
Berkali-kali Aruna mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya, tetapi tetap saja dia merasakan sakit hati yang luar biasa. Terlebih lagi setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Rachel.
Rasanya Aruna ingin segera menemui Sam dan menampar wajahnya berkali-kali, sungguh pria itu sudah berani menyakiti hati putrinya dan Aruna tidak terima.
Aruna yang masih merasa kesal memutuskan untuk berendam dengan air hangat, setelah merasakan hatinya lebih tenang, Aruna langsung keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit sampai sebatas dada.
Dia tersenyum ketika melihat ada banyak paper bag yang tersimpan di atas sofa, saat Aruna memeriksa isi dari paper bag tersebut ternyata isinya adalah baju dan banyak perlengkapan lainnya.
Aruna juga sempat memperhatikan isi dari dalam kamar tersebut, ada banyak boneka dari yang berukuran kecil sampai ukuran besar. Saat Aruna membuka lemari pakaian yang ada di sana, ada banyak baju bayi dan juga aksesoris perempuan.
Aruna sampai meneteskan air matanya melihat akan hal itu, Rachel dan juga Satria pasti merasakan sedih yang luar biasa ketika kehilangan dirinya. Karena keduanya mempersiapkan semuanya dengan begitu baik sebelum kelahirannya ke dunia ini.
"Mereka benar-benar sangat baik," ucap Aruna seraya bersyukur di dalam hatinya karena ternyata dia dilahirkan dari keluarga yang begitu baik dan penuh kasih sayang.
Setelah mengatakan hal itu, Aruna dengan cepat mengeringkan rambutnya dan segera memakai baju yang sudah disiapkan. Lalu, dia bersiap untuk keluar dari dalam kamar tersebut.
Namun, baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, dia mendengar Ayana yang menangis. Suaranya terdengar memilukan dan menyayat hati. Aruna langsung menghampiri Ayana yang ternyata masih tidur, hanya saja anak itu mengigau di dalam tidurnya.
"Ayah JAHAT! Ay benci Ayah!" ucapnya dengan begitu pelan tapi penuh dengan penekanan.
Aruna benar-benar merasakan sakit yang luar biasa mendengar tangisan pilu dari bibir putrinya, terlebih lagi ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana.
Aruna merebahkan tubuhnya di samping putrinya, lalu dia menarik lembut ke putrinya ke dalam pelukannya. Dia usap puncak kepala putrinya dengan begitu lembut, dia yang begitu sedih terus saja menitikan air mata di kedua pipinya.
"Bunda janji, Sayang. Bunda akan membalas setiap goresan luka yang tertoreh di dalam hati kita berdua," ujar Aruna seraya mengecupi setiap inci wajah putrinya.
Tidak lama kemudian, Ayana terlihat tertidur kembali. Aruna menghela napas lega, lalu dia turun dari tempat tidur dan segera keluar dari kamar karena ingin menemui ayahnya.
Dia ingin meminta bantuan sang ayah untuk membalas rasa sakit hatinya, karena kini dia masih dalam keadaan kebingungan.
__ADS_1
"Ayah!" panggil Aruna ketika dia melihat Satria yang sedang duduk di ruang keluarga bersama dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
"Sini, Sayang. Ayah mau bicara," ucap Satria seraya menepuk sofa kosong tepat di sampingnya.
Aruna menuruti apa yang diinginkan oleh ayahnya tersebut, dia duduk tepat di samping ayahnya lalu tersenyum ke arah pria yang ada di hadapannya.
"Dia adalah pengacara keluarga kita, dia membawa akte cerai untuk kamu."
"Oh!" jawab Aruna.
Entah apa yang harus Aruna rasakan saat ini, bahagia atau sedih karena dengan mudahnya ayahnya bisa langsung memroses perceraian antara dirinya dan juga Sam.
"Jangan pernah bersedih karena sudah menjadi janda, karena ada Ayah, bunda dan semua keluarga yang menyayangi kamu."
"Iya, Ayah," jawab Aruna.
Untuk sesaat Aruna terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Satria, tetapi tidak lama kemudian Aruna tersenyum dan berkata.
"Biar aku saja yang memberikan akta cerai milik Sam, karena ada hal yang harus aku bicarakan dengan pria itu."
"Boleh, Sayang," jawab Satria dengan bangga. Karena itu artinya putrinya bisa mengendalikan perasaannya.
Aruna langsung memeluk Satria, dia bahkan mengucapkan terima kasih kepada ayahnya tersebut. Lalu, dia membicarakan tentang apa yang harus dia lakukan untuk membalas perbuatan Sam.
Di lain tempat.
Sam terlihat begitu kelelahan karena mencari Aruna, tetapi dia tidak juga menemukan wanita yang masih dia anggap sebagai istrinya tersebut, pada akhirnya Sam memutuskan untuk pulang ke kediaman Rahardi.
"Sam! Kamu sudah pulang? Mana Aruna dan Ay?" tanya Almira ketika melihat kedatangan putranya.
__ADS_1
Sam langsung berlutut di kaki ibunya, lalu dia memeluk kaki ibunya dengan begitu erat. Sam bahkan menangis sesenggukan, karena dia merasa sangat hancur ketika mengingat Ayana yang menangis dan menatap dirinya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Aku belum menemukannya, tadi aku sempat bertemu dengan Ay. Tapi aku tidak menemukan Aruna, saat aku mencari ke kediaman orang yang mengaku ayahnya, aku juga tidak menemukan Aruna di sana," adu Sam.
Almira langsung mendorong tubuh Sam, putra semata wayangnya itu langsung jatuh terjungkal. Karena memang Sam dalam keadaan tidak siap.
"Orang tua Aruna? Siapa orang tua Aruna? Apakah Arimbi bukan orang tua Aruna?" tanya Almira dengan kaget.
Sebenarnya Almira pernah memperhatikan wajah Aruna saat pertama kali menjadi menantunya, wajah Aruna seakan tidak asing. Almira seakan pernah melihat wajah itu, tapi di mana dia lupa.
"Setelah aku bertanya kepada orang sekitar, ternyata Aruna adalah putri sulung dari keluarga Dinata yang hilang dua puluh delapan tahun yang lalu." Sam berusaha untuk bangun setelah menjawab pertanyaan dari ibunya.
Mendengar kata keluarga Dinata, Almira langsung teringat kepada Satria Putra Dinata. Anak sulung dari Larasati, saat Almira kuliah di luar negeri, saat itu dia satu kampus dengan Satria.
Hanya saja dia tidak akrab dengan Satria, karena pria tampan itu seakan menutup diri dari perempuan mana pun yang pernah dia temui. Setelah dia mencari tahu, ternyata Satria sudah mempunyai pujaan hati di tanah air.
"Keluarga Dinata? Ya Tuhan! Pantas saja aku seakan pernah melihat wajah Aruna, ternyata dia anaknya Satria. Pasti Satria, karena wajahnya begitu mirip dengan Satria," ujar Almira.
Almira juga bahkan sempat melihat beberapa kali kabar hilangnya putri sulung dari Satria, karena memang berita penculikan Aruna saat itu sangat santer diberitakan.
Namun, karena begitu kecewa Aruna yang tidak kunjung ditemukan, akhirnya Satria memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Dia bersama dengan istrinya melanjutkan kehidupannya di sana.
"Mom mengenalnya?" tanya Sam dengan kaget.
"Tentu saja aku mengenalnya, mati kamu Sam. Aruna bukan anak orang sembarangan!" kesal Almira seraya meninggalkan Sam dengan penuh kekesalan.
Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak, dengan cepat dia masuk ke dalam kamarnya karena tidak ingin pingsan di hadapan putranya. Selepas kepergian ibunya, Sam langsung duduk di atas sofa.
"Astaga! Jadi benar jika Aruna adalah anak dari keluarga Dinata yang hilang? Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Sam dengan bingung.
__ADS_1