
Hari ini terasa begitu menyenangkan dan membahagiakan, selain karena bisa berkumpul bersama keluarga, aku juga bisa bertemu sahabatku, Arin.
Wanita yang sejak dulu selalu membantuku di saat susah, dia juga selalu tersenyum bahagia ketika mendengar aku bahagia dengan kehidupanku.
Setelah menikah dengan Sahrul, Arin pindah ke kampung halaman pria itu. Mereka membangun rumah tangga yang begitu bahagia, Sahrul membuat toko elektronik yang cukup besar di sana.
Tentunya hal itu membuat Arin tidak kesulitan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya, selain itu Arin juga membantu perekonomian Sahrul. Arin berkebun dan hasil kebunnya akan dia jual ke pasar.
Delapan belas tahun tidak bertemu membuat kami melepas rindu dengan mengobrol bersama, saling memeluk dan menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap kami.
Arin datang bukan dengan hanya Sahrul saja, tetapi dia datang bersama dengan putrinya yang bernama Anisa. Gadis cantik dan juga manis, sepantaran dengan Kenzo, putra keduaku.
Selama acara resepsi pernikahan berlangsung, aku terus saja melepas rindu dengan Arin. Sesekali aku juga akan menyambut para tamu yang datang, tamu yang dirasa tidak kunjung berhenti berkunjung untuk mengucapkan selamat kepada putriku, Ayana.
"Runa, gue seneng lihat elu bahagia kaya sekarang." Arin memelukku dengan penuh kasih sayang.
Pasti dia sedang membayangkan bagaimana sengsaranya dulu saat aku berumah tangga dengan Sam, lebih tepatnya bagaimana aku tersiksa saat Sam melakukan perselingkuhannya dengan Angel.
Karena selama enam tahun berumah tangga dengan Sam, jujur saja aku merasa bahagia. Hanya saja dulu aku merasa tersiksa ketika Sam tidak mau bertanggung jawab dengan kandunganku.
Aku juga sempat merasa begitu tersiksa ketika Sam berselingkuh dengan Angel, bahkan bukan hanya aku yang merasa tersiksa, tetapi Ayana juga.
"Iya, gue juga bahagia lihat elu sama suami dan juga anak elu." Aku membalas pelukan dari Arin, lalu kami tertawa bersama.
Umur boleh sudah tua, tetapi kami berdua malah bertingkah seperti anak kecil. Berbeda dengan Anisa, dia nampak terdiam. Sesekali dia akan mengajak Arin untuk berbicara.
Tanpa terasa waktu berjalan dengan begitu cepat, acara resepsi pernikahan pun sudah berakhir. Kini saatnya kami semua pulang ke kediaman masing-masing, karena yang menginap di hotel hanyalah pasangan pengantin baru. Ayana dan juga Sandi.
Sengaja kami memutuskan untuk pulang ke kediaman masing-masing, karena tidak ingin mengganggu kegiatan pengantin baru itu.
"Rin, elu harus nginep di rumah gue. Lagian kalau pulang juga sudah malam, bahaya berkendara malam-malam seperti ini." Aku mencoba membujuk temanku agar mau menginap di rumahku.
__ADS_1
"Bolehlah, boleh. Lagi pula ini pertemuan pertama kita setelah delapan belas tahun berpisah," jawab Arin pada akhirnya.
Ah! Aku merasa begitu senang dengan jawaban yang terlontar dari bibir Arin, itu artinya malam ini kami bisa bernostalgia. Kami bisa mengingat akan kebersamaan yang pernah kami lalui berdua.
Ya ampun, aku merasa begitu lebay. Namun, nyatanya aku memang merasa begitu bahagia. Bahkan, jika Sigit mengizinkan, aku ingin meminta untuk tidur bersama dengan Arin.
POV Author.
Setelah semuanya terlihat pulang ke kediaman masing-masing, Sandi terlihat begitu senang sekali. Dengan cepat dia menuntun istrinya untuk segera masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Kamar pengantin yang khusus dipesan oleh Satria untuk Ayana dan juga Sandi, kamar pengantin termewah dan termegah yang ada di dalam hotel tersebut.
"Ehm! Yang, sekarang kita udah sah. Aku udah boleh itu dong?" ujar Sandi seraya mengusap-usap pundak Ayana yang sedang duduk di depan meja rias.
"Itu apaan?" tanya Ayana lemot.
"Itu yang, itu." Sandi menyatukan dua jari telunjuknya, Ayana nampak tertawa.
Karena berkali-kali dia bertanya kepada Ayaka tentang sakit atau tidaknya bercinta untuk pertama kalinya, tetapi adiknya tersebut tidak mau menjawab pertanyaan dari dirinya.
Selalu saja Ayaka berkata jika nanti Ayana juga pasti akan merasakannya, tidak perlu dia menjelaskan seperti apa rasanya.
"Iya, boleh. Kamu boleh minta hak kamu, tapi nanti. Aku mau mandi dulu, lebih baik kamu sekarang bantu aku buat buka gaun pengantin ini." Ayana mengusap tangan Sandi.
"Iya, Sayang," jawab Sandi dengan semangat.
Pada akhirnya Ayana membuka gaun pengantinnya, Sandi berusaha untuk membantu apa yang dilakukan oleh istrinya tersebut.
Sandi harus menahan hasratnya ketika melihat gaun pengantin itu lolos dari tubuh Ayana, tubuh wanita itu benar-benar terlihat begitu seksi sekali.
Bahkan, tanpa sadar ketika Ayana sedang membuka aksesoris yang ada di atas kepalanya, Sandi malah mengulurkan tangannya untuk meremat kedua dada istrinya.
__ADS_1
Sontak saja hal itu membuat Ayana begitu kaget sekali, dia tanpa sadar sampai memukul tangan suaminya tersebut.
''Sakit, Sayang." Sandi melayangkan protesnya dengan bibir yang mengerucut.
"Jangan ngagetin makanya, lagian aku cuma minta kamu buat sabar sebentar. Karena aku hanya akan mandi sebentar saja," ujar Ayana yang langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Wanita itu berjalan menuju kamar mandi dengan hanya menggunakan bra dan juga cd saja, tentu saja hal itu membuat Sandi ingin ikut ke kamar mandi dan menonton tubuh polos istrinya ketika sedang mandi.
"Ikut, Yang!" teriak Sandi yang dengan cepat berlari menuju kamar mandi.
Pria itu bahkan sampai menabrak pintu kamar mandi yang hampir Ayana tutup, beruntung Sandi dengan Sigap menahan pintu kamar mandi dengan kaki kanannya.
"Pelan-pelan, nanti kalau kamu jatuh malah nggak jadi malam pertamanya loh!" ujar Ayana seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf, Yang. Aku hanya takut kalau kamu keburu nutup pintunya," ujar Sandi.
Rasanya dia tidak rela membiarkan Ayana mandi sendirian, dia ingin mandi bersama dengan istrinya tersebut.
"Hem! Aku paham," ujar Ayana yang langsung mengisi bathtub dengan air hangat.
Lalu, dia menuangkan sabun cair dan juga aroma terapi. Bahkan, Ayana juga menyalakan lilin aromaterapi yang ada di dalam kamar mandi tersebut.
Setelah itu, Ayana nampak membuka bra dan juga cd yang dia pakai. Lalu, dia masuk ke dalam bathtub dan merendam tubuhnya.
Sandi sampai merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ayana, dia menatap tubuh polos istrinya yang begitu indah sekali. Dia sampai menelan salivanya dengan begitu susah.
"Jangan bengong aja! Sini,'' ujar Ayana seraya mengayunkan tangannya.
Sandi langsung menganggukkan kepalanya, lalu dia ikut masuk ke dalam bathtub dan duduk di belakang istrinya. Dia remat kedua dada istrinya, lalu dia sandarkan kepalanya pada pundak Ayana.
"Ouch! Geli, Yang." Ayana nampak menggeliatkan tubuhnya ketika Sandi memilin ujung dadanya.
__ADS_1