
Sigit dengan susah payah menahan hasratnya, karena Aruna seakan sengaja melakukan hal-hal yang diluar dugaannya. Padahal, kini mereka sedang berada di ruang keluarga. Bahkan, di sana banyak anggota keluarga yang sedang berkumpul.
Mulut Aruna memang sedang tertawa, kadang berbicara dengan lembut dan kadang dia bercanda dengan saudara-saudaranya yang ada di sana.
Sigit juga melakukan hal yang sama, terkadang dia akan menimpali obrolan dari keluarganya. Terkadang dia sendiri yang akan memulai pembicaraan, tentunya pembicaraan tentang apa yang berhubungan dengan keluarga mereka.
Namun, satu hal yang Sigit anehkan Aruna seakan sengaja memancing hasratnya. Karena terkadang tangan kanannya itu akan mengelus-elus pahanya, terkadang tangan kirinya juga menelusup di balik baju belakangnya dan mengelus punggungnya.
Semakin lama Sigit merasa semakin tidak kuat, lagi pula hari sudah semakin sore. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk saja ke dalam kamar utama, tentunya sebelum pergi dia berpamitan terlebih dahulu kepada seluruh anggota keluarganya yang ada di sana.
"Aku mau mandi dulu, gerah. Nanti kalau sudah mau maghrib aku akan keluar untuk melaksanakan shalat berjamaah," pamit Sigit.
Aruna tersenyum hangat ke arah suaminya seraya menganggukkan kepalanya, karena dia tidak mungkin menahan suaminya untuk terus berada di sana.
"Ya, pergilah!" jawab Aruna.
Pada akhirnya Sigit masuk ke dalam kamar utama, dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lalu, pria itu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tentunya setelah dia melepaskan bajunya terlebih dahulu.
Cukup lama dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, karena dia juga harus menenangkan si entong yang sudah bangun karena ulah dari Aruna.
Beruntung saat berada di ruang keluarga ada bantal sofa yang bisa dipakai untuk menutupi miliknya, kalau tidak bisa malu dia.
"Dasar, Nakal! Lihat saja nanti malam, kamu akan aku buat tidak bisa tidur," ujar Sigit mengingat kenakalan istrinya saat berada di ruang keluarga.
Selesai mandi dia langsung berganti baju dan duduk di atas sofa, dia berselancar dengan ponselnya sembari menunggu waktu shalat maghrib tiba.
"Ck! Jika saja tadi istriku tidak bersikap seperti itu, aku pasti tidak akan merasakan gairahku memuncak," ujar Sigit dengan tangannya yang terus aja berselancar dengan ponselnya.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan, di sana bukan hanya ada keluarga Dinata dan juga Siregar saja. Namun, di sana juga ada keluarga kecil Angel dan tentunya ada Sam.
Sam datang bersama dengan Ayaka dan juga Stefano, mereka datang bersama memenuhi undangan dari Aruna. Berbeda dengan Sandi yang datang sendiri, karena dia memang tidak memiliki kedua orang tua.
Iya, Aruna yang merencanakan acara makan malam untuk mengumpulkan semua anggota keluarga. Hal itu juga dia lakukan sebagai bentuk rasa syukur karena sebentar lagi kedua putrinya akan menikah.
Bagi Aruna, Ayaka juga putrinya. Walaupun gadis itu terlahir dari rahim Angel, mantan pelakor di dalam rumah tangganya dulu, tetapi Aruna sangat menyayangi Ayaka.
Di saat acara makan malam berlangsung, sesekali terdengar obrolan yang serius saat membicarakan rencana pernikahan dari Ayaka dan juga Ayana.
Namun, sesekali terdengar obrolan yang mengandung canda dari ruang makan tersebut. Hal itu membuat ruang makan tersebut riuh dengan kebahagiaan.
Akan tetapi, di sela kebahagiaan tersebut ada Anaya yang kini tidak terlihat begitu bahagia saat menatap Kenzo. Pria dingin yang selama ini dia sukai itu ternyata adalah putra dari Aruna dan juga Sigit.
Angel pernah menjadi pelakor di dalam rumah tangga Aruna, jika mengingat akan hal itu dia merasa jika dulu ibunya begitu hina. Rasanya dia sangat malu memiliki ibu seperti itu.
Walaupun itu hanya seulas masa lalu, tetapi tetap saja ada dampak yang ditimbulkan di masa sekarang. Namun, terlepas dari bagaimana masa lalunya Angel, Anaya kini sudah bisa menerima masa lalu ibunya tersebut.
Lagi pula semuanya sudah berlalu, walaupun memang masih ada rasa malu dan enggan ketika ada orang yang membahas tentang masa lalu dari ibunya tersebut.
Atau ada rasa enggan ketika dia berhadapan dengan orang-orang yang berkaitan dengan masa lalu ibunya, seperti Aruna yang merupakan masa lalu dari ibunya itu.
'Sepertinya gue harus tahu diri,' ujar Anaya dalam hatinya.
Selesai acara makan malam, semuanya nampak berkumpul di taman yang ada di belakang rumah. Taman itu disulap oleh Aruna menjadi sebuah tempat yang sangat nyaman untuk berkumpul bersama.
__ADS_1
Anaya yang awalnya sedang ikut mengobrol dengan Ayaka, malah memilih untuk memisahkan diri karena dia melihat keberadaan Kenzo yang sedang duduk sendirian di dekat pintu dapur.
Walaupun awalnya terlihat begitu ragu, tetapi pada akhirnya Anaya memberanikan diri untuk mendekati pria dingin itu.
"Boleh ikut duduk?" tanya Anaya.
Kenzo nampak menolehkan wajahnya ke arah Anaya, tidak lama kemudian dia nampak menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
Anaya nampak menghela napas berat, karena pria itu tetap saja tidak mau mengeluarkan suaranya. Sesuai dengan julukan yang sudah dia berikan, kulkas dua puluh pintu. Dinginnya sampai menusuk ke ulu ati.
Namun, walaupun Kenzo tidak mengeluarkan suaranya, Anaya tetap duduk tidak jauh dari pria itu. Pria yang selama satu tahun ini dia sukai.
Dalam setiap harinya Anaya selalu saja berusaha untuk mendekati pria itu, dia selalu saja berusaha untuk mencari perhatian dari pria itu. Bahkan, Anaya sering memberikan makanan atau coklat kepada Kenzo. Sayangnya Kenzo tidak pernah memberikan respon positif.
"Gue cuma mau minta maaf karena selama ini gue udah lancang suka sama elu, gue janji mulai hari ini gue ngga bakal nyari perhatian elu lagi. Maaf," ujar Anaya.
Anaya menolehkan wajahnya ke arah Kenzo, dia nampak memperhatikan reaksi dari pria itu. Sayangnya, Kenzo tetap saja terlihat diam dengan wajahnya yang nampak datar tanpa ekspresi.
"Sekali lagi gue minta maaf," ucap Anaya.
Sebenarnya wanita muda itu masih ingin mengatakan banyak hal kepada Kenzo, tetapi dia tidak bisa mengatakannya karena pria itu hanya diam saja seraya menatap dirinya.
Entah kenapa pria itu memang terlihat begitu senang dalam diamnya, maka dari itu tidak salah bukan jika Anaya mengecap pria itu dengan sebutan kulkas dua puluh pintu.
"Gue pergi, jaga kesehatan elu."
Setelah mengatakan hal itu, Anaya langsung bangun dan pergi dari sana. Dia bahkan terlihat pulang terlebih dahulu, Anaya beralasan jika dia harus mengerjakan tugas dari sekolah.
__ADS_1
Kenzo hanya bisa menatap kepergian Anaya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan, mulutnya terkunci rapat seolah tidak ingin mengatakan apa pun.