Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 154


__ADS_3

Pada awalnya Ayaka dan juga Stefano memang berencana akan melakukan malam pertama mereka setelah melakukan shalat isya dan juga shalat sunat dua rakaat, tetapi nyatanya hal itu tidak terjadi.


Karena Stefano dengan tidak sabarnya langsung memerawani sang istri, Ayaka yang mendapatkan serangan kenikmatan nyatanya tidak bisa menolaknya.


Walaupun memang benar yang dikatakan banyak orang, pertama kali dia melakukannya ternyata memanglah sangat sakit. Namun, setelahnya dia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.


Setelah puas bercinta, barulah keduanya mandi wajib dan melaksanakan kewajibannya terhadap sang Khalik. Tentunya Ayaka yang merasakan kesakitan pada area intinya merendam tubuhnya terlebih dahulu menggunakan air hangat.


Tidak seperti Stefano yang bisa langsung shalat isya, wanita itu dengan sabar menunggu hingga area intinya terasa lebih baik.


"Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku," ujar Stefano.


Kini keduanya sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, keduanya nampak kelelahan. Mengantuk dan juga tentunya ingin segera memejamkan matanya.


"Sama-sama," jawab Ayaka seraya memeluk suaminya dan menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Mata Ayaka sudah sangat mengantuk, dia bahkan langsung memejamkan matanya. Bahkan, tidak lama kemudian Ayaka nampak terlelap dalam tidurnya.


Stefano tersenyum kala mendengar dengkuran halus dari bibir istrinya, dia menunduk lalu mengecup bibir istrinya. Kemudian, dia ikut memejamkan matanya.


Sungguh dia merasa bahagia karena akhirnya Stefano bisa memerawani istrinya, dia bahagia karena ternyata dirinya merupakan orang pertama yang menyentuh istrinya.


Keesokan paginya.


Ayaka nampak duduk dengan wajah cemberut, dia merasa kesal karena pagi-pagi sekali Ayana sudah datang ke kediamannya. Wanita itu terus saja bertanya tentang bagaimana rasanya malam pertama.


Bukannya dia tidak ingin menjawab pertanyaan dari kakaknya tersebut, tetapi rasanya dia sangat malu untuk menceritakan hal seperti itu kepada Ayana.


"Dek! Kamu tuh pelit banget," ucap Ayana dengan wajah yang cemberut.


Sengaja Ayana datang pagi-pagi karena memang ingin menanyakan hal seperti itu kepada adiknya, hal itu dia lakukan agar dia memiliki persiapan ketika nantinya dirinya menikah dengan Sandi.


Dia juga ingin tahu bagaimana caranya malam pertama, sungguh dia merasa penasaran akan hal itu dan membuat dirinya tidak bisa tidur.


"Haish! Kak, Aya malu ih. Nanyanya yang lain aja," protes Ayaka.

__ADS_1


Ayana memonyongkan bibirnya karena kesal terhadap adiknya, bisa-bisanya adiknya itu merasa malu terhadap dirinya.


"Tapi kan' Kakak pengen tau," jawab Ayana.


Ayana terus saja merengek meminta jawaban kepada adiknya tersebut, tetapi Ayaka begitu malu untuk menceritakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Stefano kepada kakaknya tersebut.


Menurut Ayaka, apa yang terjadi di antara dirinya dan juga Stefano merupakan hal yang privasi. Tidak bisa dibicarakan begitu saja, walaupun Ayana adalah kakaknya.


"Nanti Kakak juga bakal merasakannya," ucap Ayaka.


Pernikahan antara Ayana dan juga Sandi akan berlangsung dua minggu lagi, daripada dia menceritakan secara gamblang kepada kakaknya tersebut, lebih baik kakaknya itu merasakannya sendiri.


"Iya juga sih, tapi tetep aja penasaran." Ayana menghela napas panjang, lalu dia melahap makanan yang ada di piring adiknya.


Ayaka langsung membulatkan matanya dengan sempurna, dia merasa jika tingkah kakaknya tersebut benar-benar sangat aneh dan membuat dirinya sangat kesal.


Kelakuan dari kakaknya itu tidak terlihat seperti biasanya, Ayana datang dan menjelma seperti sosok yang tidak dikenal oleh Ayaka.


"Kakak, itu makanan aku. Kakak kalau mau makan ngendok sendiri," protes Ayaka.


Ayana terlihat begitu kaget mendapatkan teguran dari adiknya tersebut, karena biasanya juga mereka sering makan sepiring berdua.


''Ya ampun, Dek. Kamu beneran pelit," ujar Ayana yang langsung mengambil piring kosong dan menggendok nasi lengkap dengan lauknya.


Ayaka tertawa jadinya, bukan karena dia pelit. Namun, nyatanya makanan itu sudah dia makan. Ada bekas jigongnya, rasanya tidak pantas dimakan oleh Ayana.


"Jangan marah, Kak. Aya sayang Kak Ay," ujar Ayaka seraya memeluk tubuh kakak kesayangannya itu.


Walaupun hati Ayana masih terasa kesal, tetapi dia dengan cepat menampilkan senyum terbaik untuk adiknya tersebut.


"Hem! Kakak juga sayang Aya, tapi kamu pelit." Ayana tetap saja mengungkit adiknya yang tidak mau bercerita kepada dirinya.


Stefano yang sejak tadi memperhatikan obrolan antara kakak dan adik itu nampak menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika Ayana terlihat begitu penasaran seperti itu.


"Dek! Kakak udah selesai sarapannya, Kakak kerja dulu. Oiya, kamu ngga bulan madu?" tanya Ayana.

__ADS_1


Ayana kembali bertanya kepada adiknya tersebut, kini Stefano sudah memegang perusahaan miliknya sendiri. Rasanya akan banyak waktu luang untuk bisa mereka pergi berbulan madu.


"Aku sih pengennya pergi ke puncak aja, tiga hari aja. Ngga usah lama-lama juga," ujar Ayaka.


Daripada harus pergi ke luar negeri, rasanya sayang karena harus mengeluarkan uang yang banyak. Walaupun Stefano tidak mempermasalahkan hal itu.


Namun, menurut Ayaka berlibur di tanah air juga tidak kalah menarik dengan berlibur di luar negeri. Selain murah, jarak tempuh yang dibutuhkan juga tidak terlalu lama.


"Kenapa ngga ke luar negeri aja?" tanya Ayana.


Ayana sangat yakin jika Stefano memiliki uang yang banyak, jika untuk berbulan madu ke luar negeri rasanya adalah hal yang tidak akan memberatkan Stefano.


"Kelamaan di jalan, Kak," jawab Ayaka sekenanya.


Ayana langsung tersenyum-senyum seraya menaik turunkan alisnya, wanita itu langsung menatap adiknya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Dasar! Pasti udah ngga sabar pengen--ehm!" ujar Ayana.


Ayaka yang sudah menikah tetapi Ayana yang malah membayangkan hal yang tidak-tidak, hal itu membuat Ayaka merasa begitu lucu.


"Haish! Kakak berisik! Sono pulang, gangguin penganten baru aja," ujar Ayaka dengan bibirnya yang sudah maju dua senti.


Kalau biasanya dia selalu merindukan Ayana, berbeda dengan hari ini. Rasanya kakaknya itu benar-benar sangat menyebalkan, Ayaka ingin segera mengusir kakaknya tersebut dari kediamannya.


"Iya, maaf. Kakak berangkat kerja dulu, selamat berenang!" ujar Ayana seraya berlalu dari ruang makan.


Ayaka nampak mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, karena jujur saja dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut.


Rumah yang dia tempati bersama dengan Stefano itu tidak besar, bahkan tidak ada kolam renangnya. Lalu, kenapa Ayana berkata seperti itu, pikirnya.


''Berenang?" tanya Ayaka dengan heran.


Stefano langsung menghampiri istrinya, lalu pria itu duduk tepat di samping istrinya dan merangkul pundak istrinya tersebut.


"Berenang di atas kasur, yuk?" ajak Stefano.

__ADS_1


Mata Ayaka langsung membulat dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, dia tidak menyangka jika yang dimaksud oleh kakaknya tersebut adalah hal seperti itu.


"Ya ampun!" ujar Ayaka seraya terkekeh.


__ADS_2