas karpet yang sudah digelar oleh Kenzo.
"Kamu pasti sangat lapar, mau makan apa?" tanya Kenzo seraya memperlihatkan banyaknya makanan yang sudah disediakan oleh Aruna.
"Kata buna di dalam kotak ini ada dimsum, aku mau." Asmara menunjuk sebuah kotak bekal tahan panas.
Kenzo tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, karena Aruna memang sudah mengatakan hal itu kepada dirinya.
"Boleh, akan aku siapkan."
Kenzo dengan cekatan membuka kotak bekal tahan panas itu, senyum di bibir Asmara langsung merekah ketika melihat dimsum yang begitu menggugah seleranya.
"Sepertinya sangat enak, aku ngga sabar buat makan."
__ADS_1
Asmara dengan cepat mengambil saus dimsum yang sudah dibuat oleh Aruna, lalu dia mengambil dimsumnya dan mencocolnya dengan saus.
"Sangat enak," ujar Asmara dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Kenzo langsung terkekeh melihat kelakuan dari Asmara, karena wanita itu seolah tidak pernah memakan makanan tersebut.
Alice yang sedang merebahkan tubuhnya nampak bangun dan keluar dari dalam tenda, kalau dia menghampiri Asmara tempat di samping wanita itu.
"Bagi, Kak!" ujar Alice seraya membuka mulutnya.
Asmara yang paham langsung mengambilkan dimsum, lalu dia menyuapi Alice. Gadis itu sampai bersorak dibuatnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Kenzo.
"Kakak baik banget deh, Kak Ken ngiler tuh katanya pengen disuapi sama Kakak," ujar Alice.
Kenzo salah paham jika adiknya itu ingin mendekatkan dirinya dengan Asmara, lalu pria itu langsung mencondongkan tubuhnya dan membuka mulutnya.
"Eh? Kamu mau aku suapi?" tanya Asmara malu-malu karena Kenzo menatap dirinya dengan tatapan penuh cinta dan juga penuh harap.
"Iya, aku mau," jawab Kenzo seraya menganggukkan kepalanya.
Asmara awalnya terlihat ragu, tetapi saat menolehkan wajahnya ke arah Alice, gadis muda itu nampak menganggukkan kepalanya. Asmara pada akhirnya mengambil dimsum dan menyuapi Kenzo.
Kenzo terlihat begitu senang sekali, Asmara nampak malu-malu. Apalagi ketika Kenzo malah menahan tangan Asmara, tiba-tiba saja wanita itu terlihat salah tingkah.
"Jangan dipegangin terus tangan akunya, aku mau makan dimsum lagi." Asmara langsung menolehkan wajahnya ke arah lain karena tidak sanggup melihat tatapan mata Kenzo.
Alice merasa lucu karena tiba-tiba saja panggilan keduanya menjadi aku kamu, padahal semalam dia masih mendengar dengan jelas jika Kenzo dan juga Asmara mengobrol dengan panggilan elu gue.
"Di jari kamu ada sausnya, sayang ini." Kenzo langsung memasukkan jari telunjuk Asmara ke dalam mulutnya.
Asmara terlihat begitu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo, bahkan dia merasakan tiba-tiba saja ada desiran aneh di dalam hatinya. Berbeda dengan Alice yang merasa jika kelakuan kakaknya itu benar-benar di luar nalar.
"Ieeeew! Kak Ken jorok!" ujar Alice.
"Enak, Dek!" jawab Kenzo tanpa malu.
Alice hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Kenzo, karena kakaknya itu bertingkah seperti bukan dirinya sendiri. Alice malah melihat sosok yang lain dari kakaknya tersebut, mungkin karena pengaruh Asmara, pikir Alice.
"Jangan ngiri!" ujar Kenzo.
Alice sampai mengerutkan hidungnya mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, gadis itu bahkan terlihat menautkan kedua alisnya karena merasa ucapan Kenzo itu tidak masuk akal.
Pria itu bertingkah aneh sekali, bahkan pria itu malah mengatakan jangan iri kepada dirinya. Iri untuk hal apa, pikirnya. Karena dia bukan sedang merasa iri, tapi sedang merasa aneh dengan kelakuan dari abangnya tersebut.
"Dih! Siapa yang ngiri, aku tuh malah ngerasa aneh sama sikap Kak Ken!" jawab Alice yang langsung disambut tawa oleh Kenzo, sedangkan Asmara malah menatap Kenzo dengan jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar dengan kencang.
__ADS_1