Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 64


__ADS_3

Walaupun Ayaka adalah anak dari seorang pelakor, anak dari wanita yang sudah masuk ke dalam kehidupannya dan menghancurkan rumah tangganya, tetapi Aruna merasa kasihan kepada Ayaka.


Karena walau bagaimanapun juga dia masih anak-anak yang tidak tahu apa-apa, terlebih lagi ketika mendengar Ayaka hilang, dia malah teringat akan putrinya sendiri. Rasanya dia pasti akan sangat sedih dan dia pasti akan sangat terluka.


"Astagfirullah, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Aruna dengan sedih.


Ayana yang sejak tadi memperhatikan bundanya merasa heran dengan sikap Aruna, karena tadi saat di pengajian Aruna terlihat begitu bahagia bisa berbaur dengan anak-anak yang ada di sana.


Bahkan, wajah ibunya terlihat begitu tenang setelah mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an. Terlebih lagi ketika belajar melantunkan sholawat, Aruna yang baru saja menjadi mualaf itu terlihat begitu menikmati perannya dalam mempelajari agama barunya.


Namun, wajah Aruna kini terlihat begitu bersedih. Bahkan, Ayana bisa melihat ada raut kebingungan di sana. Karena merasa penasaran akhirnya Ayana bertanya kepada ibunya tersebut.


"Ada apa sih, Bun? Kenapa Buna jadi kelihatan sedih gitu? Kaya orang bingung juga, mikirin apa sih?" tanya Ayana yang sudah terlihat seperti gadis yang sedang bertanya kepada ibunya, perhatian sekali.


Aruna menolehkan wajahnya ke arah Ayana, lalu dia tersenyum seraya mengelus lembut puncak kepala putrinya tersebut.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya ada sedikit masalah, kita pulang dulu ya? Setelah itu bunda mau pergi, kamu diam-diam sama kakek dan juga nenek," jawab Aruna.


Sebenarnya bisa saja dia mengajak Ayana untuk pergi ke panti asuhan, tetapi Aruna masih menjaga perasaan gadis kecilnya. Dia takut Ayana terluka ketika tahu jika bundanya sedang mengurusi anak dari wanita simpanan ayah kandungnya.


Karena walau bagaimanapun juga Ayaka pernah menumpahkan kekesalannya terhadap Ayana, dia mendorong putrinya sampai jatuh dan terluka. Bukan hanya tubuh Ayana yang terluka kala itu, tetapi hatinya juga menangis pilu.


"Oke, Ay akan pulang. Ay akan diam sama om, nenek dan juga kakek. Buna hati-hati kalau ada urusan, jangan pulang terlalu larut. Nanti Ay tidak bisa tidur," ujar Ayana.


Aruna ingin sekali tertawa saat putrinya mengatakan hal seperti itu, Ayana terlihat lebih dewasa. Dia tidak terlihat seperti anak yang masih berusia 5 tahun.


"Ya, Sayang," jawab Aruna dengan lembut.


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Aruna melajukan mobilnya menuju kediaman Dinata. Dia mengantarkan putrinya terlebih dahulu, tidak lupa dia juga menitipkan putrinya itu kepada kedua orang tuanya dan juga kepada Sagara.

__ADS_1


Setelah itu barulah Aruna pergi ke panti, dia ingin tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi. Kenapa Ayana bisa sampai hilang karena rasanya tidak mungkin anak sekecil itu berusaha untuk kabur.


Walaupun Ayaka merasa tidak suka tinggal di panti, pasti dia akan memberontak tanpa berusaha untuk kabur. Terlebih lagi usianya baru 4 tahun 3 bulan, rasa-rasanya akan sulit bagi Aruna mencerna jika Ayaka pergi dengan terencana.


"Kamu itu sebenarnya pergi ke mana, Nak? Kamu pergi sama siapa?" tanya Aruna.


Setelah sampai di panti asuhan, Aruna dengan tidak sabarnya langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam panti asuhan tersebut. Dia menemui pemilik panti dengan cepat.


"Assalamualaikum, Bu. Kenapa Aya bisa hilang?" tanya Aruna dengan napas terengah-engah.


Walaupun sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh Angel dan juga Sam, tetapi tetap saja dia begitu mengkhawatirkan Ayaka.


"Waalaikumsalam! Duduk dulu, Nyonya. Saya akan menceritakannya," jawab ibu panti.


Aruna menuruti apa yang dikatakan oleh ibu panti tersebut, dengan cepat dia duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut. Aruna juga menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan, hal itu dia lakukan berkali-kali sampai dia merasa lebih tenang.


Ibu panti nampak menunduk lesu setelah menceritakan hal itu, dia benar-benar merasa bersalah dan juga merasa lalai karena Ayaka bisa hilang di dalam pengawasannya.


"Bagaimana bisa seperti itu? Apa tidak ada rekaman CCTV di sana?" tanya Aruna khawatir.


Jika di sana ada rekaman CCTV, sepertinya keberadaan Ayaka akan lebih mudah ditemukan, begitulah menurut Aruna.


"Kalau dilihat dari rekaman CCTV, Aya nampak keluar dari gerbang. Dia berjalan dengan begitu perlahan menuju jalan raya, tidak lama kemudian dia tidak ditemukan. Entah ke mana perginya, tetapi tidak terlihat dalam rekaman CCTV jalanan."


Ibu panti bahkan meminta petugas keamanan yang ada di sana untuk mengecek CCTV jalanan, Ayaka menghilang seperti ditelan bumi. Susah sekali menemukan anak kecil itu.


"Astagfirullah! Semoga Allah selalu melindungi Ayaka, kalau begitu ayo kita laporkan hal ini ke polisi, Bu."


"Baik, Nyonya. Sebentar, saya ambil bukti berupa rekaman CCTV yang sudah disalin di ponsel saya," ujar Ibu Panti.

__ADS_1


Setelah mengambil ponselnya, Ibu panti bersama dengan Aruna pergi ke kantor polisi. Mereka melaporkan tentang hilangnya Ayaka, siapa tahu polisi bisa menemukan keberadaan Ayaka.


Selepas membuat laporan, Aruna langsung memberitahukan hal itu kepada Sam. Karena walau bagaimanapun juga pria itu adalah ayah kandung dari Ayaka, pria itu berhak tahu tentang keadaan putrinya.


"Putriku hilang? Bagaimana bisa?" tanya Sam.


"Ibu kamu tidak mau mengurusi Ayaka, jadinya terpaksa aku menitipkan dia di panti. Siang tadi saat acara santunan dia malah menghilang," jawab Aruna.


"Kenapa bisa mom tidak mau mengurusi putriku?" tanya Sam dengan tidak habis pikir.


Menurutnya, Ayaka adalah anak kandungnya. Itu artinya adalah cucu kandung dari Almira, dia benar-benar tidak menyangka jika ibunya tersebut malah tidak mau mengurusi putrinya.


"Entahlah! Aku tidak tahu alasan yang pastinya seperti apa, tapi mom bilang dia ingin menjaga kewarasannya. Dia tidak mau merasa sakit hati setiap kali melihat anak kamu dengan Angel," jawab Aruna.


Masuk akal juga, pikirnya. Namun, tetap saja semua ini terasa tidak adil untuk Ayaka. Dia masih sangat kecil, kenapa anak itu tidak bisa merasakan kehangatan keluarga. Kenapa malah langsung dititipkan di panti asuhan, pikirnya.


"Lalu, kenapa kamu tidak mengajak Aya untuk tinggal sementara waktu dengan kamu?" tanya Sam dengan tidak tahu malunya.


Awalnya Aruna selalu saja sabar dengan setiap kata yang terlontar dari bibir pria itu, tetapi kali ini dia merasa marah terhadap mantan suaminya itu.


Bisa-bisanya Sam berkata seperti itu, apakah pria itu hanya memikirkan Angel dan juga putri dari hasil selingkuhannya itu, pikirnya.


"Sam! Anak kamu bukan hanya Ayaka, ada Ayana juga. Apakah kamu tidak berpikir bagaimana sakit hatinya Ay jika aku membawa anak dari selingkuhan kamu? Apakah kamu tidak berpikir bagaimana sakit hatinya Ay ketika melihat anak yang sudah merebut ayahnya tinggal satu Atap dengannya?" tanya Aruna.


Sam yang menyadari kesalahannya langsung menunduk dengan lesu, karena terlalu khawatir dengan Ayaka dia malah tidak memperhatikan perasaan orang lain.


"Maaf," ujar Sam.


"Jika aku tidak berpikir kalau Aya adalah makhluk kecil yang tidak berdosa, aku tidak akan mau mengantarkan dia ke rumah mom atau ke panti. Apakah kamu tidak berpikir bagaimana rasanya sakit hatiku ketika melihat wajah putrimu dengan selingkuhanmu itu?" tanya Aruna yang mulai habis kesabarannya.

__ADS_1


__ADS_2