Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 172


__ADS_3

Kenzo tersenyum dengan begitu lebar ketika keluar dari dalam kediaman Anaya, lalu dia dengan cepat pergi dari sana. Walaupun pada kenyataannya dia masih ingin berada di sana, tetapi dia harus pergi karena takut melakukan hal yang tidak-tidak.


Saat tiba di kediaman ibunya, Kenzo langsung disambut oleh adiknya, Alice. Gadis itu langsung menghampiri Kenzo dan memeluk lengan pria itu dengan posesif.


"Ngapain sih, Dek?" tanya Kenzo.


"Pengen jalan-jalan, bosen di rumah terus." Alice nampak mengerucutkan bibirnya.


"Jalan-jalan sama, ikut sama Kak Nisa," ujar Kenzo seraya menolehkan wajahnya ke arah Anisa yang sudah bersiap untuk pergi.


"Kakak ngga bisa temenin aku jalan?" tanya Alice.


Sebenarnya Alice merasa cemburu terhadap teman dekatnya, Alina. Sahabatnya itu sudah memiliki kekasih, padahal mereka baru saja masuk SMP.


Setidaknya walaupun dia tidak memiliki kekasih, tetapi dia bisa mengajak yang bisa untuk pergi jalan-jalan. Jika nanti dia bertemu dengan sahabatnya, Alice akan mengenalkan Kenzo sebagai kekasihnya.


"Ngga bisa, Dek. Maaf," ujar Kenzo.


"Kakak tega!" ujar Alice lesu.


Kenzo tersenyum, dia melerai pelukan Alice, lalu dia berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya. Alice hanya tersenyum kecut melihat kepergian kakaknya tersebut, lalu dia menghampiri Sigit dan memeluk pria itu.


"Kakak nyebelin!" ujar Alice seraya menatap itu kamar kakaknya yang sudah tertutup.


"Udah jangan cemberut, mending kamu iku jalan sama Kak Nisa aja. Ajak dia ke tempat yang asik," ujar Sigit.


"Hem!" jawab Alice dengan wajah ditekuk.


Jika Alice sedang cemberut, berbeda dengan Ayana yang nampak begitu bahagia. Siang ini Ayana terbangun dari tidurnya, dia tersenyum dengan begitu lebar ketika melihat Sandi yang sudah menyiapkan makanan kesukaannya di atas meja.


Selepas bercinta dengan begitu panas dengan Sandi, Ayana nampak tertidur dengan pulas bersama dengan suami tercintanya. Sandi yang bangun lebih dahulu langsung mandi dan memesan makanan untuk keduanya.


Ketika Ayana terbangun dari tidurnya, Sandi sangat yakin juga istrinya itu pasti akan kelaparan. Maka dari itu dia memesan banyak makanan yang tentunya merupakan makanan kesukaan dari Ayana.


"Kamu menyiapkan semuanya?" tanya Ayana seraya menarik selimut untuk menutupi dadanya.


"He'em, kamarilah, Yang!" ujar Sandi seraya menatap tubuh Ayana dengan tatapan penuh hasrat.

__ADS_1


Ayana langsung tertidur setelah mereka bercinta dengan begitu panas, maka dari itu saat ini keadaan Ayana masih polos tanpa sehelai benang pun.


"Eh? Aku ngga pake baju loh, tolong ambilkan bajuku dulu.''


Walaupun mereka sudah menikah, tetapi Ayana merasa risih jika harus menghampiri Sandi dalam keadaan polos seperti itu.


"Ngga usah pake baju, Yang. Kamu seksi banget kalau polos kaya gitu," ujar Sandi yang langsung mendekat ke arah istrinya.


"Mau apa kamu?" tanya Ayana ketika Sandi merapikan rambutnya.


"Mau bantu kamu rapiin rambut cantik kamu ini," ujar Sandi.


Sandi nampak membantu Ayana untuk menyanggul rambut wanita itu secara asal, setelah itu sandi menyingkap selimut yang dipakai oleh wanita itu.


"Yang!" protes Ayana yang merasa malu karena sakit ini bisa melihat seluruh tubuh polosnya.


"Apaan sih? Kenapa coba pake teriak segala?" tanya Sandi yang langsung menggendong tubuh istrinya.


Ayana benar-benar merasa malu karena Sandi menggendong tubuh polosnya, wanita itu bahkan langsung menyembunyikan wajahnya pada cerukan leher suamimya.


Tidak lama kemudian Sandi nampak duduk di atas sofa, lalu dia mendudukkan istrinya di atas pangkuannya.


Dia baru saja bangun dan dalam keadaan tubuh polos, rasanya tidak betah dan ingin segera mengambil baju dan memakainya.


"Jangan turun, Yang. Diem aja kamunya, aku suapin, ya?" tawar Sandi.


"Tapi aku beneran risih," ujar Ayana.


Malu dan juga risih, itulah yang Ayana rasakan. Walaupun mereka sudah menikah, tetap saja ada rasa canggung ketika Ayana diperlakukan seperti itu.


"Ayang, ih! Ya udah aku izinin kamu untuk pake baju, tapi akunya mau nyusu dulu." Sandi langsung meremat kedua dada istrinya, lalu dia menyesap ujung dada istrinya secara bergantian.


"Aduh, Yang. Geli ih! Jangan kaya gini, ngga nyaman aku-nya," ujar Ayana seraya mendorong wajah Sandi.


Sandi tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Ayana, dia terus saja menyesap ujung dada istrinya. Sesekali tangan kirinya akan meremat dada Ayana, sedangkan tangan kanannya nampak mengusap-usap punggung wanita itu dengan begitu lembut.


"Yang!" protes Ayana yang malah merasakan tubuhnya panas dingin dan ingin kembali dimasuki.

__ADS_1


"Bentar lagi, Yang." Setelah mengatakan hal itu, Sandi kembali menyesap ujung dada istrinya.


Ayana hanya bisa pasrah, sesekali wanita itu terlihat meliukkan tubuhnya. Dia benar-benar merasa tidak tahan dengan perlakuan dari suaminya itu.


"Makasih, Sayang." Sandi mengangkat tubuh Ayana dan mendudukkannya di atas sofa.


"Hem!" jawab Ayana yang langsung bangun dan langsung mengambil baju untuk menutupi tubuhnya.


Sandi hanya tersenyum melihat kelakuan dari istrinya, karena walaupun terlihat kesal tetapi Ayana tidak marah kepada dirinya. Setelah selesai memakai baju, Ayana nampak duduk tepat di samping Sandi.


Lalu, tanpa ragu dia melahap makanan yang sudah disediakan oleh Sandi. Wanita itu benar-benar merasa lapar, karena setelah pergulatan panas tadi pagi, Ayana malah langsung tidur dan melewatkan sarapan paginya.


Sandi hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, karena pada awalnya dia yang akan menyuapi istrinya tersebut.


"Enak?" tanya Sandi.


Ayana langsung menganggukkan kepalanya, tentu saja semua makanan yang terhidang di atas meja sangat enak karena memang itu adalah makanan kesukaannya.


"Sangat enak dan aku ingin makan yang banyak, soalnya laper banget." Ayana menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan, Sandi sampai tertawa dibuatnya.


"Iya, Sayang. Kamu memang harus makan yang banyak, biar kuat nanti kalau mendapatkan serangan dari aku lagi." Sandi langsung menaik turunkan alisnya setelah mengatakan hal itu.


Berbeda dengan Ayana yang terlihat begitu kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, wanita itu baru saja makan dan ingin mengisi perutnya yang terasa begitu lapar.


Namun, Sandi malah sudah membahas kegiatan ranjang lagi saja. Tentu saja hal itu membuat Ayana langsung memelototkan matanya ke arah Sandi.


"Jangan marah, Yang." Sandi nyengir kuda.


Sandi lupa jika dirinya belum lama sudah membuat kesalahan, Ayana pasti masih merasa kesal terhadap dirinya. Walaupun katanya wanita itu sudah memaafkan kesalahannya.


Namun, yang namanya wanita itu pasti akan mengungkit kesalahan prianya jika prianya itu kembali membuat kesalahan.


"Aku lagi makan loh, kamu jangan bahas masalah itu dulu. Abis makan juga kamu belum boleh minta dulu, perut aku penuh dan nanti aku bisa sakit perut." Ayana nampak mengancam Sandi, pria itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Dia sangat tahu jika istrinya itu mudah kesal dan jika marah susah untuk baik kembali, butuh waktu ekstra untuk membuat istrinya itu kembali baik kepada dirinya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak akan meminta hak aku sebelum kamu memberikannya, sumpah." Sandi langsung mengangkat kedua jari tangannya sampai membentuk huruf v.

__ADS_1


Sandi sudah melihat bagaimana Ayana marah terhadap dirinya, tentunya dia harus berhati-hati agar istrinya itu tidak kembali marah kepada dirinya. Bisa bahaya jika dia dalam sebentar saja sudah membuat istrinya itu marah.


"Bagus!" ujar Ayana yang kembali melanjutkan acara makan siang yang dirapel dengan sarapan paginya.


__ADS_2