
Anisa langsung masuk ke dalam kamarnya, dia melakukan mandi kilat dan segera memakai kemeja berwarna putih dipadupadankan celana jeans berwarna biru.
Gadis itu terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang dikuncir kuda, gadis itu juga tidak lupa menyapukan make up tipis di wajahnya dan memoles bibirnya dengan liptin.
Sebelum pergi dia mengambil ponsel dan juga dompetnya, setelah itu dia memasukkan dompet itu ke dalam tas kecil miliknya.
"Sudah cantik dan juga wangi," ujar Anisa setelah menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
Selesai mematut dirinya di depan cermin, Anisa langsung keluar dari kamar tamu dan segera menghampiri Kenzo yang menunggu dirinya di teras rumah.
"Aku udah siap," ucap Anisa.
Kenzo langsung menolehkan wajahnya ke arah Anisa, dia merasa heran dengan penampilan gadis itu. Dia berkata akan mengajak gadis itu ke taman, tetapi penampilannya terlihat seperti akan pergi ke mall.
Penampilan gadis itu berbeda jauh dengan dirinya yang hanya menggunakan kaos panjang dipadupadankan dengan celana training panjang, karena memang biasanya di hari libur seperti ini akan banyak orang yang menyempatkan waktu untuk berolahraga.
"Kita mau ke taman, kenapa kamu pake baju kaya gitu?" tanya Kenzo.
"Eh? Aku salah pake baju-kah?" tanya Anisa tidak enak hati.
"Ngga juga sih, ya udah ayo." Kenzo nampak melangkahkan kakinya menuju garasi.
Anisa sempat tersenyum dengan begitu lebar ketika Kenzo menaiki sebuah motor sport, Anisa jadi membayangkan ketika dirinya dibonceng oleh Kenzo dan bisa memeluk pria itu dengan erat.
Namun, senyum di bibir wanita itu nampak luntur ketika Kenzo ternyata hanya memindahkan motor sport miliknya itu karena menghalangi mobil yang akan dia pakai.
"Ayo masuk, jangan bengong aja." Kenzo menurunkan kaca mobilnya.
"Ah! Iya," jawab Anisa yang langsung membuka pintu mobilnya dan segera masuk. Lalu, dia duduk di samping pria itu.
Kenzo langsung melajukan mobilnya menuju taman setelah dia melihat Anisa yang sudah duduk dengan nyaman.
Selama perjalanan menuju taman keduanya hanya saling diam, Kenzo begitu fokus dalam mengemudi. Berbeda dengan Anisa yang sesekali terlihat menolehkan wajahnya ke arah pria muda itu.
Pria yang terlihat dingin tetapi begitu tampan di mata Anisa, bahkan kalau bisa Anisa ingin banyak berbicara dengan pria itu. Sayangnya, Anisa merasa begitu enggan.
"Sudah sampai, turunlah!" ujar Kenzo.
"Ah! Iya,'' jawab Anisa.
__ADS_1
Wanita itu dengan cepat membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil yang dikendarai oleh Kenzo, lalu Anisa berdiri sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria itu.
Kenzo nampak memarkirkan mobilnya, lalu dia turun dari mobil itu dan mengajak Anisa untuk masuk ke taman.
"Wah! Pantas saja kamu tadi mempertanyakan baju yang aku pakai, ternyata kalau hari libur seperti ini taman ramai digunakan untuk orang berolahraga."
Banyak sekali orang-orang yang datang ke taman tersebut untuk berolahraga, Anisa menjadi tidak enak hati karena baju yang dia pakai lain sendiri.
"Tidak apa-apa, kamu baru datang ke sini. Wajar jika tidak tahu apa yang biasa dilakukan di daerah ini," jawab Kenzo.
Anisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena walaupun pria itu terlihat begitu dingin tetapi sangat pengertian dan juga perhatian.
"Kamu benar, tapi aku tidak tahu harus ngapain. Mau olah raga juga ngga mungkin, ngga enak pake baju kaya gini," ujar Anisa.
"Kita duduk di sana saja," ajak Kenzo.
Kenzo mengajak Anisa untuk duduk di salah satu bangku taman yang tidak jauh dari anak-anak yang sedang bermain, keduanya hanya saling diam seraya memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar sana.
"Bosan! Sepertinya berkeliling taman sambil jalan santai lebih asik, mau temenin aku, ngga?" tanya Anisa.
Jika mereka duduk di taman diselingi obrolan, mungkin Anisa akan merasa betah. Namun, Kenzo mengajaknya duduk di taman tetapi mendiamkan dirinya, rasanya tidak nyaman dan tidak betah.
"Boleh," jawab Kenzo yang memang mulai merasa tidak nyaman karena hanya berdiam diri saja.
Kenzo hanya diam seraya mendengarkan, sesekali dia akan menganggukkan kepalanya, sesekali dia hanya akan menolehkan wajahnya ke arah lain. Namun, walaupun seperti itu Anisa merasa senang karena Kenzo mau menemani dirinya.
"Eh? Maaf," ujar Anisa yang tanpa sengaja malah menabrak orang lain karena terlalu fokus menatap wajah wajah tampan Kenzo.
Anisa bahkan tanpa sengaja menginjak kaki orang tersebut, orang itu nampak meringis menahan sakit di kakinya.
"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati." Orang itu nampak tersenyum hangat, tidak ada raut kemarahan sama sekali dia wajah orang tersebut.
Padahal, orang itu hampir saja jatuh karena tertabrak oleh Anisa. Beruntung Kenzo dengan cepat menahan tubuh orang itu dari belakang.
"Iya, maaf." Anisa tersenyum canggung ke arah orang itu.
"Ya, kalau begitu aku---"
Belum juga orang itu menyelesaikan ucapannya, tetapi Kenzo sudah terlebih dahulu memungkas ucapan dari orang itu.
__ADS_1
"Naya! Elu ngga kenapa-kenapa?" tanya Kenzo.
Ya, orang yang tertabrak oleh Anisa adalah Anaya, gadis cantik itu sedang berolahraga bersama dengan Angel dan juga Surya.
"Ken, elu--"
"Gue lagi ngajak Anisa buat main di taman, elu datang ke sini sama siapa?" tanya Kenzo.
Kaget sekali ketika Anaya melihat Kenzo yang datang ke taman dengan seorang wanita, tetapi dia berusaha untuk menetralkan hatinya yang mulai dikuasai rasa cemburu.
Walaupun dia sudah bertekad untuk melupakan Kenzo, lebih tepatnya menghilangkan rasa cintanya kepada Kenzo, tetapi tetap saja dia merasa kepanasan ketika melihat Kenzo bersama dengan wanita lain.
"Sama bonyok gue," jawab Anaya tersenyum canggung seraya menolehkan wajahnya ke arah Anisa.
Dia pandang gadis yang berparas cantik di dekat Kenzo itu, ada rasa cemburu yang datang di hatinya. Namun, tidak lama kemudian dia berusaha untuk tersenyum dengan begitu manis ke arah keduanya.
"Oh! Kok elu nyeker gitu?" tanya Kenzo.
Anaya nampak menunduk dan memperhatikan kakinya yang tanpa alas kaki itu, dia tersenyum karena Anaya dipaksa oleh sang ayah untuk melepaskan sepatunya.
"Lagi taruhan sama ayah, siapa yang paling lama bertahan nginjek batu refleksi bakal dapet hadiah," jawab Anaya.
"Tapi kaki elu merah," ujar Kenzo khawatir karena kaki Anaya terinjak oleh Anisa yang memang menggunakan sepatu.
Anaya merasa senang melihat perhatian dari Kenzo, walaupun pria itu jarang berbicara tetapi Anaya merasa senang karena bisa mendapatkan perhatian kecil seperti itu dari Kenzo.
"Ngga apa-apa, ngga sakit kok. Gue kan' super women. Dah ah, gue tinggal ya? Selamat bersenang-senang," ujar Anaya dengan senyum yang dipaksakan.
Rasanya Anaya tidak akan kuat lagi jika berlama-lama di dekat Kenzo dan juga Anisa, maka dari itu dia memutuskan untuk segera pergi saja.
"Hem!" jawab Kenzo tidak enak hati.
Anisa sempat memperhatikan interaksi antara Kenzo dan juga Anaya, dia merasa ada yang berbeda dari tatapan Kenzo dan juga Anaya. Entah apa, tapi Anisa tidak paham.
"Ken, apa dia kekasihmu?" tanya Anisa.
Kenzo langsung menolehkan wajahnya ke arah Anisa, dia menaikan kedua alisnya karena Anisa dirasa begitu ingin tahu tentang dirinya.
"Kalau iya memangnya kenapa?" tanya Kenzo.
__ADS_1
Kenzo menatap netra Anisa dengan lekat, Anisa sampai tidak enak hati dibuatnya karena mendapatkan tatapan seperti itu dari Kenzo.
"Tidak apa-apa," jawab Anisa yang langsung menundukkan kepalanya.