Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 16


__ADS_3

Aruna masuk ke dalam mobil dan menangis sejadi-jadinya di sana, dia benar-benar tidak menyangka jika suaminya ternyata mempunyai wanita lain. Bahkan, dia mendengar dengan telinganya sendiri bahwa suaminya itu sudah memiliki anak dari wanita lain.


Padahal, selama ini Sam selalu terlihat begitu mencintai dirinya. Namun, ternyata pria itu menyimpan kebusukan di belakangnya. Dalam hati karena menjadi bertanya-tanya.


Sudah berapa lama Sam berhubungan dengan wanita yang bernama Angel itu? Sudah berapa usia anak mereka? Kenapa Sam begitu tega menduakan dirinya dengan wanita tersebut?


Walaupun pernikahan mereka di awali dengan hal yang tidak terduga, tetapi rasanya sangat tidak pantas jika Sam menduakan dirinya.


Jika memang Sam sudah tidak ingin berumah tangga dengan dirinya lagi, kenapa Sam tidak menceraikan Aruna terlebih dahulu, pikirnya.


"Aku harus kuat, aku yakin bisa menghadapi semua ini. Ini demi Ayana," ucap Aruna berusaha untuk menguatkan dirinya.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung mengambil tisu basah dan membersihkan wajahnya dari air mata. Dia berusaha untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.


Berkali-kali bahkan Aruna menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan, jika Sam bisa berselingkuh di belakangnya dengan begitu rapi, maka Aruna juga akan bersikap seolah tidak ada apa-apa.


"Ayo, Aruna. Kamu pasti kuat, semoga aku kuat." Aruna berusaha untuk tersenyum dengan begitu manis, lalu dia melajukan mobilnya menuju kediaman Rahardi.


Sepenjang perjalanan menuju kediaman Rahardi, Aruna terus saja berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dia tidak mau membuat Almira khawatir, karena pasti wanita itu akan merasakan sesuatu yang luar biasa jika mengetahui kenyataan tentang Sam.


"Mom! Ini obatnya, cepatlah di minum." Aruna memberikan obat yang sudah dia beli kepada Almira.


Dia tatap wajah wanita yang sudah tinggal bersama dengan dirinya selama 6 tahun itu, wanita itu sangat menyayangi dirinya dan juga perhatian kepada dirinya.


"Makasih, Sayang. Kamu memang putri Mom yang sangat pengertian," ujar Almira.


Ya, bagi Almira, Aruna sudah seperti putri kandungnya. Karena Aruna selama menjadi menantunya selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik, bahkan tidak pernah sekalipun Aruna membantah apa yang dia katakan.


"Oiya, Sayang. Bagaimana dengan sekolah Ay?" tanya Almira.


Dia tidak mengantarkan cucunya untuk pergi ke sekolah, tentu saja dia merasakan kekhawatiran yang besar terhadap cucunya tersebut.

__ADS_1


"Ay sangat senang ketika masuk ke dalam kelas, sayangnya aku tidak boleh menungguinya. Jadinya aku pulang terlebih dahulu," ujar Aruna.


"Gitu ya, kasihan juga ya kalau ditinggalkan sendiri. Tapi, dia pasti akan lebih pandai dan bisa bergaul dengan teman-temannya," ujar Almira. Karena memang Ayana begitu pandai bergaul, bahkan dia begitu pandai dalam berbicara.


"Yes, Mom. Oiya, Mom. Setelah Ay sekolah, sepertinya aku akan sering bepergian. Aku akan mengantar jemput Ay untuk sekolah, aku juga akan mengantar Ay untuk les. Boleh ngga nambah bibi buat bantu masak?" tanya Aruna.


Almira sampai mengernyitkan dahinya mendengar permintaan dari Aruna, karena biasanya menantunya akan mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Terlebih lagi untuk urusan memasak.


"Kamu cape ya, Sayang?" tanya Almira yang merasa jika raut wajah menantunya dirasa berbeda.


"Tidak juga, Mom. Semua itu sudah terbiasa aku lakukan, tapi takutnya pekerjaan di rumah malah terbengkalai kalau aku sering pergi keluar."


"Nanti Mom carikan," ucap Almira pada akhirnya.


Almira menyadari jika selama ini Aruna memang terlalu sibuk mengurusi mereka semua, mengurus rumah dan juga mengurus apa pun yang bisa dia lakukan.


"Thanks, Mom. Aku ke kamar dulu, ada yang harus aku kerjakan sebelum menjemput Ay." Aruna tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.


Almira merasa aneh dengan kelakuan Aruna saat ini, dia merasa ada yang disembunyikan oleh menantunya tersebut. Namun, dia tidak berani bertanya karena takut menyinggung menantunya tersebut.


Setelah mengatakan hal itu, Almira langsung menghubungi yayasan. Dia meminta seorang bibi yang pandai memasak, sesuai dengan permintaan dari menantunya.


Jika Almira sedang sibuk mencari pelayan baru, berbeda dengan Aruna yang sedang sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan.


"Aku harus melakukan sesuatu hal yang membuat Sam--"


Aruna tidak meneruskan ucapannya, dia tersenyum kecut terlalu mengusap air matanya, karena air matanya tiba-tiba turun membasahi kedua pipinya.


Setelah merasa lebih tenang, Aruna menjemput putri tercintanya di sekolah. Padahal dia sempat merasa khawatir karena putrinya itu tidak dia tunggui, tetapi nyatanya Ayana sangat senang dan menceritakan hal yang membuat dirinya bahagia.


Selesai menjemput putrinya, Aruna mengajak gadis kecil itu untuk pergi ke mall. Dia ingin menghilangkan rasa sedih di dalam hatinya, bonusnya membuat hati Ayana sangat senang.

__ADS_1


Tentunya hal itu terjadi karena Aruna mengajak Ayana bermain sampai puas, Aruna bahkan sampai menghabiskan uang bulanan yang biasa diberikan oleh Sam.


"Ah! Buna sangat lelah, pulang yuk!" ajak Aruna ketika dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Boleh, Bun. Ay juga sangat lelah," ucap Ayana.


Pada akhirnya Aruna mengajak putrinya pulang ke kediaman Rahardi, setidaknya rasa sesak di dadanya sudah berkurang.


"Kamu langsung mandi terus ganti baju sama oma, Buna juga mau mandi," ucap Aruna ketika mereka sudah tiba di rumah.


"Ya, Buna," jawab Ayana yang langsung berlari ke dalam kamar Almira.


Setelah melihat kepergian putri tercintanya, Aruna langsung masuk ke dalam kamar. Dia melihat suaminya sudah pulang dan sedang duduk di atas sofa, Sam tersenyum lalu menepuk pahanya.


Hatinya tiba-tiba saja terasa sakit, bahkan dadanya terasa begitu sesak. Padahal, biasanya dia akan merasa senang jika Sam bertingkah seperti itu.


"Kok kamu diem aja? Cape ya, Sayang?" tanya Sam.


"Hem! Aku sangat capek dan juga lelah," jawab Aruna seraya melangkahkan kakinya untuk menghampiri suaminya.


Lalu, Aruna duduk di atas pangkuan Sam. Dia mengusap wajah suaminya, wajah pria yang selalu terlihat baik tetapi ternyata di belakangnya tidak seperti itu.


"Pulang dari mall kok kaya lesu gitu? Kenapa?" tanya Sam.


"Tadi aku melihat tas yang bagus, tapi harganya sangat mahal dan aku tidak bisa membelinya. Kamu kan kalau ngasih uang suka pas banget," ucap Aruna penuh protes.


Sam langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, karena selama ini istrinya itu memang sangatlah hemat menurutnya. Wanita yang sudah menikah selama 6 tahun dengan dirinya itu tidak pernah banyak menuntut, Aruna tidak pernah meminta uang untuk membeli tas dengan harga mahal atau apa pun itu.


"Mau minta uang berapa, hem?" tanya Sam.


"Mau minta duit yang banyak, boleh?" tanya Aruna seraya membuka kancing piyama tidur yang dipakai oleh Sam, lalu dia mengusap dada Sam dengan gerakan sensual.

__ADS_1


Jika di luar sana banyak pelakor yang menggoda suami orang untuk mendapatkan uangnya, berbeda dengan Aruna yang menggoda suaminya sendiri untuk mendapatkan uang yang banyak.


"Boleh ngga, ya?" tanya Sam seraya memejamkan matanya karena tangan Aruna mulai turun dan menelusup ke dalam piyama tidur yang Sam pakai.


__ADS_2