Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 111


__ADS_3

Hari ini Ayana merasa sangat senang sekali, karena ternyata dengan bekerjanya Stefano membuat pekerjaan Ayana semakin ringan. Kalau boleh jujur, tujuh puluh persen pekerjaan hari ini dikerjakan oleh Stefano.


Terlebih lagi pria itu ditempatkan di ruangan yang sama bersama dengan Ayana, tentu saja hal itu mempermudah Stefano untuk membantu pekerjaan nona mudanya.


Bukan hanya pekerjaan yang dibantu oleh Stefano, tetapi pria itu juga begitu pengertian dan juga perhatian. Di saat makan siang tiba saja Stefano dengan cepat memesankan makanan sehat untuk Ayana, tidak lupa Stefano juga membelikan jus buah untuk atasannya tersebut.


Walaupun awalnya Ayana merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Stefano, tetapi pada akhirnya Ayana memakan dan meminum apa yang sudah disediakan oleh pria itu.


"Ck! Kamu tuh kelakuannya udah sama banget kayak buna aku," ujar Ayana pasrah.


Stefano tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, dia perhatian bukan karena dia menganggap Ayana sebagai adik atau saudara. Akan tetapi, karena memang dia ingin menunjukkan perhatiannya kepada orang yang dia suka.


"Karena anda sudah bekerja keras, makanya saya memberikan perhatian kepada anda."


Hanya kata itu yang mampu Stefano keluarkan dari bibirnya, karena entah mengapa dia begitu enggan untuk mengatakan isi hatinya. Dia begitu sulit untuk membicarakan masa lalunya, bingung harus memulainya dari mana.


Bukan karena apa, tetapi karena Stefano merasa jika levelnya berada jauh di bawah dari Ayana. Dia tidak berani mengatakan apa pun tentang apa yang terjadi di masa lalu, walaupun dia sangat ingin.


"Kamu tuh bisa saja, padahal sejak tadi kamu terus yang ngerjain pekerjaan aku." Ayana terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Stefano terdiam mendengar pernyataan dari Ayana, karena pada kenyataannya dia memang sengaja ingin membantu wanita itu agar tidak kesusahan dan tidak kerepotan dalam bekerja.


Pria itu hanya mampu memandang Ayana dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan, sedangkan Ayana kembali melakukan pekerjaannya.


'Ternyata tante Aruna membesarkan kamu dengan begitu baik, wajah kamu yang dulu cacat bahkan kini terlihat begitu cantik dan sempurna.' Stefano hanya mampu berkata dalam hatinya.


Dulu Stefano pernah berjanji akan kembali untuk mengobati wajah Ayaka yang rusak, tentu saja pria itu berusaha untuk menepati janjinya.


Stefano bekerja dengan begitu keras saat berada di luar negeri, dia bahkan mengumpulkan uang untuk biaya operasi Ayaka. Kini Stefano datang untuk menemui Ayaka, gadis kecil yang membuat dia jatuh hati itu.


Namun, ternyata pria itu tidak usah mengeluarkan uangnya untuk membiayai operasi Ayaka. Karena wanita yang dulu dia janjikan untuk diobati, ternyata sudah sembuh total.


Sebenarnya sudah dari lama dia ingin pulang ke tanah air, tetapi saat itu Andin selalu saja melarang dirinya untuk pulang. Terpaksa Stefano menuruti keinginan ibunya, karena walau bagaimanapun juga Andin adalah orang tuanya.


Kembali pria itu mengerjakan pekerjaannya, karena dia tidak mau berlama-lama menatap wajah Ayana yang semakin membuat perasaannya tidak karuan.


Keduanya terlihat bekerja sama dengan begitu baik, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Anda mau saya antarkan atau tidak, Nona?" tanya Stefano setelah melihat Ayana yang sudah bersiap untuk pulang.


Ayana yang hendak pergi nampak menolehkan wajahnya ke arah Stefano, dia tersenyum dengan hangat lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, karena aku akan pulang bersama dengan papa. Aku akan menunggu papa di lobi, karena papa ada di parkiran," ujar Ayana seraya tersenyum setelah mengatakan hal itu.


Ada rasa kecewa di hati Stefano, tetapi walaupun seperti itu dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Dia sangat tahu diri siapa dirinya dan siapa Ayana saat ini.


"Oh, oke. Besok jangan lupa pukul 6 pagi anda sudah harus bersiap untuk pergi ke luar kota, perlu saya jemput atau bagaimana?" tanya Stefano.

__ADS_1


Akan ada pertemuan penting dengan klien di luar kota pukul 8 pagi, maka dari itu Ayana dan juga Stefano harus pergi sangat pagi untuk mengejar waktu.


Jika pergi dengan menyetir sendiri rasanya akan sangat lelah, terlebih lagi pagi-pagi adalah saat yang malas karena baru bangun dari istirahat yang lumayan panjang.


"Kita harus pergi pagi-pagi sekali, apa tidak sebaiknya memakai sopir saja?" tanya Ayana.


Takutnya Stefano akan kelelahan jika menyetir mobilnya sendiri, lebih baik menggunakan jasa sopir, pikir Ayana. Lagi pula ada sopir pribadi di kediaman Sigit.


"Sepertinya tidak perlu, karena saya masih sanggup menyetir," jawab Stefano.


Ayana nampak mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu Ayana kembali berkata.


"Oke, kalau gitu jemput aku," jawab Ayana.


"Oke, Nona." Stefano nampak tersenyum dengan begitu lebar.


Berbeda dengan Ayana yang nampak biasa saja, lalu tidak lama kemudian Ayana berpamitan untuk segera pulang.


"Oh, ya ampun! Adik kecil, kamu tumbuh dengan begitu sempurna." Stefano terkekeh lalu pergi dari perusahaan Siregar.


Stefano sempat berpapasan di lobi perusahaan dengan Ayana, kerena wanita itu sedang menunggu Sigit yang masih ada di parkiran.


"Aku duluan, Nona," ucap Stefano.


Ayana hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, tidak lama kemudian Ayana masuk ke dalam mobil Sigit karena pria itu sudah tiba di depan lobi.


Ayana sempat terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ayahnya, tidak lama kemudian dia nampak menganggukkan kepalanya.


"Terasa lebih mudah dan juga menyenangkan karena ada yang membantu," jawab Ayana yang lalu menghela napas panjang.


Sigit terlihat begitu heran dengan jawaban dari Ayana, terasa lebih mudah tetapi Ayana bersikap seolah tidak senang akan ada orang yang membantu dirinya.


Sigit yang sedang fokus dalam menyetir sempat menolehkan wajahnya ke arah putri sulungnya tersebut, kemudian dia kembali fokus dalam menyetir.


"Apakah Stefano membuat masalah? Kenapa kamu terlihat tidak suka dengan kehadiran pria itu?" tanya Sigit.


Karena menurut Ben, Stefano adalah pria yang sangat kompeten dalam bekerja. Bahkan, pria itu benar-benar sudah berpengalaman dalam urusan pekerjaan.


"Bukannya tidak suka dengan cara kerjanya, Pa. Dia bekerja dengan sangat baik, bahkan pekerjaan bisa dengan cepat selesai karena bantuan dia. Hanya saja dia itu kelakuannya kaya Buna," jawab Ayana.


Sigit semakin merasa heran dengan jawaban dari putri sulungnya itu, kenapa bisa Stefano yang nota bene seorang lelaki malah memiliki sifat seperti istrinya.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Sigit.


Ah! Sigit benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh putrinya, karena menurutnya Ayana terlalu berbelit-belit dalam mengatakan hal yang mengusik hatinya.


"Aih! Sudahlah, Pa. Aku ngga mau bahas dia lagi, oiya, Pa. Selepas maghrib aku mau nengokin ayah Sam, apa boleh?" tanya Ayana.

__ADS_1


Walaupun Ayana sudah sangat tahu jawabannya pasti boleh, tetapi tetap saja dia merasa harus meminta izin kepada ayah sambungnya tersebut. Tentunya, nanti saat berada di rumah Ayana juga akan meminta izin kepada ibunya.


"Memangnya ada apa dengan bang Sam? Apakah dia sakit?" tanya Sigit.


Selama ini Sam begitu betah dengan gelar dudanya, pria itu tidak mau menikah kembali. Padahal, jika sedang sakit seperti ini pastinya dia membutuhkan perawatan dari seorang istri.


Karena walaupun ada Ayaka yang tinggal satu atap dengan Sam, tetapi rasanya akan sangat lain dirawat oleh seorang istri atau dirawat oleh seorang putri.


Terlebih lagi saat ini Ayaka sedang pergi ke luar kota, adik dari Ayana itu akan tinggal di luar kota selama 1 bulan. Itu artinya Sam benar-benar tidak ada yang menemani, bahkan merawatnya di saat sakit.


"Ya, kata Aya, ayah sedang sakit. Aku ingin menjenguknya," jawab Ayana.


"Pergilah! Temui ayah kamu, jika sakitnya parah segera hubungi Papa," ujar Sigit.


"Terima kasih, Pa," ujar Ayana dengan senang.


Tentu saja Ayana merasa begitu senang karena Sigit terdengar begitu perhatian terhadap ayahnya, bahkan Sigit seperti tidak pernah memendam dendam kepada Sam yang memang dulunya pernah melakukan kesalahan yang besar.


Seperti yang sudah dikatakan oleh Ayana, selepas magrib wanita itu langsung pergi ke kediaman Sam. Dia membawakan buah dan juga makanan kesukaan dari pria itu.


"Yah!" panggil Ayana ketika dia masuk ke dalam rumah Sam.


Rumah ini nampak tidak terkunci, tetapi dia tidak melihat keberadaan Sam. Ayana yang merasa khawatir langsung berlari menuju kamar pria itu, sayangnya di sana tidak ada ayahnya.


"Ya ampun! Ayah ke mana?" tanya Ayana dengan takut.


Ayana berkeliling di rumah tersebut untuk mencari keberadaan ayahnya, tetapi tetap saja dia tidak menemukan ayahnya tersebut. Hal itu pastinya membuat Ayana menjadi gelisah.


"Ke mana sih ayah?" tanya Ayana.


Ayana yang merasa khawatir langsung mengambil ponselnya, dia mencoba untuk menghubungi ayahnya tersebut. Namun, Ayana kini terlihat semakin khawatir karena ternyata ponsel ayahnya ada di dalam kamar Sam.


"Astagfirullah! Sebenarnya ke mana ayah?" tanya Ayana dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipinya.


Karena merasa begitu khawatir, akhirnya Ayana memutuskan untuk keluar dari dalam rumah Sam. Dia akan bertanya kepada para tetangga yang ada di sana, siapa tahu ada yang mengetahui keberadaan Sam di mana.


Namun, baru saja dia sampai di halaman rumah Sam, ada mobil yang masuk dan berhenti tepat di hadapan Ayana. Ayana sempat mengernyitkan dahinya, karena mobil itu bukanlah milik Sam. Mobil ayahnya masih terparkir tidak jauh dari sana.


Tidak lama kemudian, Ayana melihat Stefano yang turun dari mobil tersebut. Lalu, dengan cepat Stefano membukakan pintu mobil yang satunya untuk Sam.


Stefano terlihat membantu Sam untuk turun dari mobil milik pria itu, Ayana benar-benar merasa khawatir karena wajah Sam terlihat begitu pucat.


"Hati-hati, Om." Stefano memapah Sam agar masuk ke dalam rumahnya.


Namun, langkah Stefano terhenti ketika melihat Ayana ada di sana. Baik Stefano ataupun Ayana, keduanya sama-sama terlihat kaget.


"Nona, anda sedang apa di sini?" tanya Stefano.

__ADS_1


"Justru aku yang harusnya bertanya, ada apa dengan Ayah? Terus kenapa kamu bisa bareng sama Ayah? Ayah sakit apa?" tanya Ayana dengan tidak sabar.


__ADS_2