
Jawaban yang terlontar dari bibir Stefano terdengar begitu menyebalkan di telinga Ayaka, pada akhirnya wanita itu hanya terdiam seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Entah karena dari sikap Stefano atau entah karena dirinya yang sedang menstruasi, karena setiap kali Ayaka melihat wajah Stefano, apalagi mendengar kata yang keluar dari mulut pria itu, Ayaka selalu saja merasa kesal.
Namun, dia berusaha untuk mengontrol emosinya dengan diam. Dia tidak mau banyak bicara karena takut nantinya akan marah kembali dengan pria itu.
Tidak lama kemudian Stefano nampak memberhentikan mobilnya tepat di hadapan sebuah rumah, rumah mewah yang berada tepat di samping rumah Aruna.
Ayaka sempat mengernyitkan dahinya, dia merasa heran karena Stefano membawa dirinya ke tempat tersebut.
Ayaka tidak berkata apa pun, dia hanya mampu menatap rumah itu dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan. Ada masa di mana dia begitu sengsara ketika berada di rumah tersebut, masa di mana dia kehilangan momen manis ketika usianya masih sangat kecil.
Tanpa banyak bicara Stefano langsung turun dari mobilnya, kemudian dia membukakan pintu gerbangnya lalu kembali masuk ke dalam mobil dan memarkirkan mobil tersebut tepat di hadapan rumah itu.
"Aku ingin mengajak kamu ke dalam rumah itu, mau?" ajak Stefano.
Stefano menatap wajah Ayaka dengan ketar-ketir, dia takut jika wanita itu tidak mau masuk ke dalam rumahnya karena memang banyak kenangan buruk di sana.
Dulu Stefano memang terdiam, tetapi bukan berarti dia tidak tahu bagaimana cara Adin memperlakukan gadis kecil itu.
Ibunya memperlakukan Ayaka dengan begitu kejam, hanya saja saat itu dia masih sangat kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa melindungi Ayaka kala itu.
"Untuk apa kamu ngajakin aku ke rumah ini?" tanya Ayaka setelah cukup lama terdiam.
Banyak pertanyaan yang kini terlintas di dalam otaknya, kenapa Stefano ingin mengajak dirinya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Apa yang ingin Stefano tunjukkan kepada dirinya di rumah tersebut, memangnya Stefano bisa masuk ke dalam rumah itu, apa dia mempunyai kuncinya.
Namun, jika dipikirkan lagi Stefano bisa membuka pintu gerbang rumah itu. Tentunya Stefano mempunyai kuncinya, lalu siapa Stefano dan apa hubungannya Stefano dengan rumah itu, pikirnya.
Belum genap satu hari dulu dia diadopsi oleh Aruna, tetapi rumah itu keesokan harinya sudah terlihat kosong. Entah ke mana penghuni rumah tersebut, Ayaka tidak tahu.
Walaupun dulu dia diperlakukan dengan tidak baik oleh Andin, tetapi tetap saja dia selalu merindukan sosok pria yang selalu bersikap baik kepada dirinya.
Bahkan, sengaja Ayaka menyimpan coklat pemberian terakhir dari malaikat penyelamatnya itu. Tentunya dia berharap suatu saat bisa bertemu dengan pria itu kembali.
__ADS_1
Dia ingin berterima kasih, bahkan kalau bisa dia ingin membalas budi kepada pria itu. Karena dulu di saat dia menderita, pria itu tidak ikut membenci ataupun memperlakukan dirinya dengan tidak baik.
Namun, pria itu berusaha untuk bersikap baik kepada dirinya. Bahkan, terkesan lebih menyayangi dirinya dan mengasihinya.
"Aku hanya ingin memberitahukan kamu sesuatu, mau ikut denganku atau tidak?" ajak Stefano lagi.
Pria itu bahkan kembali turun dari dalam mobilnya dan membukakan pintu untuk Ayaka. Untuk sesaat Ayaka terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia turun dari dalam mobil itu lalu menganggukan kepalanya.
Terus tenang saja dia begitu merasa penasaran, daripada nanti penasarannya tidak terobati, lebih baik dia ikut bersama Stefano untuk masuk ke dalam rumah tersebut, pikirnya.
Tentunya hal itu dilakukan agar dia mengetahui apa yang ingin Stefano bahas, apa yang ingin Stefano tunjukkan dan apa yang ingin Stefano lakukan.
"Terima kasih sudah mau menerima ajakanku, mari!" ajak Stefano seraya menuntun langkah Ayaka untuk masuk ke dalam rumah itu.
Setelah membuka kunci rumah tersebut, Stefano langsung menuntun Ayaka untuk masuk ke dalam rumah itu. Jantung Ayaka sempat berdebar dengan begitu kencang saat masuk ke rumah itu.
Tentunya karena dia teringat ketika dirinya yang seakan menjadi budak saat tinggal di dalam rumah tersebut, semua penderitaan yang sempat dia lalui di sana muncul kembali dalam ingatannya.
Raut wajah Ayaka berubah muram, Stefano merasa bersalah dibuatnya. Akan tetapi, dia tidak mengurungkan niatnya untuk menunjukkan siapa dirinya.
Ingatan tentang masa lalunya membuat Ayaka susah untuk bernapas, bahkan kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit. Begitupun dengan hatinya.
Melihat wajah Ayaka yang murai tidak nyaman saat berada di rumah itu, Stefano menghela napas panjang. Lalu dia mengeluarkannya dengan perlahan, tidak lama kemudian dia mulai bersuara kembali.
"Di sini dulu aku bertemu dengan kamu, gadis kecil. Apakah kamu belum juga mengingat siapa aku?" tanya Stefano seraya memandang wajah Ayaka dengan lekat.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, Ayaka terlihat begitu kaget. Karena yang biasa memanggil dirinya dengan sebutan gadis kecil adalah pria yang dulu menjadi malaikat penyelamat baginya.
Jika seperti itu apakah mungkin Stefano adalah malaikat penyelamatnya itu, pikirnya. Karena dari namanya pun memang sudah sama, hanya saja kini mereka kembali bertemu dengan perubahan di antara keduanya yang benar-benar sulit untuk dikenali.
Karena mereka berpisah selama enam belas tahun lamanya, waktu enam belas tahun bukanlah waktu yang sebentar.
"Gadis kecil? Bertemu di sini? Maksud kamu apa?" tanya Ayaka beruntun.
Stefano menggenggam tangan Ayaka, gadis itu hanya terdiam seraya menatap tangannya. Tangan yang Stefano genggam, karena ada getaran aneh yang kini terasa sampai ke dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku adalah Stefano, putra dari ibu Andin. Pria kecil yang dulu selalu ingin bermain dengan kamu, tetapi waktu untuk kita bermain sangatlah terbatas karena Ibu tidak suka melihat aku bermain dengan kamu," jawab Stefano.
Setelah mengatakan hal itu, Stefano nampak memperhatikan raut wajah wanita yang kini berada di hadapannya. Sungguh dia takut jika tiba-tiba saja Ayaka akan mengamuk dan memukuli dirinya.
"Kak Fano? Kamu, Kak Fano?" tanya Ayaka dengan antusias.
Stefano langsung menganggukkan kepalanya, karena pada akhirnya Ayaka mengingat siapa dirinya. Jika saja tidak malu rasanya Stefano ingin menarik lembut Ayaka ke dalam pelukannya, tapi dia takut jika Ayaka akan marah.
"Ya, aku adalah Fano. Kamu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, apakah kamu masih mau--"
Stefano terdiam, dia kebingungan Bagaimana cara dia mengatakan apa yang di dalam hatinya. Haruskah dia mengatakannya atau tidak, Stefano nampak dilema
Dia ingin mengungkapkan isi hatinya, tetapi takut jika Ayaka tidak mau menerima ungkapan isi hatinya tersebut, karena dia merupakan putra dari Andin.
Walau bagaimanapun juga perlakuan dari ibunya dulu sangatlah kejam, pastinya membekas di hati Ayaka.
"Mau apa, hem?" tanya Ayaka yang melihat Stefano malah terdiam tidak melanjutkan ucapannya.
Usia pria yang ada di hadapannya jelas sangat berbeda jauh dengan dirinya, pria itu lebih tua rujuh tahun dari dirinya. Namun, pria itu terlihat lebih pemalu.
Stefano sempat terdiam dalam waktu yang cukup lama, karena dia seolah sedang memikirkan apa yang harus dia katakan kepada Ayaka.
Setelah menghela napas beberapa kali untuk menenangkan kegugupan di dalam hatinya, akhirnya Stefano kembali bersuara.
"Jadi begini, kamu tahu gadis kecilku. Saat aku bertemu dengan kamu justru aku malah mencintai kamu, mungkin perasaan ini terdengar konyol, tetapi pada kenyataannya seperti itu. Aku mencintai gadis kecil berusia 5 tahun kala itu, perasaan itu bahkan terasa begitu nyata."
Stefano terdiam seraya memperhatikan wajah Ayaka, dia takut jika tiba-tiba saja Ayaka akan memukul dirinya setelah mendengar ungkapan perasaannya.
Namun, dia salah. Karena Ayaka nampak dia saja, Stefano kini lebih bingung harus berkata apa. Terlebih lagi ketika wanita itu menatap dirinya tanpa berkedip, grogi dan juga takut yang dia rasakan saat ini.
"Lalu?" tanya Ayaka dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
Stefano benar-benar ketakutan melihat wajah Ayaka yang seperti itu, dia takut dirinya akan ditolak mentah-mentah oleh wanita itu. Wanita yang selama ini sangat dia rindukan dan ingin dia ketahui keberadaannya.
"Jika diberikan kesempatan, aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku. Apakah kamu bersedia?" tanya Stefano pada akhirnya.
__ADS_1
Dia sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, dia tidak mau menyembunyikan rasa itu lagi. Dia ingin mengeluarkannya walaupun nantinya Ayaka akan menolak dirinya dia tidak peduli, yang terpenting dia sudah merasa tenang karena mengungkapkan isi hatinya.