Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 15


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


"Bunda, Ay sudah siyap!" ujar Ayana yang sudah terlihat begitu cantik dengan seragam sekolah yang sudah dia pakai.


Anak itu tumbuh menjadi putri yang cantik, bahkan dia tumbuh menjadi anak yang pandai, mudah bergaul dan juga sangat menyenangkan.


Almira bahkan selalu meluangkan banyak waktu untuk pergi ke mana pun bersama dengan sang cucu, karena dia selalu senang membawa Ayana jalan-jalan.


"Tunggu Ayah dulu, Sayang. Katanya Ayah sudah pulang dari luar kota dan sedang dalam perjalanan menuju rumah," ujar Aruna.


Ini adalah hari pertama Ayana masuk TK, dia ingin mengantarkan Ayana bersama dengan suaminya. Pria yang selama ini selalu bersama dengan dirinya, pria yang selalu bersikap manis kepadanya. Walaupun memang Sam sering pergi.


Setelah Aruna melahirkan Ayana, Sam lebih sering berpamitan kepada Aruna dan berkata jika dia ditugaskan oleh Steven ke luar kota. Dalam setiap bulannya Sam pasti akan pergi ke luar kota selama satu minggu.


Aruna tidak pernah melayangkan protesnya, karena setiap Sam ada di rumah, pria itu selalu memperlakukan Aruna dengan penuh cinta.


"Nanti telat, Buna.'' Ayana memberenggut kesal, dia sudah tidak sabar untuk pergi ke sekolah.


Almira mengelus lembut puncak kepala cucunya, dia mencoba menenangkan Ayana. Lalu, Almira menolehkan wajahnya ke arah Aruna.


"Telpon dong, Sayang. Masih lama apa ngga datangnya? Kasihan cucu Oma udah ngga sabar," ujar Almira.


"Yes, Mom," jawab Aruna.


Dengan cepat Aruna mengambil ponselnya, lalu dia berusaha untuk menghubungi suaminya. Sayangnya, berkali-kali ditelepon Sam tidak mengangkat panggilan telepon dari Aruna.


"Bagaimana?" tanya Almira.


"Berdering tapi ngga diangkat," jawab Aruna.


"Ya sudah, kamu anter Ay saja pakai mobil Mom. Kasihan dia sudah tidak sabar, sekalian tolong beliin obat buat Mom. Sepertinya mag-nya kambuh," ucap Almira.


"Oke! Aku berangkat dulu, Mom. Mungkin aga lama," pamit Aruna.

__ADS_1


"Tidak apa, Sayang. Berangkat gih! Takutnya nanti malah telat," ujar Almira.


"Yes, Mom."


Setelah berpamitan kepada Almira, Aruna dan juga Ayana langsung pergi ke sekolahan. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Ayana terlihat begitu ceria.


Dia terus saja menyanyikan lagu anak-anak yang sudah diajarkan oleh Aruna, Aruna merasa sangat senang dibuatnya. Kebahagiaan putrinya adalah segalanya bagi dirinya.


Saat tiba di sekolah, Aruna ternyata tidak diperbolehkan untuk menunggu putrinya. Karena kalau sudah sampai sekolah, anak merupakan tanggung jawab dari gurunya.


"Apa aku tidak bisa menunggu? Ini hari pertama Ay sekolah," ucap Aruna mengiba.


''Maaf, Nyonya. Ini sudah peraturan dari sekolah," jawab Ibu Anita wali kelas dari Ayana.


"Baiklah, nanti aku akan kembali untuk menjemput Ay," ujar Aruna dengan sedih.


"Tenang saja, Nonya. Ay pasti baik-baik saja, anda bisa menjemput Ay nanti pukul 11," ujar Ibu Anita.


Setelah meninggalkan sekolahan Ayana, Aruna langsung melajukan mobilnya menuju apotek yang tidak jauh dari sekolahan Ayana. Dia ingin membelikan obat mag untuk mertuanya.


Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan apotek lalu masuk dan membeli obat yang diminta oleh Almira, dia merasa kasihan kepada mertuanya karena akhir-akhir ini Almira sering mengeluh sakit lambung.


"Semoga mom akan cepat sembuh dan--"


Aruna yang hendak masuk ke dalam mobil langsung terdiam, tidak jauh dari sana dia melihat Sam yang sedang merangkul seorang wanita untuk masuk ke dalam Kafe.


"Sam? Apakah itu Sam?" tanya Aruna dengan tidak percaya.


Sam terlihat memperlakukan wanita itu dengan sangat istimewa, bahkan Sam tersenyum dengan begitu manis kepada wanita itu. Senyum yang selama ini hanya ditunjukkan untuk dirinya.


"Siapa wanita itu? Kenapa dia begitu dekat dengan wanita itu?" tanya Aruna dengan air mata yang tiba-tiba saja mengalir di kedua pipinya.


Karena merasa penasaran, dengan langkah yang begitu hati-hati dia masuk ke dalam Kafe tersebut. Dia duduk tidak jauh dari tempat di mana Sam dan juga wanita itu duduk.

__ADS_1


Aruna mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya, karena dia takut jika Sam akan melihat dirinya berada di sana.


"Sayang, terima kasih karena sudah mau menemani aku ke Kafe ini. Kafe tempat di mana kita sering bertemu dulu," ujar wanita itu.


"Tidak masalah, Angel. Aku akan selalu ada untuk kamu, terlebih lagi kini kita tinggal di kota yang sama, akan lebih mudah untuk kita bertemu." Sam tersenyum dengan begitu hangat.


"Terima kasih karena kamu sudah mengabulkan permintaanku, aku dan juga Ayaka sangat senang," ujar Angel seraya bergelayut manja di lengan Sam.


Aruna yang mendengar percakapan di antara keduanya benar-benar merasakan sakit hati yang luar biasa, Aruna sangat yakin jika Sam dan juga wanita yang bernama Angel itu mempunyai hubungan yang spesial.


Ingin sekali dia melabrak Sam dan juga wanita yang bernama Angel tersebut, tetapi dia tidak mempunyai bukti yang kuat. Bisa saja Sam dan wanita itu berkilah.


"Sayang, nanti malam kamu nginep di rumah baru kita ya?" pinta Angel dengan manja.


"Ngga bisa gitu dong, Yang. Kita sudah satu minggu bersama, aku harus pulang. Kalau Nanti malam aku nginep di rumah kamu, yang ada Ayana pasti akan menangis karena merindukanku."


"Aih! Bilang saja kalau kamu kangen sama istri kamu yang culun itu, yang kata kamu ngga bisa dandan itu," ucap Angel.


Sakit sekali Aruna mendengar apa yang dikatakan oleh Angel, setelah melahirkan Ayana dia memang jarang menghabiskan waktu untuk merawat diri. Dia lebih sering mengurusi putrinya, mengurusi mertuanya, suaminya dan juga mengurus pekerjaan rumah.


Untuk urusan memasak, Aruna selalu turun tangan, karena menurutnya jika dia sendiri yang memasak, makan makanan yang masuk ke dalam perutnya, anaknya, mertuanya dan juga suaminya terjamin kebersihannya.


"Kamu tuh apaan sih? Ngangenin juga kamu, karena kita hanya bisa ketemu satu Minggu dalam satu bulan," jawab Sam.


"Makanya aku minta izin untuk pindah ke sini, karena dengan seperti itu kita bisa lebih sering bertemu. Ayaka pasti lebih senang bisa sering bertemu ayahnya,'' ujar Angel seraya mengusap dagu Sam.


Rasanya dada Aruna sangat sesak mendengar obrolan antara Sam dan juga Angel, Aruna sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Angel. Rasanya dia ingin mati saat itu juga.


"Tentu, Sayang. Aku akan meluangkan banyak waktu untuk putri kita," ujar Sam.


Dada Aruna semakin sesak, rasanya dia sudah tidak tahan lagi mendengarkan apa yang diobrolkan oleh keduanya. Aruna mengambil ponsel miliknya, lalu dia memotret kebersamaan keduanya. Karena merasa tidak kuat dia memutuskan untuk pergi dari sana.


'Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Sam di belakangku?'

__ADS_1


__ADS_2