
Setelah mengetahui jika ingatan Anaya sudah pulih, Kenzo langsung meminta Sigit dan juga Aruna untuk melamar pujaan hatinya itu. Kenzo meminta kedua orang tuanya untuk melamar Anaya pada Alan, karena walau bagaimanapun juga Alan yang sudah mengurus Anaya selama ini.
Tentu saja Aruna menyetujuinya, bahkan Aruna langsung menghubungi Sigit, keluarga besar Dinata dan juga keluarga besar Siregar untuk datang ke kota Sorong.
Setelah semuanya datang, acara lamaran langsung dilakukan. Alan bahkan sampai memasang pelampang di halaman rumahnya, karena keluarga besar Kenzo sangatlah banyak.
Acara lamaran itu sudah layaknya acara pernikahan, karena sangat ramai dan juga meriah. Karena Satria dan juga Steven tiba-tiba saja membagikan ampau untuk anak-anak nelayan di sana.
Hal itu dilakukan oleh kedua kakek dari Kenzo itu sebagai bentuk syukur, karena pada akhirnya cucu kesayangan mereka bisa bersatu dengan cinta pertamanya.
"Bagaimana, Naya? Apa kamu akan menerima lamaran aku?" tanya Kenzo.
Walaupun Kenzo sangat tahu jika Anaya begitu mencintai dirinya, tetapi tetap saja dia takut jika Anaya akan menolak lamarannya. Namun, ketakutannya tidak berlangsung lama.
Karena tidak lama kemudian Anaya nampak menganggukkan kepalanya, Kenzo langsung melebarkan senyumannya.
"Ya, aku menerimanya," jawab Anaya.
Ah! Kenzo sangat senang sekali, jika saja tidak ada banyak orang di sana. Kenzo rasanya ingin langsung memeluk dan mencium bibir Anaya.
"Terima kasih, Naya. Nikahnya besok ya?" ujar Kenzo.
Anaya langsung mengerjapkan matanya dengan tidak percaya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena bisa-bisanya pria itu mengajak dirinya untuk segera menikah.
Bukan dalam itungan minggu, tetapi hanya satu hari saja setelah lamaran dilakukan. Ini sangat gila, tetapi Anaya suka.
"Eh? Kok cepet banget? Memangnya bisa?" tanya Anaya.
Satria dan juga Steven terlihat saling pandang mendengar pertanyaan dari Anaya, tidak lama kemudian mereka tersenyum dan berkata.
"Bisa!" jawab Satria dan Steven secara bersamaan.
Mendengar jawaban kedua kakek tua itu, semua orang yang ada di sana nampak tertawa. Berbeda dengan Anaya yang malah tersenyum malu-malu, karena sebentar lagi dia akan sah.
"Oiya, Ken. Memangnya gaun pengantinnya sudah ada?" tanya Anaya.
Untuk gaun pengantin adalah hal yang mudah, karena di zaman sekarang ini banyak gaun pengantin yang sudah jadi dan tinggal dibayar saja.
''Setelah acara lamaran selesai kita akan beli," jawab Kenzo.
__ADS_1
"Ya ampun!" ujar Anaya.
Keesokan harinya.
Acara pernikahan yang ditunggu-tunggu kini sudah dilaksanakan, mereka menikah di sebuah resort mewah yang ada di kota Sorong.
Kedua insan rupawan berbeda jenis kelamin itu terlihat begitu bahagia sekali, keduanya bahkan terlihat sedang berfoto dengan keluarga mereka.
Mengabadikan momen kebersamaan dan momen pernikahannya dengan Anaya adalah sebuah keharusan. Agar nantinya setelah memiliki anak dan juga cucu, ada kenangan yang bisa Kenzo bagikan.
"Yang, senang banget deh akhirnya bisa nikah sama kamu." Kenzo menggenggam kedua tangan istrinya.
Jangankan Kenzo, Anaya tentunya merasakan hal yang sama. Karena Anaya sudah mencintai pria itu sejak lama, cinta yang dulu bertepuk sebelah tangan kini bisa bersatu di dalam ikatan suci pernikahan.
"Naya juga seneng, makasih sudah memberikan cinta yang begitu besar kepada Naya," ujar Anaya dengan tulus.
Keduanya saling pandang, mereka tersenyum karena merasa bahagia akhirnya bisa menikah. Ikatan cinta yang dulu tidak bisa menyatu, kini akhirnya bisa tersatukan dalam ikatan suci.
"Ehm! Masih siang, jangan saling tatap kaya gitu. Nanti khilaf, masih banyak tamu. Jangan bikin jomblo kaya gue ngiri," ujar Aman yang langsung duduk di antara kedua pengantin baru itu.
Anaya langsung tertawa karena merasa lucu dengan tingkah Aman, pria yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Pria yang selalu berusaha untuk memberikan perhatian yang begitu lebih kepada dirinya.
"Naya udah jadi bini gue, elu ngga boleh nempel-nempel kaya gitu."
Mendapatkan Anaya sangatlah susah, Kenzo tidak mau jika Anaya menempel kepada pria lain. Walaupun Aman adalah kakak bagi Anaya, tetapi tetap saja Aman adalah seorang pria.
"Astagfirullah, Ken. Gue abangnya," ucap Aman seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue ngga peduli, walaupun elu bilang kalau Naya adalah adik elu, tetapi gue tetap cemburu. Karena dilihat dari sisi mana pun juga, elu adalah lelaki."
"Ya ampun!" keluh Aman disertai tawa.
Posesif dan juga cemburuan, itulah yang Aman bisa lihat dari sorot mata Kenzo. Mungkin karena memang seperti itulah sikap lelaki yang benar-benar mencintai wanitanya, pikir Aman.
"Udah sono gabung ama yang lain, jangan gangguin gue sama Naya." Kenzo mendorong Aman agar menjauh dari panggung pelaminan.
Aman hanya bisa menggelengkan kepalanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kenzo, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa bahagia karena sahabatnya sudah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bahkan, dia juga merasa bahagia karena adik sepupunya menikah dengan sahabatnya sendiri. Dia sudah sangat tahu bagaimana baiknya Kenzo, Aman yakin jika Kenzo pasti akan bisa membahagiakan Anaya.
__ADS_1
Terlebih lagi setelah Aman tahu bahwa ternyata selama ini Kenzo tidak pernah mendekati wanita karena begitu mencintai Anaya, hal itu membuat Aman merasa lebih yakin jika Anaya dan juga Kenzo pasti akan bahagia menjalani hidupnya.
"Iya, gue bakal pergi. Semoga kalian berbahagia," ujar Aman.
Beberapa saat kemudian.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, acara resepsi pernikahan sudah berakhir. Semua anggota keluarga sudah masuk ke dalam resort yang ada di sana, tentunya sesuai dengan kamar pesanan mereka masing-masing.
Begitupun dengan pasangan pengantin baru itu, keduanya sudah masuk ke dalam resort yang paling mewah yang ada di sana.
Resort tersebut sudah disulap menjadi kamar pengantin, kamar yang dipesan tepat di dekat pantai. Jika Kenzo membuka jendela, maka pemandangan laut akan terlihat dengan begitu indah.
"Ehm! Naya, aku bantu kamu lepasin gaun pengantinnya ya?" ujar Kenzo saat melihat istrinya sedang duduk di depan meja rias.
"Iya, Ken. Tapi tolong bantu aku untuk lepasin aksesoris yang ada di kepala aku dulu, berat tahu." Anaya menuntun tangan Kenzo agar membantu dirinya untuk membuka aksesoris yang menempel di atas kepalanya.
"Iya, Sayang. Aku pasti bantu," ujar Kenzo
Kenzo menuruti keinginan dari istrinya tersebut, setelah berhasil membantu istrinya melepaskan semua aksesoris yang ada di atas kepalanya, Kenzo juga membantu menyisir rambut wanita itu yang nampak kusut.
Setelah itu, barulah pria itu membantu Anaya untuk membuka gaun pengantin yang dipakai oleh wanita itu.
Ah! Kepala atas bawah Kenzo langsung cenat-cenut ketika melihat tubuh Anaya yang hampir polos, karena setelah gaun pengantin itu lolos, wanita itu ternyata hanya menggunakan bra dan juga segitiga pengaman saja.
"Yang, kamu sangat seksi," puji Kenzo seraya memperhatikan lekuk tubuh istrinya.
Anaya nampak malu-malu mendapatkan tatapan seperti itu dari Kenzo, tatapan penuh cinta dan juga tatapan penuh hasrat.
"Jangan liatin aku kaya gitu, Yang. Ayo mandi, aku sudah gerah."
Anaya hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tetapi Kenzo malah menggendong istrinya dan merebahkan wanita itu di atas tempat tidur.
"Yang!" pekik Anaya.
"Jangan berisik, Yang. Berisiknya nanti aja kalau udah aku ajak main kuda-kudaan," ujar Kenzo yang langsung menunduk lalu mengecup bibir istrinya dengan mesra.
Wajah Anaya langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, Kenzo terlihat begitu gemas dan langsung mencium bibir istrinya dengan penuh kasih.
"Ngh!" lenguh Anaya ketika tangan Kenzo mulai meremat kedua dadanya.
__ADS_1