
Setelah mengatakan isi hatinya, Stefano tidak bisa bernapas dengan lega. Karena kini Ayaka menatap dirinya dengan tatapan tajamnya, bahkan Ayaka menatap dirinya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
Stefano kini malah menjadi resah dibuatnya, terlebih lagi ketika Ayaka tiba-tiba saja berjalan lalu mendekat ke arahnya. Ayaka mengulurkan tangannya, lalu mengusap kening pria itu.
''Kamu masih waras?" tanya Ayaka.
Kaget sekali rasanya ketika Ayaka menanyakan hal itu kepada Stefano, karena dirinya tentu saja sangat waras. Maka dari itu dia meminta Ayaka untuk menjadi istrinya.
"Hah? Maksudnya?" tanya Stefano.
Pertanyaan dari Ayaka dibalas oleh pertanyaan kembali, tentu saja hal itu membuat gadis itu terlihat kesal.
"Aku tuh nanya sama kamu, kamu waras atau ngga? Masa belum lama bertemu malah ngajakin nikah, ngga salah?" tanya Ayaka.
Orang yang sudah lama saling mengenal saja akan melakukan pendekatan ketika dia menyukai seorang gadis, setelah melihat lampu hijau barulah pria itu akan mengungkapkan perasaannya.
Namun, dia merasa heran dengan Stefano yang tiba-tiba saja mengajak dirinya untuk menikah tanpa melihat gelagat baik terlebih dahulu dari dirinya.
"Aku sangat waras, makanya ngajakin kamu nikah. Ayo kita nikah, aku sudah tua. Umurku sudah dua puluh delapan tahun, kalau nunggu lama lagi, nanti aku kapan punya anaknya," keluh Stefano.
Ayaka langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, terlebih lagi Stefano mengatakan hal itu dengan raut wajah yang begitu menyedihkan.
"Hey! Aku tidak peduli dengan berapa umurmu, itu tidak jadi tolak ukur. Aku mau bertanya kepadamu, apakah kamu saat ini sedang melamarku?" tanya Ayaka.
Stefano langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, dia baru saja menemukan gadis kecilnya, setelah beberapa hari dekat rasanya dia tidak mau berjauhan lagi dengan gadis kecilnya itu.
Daripada nantinya malah ada yang melamar Ayaka terlebih dahulu, Stefano berpikir lebih baik dia melamar Ayaka walaupun terkesan tidak romantis.
"Iya, aku ingin melamar kamu. Aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku, apakah kamu bersedia?" tanya Stefano.
Ayaka memang menyukai pria yang to the point, tetapi bukan berarti terkesan terburu-buru seperti ini juga.
"Ck! Mana ada melamar wanita dengan cara seperti ini, kamu melamar aku tanpa membawa apa-apa. Bahkan, kamu melamar aku di rumah kosong seperti ini. Kamu tuh gimana sih?" keluh Ayaka.
Loading!
Otak Stefano seakan kesusahan untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Ayaka, dia malah terdiam seraya menatap wajah wanita itu dengan begitu lekat.
__ADS_1
Ayaka yang melihat wajah pria itu ingin sekali tertawa, tetapi tawanya dia tahan. Dia menepuk pundak Stefano, lalu dia menuntun Stefano untuk duduk di atas sofa yang ada di sana.
Rumah itu memang tidak Stefano tempati sejak lama, tetapi dia menugaskan orang kepercayaan ibunya untuk mengurusi rumah tersebut. Orang itu akan datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah tersebut.
"Dengarkan aku, apakah kamu benar-benar mencintai aku?" tanya Ayaka.
Stefano langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena setelah dia meraba hatinya, yang dia rasakan itu benar-benar cinta untuk Ayaka.
"Sangat! Aku sangat mencintai kamu sejak dulu, bahkan aku tidak pernah berdekatan dengan wanita mana pun. Karena aku sudah berjanji kepada kamu akan datang kembali untuk menemui kamu," jawab Stefano.
Ayaka mengiyakan apa yang Stefano katakan di dalam hatinya, karena dia masih ingat ketika Stefano berjanji akan mencari uang yang banyak untuk mengoperasi wajahnya agar bisa terlihat cantik sesuai dengan keinginannya.
Ayaka sering menangis ketika menatap wajahnya pada pantulan cermin, dia merasa sedih karena wajahnya menjadi buruk rupa setelah kecelakaan waktu itu.
Stefano sering sekali melihat Ayaka menangis dan langsung menenangkan gadis kecil itu, dia merasa tidak tega melihat kesedihan di mata Ayaka.
"Rasa cinta Itu benar-benar tulus atau hanya rasa bersalah karena ibu kamu dulu sudah memperlakukan aku dengan tidak baik?" tanya Ayaka lagi.
Ayaka harus memastikan terlebih dahulu bagaimana perasaan Stefano terhadap dirinya, jangan sampai nanti setelah dia sudah menerima Stefano, tetapi pria itu ingin menikahinya karena rasa bersalah bukan rasa cinta.
"Perasaan aku tidak ada hubungannya dengan ibu aku, aku benar-benar tulus mencintai kamu sejak pertama kita bertemu. Walaupun dulu wajah kamu tidak cantik, tetapi aku benar-benar mencintai kamu dengan tulus. Aku jatuh cinta dengan sikap kamu yang benar-benar sangat manis," jawab Stefano lagi.
"Benarkah seperti itu?"
"Ya," jawab Stefano dengan yakin.
Ah! Jantung Ayaka berdebar dengan begitu cepat ketika melihat keyakinan di mata Stefano, ingin sekali dia langsung memeluk pria itu. Namun, Ayaka merasa gengsi.
"Kalau aku tidak mencintai kamu, apakah kamu akan tetap menikahi aku?" tanya Ayaka.
Namun, ucapan itu hanya keluar dari dalam mulutnya. Karena nyatanya dia juga mencintai Stefano, dia sangat menunggu kedatangan pria itu untuk menunaikan janjinya.
"Ya, Nona. Cukup menikah denganku dan terima setiap waktu cinta yang akan aku berikan kepada kamu," jawab Stefano.
Ah! Rasanya hati Ayaka meleleh dalam seketika mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, pria dewasa itu begitu pandai dalam mengutarakan isi hatinya.
Pria itu begitu tulus ketika mengatakan perasaannya, pria itu terlihat begitu gigih untuk mendapatkan cintanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak aku cintai, bisakah kamu membuat aku jatuh cinta terlebih dahulu?" tanya Ayaka berbohong.
Jantung Ayaka sampai berdebar berkali-kali lipat cepatnya saat bertanya seperti itu, karena nyatanya Ayaka mengatakan hal itu hanya untuk menguji Stefano saja.
"Memangnya anda tidak mencintai saya? Lalu, apa arti dari coklat yang anda simpan sampai kadaluarsa itu?" tanya Stefano.
Stefano sengaja menanyakan hal itu, karena dia begitu yakin jika Ayaka juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Jika Ayaka tidak menyukai dirinya, rasanya tidak akan mungkin wanita itu sampai menyimpan coklat pemberian dari dirinya.
"Nona, tolong jawab. Apakah anda tidak menyukai saya sama sekali?" tanya Stefano ingin memastikan.
Stefano menatap wajah Ayaka dengan tatapan penuh harap, dia berharap jika wanita itu mengatakan hal yang ingin dia dengar.
Ayaka terlihat acuh saat mata mereka bertemu, dia malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Lalu wanita muda itu nampak berkata.
"Entahlah! Aku tidak tahu bagaimana perasaan aku sama kamu, karena nyatanya kita sudah sangat lama sekali tidak bertemu."
"Nona," panggil Stefano dengan lemah.
"Sudahlah, Kak. Ayo kita pulang," ajak Ayaka yang masih terlihat belum siap membahas akan hal itu.
Dia akan menyiapkan hatinya terlebih dahulu, karena terus terang saja dia benar-benar merasa kaget setelah mengetahui malaikat penyelamatnya sudah datang untuk menemuinya.
"Nona, tunggu sebentar. Benarkah anda tidak tahu bagaimana dengan perasaan anda?" tanya Stefano seraya mendekatkan wajahnya ke arah Ayaka.
Sontak saja hal itu membuat Ayaka bangun dan memundurkan langkahnya, Stefano terus saja melangkahkan kakinya agar dia bisa berdekatan dengan wanita itu.
Namun, Ayaka terus aja memundurkan langkahnya sampai tubuh wanita itu terpentok ke tembok. Stefano tersenyum, lalu dia mengungkung pergerakan wanita itu.
"Kak! Mau ngapain?" tanya Ayaka dengan gelisah, karena wajah mereka sangatlah dekat.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan kamu sama aku," ujar Stefano yang semakin mendekatkan wajahnya ke arah Ayaka. Stefano bahkan terlihat menunduk, dia seolah hendak mencium bibir Ayaka.
Ayaka langsung memejamkan matanya dengan kuat, lalu dia menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya agar bibir Stefano tidak menyatu dengan bibirnya.
Stefano langsung tertawa ketika Ayaka melakukan hal itu, karena nyatanya Stefano bukan mau mencium bibir wanita itu. Stefano masih sangat tahu diri untuk tidak melakukan hal yang tidak tidak terhadap wanita.
Stefano melakukan hal itu hanya ingin mengetahui debaran jantung dari wanita itu, jika jantung Ayaka berdebar dengan begitu cepat ketika mereka berdekatan, itu artinya Ayaka juga mencintai dirinya.
__ADS_1
"Kenapa malah tertawa?" tanya Ayaka dengan heran.
"Karena aku sangat bahagia, ternyata kamu juga mencintai aku." Stefano tersenyum penuh arti karena dia mendengar debaran jantung gadis kecilnya dengan begitu cepat.