Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 9


__ADS_3

Kenzo memang merasa kasihan kepada Anisa, tetapi sengaja dia mengabaikan wanita itu. Karena dia ingin memberikan pelajaran berharga kepada Anisa.


Kenzo sengaja segera tidur, karena memang sudah merasa begitu lelah. Dia merasa lelah hati dan juga pikirannya, bahkan boleh dibilang jika tubuhnya juga masih merasa lelah karena efek obat yang diberikan oleh Anisa masih ada.


Anisa sesekali memperhatikan wajah Kenzo yang terlelap dalam tidurnya, ada rasa bahagia karena pria itu sudah menjadi suaminya. Namun, dia juga merasa kesal karena Kenzo terkesan mengacuhkan dirinya.


Bukannya Anisa ingin digauli oleh Kenzo, karena jika Kenzo menggauli dirinya dalam keadaan sadar, sudah dapat dipastikan jika pria itu pasti akan mengetahui jika dirinya masih perawan.


Untuk urusan tidur bersama, tentunya Anisa sudah mempunyai banyak rencana. Dia sudah berencana akan membuat Kenzo menidurinya dengan membelikan jamu yang sudah ditunjukan oleh temannya.


Namun, setidaknya untuk saat ini Kenzo seharusnya bisa memanjakan dirinya, atau mungkin mereka bisa bercanda bersama. Tertawa bersama dan merapikan rumah bersama-sama, walaupun emang rumah itu terlihat begitu kecil sekali.


"Kenapa kamu malah tidur, Ken? Seharusnya kamu bantu aku dulu," ucap Anisa.


Setelah selesai merapikan baju miliknya dan juga baju milik Kenzo, dia juga merapikan alat-alat kecantikan miliknya yang memang tidak banyak itu.


Setelah selesai dia nampak menghampiri Kenzo, pria itu tidur dengan begitu nyaman dan lelap. Bahkan, kasur yang terlihat kecil itu dikuasai oleh Kenzo sendirian.


"Aku harus tidur di mana? Kasurnya saja tidak akan muat," ucap Anisa dengan kebingungan.


Sebenarnya Arin dan juga Surya memiliki usaha yang cukup maju di kampungnya. Boleh dikatakan Surya itu adalah orang berada, walaupun tinggal di kampung tetapi Arin tidak pernah mengalami hidup susah.


Arin selalu berusaha untuk memanjakan Anisa, dia berusaha untuk mengabulkan apa pun keinginan dari putri semata wayangnya itu.


Dulu Arin hidup susah, maka dari iti dia selalu berusaha untuk membahagiakan putrinya. Hal itu dia lakukan agar Anisa tidak pernah mengalami kesusahan seperti dirinya.


Maka dari itu, kini Anisa kebingungan karena harus tinggal di kontrakan sempit seperti itu. Kontrakan yang besarnya hanya seukuran kamar mandi di kediman Aruna.


Namun, saat ini dia sudah merasa lelah. Dia ingin istirahat, tetapi bingung harus tidur di mana. Rasanya kalau tidur di lantai pasti akan kedinginan, pada akhirnya Anisa mengambil selimut dan menggelarnya tempat di dekat Kenzo.


Dia usap puncak kepala Kenzo dengan lembut, bahkan dia usap pipi pria itu. Kenzo yang merasa terganggu langsung menggeliatkan tubuhnya, Anisa dengan cepat menurunkan tangannya.


"Kamu itu ganteng banget, Ken. Nisa suka," ujar Anisa.


Setelah mengatakan hal itu, dia membuka hijabnya dan merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Bahkan, hatinya pun merasa lelah karena pria itu malah mengabaikan dirinya.


"Kamu itu sudah menikahi aku, Ken. Tapi sayangnya, kenapa aku merasa tidak bisa memiliki kamu," ujar Anisa.


Setelah mengatakan hal itu, Anisa nampak berusaha untuk memejamkan matanya. walau memang terasa sulit, karena dia harus tidur di atas selimut.


Bahkan, tidak ada ac di dalam kamar tersebut. Hanya ada kipas angin berukuran kecil saja, tentunya hal itu membuat Anisa kegerahan. Dia bahkan harus membuka jendelanya agar ada udara yang masuk.


Keesokan harinya.


Kenzo terbangun dari tidurnya, saat melihat Anisa yang hanya tidur di atas selimut saja rasanya Kenzo merasa kasihan. Dia dengan cepat bangun dan memindahkan Anisa ke atas tempat tidur tersebut.

__ADS_1


"Maaf, tapi kamu harus mendapatkan pelajaran. Jika tidak, kamu tidak akan sadar jika apa yang sudah kamu lakukan adalah hal yang salah," ujar Kenzo.


Setelah itu, dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia juga ingin segera melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, sengaja dia tidak membangunkan Anisa.


Biarlah mereka shalat sendiri-sendiri, pikirnya. Karena ruangan tersebut juga kecil dan tidak mau jika untuk shalat berjamaah bersama. Kecuali kalau kasur busa yang ada di dalam kamar itu diangkat terlebih dahulu dan di sandarkan pada tembok.


Selesai shalat, barulah dia membangunkan Anisa dia meminta Anisa untuk segera mandi dan melaksanakan shalat subuh.


"Kamu sudah shalat?" tanya Anisa saat melihat Kenzo yang terlihat sangat tampan dengan rambutnya yang nampak basah.


"Sudah, sudah mandi juga. Kamu mau mandi sekarang apa mau olah raga pagi dulu?" tanya Kenzo.


Kenzo yang jarang bicara kini nampak cerewet, tetapi hal itu menjadi tidak menyenangkan hati Anisa.


"Olah raga pagi gimana?'' tanya Anisa yang masih belum sepenuhnya sadar karena baru bangun dari tidurnya.


"Olah raga pagi di atas kasur," jawab Kenzo yang mulai menarik resleting depan gamis yang dipakai oleh istrinya.


"Eh? Ngga mau, aku baru bangun dan bau. Aku mau mandi aja, nanti keburu abis juga waktu shalatnya." Anisa langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi.


Kenzo tersenyum penuh arti, lalu dia nampak keluar dari dalam kamar kontrakannya. Dia duduk di atas teras seraya membayangkan apalagi yang akan dia lakukan terhadap Anisa.


Di saat Anisa sedang melaksanakan apa yang di minta oleh Kenzo, pria itu dengan cepat meminta pelayan untuk mengantarkan beberapa liter beras, telur, sayuran, mie instan dan juga baso serta sosis.


Kenzo juga minta dibawakan gula, teh dan camilan. Karena memang tadi malam Kenzo hanya membawa pakaian dan juga beberapa barang penting miliknya saja.


Lima belas menit kemudian pelayanan nampak mengetikkan pesan chat kepada Kenzo, pria itu langsung tersenyum dibuatnya.


"Saya sudah sampai di tempat yang tidak jauh dari kontrakan."


Kenzo tersenyum, lalu dia terlihat hendak pergi dari rumah kontrakan tersebut. Akan tetapi, saat dia hendak keluar dari dalam gerbang kontrakan, Anisa nampak keluar dari dalam dan menghampiri Kenzo.


"Mau ke mana Kak?"


"Mau beli sayuran bentar, kamu tunggu aja di dalem. Udaranya masih sangat dingin," ujar Kenzo.


"Iya, Kak," jawab Anisa.


Wanita itu dengan cepat masuk ke dalam kontrakan, setelah memastikan Anisa masuk ke dalam kontrakan Kenzo dengan cepat berjalan untuk menghampiri pelayan.


Setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, Kenzo dengan cepat kembali untuk menemui Anisa.


Anisa sampai kaget dibuatnya, karena belum lama Kenzo pergi, tetapi pria itu sudah datang dengan membawa dua tentengan besar di tangan kanan dan juga kirinya.


"Kakak bawa apa? Kenapa banyak sekali bawaannya?" tanya Anisa.

__ADS_1


"Bawa keperluan dapur, biar nanti kamu nggak usah beli makanan jadi. Bisa masak sendiri di rumah," jawab Kenzo.


Anisa terlihat begitu kaget sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena Anisa mengira jika wanita itu akan di belikan makanan di luar.


Bukan disuruh masak seperti itu oleh suaminya tersebut, Kenzo langsung tersenyum melihat reaksi dari Anisa.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Kenzo seraya membuka lemari pendingin.


Lalu, pria iti menata bahan masakan yang sudah dibawakan oleh pelayan. Anisa yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Kenzo langsung menyahuti ucapan dari suaminya.


"Ah! Tidak apa-apa, Kak. Lalu, aku harus melakukan apa sekarang?" tanya Anisa.


"Kamu masak nasi gih, biar nanti kalo laper tinggal makan aja. Untuk lauknya, di sini ada telur. Nanti kamu bisa ceplok telor, kalau ngga, kamu bisa masak mie instan atau mungkin kamu juga bisa numis sayuran," ujar Kenzo.


"Ngga beli aja?" tanya Anisa.


"Ngga usah beli, di sini ada banyak bahan makanan yang sudah aku beli," ucap Kenzo.


Ingin sekali dia melayangkan protesnya, tetapi Anisa tidak bisa melakukannya. Karena dia takut jika Kenzo akan ilfil kepada dirinya.


"Iya, Kak," jawab Anisa yang langsung mengambil beras dari tangan Kenzo.


"Oiya, Nisa. Aku mau pergi, kamu baik-baik di rumah," ujar Kenzo.


''Kakak mau ninggalin aku?" tanya Anisa.


Takut sekali rasanya Anisa, dia takut jika Kenzo akan meninggalkan dirinya. Karena memang pria itu terlihat tidak menyukai dirinya, bahkan setelah kejadian malam kemarin Kenzo dirasa semakin dingin.


Jika dalam hal berbicara pria itu memang kini sudah sering berbicara dengan dirinya, tetapi Anisa melihat tatapan yang berbeda dari pria itu.


"Tidak, aku hanya akan pergi untuk mencari pekerjaan," jawab Kenzo.


Pekerjaan?


Bukannya Kenzo akan bekerja di sebuah perusahaan tambang batubara yang akan dibeli oleh Satria, pikirnya. Lalu, kenapa juga Kenzo kini malah ingin mencari pekerjaan.


"Loh, katanya Kakak akan bekerja di Papua? Ngga jadi?" tanya Anisa.


"Kata kakek butuh waktu yang cukup lama untuk mengurus izin usaha di sana, jadi aku harus mencari pekerjaan untuk bisa menafkahi kamu."


Alasan?


Tentu saja itu hanyalah sebuah alasan, karena pada kenyataannya saat ini Satria memang sedang terbang ke pulau yang terkenal dengan burung cendrawasih itu. Dia sedang mengurusi jual beli perusahaan milik sahabat dari Kenzo itu.


Satria bahkan sudah menyiapkan rumah untuk tempat tinggal cucunya di sana, rumah yang tidak terlalu besar tetapi terlihat begitu nyaman untuk ditinggali.

__ADS_1


"Gitu, ya?" tanya Anisa dengan sedih.


__ADS_2